Memanfaatkan Harta Hasil dari Riba

Asy-Syaikh Abdullah bin Mar’i hafizhohullah ditanya: Bagaimana kalau di tangan kita ada barang hasil riba?

Beliau pun menjawab:

Kewajiban setiap muslim adalah menjauhi riba dengan segala macam bentuknya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda di dalam hadits shahih riwayat jabir radhiyallahu ‘anhu dan selainnya: “Allah Azza wa Jalla melaknat orang yang memakan riba, yang memberi makan, dua saksi dan penulisnya.”

Jadi ada lima orang yang dilaknat oleh Rabb kita melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagian ulama berkata: “Orang yang memakan riba” mencakup orang yang secara langsung mengambil hasil riba itu atau yang ikut memakan hasil riba itu, sebab nash ini bersifat umum.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila.” (QS. Al-Baqarah: 275)

Sehingga tidak boleh makan riba, ia adalah harta yang buruk dan dikhawatirkan akibat buruknya menimpa siapa saja yang memakannya.

Sunnah telah memerintahkan untuk menjauhi harta yang haram, lalu Salaf mengamalkan demikian. Telah tsabit riwayat tentang Abi Bakar radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau radhiyallahu ‘anhu suatu hari makan makanan dari hasil meramal seseorang, tatkala diberitahukan kepada beliau radhiyallahu ‘anhu tentang itu, maka beliau radhiyallahu ‘anhu berupaya memuntahkan makanan tadi, sebab beliau radhiyallahu ‘anhu takut makanan hasil meramal ini akan tertinggal bekasnya dalam diri beliau radhiyallahu ‘anhu.

Sedangkan sesuatu itu haram adalah sebab dzatnya sendiri atau karena sifat yang ada padanya, maka setiap muslim harus menjauhi harta yang haram.

Telah diketahui pula bahwa sebab tertolaknya doa ialah karena makan harta yang haram. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang seseorang yang berdoa dalam keadaannya yang sangat menyedihkan: “Tetapi makanan, minuman dan pakaiannya adalah haram, maka bagaimana mungkin akan dikabulkan baginya?!”

Adapun memanfaatkan harta hasil riba, maka jangan digunakan sebagai makanan, minuman, pakaian, kebutuhan pribadi, atau apa saja yang dipergunakan demi Allah, sebab Allah Azza wa Jalla itu baik dan tidak menerima selain yang baik.

Barangkali bisa digunakan untuk membuat jalan, WC umum untuk selain WC masjid dan kemaslahatan umum lainnya.

Tapi ada perkara-perkara penting yang harus dikembalikan kepada nasehat ulama, di mana perkara ini ada di antara dua perkara yang sulit. Namun secara global, demikianlah jawabannya.

[Diambil dari buku Bingkisan Ilmu dari Yaman untuk Muslimin Indonesia (Transkip Daurah Islamiyah Nasional, 01-08 Juli 2005 Yogyakarta bersama Asy Syaikh Abdullah Bin Umar Bin Mar'i dan Asy Syaikh Salim Bamuhriz), penerbit: Cahaya Tauhid Press, hal. 234-235]

About these ads

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 20/03/2010, in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.247 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: