Hukum Membaca Surat Yasin dan Doa Berjamaah di Kuburan

Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah ditanya: Apa hukum membaca surat Yasin sesudah menguburkan mayat, serta apa hukum adzan di kuburan setelah memasukkan mayat ke liang lahat?

Beliau rahimahullah menjawab:

Membaca surat Yasin di atas kubur seseorang adalah bid’ah yang tidak ada asalnya (dalil), demikian juga membaca Al Qur’an setelah penguburan mayat. Hal itu bukanlah Sunnah, bahkan perbuatan itu adalah bid’ah. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika telah selesai dari menguburkan mayat, beliau berdiri di atasnya dan berkata:

“Mintakanlah ampun bagi saudara kalian ini dan mohonkanlah baginya keteguhan. Sesungguhnya sekarang ini ia sedang ditanya.” [1]

Tidak pernah ada keterangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam membaca Al Qur’an di atas kubur dan tidak pula memerintahkannya.

Beliau rahimahullah juga ditanya: Apakah hukum berdoa secara berjamaah disamping kuburan di mana salah satu dari mereka berdoa dan yang lainnya mengaminkan?

Maka beliau rahimahullah pun menjawab:

Hal ini tidak termasuk sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan bukan pula sunnah para khalifah yang empat. Tidak lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya mengajarkan kepada mereka untuk memintakan ampunan bagi mayit dan memohonkan keteguhan baginya. Semua itu dilakukan dengan sendiri-sendiri dan tidak dengan cara berjamaah.

Sumber: Kumpulan Fatwa Lengkap Tentang Ta’ziah oleh Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin (penerjemah: ‘Aisyah Muhammad Bashori), penerbit: Cahaya Tauhid Press hal. 55 dan 60.

____________________
[HR. Abu Dawud II/70, Al Hakim I/370, Al Baihaqi IV/56, Abdullah bin Ahmad dalam Zawaid Az Zuhd hal. 129 berkata Al Hakim: “Shahih sanadnya dan disepakati oleh Adz Dzahabi.” Berkata An Nawawi (V/292): “Sanadnya jayyid (bagus).” Lihat Ahkamul Janaiz hal. 198. (-pent)

About these ads

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 01/04/2010, in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Assalamualaikum ustad.
    Ana mau tanya adakah dalil yg mengatakan bahwa org pulang dari berhaji di ikuti 40 malaykat dan setiap harinya pergi 1 per 1 trimakasih

  2. mau naya paka ustad ; ap siehhh definisi bidah secara detailll. apakah sesuatu yg tdk pernah dilakukan rasulullah itu dikatakan bidahhhhh …..walpun itu positiffffffff dan bermanffat buat umat atau yg lain ….. bgimana kalau bidah hasanah

    • Secara umum, bid’ah berarti sesuatu yg baru. Kemudian kita rinci lagi, bid’ah yg bersifat keduniaan spt adanya penemuan2 teknologi di zaman kita dan bid’ah yg bersifat keagamaan (ibadah).

      Nah, bid’ah keduniaan, spt komputer, alat transportasi dan alat lainnya yg digunakan manusia utk memudahkan kehidupan mereka di dunia, hal ini tidaklah terlarang kecuali memang terbukti ada madharatnya.

      Sementara bid’ah yg bersifat keagamaan yaitu sesuatu yg digunakan utk mendekatkan diri kpd Allah, namun sesuatu itu belum ada atau tdk ada contohnya dlm syariat, maka inilah bid’ah yg dilarang. Misalnya, seseorang membaca al-Qur’an di kuburan dgn maksud memperoleh pahala, maka ini terlarang krn tdk ada contohnya dari Rasulullah.

      Kaidah bid’ah yg dilarang adalah apabila seseorang melakukan suatu perbuatan dgn niat beribadah namun perbuatannya itu tdk ada contohnya dari syariat. Wallahu a’lam.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.288 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: