Cara-cara Dakwah Menurut Manhaj Salaf

Wasilah dakwah Islamiyyah Salafiyyah sangatlah banyak, amat mencukupi untuk menyebarkan agama ini, membimbing dan menunjuki segenap umat manusia yang memiliki latar belakang dan karakter yang beragam.

Dakwah Salafiyyah tidak membutuhkan wasilah-wasilah bid’ah yang menjamur di tengah-tengah kaum muslimin belakangan ini. Karena mereka yakin bahwa cara-cara syar’i yang dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya adalah cara yang tepat dan cepat dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Di antara wasilah dakwah Nabawiyyah adalah:

1. Khutbah-khutbah

Khutbah ini meliputi khutbah Jumat maupun khutbah ‘Ied. Dengan wasilah ini sang da’i bisa memberikan pengarahan kepada umatnya, baik dalam masalah akidah, tauhid, ibadah, akhlak, maupun muamalag yang dibutuhkan umat. Dia juga bisa meluruskan beragam paham dan aliran yang menyimpang dan membahayakan umat.

2. Halaqah-halaqah ilmu

Ini adalah wasilah yang senantiasa digunakan oleh para ulama dahulu maupun sekarang. Dengan cara ini sang da’i bisa mengkaji secara mendalam berbagai bidang ilmu syar’i. Dia bisa memberi kajian tafsir, hadits, akidah, tauhid, manhaj, fikih, akhlak dan yang lainnya. Dengan cara ini para mad’u (orang yang didakwahi) bisa mendalami secara mendalam pula kajian-kajian di atas.

Dalam halaqah ilmu akan muncul tanya jawab dan diskusi ilmiah, yang dengan itu orang-orang yang hadir dapat menambah wacana dan wawasan keilmuan yang syar’i.

3. Fatwa-fatwa ulama

Dengan wasilah ini, segenap kaum muslimin dapat menyampaikan segala macam problem yang mereka hadapi, baik yang berkaitan dengan masalah agama maupun masalah dunia. Dengan wasilah ini para ulama dan para da’i dapat membimbing dan meluruskan umat di atas syariat Islam yang murni.

Dengan cara ini pula akan terjadi interaksi antara ulama dengan umatnya, yang dengan itu akan semakin erat hubungan antara keduanya. Dan inilah salah satu kunci kesuksesan membentuk generasi Islam Rabbani.

4. Jihad fi Sabililah

Dengan syarat dan ketentuan yang sesuai dengan syariat, jihad adalah cara efektif untuk menyebarkan ajaran Islam ke seluruh penjuru dunia. Hal ini sangat nampak pada sejarah Islam masa lalu yang mencapai zaman keemasan. Islam tersebar ke Timur dan Barat dunia melalui amalan besar ini, jihad fi sabilillah.

Masih banyak lagi cara-cara syar’i Rabbani untuk penyebaran Islam melalui dakwah ilallah. Setiap orang yang mengkaji, menelaah dan memperhatikan Al-Qur’an, sejarah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan sejarah salafus shalih akan mengetahui dengan jelas permasalahan ini. Dan dia akan yakin bahwa cara-cara syar’i sangat mencukupi kebutuhan dakwah Islamiyyah Salafiyyah sepanjang masa dan tempat. Wallahul muwaffiq.

Apakah Wasilah-wasilah Modern Masa Kini Terlarang?

Prinsip bahwa wasilah dakwah adalah tauqifiyyah [1] tidak berarti menghalangi para da’i ilallah untuk menggunakan alat-alat modern atau cara-cara masa kini yang terus ada dan berkembang. Hanya saja hal tersebut harus ditimbang dari sudut syar’i. Kalau tidak ada pelanggaran syariat maka tidak mengapa dan masuk dalam kaidah besar para ahli fiqih yang berbunyi:

“Wasilah itu mempunyai hukum sama dengan tujuan.”

Namun bila di dalamnya terdapat mudharat atau pelanggaran syariat, maka tidak boleh digunakan dan dakwah Islamiyyah Salafiyyah tidak kenal bahkan mengecam kaidah Yahudiyyah dan Ikhwaniyyah:

“Tujuan menghalalkan segala cara.”

Bila pada wasilah tadi terdapat dua fungsi, yang satu untuk perkara syar’i dan yang satunya untuk perkara haram, maka sang da’i dapat menggunakannya untuk kepentingan yang syar’i saja.

Di antara sarana masa kini yang dapat digunakan untuk penyebaran dakwah Salafiyyah Nabawiyyah adalah:

1. Majalah, buletin, selebaran, radio, dan penerbitan kitab.

Fadhilatusy Syaikh Rabh bin Hadi Madkhali hafizhahullah wa syafaahu di dalam sambutannya untuk penerbitan majalah “Manabirul Huda” Al-Jazair menjelaskan:

“… Sesungguhnya sebab yang paling besar dan kuat untuk merealisasikan tujuan-tujuan (yang mulia) tersebut adalah dengan menggunakan wasilah-wasilah yang disyariatkan dan mengarahkannya untuk memahamkan umat, khususnya para pemuda, seperti kitab, kaset, selebaran, majalah, dan radio, sehingga pemahaman yang lurus ini sampai kepada setiap individu umat dan kepada setiap keluarga.

Dengan syarat, orang-orang yang menanganinya adalah ahli yang bermanfaat, yang bertakwa, dan ikhlas karena Allah Rabbul ‘alamiin…”

Perlu juga ditambahkan pada penerbitan majalah:

1. Tidak menerima iklan yang murni untuk bisnis, seperti iklam madu, minyak gosok, minyak wangi, warung sate, dan yang semisalnya.

2. Tidak boleh memuat gambar-gambar yang menunjukkan sisi duniawi yang glamour, seperti gambar-gambar gedung pencakar langit yang menggambarkan kemegahan sebuah kota metropolitan, apalagi gambar makhluk bernyawa yang jelas keharamannya.

3. Bukan untuk tujuan komersial murni. Kalau tujuan utama adalah dakwah ilallah, namun ada sisi keuntungan duniawi dari hasil penjualannya maka tidaklah mengapa.

4. Pengurusnya harus laki-laki. Adapun para wanita maka dapat dialokasikan ke bagian khusus kewanitaan dengan syarat tetap di bawah kepengurusan laki-laki.

Demikian ringkasan penjelasan Syaikhuna Abdurrahman Al-‘Adani hafizhahullah wa syafaahu (semoga Allah menjaga dan menyembuhkan beliau), ketika penulis [2] bertanya langsung kepada beliau di Masjid Mazra’ah, Dammaj, Yaman, semasa penulis masih belajar di Darul Hadits. Wallahul muwaffiq.

2. Pembentukkan Ma’had (Pondok Pesantren)

Wasilah ini sesungguhnya sudah ada di zaman ulama dahulu. Bahkan sebagian ulama ada yang secara khusus menulis buku bertema “sejarah madrasah”.

Demikian pula para ulama di masa sekarang, baik dengan sistem mulazamah [3] -dan ini yang banyak manfaatnya- ataupun dengan sistem klasifikasi per kelas dengan target dan waktu tertentu. Target dan waktu ini bukanlah untuk membatasi waktu menuntut ilmu, namun sebagai persiapan untuk masuk ke jenjang berikutnya secara bertahap. Seperti yang dilakukan para ulama besar di zamannya ketika mendirikan Jami’ah Islamiyyah Madinah.

Wasilah ini termasuk yang dibolehkan oleh Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi dalam sambutan beliau untuk majalah Al-Jazair.

Penulis pernah bertanya kepada Asy-Syaikh Abdurrahman Al-‘Adani tentang dirasah (pengajaran) di madrasah dengan sistem klasikal (dibuat per kelas). Beliau menjawab: “Tidak ada larangan dalam hal ini, sebab para ulama dahulu pernah melakukannya. Dan dirasah di masjid-masjid afdhal (lebih utama).” Demikian khulashah (ringkasan) jawaban beliau. Jazahullah khairan.

Masih bamyak lagi contoh-contoh wasilah dakwah masa kini yang mungkin dapat digunakan. Yang penting adalah tidak ada unsur pelanggaran syariat di dalamnya.

Akhirul kalam, semoga tulisan ini menjadi pencerahan wawasan terhadap dakwah Islamiyyah Salafiyyah dan mudah-mudahan dapat diambil manfaatnya oleh penulis sendiri dan segenap kaum muslimin. Wallahu a’lam bish-shawab.

Footnote:

[1] Tauqifiyyah, yakni harus dengan contoh dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya. Sehingga tidak boleh bagi siapapun untuk membuat wasilah (sarana) dakwah sesuai dengan hawa nafsunya, sesuai dengan hizb, golongan, partainya, atau masyarakat tempat ia berada. (pen.)

[2] Beliau adalah Al-Ustadz Abu Abdillah Afifuddin hafizhahullag. (pen.)

[3] Mulazamah yaitu berguru (langsung) kepada seorang ulama dalam waktu yang lama. (pen.)

Sumber: Majalah Asy Syariah no. 19/II/1426 H/2005, hal. 20-22.

About these ads

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 28/04/2010, in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Back to salaf….

  2. antonius muslim widuri

    selagi umat islam tdk tdk se firqoh dgn salafi maka ia tetap menyesatkan yg lainnya.bid’ah…..bid’ah……bid’ah…..bid’ah…..tp kalau salafi syiar islamnya pake radio+TV gak bid’ah…..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.285 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: