Misteri Nabi Khidir

Banyak kisah-kisah tentang Nabi Khidir yang ramai dibicarakan orang, banyak kontroversi tentang kemunculannya, sehingga hal itu mendorong rasa ingin tahu tentang hakikat sebenarnya. Ada yang menyatakan Nabi Khidir masih hidup, adapula yang menyatakan Khidir sekarang berdiam di sebuah pulau, ada pula yang menyatakan bahwa setiap musim haji Nabi Khidir rutin mengunjungi padang Arafah.

Entah khidir siapa dan yang mana? Tapi yang jelas begitulah khurafat dan takhayyul berkembang di tengah masyarakat kita. Lucunya, banyak pula orang-orang yang sangat mempercayai perkara-perkara tersebut.

Semua ini berpangkal dari kesalahpahaman mereka tentang hakekat Nabi Khidir. Terlebih lagi orang-orang ekstrim dari kalangan pengikut tarekat dan tasawwuf yang membumbui berbagai macam dongeng dan cerita bohong tentang Khidir.

Sebagian di antara mereka, ada yang mengaku telah bertemu dengan Khidir, berbicara dengannya dan mendapat wasiat dan ilham darinya. Misalnya di tanah air kita ini, ada sebagian orang yang mengaku telah bertemu dengan Khidir dan mengambil bacaan-bacaan shalawat, wirid-wirid dan dzikir dari Khidir secara langsung, tanpa perantara, atau melalui mimpi. Bahkan ada pula yang mengaku dialah Nabi Khidir -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Semua ini adalah keyakinan batil!!

Mengenai hidup atau wafatnya Khidir, orang-orang berselisih. Ada yang menyatakan dia masih hidup. Tetapi ada juga yang menyatakan bahwa dia telah lama meninggal berdasarkan dalil-dalil dari Al-Kitab dan Sunnah. Ini merupakan pendapat para Ahli Hadits. Karena, tidak ada satupun nash yang shahih, baik dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dapat dijadikan pegangan bahwa Khidir masih hidup. Bahkan banyak dalil yang menyatakan ia telah meninggal.

Jika kita mengadakan riset ilmiah, maka kita akan mendapatkan Al-Qur’an dan Sunnah menjelaskan bahwa Nabi Khidhir telah meninggal dunia. Al-Allamah Ibnul Jauziy -rahimahullah- berkata, “Dalil yang menunjukkan bahwa Nabi Khidir sudah tidak ada di dunia adalah empat perkara; Al-Qur’an, As-Sunnah, ijma’ (kesepakatan) ulama’ muhaqqiqin, dan dalil aqliy.” [Lihat Al-Manar Al-Munif (hal. 69)]

Di antaranya dalil-dalil itu:

Allah -Ta’ala- berfirman,

وَمَا جَعَلْنَا لِبَشَرٍ مِنْ
قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ
مِتَّ فَهُمُ الْخَالِدُو

“Kami tidak menjadikan kehidupan abadi bagi seorang manusiapun sebelum kamu (Muhammad). Maka jikalau kamu mati, apakah mereka akan kekal.” (QS.Al-Anbiya`: 34)

Imam Abul Faraj Abdur Rahman Ibnul Jauzy -rahimahullah- berkata, “Khidhir, jika dia itu seorang manusia, maka sungguh ia telah masuk dalam keumuman (ayat) ini tanpa ada keraguan. Seorang tidak boleh mengkhususkannya dari keumuman itu, kecuali dengan dalil yang shahih.” [Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah (1/334), cet. Maktabah Al-Ma’arif]

Kemudian Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir-rahimahullah- menguatkan ucapan Ibnul Jauziy tadi seraya berkata, “Asalnya memang tidak boleh mengkhususkannya sampai dalil telah nyata. Sementara tidak disebutkan adanya dalil yang mengkhususkannya dari seorang yang ma’shum yang wajib diterima.” [Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah (1/334), cet. Maktabah Al-Ma’arif]

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ
النَّبِيِّينَ لَمَا
ءَاتَيْتُكُمْ مِنْ كِتَابٍ
وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ
رَسُولٌ مُصَدِّقٌ لِمَا
مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ
وَلَتَنْصُرُنَّهُ قَالَ
ءَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ
عَلَى ذَلِكُمْ إِصْرِي قَالُوا
أَقْرَرْنَا قَالَ فَاشْهَدُوا
وَأَنَا مَعَكُمْ مِنَ
الشَّاهِدِينَ

“Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.” Allah berfirman, “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab,“Kami mengakui.” Allah berfirman, “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.” (QS. Al-Imran: 81)

Al-Hafizh Ibnu Katsir menukil dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata saat menafsirkan ayat ini, “Allah tidak mengutus seorang nabi di antara para nabi, kecuali Dia mengambil perjanjian padanya. Jika Allah mengutus Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam -sedang nabi itu hidup-, maka ia (nabi itu) betul-betul harus beriman kepada beliau, dan menolongnya.” [Lihat Tafsir Ibnu Katsir (1/565)]

Jika Khidir masih hidup, tentunya ia tidak boleh menunda-nunda keimanannya kepada Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Ia harus mengikuti Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, berjihad bersamanya dan menyampaikan dakwah beliau. Ini merupakan perjanjian Allah kepada seluruh para nabi dan rasul sebagaimana yang tersebut dalam QS. Al-Imran ayat 81 di atas.

Ini menunjukkan kepada kita bahwa wajib bagi seorang nabi dan rasul untuk menolong dan beriman kepada Rasulullah Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Bahkan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- menegaskan bahwa andaikan Nabi Musa -’alaihis salam-, yang jauh lebih mulia dari Nabi Khidir masih hidup, maka ia harus mengikuti Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لَوْ أَنَّ مُوْسَى صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ
حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّ
أَنْ يَتَّبِعَنِيْ

“Andaikan Musa hidup, tentunya tidak mungkin baginya, kecuali harus mengikutiku.” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (3/387), Ad-Darimiy dalam As-Sunan (1/115), Ibnu Abi Ashim dalam As-Sunnah (5/2), Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan Al-Ilm (2/42), dan lainnya. Hadits ini di-hasan-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Al-Irwa’ (1589)]

Sudah dimaklumi, tidak ada satu pun riwayat shahih ataupun hasan -yang dapat membuat jiwa tenang- menyebutkan bahwa Khidir pernah bertemu dengan Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, tidak pula pernah ikut bersama Rasulullah dalam berbagai peperangan. Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوْسَةٍ
الْيَوْمَ تَأْتِي عَلَيْهَا
مِائَةُ سَنَةٍ وَهِيَ حَيَّةٌ
يَوْمَئِذٍ

“Tidak ada satu jiwa pun yang hidup pada hari ini telah lewat 100 tahun, sedang ia hidup pada hari itu.” [HR. Muslim dalam Shahih-nya (4/1966)]

Allamah Ibnu Baththal -rahimahullah- berkata menerangkan makna hadits ini, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hanya memaksudkan bahwa dalam jangka waktu ini suatu generasi telah punah.” [Lihat Fathul Bari (1/256) karya Al-Hafizh Ibnu Hajar]

Al-Imam Abu Abdillah Al-Qurthubiy -rahimahullah- berkata dalam Al-Jami’ li Ahkam Al-Qur’an (11/41), “Sesungguhnya hadits ini termasuk dalil yang memutuskan tentang kematian Nabi Khidir sekarang.”

Andaikan Nabi Khidir masih hidup, tentu ia akan datang kepada Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wasallam- untuk menyatakan keislamannya dan akan menolong beliau dalam berdakwah dan berperang membela Islam. Tidak mungkin ada seorang Nabi pun yang masih hidup, lantas tidak datang kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- untuk berbai’at, menyatakan keislamannya, dan berjihad bersama beliau. Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

اَللَّهُمَّ إِنْ تَهْلِكَ
هَذِهِ الْعِصَابَةُ لاَ
تُعْبَدْ فِيْ اْلأَرْضِ

“Ya Allah, jika pasukan ini hancur, maka engkau tidak akan disembah lagi dimuka bumi.” [HR. Muslim dalam Kitab Al-Jihad, Bab: Al-Imdad bil Mala’ikah fi Ghazwah Badr (3/1383)]

Syaikhul Islam Ahmad bin Abdil Halim Al-Harraniy -rahimahullah- berkata ketika ditanya tentang hadits di atas, “Andaikan Khidir masih hidup, maka wajib baginya untuk datang kepada Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, dan berjihad di hadapannya, serta belajar dari beliau (Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam-). Sungguh Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda dalam perang Badar, “Ya Allah, jika pasukan ini hancur, maka engkau tidak akan disembah lagi dimuka bumi.” Pasukan kaum muslimin waktu itu sebanyak 313 personil. Telah dikenal nama mereka, nama orang tua, dan qabilah mereka. Lantas dimanakah Khidir pada saat itu?” [Lihat Al-Manar Al-Munif (hal. 68)]

Adapun dalil-dalil berupa hadits-hadits marfu’, dan mauquf yang menyebutkan tentang hidupnya Nabi Khidir sampai hari ini, maka hadits-hadits itu lemah, bahkan palsu, tidak bisa dijadikan hujjah dan dalil dalam menetapkan hukum, apalagi keyakinan (aqidah).

Al-Imam Ibrahim bin Ishaq Al-Harbiy -rahimahullah- berkata, “Tidak ada yang menyebarkan berita-berita seperti ini (yakni tentang hidupnya Khidir) di antara manusia, kecuali setan.” [Lihat Al-Maudhu’at (1/199) dan Ruh Al-Ma’aniy (15/321) karya Al-Alusiy]

Ibnul Munadiy berkata, “Aku telah mengadakan riset tentang hidupnya Khidir, apakah ia masih ada ataukah tidak, maka tiba-tiba kebanyakan orang-orang bodoh tertipu bahwa ia masih hidup karena hadits-hadits (lemah) yang diriwayatkan dalam hal tersebut.” [Lihat Az-Zahr (hal. 38)]

Ibnul Jauziy setelah membawakan beberapa hadits tentang hidupnya Nabi Khidir berkata, “Hadits-hadits ini adalah batil.” [Lihat Al-Maudhu’at (1/195-197)]

Al-Hafizh Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah -rahimahullah- berkata, “Hadits-hadits yang disebutkan di dalamnya tentang Khidir, dan hidupnya, semuanya adalah dusta (palsu). Tidak shahih satu hadits pun tentang hidupnya Nabi Khidir.” [Lihat Al-Manar Al-Munif (hal. 67)]

Seorang ulama Syafi’iyyah, Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimasyqiy -rahimahullah- berkata setelah membawakan hadits dan kisah tentang hidupnya Khidir, “Riwayat-riwayat, dan hikayat-hikayat ini merupakan sandaran orang yang berpendapat tentang hidupnya Nabi Khidir sampai hari ini. Semua hadits-hadits yang marfu’ ini adalah dha’if jiddan (lemah sekali), tidak bisa dijadikan hujjah dalam urusan agama.” [Lihat Al-Bidayah wa An-Nihayah (1/334)]
Abul Khaththab Ibnu Dihyah Al-Andalusiy -rahimahullah- berkata, “Tidak terbukti tentang pertemuan Nabi Khidir bersama dengan seorang nabi, kecuali bersama Musa, sebagaimana Allah -Ta’ala- telah kisahkan tentang berita keduanya. Semua berita tentang hidupnya tak ada yang shahih sedikitpun berdasarkan kesepakatan para penukil hadits (ahli hadits). Hal itu hanyalah disebutkan oleh orang yang meriwayatkan berita tersebut, dan tidak menyebutkan penyakitnya, entah karena ia tidak mengetahuinya, atau karena jelasnya penyakit berita tersebut di sisi para ahli hadits.” [Lihat Az-Zahr An-Nadhir (hal. 32)]

Inilah beberapa dalil, dan komentar para ulama, semuanya menyatakan Nabi Khidir tidak hidup lagi atau sudah meninggal. Nyatalah kebatilan orang yang mengaku bertemu dengan Nabi Khidir untuk menerima ajaran di luar ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad -Shallallahu ‘alaihi wasallam-. Bagaimana mungkin Khidir mengajarkan suatu ajaran di luar syari’at Nabi Muhammad -Shalallahu ‘alaihi wasallam-??! Itu pasti bukan Nabi Khidir, tapi setan yang ingin menyesatkan manusia. Wallahu a’lam.

Sumber : Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 22 Tahun I.
Lihat: http://almakassari.com/artikel-islam/aqidah/nabi-khidir-antara-hidup-dan-mati.html

About these ads

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 15/02/2010, in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. Ada batas antara Allah dan makhluk-Nya. Pada batas tertentu makhluk (baca: manusia} tidak diberi pengetahuan (atau pengetahuan itu belum sampai pada saat ini) tentang fenomena yang terjadi di dunia ini. Tidak terkecuali fenomena ttg Nabi Khidir ini. Kemampuan akal pikiran kita sangat terbatas. Justru hal ini yg menunjukkan kekuasaan Allah atas makhluknya. Coba kita renungkan lg perjalanan Nabi Musa bersama Nabi Khidir. Nabi Musa yg sudah begitu “sempurna” sebagai manusia (satu tanda adalah beliau bs mendengar perkataan Allah secara langsung) tidak bs memahami tindakan yg dilakukan oleh Nabi Khidir, karena pd saat itu Nabi Musa blm diberi pengetahuan oleh Allah apa dibalik perbuatan yg dilakukan oleh Nabi Khidir (yg di mata Nabi Musa hal itu termasuk perbuatan keji). Cb kt bayangkan lg manusia sekelas Nabi Musa tdk bs memahami apa yg dilakukan oleh Nabi Khidir yg juga manusia. Apalagi antara ALLAH dan MANUSIA !

  2. Apakah khidir as membantu nabi musa as untuk berjihad dan mengikuti nabi Musa as? yang terjadi, justru Allah memberikan pelajaran agar musa as mau belajar dari yg lain meskipun gelar musa as adalah ulu azmi. Penyimpulan nabi khidir telah wafat tdk bs sepenuhnya dijadikan dalil karena di atas juga tdk disebutkan secara tekstual ttg kematian khidir as. Menolong dan membela rosululloh tdk harus melalui peperangan atau jihad dg rosul tapi bisa jg dlm bentuk lain seperti dikisahkan oleh musa dan khidir alaihimasalam

  3. Unuk meyakini Nabi Khidlir masih hidup atau tidak coba kita renungkan Hubungan antara Hukum alam Hukum Allah dan malaikat yang selalu taat pada tugas yang di berikan Allah.
    Allah Pengasa semua alam, Allah tidak ada di suatu tempat tetapi ada dimana-mana, Allah lebih dekat dari Urat nadi, tiada selembar daunpun yang jatuh tanpa diketahui oleh Allah dll. apa artinya semua itu? Tentang Malaikat : Bahwa seluruh perjalanan alam ini dilaksanakan oleh malaikat secara disiplin, apa yang terjadi pada semesta alam, baik makluk hidup maupun benda mati, dilangit maupun di bumi, besar maupun kecil, nampak atau tidak yang ghoib atau dlohir. Bandingkan dengan hukum alam. Manusia hidup dengan segala apa yang terjadi, fenomena alam, hujan, angin, hewan, tumbuhan, energi, perubahan bentuk energi, bermacam-macam perkembangan teknologi ini semua adalah hukum alam, Hukum Allah dan dilakukan sepenuhnya oleh para malaikat. Dari sini kita bisa tarik benag merah antara Allah, Malaikat, dan alam.
    Tentang Nabi Khidlir, Kalau Beliau adalah manusia mesti tunduk dengan ketentuan Alam ( lahir,berkemang, tua, mati ) tetapi kalau beliau malaikat yang diserupakan manusia tentu masih hidup. Wallahua’lam.

  4. Nabi Khidir ‘alaihissalam adalah seorang manusia. Jika beliau adalah manusia, maka tidak seorang pun manusia yang hidup kekal di dunia beribu-ribu tahun lamanya. ataukah,

    1. nabi khidir malaikat? seluruh nabi dan rasul yang diutus adalah dari kalangan manusia. beritahukan pada saya satu saja perkataan ulama beserta sumber kitabnya bahwa nabi khidir adalah malaikat.

    2. seandainya nabi khidir masih hidup, maka beliau wajib beriman pada nabi muhammad dan mengamalkan syariat-syariat Islam seperi shalat jamaah, haji, berdakwah, dst karena syariat nabi muhammad berlaku bagi seluruh umat manusia. berbeda dengan syariat nabi musa yang khusus berlaku bagi kaumnya (bani israil) saja. hingga tidak ada kewajiban bagi nabi khidir untuk mengikuti nabi musa.

    3. keyakinan nabi khidir masih hidup ataukah telah wafat merupakan perkara ghaib yang harus dilandasi dalil dalam Al-Qur’an dan hadits yang shahih. seorang yang menyatakan nabi khidir masih hidup wajib mendatangkan dalil, tidak cukup hanya dengan mengandalkan perasaan dan akal semata.

    4. mukjizat dan keistimewaan nabi khidir yang Anda sebutkan tidak sedikitpun menunjukkan bahwa beliau sekarang masih hidup. bahkan nabi kita muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki keistimewaan yang lebih dibanding nabi khidir. nabi muhammad pernah bertemu Allah ketika Isra Mi’raj dan secara langsung mendengarkan firman-Nya, bulan terbelah di zaman rasul, dll. apakah rasulullah hidup kekal di dunia beribu-ribu tahun seperti nabi khidir menurut persangkaan mereka? mukjizat dan kekelan hidup di dunia beribu-ribu tahun lamanya tidak memiliki kelaziman satu sama lain.

    5. telah disebutkan firman Allah, hadits-hadits shahih dan perkataan ulama yang menunjukkan bahwa nabi khidir telah wafat. silahkan jika Anda memiliki dalil yang lebih kuat dari Al-Qur’an, hadits shahih dan perkataan ulama dalam masalah ini. ingat, dalil dari ketiganya, bukan semata-mata dari akak atau perasaan kita

    wabillahittaufiq

  5. Trima kasih, artikelnya :D sangat bermanfaat…

  6. Sayalah Nabi Khidir itu
    “((http://kedaiislambrahmakumbara.blogspot.com/2014/06/the-one.html))”

    Semua Tentang Nabi Khidr
    Di Suriah , Khidir diidentifikasikan sebagai St George, yang menurut tradisi lokal, adalah kelahiran Suriah; di India dan Pakistan, Khidir diidentifikasikan sebagai dewa air (Khwādja Khidir)

    di antara Khidr dan legenda Yahudi klasik ‘Wandering Yahudi’. Krappe, dalam karyanya tentang cerita rakyat, yang mengatakan:

    Sulit untuk memisahkan Tokoh [dari Wandering Yahudi] itu Al-Khidir, salah satu nabi Arab. Dengan .. Perang Salib Eropa menjadi akrab dengan tokoh legendaris ini dan keluar dari itu mengembangkan karakter Ahasyweros atau Isaac Laquedem.

    Haim mendukung dan bahkan mengutip Krappe untuk menyediakan hubungan antara ‘legenda Wandering Jew’ dan kisah Khidir. Atas dasar beberapa kesamaan pendudukan, Khidir juga diidentifikasi dengan nabi Yeremia atau lebih tepatnya itu adalah sebaliknya; Yeremia disamakan dengan Khidr.

    Pandangan Islam

    Sebagaimana banyak nabi-nabi Israel yang dicatat dalam Alkitab Ibrani, Yeremia dianggap sebagai nabi Islam oleh banyak orang Muslim. Yeremia (bahasa Arab: إرميا, Aramiya) tidak disebut di dalam Al Quran, tetapi tafsiran dan sastra Islam banyak menceritakan mengenai kisah hidup Yeremia dan tradisi yang berasal darinya. Ada sastra Islam yang mencatat kehancuran Yerusalem yang paralel dengan kisah yang dicatat dalam Kitab Yeremia.

    Khidir berkata:,

    “Ambillah apa yang telah diberikan Allah SWT kepada mu dengan keteguhan hati dan sungguh-sungguh. Jadikanlah kesabaran sebagai pakaian, kebenaran sebagai pegangan hidup, dan takut kepada Allah sebagai perlindungan yang menumbuhkan amal pada dirimu, dan kamu akan tenang dari ketakutan akan datangnya ajal. Ambillah pedang (kebenaran) Allah genggam erat erat dalam genggaman tanganmu sematkan dalam hati dengan keyakinan seyakin yakinnya, karena tidak ada orang yang dapat menolong dan tidak ada orang yang dapat mencegah kemenangan. Cukuplah bagi mu, Allah sebagai penolong mu.”

    Buat pendinding dirimu? “Bacalah zikir seperti ini (yang maksudnya):

    Maha Suci (Tuhan) Yang Maha Esa yang tidak ada Tuhan selain-Nya.
    Maha Suci (Tuhan) Yang Maha terdahulu dan tidak ada yang menjadikan-Nya.
    Maha Suci (Tuhan) Yang Maha Kekal dan tidak akan binasa.
    Maha Suci (Tuhan) Yang Dia setiap hari dalam kesibukan.
    Maha Suci (Tuhan) Yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan.
    Maha Suci (Tuhan) yang telah menciptakan apa yang dilihat dan tidak kelihatan.
    Maha Suci (Tuhan) yang mengajari segala sesuatu tanpa pengajaran secara langsung.

    Dalam zikir di atas ada dinyatakan bahwa Allah setiap hari atau waktu berada dalam kesibukan. Ini sebenarnya ada ditemui di dalam Quran, yaitu ayat yang mengatakan: Setiap waktu Dia (Allah) dalam kesibukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.249 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: