Pembahasan Binatang yang Halal dan Haram Dikonsumsi (1)

Berikut ini adalah binatang yang dihukumi halal dan haram untuk dikonsumsi berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah dari penjelasan para ulama. Di antaranya yaitu:
1. Semua hewan buas yang bertaring.
Sahabat Abu Tsa ’labah Al- Khusyany -radhiallahu ‘anhu-berkata:
أَنَّ رسول الله صلى الله عليه
وسلم نَهَى عَنْ كُلِّ ذِيْ
نَابٍ مِنَ السِّبَاعِ
“ Sesungguhnya Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-melarang dari (mengkonsumsi) semua hewan buas yang bertaring ”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim)
Dan dalam riwayat Muslim darinya dengan lafazh, “Semua hewan buas yang bertaring maka memakannya adalah haram ”.
Yang diinginkan di sini adalah semua hewan buas yang bertaring dan menggunakan taringnya untuk menghadapi dan memangsa manusia dan hewan lainnya. Lihat Al-Ifshoh (1/457) dan I’lamul Muwaqqi’in (2/117).
Jumhur ulama berpendapat haramnya berlandaskan hadits di atas dan hadits-hadits lain yang semakna dengannya. [Asy-Syarhul Kabir (11/66), Mughniyul Muhtaj (4/300), dan Syarh Tanwiril Abshor ma'a Hasyiyati Ibnu 'Abidin (5/193)]
2. Semua burung yang memiliki cakar.
Yang diinginkan dengannya adalah semua burung yang memiliki cakar yang kuat yang dia memangsa dengannya, seperti: elang dan rajawali.
Jumhur ulama dari kalangan Imam Empat -kecuali Imam Malik-dan selainnya menyatakan pengharamannya berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas -radhiallahu ‘anhuma-:
نَهَى عَنْ كُلِّ ذِيْ نَابٍ
مِنَ السِّبَاعِ، وَكُلُّ ذِيْ
مَخْلَبٍ مِنَ الطَّيْرِ
“ Beliau (Nabi) melarang untuk memakan semua hewan buas yang bertaring dan semua burung yang memiliki cakar ”. (HR. Muslim) [Al-Majmu' (9/22), Al-Muqni' (3/526,527), dan Takmilah Fathil Qodir (9/499)]
3. Jallalah.
Dia adalah hewan pemakan feses (kotoran) manusia atau hewan lain, baik berupa onta, sapi, dan kambing, maupun yang berupa burung, seperti: garuda, angsa (yang memakan feses), ayam (pemakan feses), dan sebagian gagak. Lihat Nailul Author (8/128).
Hukumnya adalah haram. Ini merupakan pendapat Imam Ahmad -dalam satu riwayat- dan salah satu dari dua pendapat dalam madzhab Syafi ’iyah, mereka berdalilkan dengan hadits Ibnu ‘Umar -radhiallahu ‘anhuma- beliau berkata:
نَهَى رسول الله صلى الله عليه
وسلم عَنْ أَكْلِ الْجَلاَّلَةِ
وَأَلْبَانِهَا
“ Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melarang dari memakan al-jallalah dan dari meminum susunya ”. (HR. Imam Lima kecuali An-Nasa`i (3787))
Beberapa masalah yang berkaitan dengan jallalah:
1. Tidak semua hewan yang memakan feses masuk dalam kategori jallalah yang diharamkan, akan tetapi yang diharamkan hanyalah hewan yang kebanyakan makanannya adalah feses dan jarang memakan selainnya. Dikecualikan juga semua hewan air pemakan feses, karena telah berlalu bahwa semua hewan air adalah halal dimakan. Lihat Hasyiyatul Al-Muqni ’ (3/529).
2. Jika jallalah ini dibiarkan sementara waktu hingga isi perutnya bersih dari feses maka tidak apa-apa memakannya ketika itu. Hanya saja mereka berselisih pendapat mengenai berapa lamanya dia dibiarkan, dan yang benarnya dikembalikan kepada ukuran adat kebiasaan atau kepada sangkaan besar. Lihat Al-Majmu’ (9/28). [Al-Muqni' (3/527,529), Mughniyul Muhtaj (4/304), dan Takmilah Fathil Qodir (9/499-500)]
4. Daging babi.
Allah -Subhanahu wa Ta’ala- menyatakan dalam firman-Nya:
حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ
الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ
وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا
أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ
وَالْمُنْخَنِقَةُ
وَالْمَوْقُوذَةُ
وَالْمُتَرَدِّيَةُ
وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ
السَّبُعُ إِلَّا مَا
ذَكَّيْتُمْ
“ Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya ”. (QS. Al-Ma`idah: 3)
Yang diinginkan dengan daging babi di sini adalah mencakup seluruh bagian-bagian tubuhnya termasuk lemaknya.
5. Keledai jinak (bukan yang liar).
Ini merupakan madzhab Imam Empat kecuali Imam Malik dalam sebagian riwayat darinya. Dari Anas bin Malik -radhiallahu ‘anhu-, bahwasanya Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
إِنَّ الله ورسوله
يَنْهَيَاكُمْ عَنْ
لُحُوْمِ ِالْحُمُرِ
الْأَهْلِيَّةِ, فَإِنَّهَا
رِجْسٌ
“ Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya melarang kalian untuk memakan daging-daging keledai yang jinak, karena dia adalah najis ”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim)
Diperkecualikan darinya keledai liar, karena Jabir -radhiallahu ‘anhu- berkata:
أَكَلْنَا زَمَنَ خَيْبَرٍ
اَلْخَيْلَ وَحُمُرَ
الْوَحْشِ ، وَنَهَانَا النبي
صلى الله عليه وسلم عَنِ
الْحِمَارِ الْأَهْلِيْ
“ Saat (perang) Khaibar, kami memakan kuda dan keledai liar, dan Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- melarang kami dari keledai jinak ”. (HR. Muslim)
Inilah pendapat yang paling kuat, sampai-sampai Imam Ibnu ‘Abdil Barr menyatakan, “Tidak ada perselisihan di kalangan ulama zaman ini tentang pengharamannya”. Lihat Al-Mughny beserta Asy-Syarhul Kabir (11/65). [Al-Bada`i' (5/37), Mughniyul Muhtaj (4/299), Al-Muqni' (3/525), dan Al-Bidayah (1/344)].
6. Kuda.
Telah berlalu dalam hadits Jabir bahwasanya mereka memakan kuda saat perang Khaibar. Semakna dengannya ucapan Asma` bintu Abi Bakr -radhiallahu ‘anhuma-:
نَحَرْنَا فَرَسًا عَلَى عَهْدِ
رسول الله صلى الله عليه وسلم
فَأَكَلْنَاهُ
“ Kami menyembelih kuda di zaman Rasulullah -Shallallahu‘alaihi wasallam- lalu kamipun memakannya”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim)
Maka ini adalah sunnah taqririyyah (persetujuan) dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Ini adalah pendapat jumhur ulama dari kalangan Asy-Syafi ’iyyah, Al-Hanabilah, salah satu pendapat dalam madzhab Malikiyah, serta merupakan pendapat Muhammad ibnul Hasan dan Abu Yusuf dari kalangan Hanafiyah. Dan ini yang dikuatkan oleh Imam Ath-Thohawy sebagaimana dalam Fathul Bary (9/650) dan Imam Ibnu Rusyd dalam Al-Bidayah (1/3440). [Mughniyul Muhtaj (4/291-291), Al-Muqni' beserta hasyiyahnya (3/528), Al-Bada`i' (5/18), dan Asy-Syarhus Shoghir (2/185)]
7. Baghol.
Dia adalah hewan hasil peranakan antara kuda dan keledai. Jabir -radhiallahu ‘anhuma- berkata:
حَرَّمَ رسول الله صلى الله عليه
وسلم – يَعْنِي يَوْمَ
خَيْبَرٍٍ – لُحُوْمَ الْحُمُرِ
الْإِنْسِيَّةِ، وَلُحُوْمَ
الْبِغَالِ
“ Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- mengharamkan -yakni saat perang Khaibar- daging keledai jinak dan daging baghol. (HR. Ahmad dan At-Tirmidzy)
Dan ini (haram) adalah hukum untuk semua hewan hasil peranakan antara hewan yang halal dimakan dengan yang haram dimakan. [Al-Majmu' (9/27), Ays-Syarhul Kabir (11/75), dan Majmu' Al-Fatawa (35/208)].
8. Anjing.
Para ulama sepakat akan haramnya memakan anjing, di antara dalil yang menunjukkan hal ini adalah bahwa anjing termasuk dari hewan buas yang bertaring yang telah berlalu pengharamannya. Dan telah tsabit dari Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau bersabda:
إِنَّ الله إِذَا حَرَّمَ
شَيْئًا حَرَّمَ ثَمَنَهُ
“ Sesungguhnya Allah jika mengharamkan sesuatu maka Dia akan mengharamkan harganya“.
Maksudnya diharamkan menjualnya, menyewanya, dan seterusnya dari bentuk tukar-menukar harga. Dan telah tsabit dalam hadits Abu Mas’ud Al-Anshory riwayat Al-Bukhary dan Muslim dan juga dari hadits Jabir riwayat Muslim akan haramnya memperjualbelikan anjing.
9. Kucing baik yang jinak maupun yang liar.
Jumhur ulama menyatakan haramnya memakan kucing karena dia termasuk hewan yang bertaring dan memangsa dengan taringnya. Pendapat ini yang dikuatkan oleh Syaikh Al-Fauzan. Dan juga telah warid dalam hadits Jabir riwayat Imam Muslim akan larangan meperjualbelikan kucing, sehingga hal ini menunjukkan haramnya. [Al-Majmu' (9/8) dan Hasyiyah Ibni 'Abidin (5/194)]
10. Monyet.
Ini merupakan madzhab Syafi ’iyah dan merupakan pendapat dari ‘Atho`, ‘Ikrimah, Mujahid, Makhul, dan Al-Hasan. Imam Ibnu Hazm menyatakan, “Dan monyet adalah haram, karena Allah -Ta’ala- telah merubah sekelompok manusia yang bermaksiat (Yahudi) menjadi babi dan monyet sebagai hukuman atas mereka.
Dan setiap orang yang masih mempunyai panca indra yang bersih tentunya bisa memastikan bahwa Allah -Ta’ala- tidaklah merubah bentuk (suatu kaum) sebagai hukuman (kepada mereka) menjadi bentuk yang baik dari hewan, maka jelaslah bahwa monyet tidak termasuk ke dalam hewan-hewan yang baik sehingga secara otomatis dia tergolong hewan yang khobits (jelek)”. Lihat Al-Muhalla: (7/429)
(Artikel selengkapnya bisa dibaca di sini: http://al-atsariyyah.com/?p=1411)
Lihat catatanku yang lain: http://twitter.com/fadhlihsan

About these ads

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 06/02/2010, in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink. 12 Komentar.

  1. penjelasan HadiSt nya bagus…
    biSa memBeri iNformasi kEpada orang
    manA maknN haLaL N HaRaM…

  2. nabila fitri kurnia

    maaf…kalau hukum beruang bagaimana….?

  3. kalau katak sweke haram ndak,sama kura2

  4. maaf kalo tentang tikus gimana?

  5. kalau hamster gimana haram?

  6. - “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang untuk membunuh empat binatang: semut, lebah, burung Hudhud dan burung Shurad.” (HR. Abu Daud no. 5267, Ibnu Majah no. 3224 dan Ahmad 1/332. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).
    – tidaklah Allah mengharamkan sesuatu kecuali Allah juga mengharamkan harganya.

    pertanyaan :
    – lalu bagaimana dengan sebagian orang yang membudidayakan semut yang akan diambil telurnya untuk pakan burung dan ikan, apakah hal tersebut jg diharamkan syariat atau bagaimana ?
    – bolehkah memeli binatang2 tersebut dengan tujuan untuk dipelihara/dibudidayakan ?

    • Pernah ada yg bertanya kpd Ust. Musthofa al-Buthoni pd kajian di masjid Al-Irsyad Pekalongan, yaitu tentang memberi pakan burung dgn jangkrik. Beliau menjawab, tdk mengapa selama makanan alami burung tsb adalah memang jangkrik. -selesai-
      Nah, bila memang binatang peliharaan kita pakannya adl semut, maka insya Allah tdk mengapa diberi pakan semut/telurnya, krn kalau tdk diberi pakan tsb binatang peliharaan kita bisa mati, dan ini justru sebuah kedzaliman. Wallahu a’lam.

  7. kalau kucing termasuk bintang haramatau halal.. ?

  8. kucing termasuk hewan yang haram dimakan karena bertaring dan menggunakan taringnya untuk berburu. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: “nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang untuk memakan setiap binatang buas yang bertaring dan setiap burung yang memiliki cakar” [HR. Muslim]

    kucing merupakan hewan yang haram dimakan sehingga kotorannya pun najis. Namun, air liur dan bulunya suci karena nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang kucing, maka beliau bersabda: “sesungguhnya kucing tidaklah najis, ia; hanyalah hewan yang biasa lewat di sekeliling kalian” [HR. Abu Daud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i, Ibnu Majah, dishahihkan oleh At-Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah]

    Allahua’lam

  9. Tikus juga termasuk hewan yang haram dimakan karena termasuk binatang yang khabiits (buruk) dan boleh dibunuh di tanah halal maupun tanah haram (suci) Mekah dan Madinah.

    Allah ta’ala berfirman: “dan (Allah) menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk” [Al-A'raaf: 157]

    nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “ada lima binatang fasik yang boleh dibunuh di tanah halal dan tanah haram; tikus, kalajengking, burung rajawali, burung gagak dan anjing galak” [HR. Al-Bukhari no. 3314 dan Muslim no. 1198]

    Allahua’lam

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.284 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: