Hukum Pernikahan karena Paksaan Orang Tua

Abu Hurairah radhiallahu anhu berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تُنْكَحُ الْأَيِّمُ حَتَّى‎ ‎تُسْتَأْمَرَ وَلَا تُنْكَحُ‏‎ ‎الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ‏‎ ‎قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ‏‎ ‎وَكَيْفَ إِذْنُهَا قَالَ أَنْ‏‎ ‎تَسْكُتَ

“Tidak boleh menikahkan seorang janda sebelum dimusyawarahkan dengannya dan tidak boleh menikahkan anak gadis (perawan) sebelum meminta izin darinya.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mengetahui izinnya?” Beliau menjawab, “Dengan ia diam.” (HR. Al-Bukhari no. 5136 dan Muslim no. 1419)

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma bahwasannya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الثَّيِّبُ أَحَقُّ‏‎ ‎بِنَفْسِهَا مِنْ وَلِيِّهَا‎ ‎وَالْبِكْرُ يَسْتَأْذِنُهَا‎ ‎أَبُوهَا فِي نَفْسِهَا‎ ‎وَإِذْنُهَا صُمَاتُهَا

“Seorang janda lebih berhak atas dirinya daripada walinya, sedangkan perawan maka ayahnya harus meminta persetujuan dari dirinya. Dan persetujuannya adalah diamnya.” (HR. Muslim no. 1421)

Dari Khansa’ binti Khidzam Al-Anshariyah radhiallahu anha:

أَنَّ أَبَاهَا زَوَّجَهَا‎ ‎وَهِيَ ثَيِّبٌ فَكَرِهَتْ‏‎ ‎ذَلِكَ فَأَتَتْ النَّبِيَّ‏‎ ‎صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ‏‎ ‎وَسَلَّمَ فَرَدَّ نِكَاحَهَا

“Bahwa ayahnya pernah menikahkan dia -ketika itu dia janda- dengan laki-laki yang tidak disukainya. Maka dia datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam (untuk mengadu) maka Nabi shallallahu alaihi wasallam membatalkan pernikahannya.” (HR. Al-Bukhari no. 5138)

Al-Bukhari memberikan judul bab terhadap hadits ini, “Bab: Jika seorang lelaki menikahkan putrinya sementara dia tidak senang, maka nikahnya tertolak (tidak sah).”

Penjelasan ringkas:

Di antara kemuliaan yang Allah Ta’ala berikan kepada kaum wanita setelah datang Islam adalah bahwa mereka mempunyai hak penuh dalam menerima atau menolak suatu lamaran atau pernikahan, yang mana hak ini dulunya tidak dimiliki oleh kaum wanita di zaman jahiliah. Karenanya tidak boleh bagi wali wanita manapun untuk memaksa wanita yang dia walikan untuk menikahi lelaki yang wanita itu tidak senangi.

Karena menikahkan dia dengan lelaki yang tidak dia senangi berarti menimpakan kepadanya kemudharatan baik mudharat duniawiah maupun mudharat diniah (keagamaan). Dan sungguh Nabi shallallahu alaihi wasallam telah membatalkan pernikahan yang dipaksakan dan pembatalan ini menunjukkan tidak sahnya, karena di antara syarat sahnya pernikahan adalah adanya keridhaan dari kedua calon mempelai.

Akan tetapi larangan memaksa ini bukan berarti si wali tidak punya andil sama sekali dalam pemilihan calon suami wanita yang dia walikan. Karena bagaimanapun juga si wali biasanya lebih pengalaman dan lebih dewasa daripada wanita tersebut. Karenanya si wali disyariatkan untuk menyarankan saran-saran yang baik lalu meminta pendapat dan izin dari wanita yang bersangkutan sebelum menikahkannya. Tanda izin dari wanita yang sudah janda adalah dengan dia mengucapkannya, sementara tanda izin dari wanita yang masih perawan cukup dengan diamnya dia, karena biasanya perawan malu untuk mengungkapkan keinginannya.

(http://al-atsariyyah.com/haramnya-nikah-ala-siti-nurbaya.html)

Berikut beberapa fatwa ulama seputar permasalahan ini.

Perbuatan Seorang Ayah Memaksa Putrinya untuk Menikah adalah Haram

Fadhilah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin rahimahullah ditanya:

Saya memiliki saudara perempuan seayah, kemudian ayah saya menikahkannya dengan laki-laki tanpa keridhaannya dan tanpa meminta pertimbangan kepadanya, padahal dia telah berumur 21 tahun. Ayah saya telah mendatangkan saksi palsu atas akad nikahnya, bahwa dia (saudari saya) menyetujui akan hal tersebut. Dan ibunya ikut terjerumus menjadi pengganti dia dalam mengadakan akad. Demikianlah, akad pun selesai dalam keadaan saudari saya senantiasa meninggalkan suaminya tersebut. Apa hukum akad nikad itu dan persaksian palsu tersebut?

Maka beliau rahimahullah menjawab:

Saudari perempuan tersebut, apabila dia masih gadis dan dipaksa oleh ayahnya untuk menikah dengam laki-laki tersebut, sebagian ahlul ilmi berpendapat sahnya nikah tersebut. Dan mereka memandang bahwa sang ayah berhak untuk memaksa putrinya untuk menikah dengan laki-laki yang tidak disenangi putrinya apabila laki-laki tersebut sekufu’ [1] dengannya. Akan tetapi pendapat yang rajih (kuat) dalam masalah ini, bahwasanya tidak halal bagi sang ayah atau selainnya memaksa anak yang masih gadis untuk menikah dengan laki-laki yang tidak disukainya, meskipun sekufu’. Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Wanita gadis tidak boleh dinikahkan hingga dimintai izinnya.”

Ini umum, tidak ada seorang wali pun yang dikecualikan darinya. Bahkan telah warid dalam “Shahih Muslim”:

“Wanita gadis, ayahnya harus minta izin kepadanya.”

Hadits ini memberikan nash atas wanita gadis dan nash atas ayahnya. Nash ini, apabila terjadi perselisihan (antara ayah dan putrinya), maka wajib untuk kembali kepada nash ini. Berdasarkan hal ini, maka perbuatan seseorang memaksa putrinya untuk menikah dengan laki-laki yang tidak disukainya adalah perbuatan haram. Sedang sesuatu yang haram tidak sah dan tidak pula berlaku. Sebab pemberlakuan dan pengesahannya bertentangan dengan larangan yang warid dalam masalah ini. Dan apa saja yang dilarang syariat ini maka sesungguhnya menginginkan dari umat ini agar tidak mengaburkan dan melakukannya. Kalau kita mengesahkan pernikahan tersebut, maknanya kita telah mengaburkan dan melakukan larangan tersebut serta menjadikam akad tersebut sama dengan akad nikah yang diperbolehkan oleh Pembuat syariat ini. Ini adalah suatu perkara yang tidak boleh terjadi. Maka berdasarkan pendapat yang rajih ini, perbuatan ayah anda menikahkan putrinya tersebut dengan laki-laki yang tidak disukainya adalah pernikahan yang fasid (rusak), wajib untuk mengkaji ulang akad tersebut di hadapan pihak mahkamah.

Adapun bagi saksi palsu, maka dia telah melakukan dosa besar sebagaimana tsabit dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwasanya beliau bersabda:

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang dosa besar yang paling besar?”

Kemudian beliau pun menyebutkannya dan pada waktu itu beliau bersandar kemudian duduk dan mengatakan:

“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang dosa besar yang paling besar? Maka kami (para shahabat) menjawab: “Tentu ya Rasulullah!” Beliau bersabda: “Menyekutukan Allah Azza wa Jalla dan durhaka kepada orang tua.” Pada waktu itu beliau bersandar kemudian duduk seraya mengatakan: “Ingatlah, dan perkataan dusta, ingatlah, dan perkataan dusta, ingatlah, dan persaksian palsu…!” Beliau terus mengulanginya hingga para shahabat mengatakan, “Semoga beliau diam”.

Mereka adalah orang-orang yang telah melakukan persaksian palsu. Wajib bagi mereka untuk bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla dan mengatakan perkataan yang haq (benar), dan hendaknya dia menjelaskan kepada hakim yang resmi bahwa mereka telah melakukan persaksian palsu dan bahwasanya mereka mencabut kembali persaksian tersebut. Demikian juga si ibu, yang mana dia telah terjerumus menggantikan putrinya dengan dusta, dia telah berdosa dengan perbuatan tersebut dan wajib baginya untuk bertaubat kepada Allah Azza wa Jalla dan tidak melakukan kembali perbuatan yang semisalnya. [Fatawa Al-Mar'ah]

Tidak Boleh Seorang Ayah Memaksa Putranya untuk Menikah dengan Wanita yang Tidak Disenanginya

Fadhilah Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin juga ditanya:

Apa hukumnya jika seorang ayah ingin menikahkan putranya dengan wanita yang bukan shalihah? Dan apa hukumnya apabila dia tidak mau menikahkannya dengan wanita yang shalihah?

Maka beliau rahimahullah pun memberi jawaban:

Tidak boleh seoramg ayah memaksa putranya untuk menikahi wanita yang tidak disukainya, baik dikarenakan aib yang ada pada wanita tersebut berupa aib dien, tubuhnya atau akhlaknya. Betapa banyak orang-orang yang menyesal ketika memaksa anak-anaknya untuk menikah dengan wanita-wanita yang tidak disukainya. Akan tetapi, dia mengatakan: “Nikahilah dia, sebab dia itu anak saudaraku atau karena dia itu dari kabilahmu” dan alasan yang lainnya. Maka tidak mengharuskan bagi si anak untuk menerimanya dan tidak boleh bagi orang tua untuk memaksa putranya agar menikahi wanita tersebut. Demikian juga, kalau seandainya si anak ingin menikah dengan wanita yang shalihah, kemudian sang ayah menghalang-halanginya, maka hal itu tidak mengharuskan bagi si anak untuk mentaatinya, apabila si anak memang senang dengan wanita shalihah tersebut dan ayahnya mengatakan, “Kamu tidak boleh nikah dengannya!” maka boleh baginya untuk menikah dengan wanita tersebut walaupun dihalang-halangi oleh ayahnya. Sebab seorang anak tidak harus taat kepada ayahnya dalam perkara yang tidak membahayakan ayahnya, bahkan justru bermanfaat bagi ayahnya. Kalau kita katakan bahwasanya wajib bagi seorang anak menaati orang tuanya dalam segala sesuatu hingga dalam permasalahan yang di dalamnya terdapat manfaat bagi si anak dan tidak membahayakan ayahnya, niscaya akan timbul berbagai kerusakan. Akan tetapi dalam keadaan seperti ini, hendaknya seorang anak bersikap luwes terhadap ayahnya, lemah lembut dalam memahamkannya dan semampunya berusaha agar ayahnya merasa lega. [Durus wa Fatawa Al-Haram Al-Makky, jilid 3 hal. 224]

Hukum Nikah Paksa bagi Janda

Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim ditanya tentang hukum seorang anak perempuan yang dinikahkan ayahnya tanpa ada ridha darinya, di mana ketika itu ia telah menjanda, ia telah menikah sebelumnya dengan seorang pria.

Jawaban:

Apabila kondisinya sebagaimana yang anda gambarkan maka nikahnya yang terakhir adalah tidak sah. Karena termasuk syarat-syarat pernikahan adalah adanya ridha dari kedua pasangan (suami-istri). Seorang janda tidak boleh dipaksa oleh ayahnya apabila ia telah berumur lebih dari 9 tahun (para ulama dalam hal ini pendapatnya sama). [Fatawa wa Rasail Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim jilid 10 hal. 80]

Hukum Seorang Janda yang Dipaksa Menikah oleh Ayahnya

Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim ditanya tentang hukum seorang janda yang dipaksa ayahnya untuk menikah.

Jawaban:

Khusus pernikahan seorang wanita dengan lelaki putra pamannya, sementara ia dipaksa oleh ayahnya untuk menikah dengan lelaki itu dalam kondisi sebagai seorang janda yang baligh, sehat akalnya dan kesadarannya. Sekarang pernikahan dengan putra pamannya itu telah berjalam selama 10 tahun dalam keadaan suaminya belum pernah menggaulinya. Ia tidak pernah merasa ridha kepada lelaki itu dan sekarang keadaannya semakin buruk. Ia selalu mendesak lelaki itu untuk memutus ikatan pernikahannya.

Kami simpulkan untuk anda, di mana telah jelas di hadapan anda adanya unsur paksaan dari ayah sang wanita untuk melakukan pernikahan dengan putra pamannya. Sedangkan kondisi ketika itu ia seorang janda yang baligh dan berakal sehat, maka pernikahannya itu adalah tidak sah. Karena termasuk syarat sahnya sebuah pernikahan adalah adanya keridhaan dari calon pasangan suami-istri. Bila keduanya tidak ridha atau salah satunya tidak ridha maka pernikahannya tidak sah.

Di dalam pemaksaan seorang ayah kepada anak-anaknya yang masih di bawah umur dan kepada anak-anaknya yang terganggu akalnya (abnormal), juga kepada anak yang masih gadis (bukan janda) untuk melakukan pernikahan, maka dalam hal ini ada dua pendapat.

Sedangkan bagi janda yang telah baligh dan berakal sehat, maka tidak ada khilaf (perselisihan ulama) bahwa sang ayah tidak berhak untuk memaksamya dan ini adalah pendapat mayoritas ulama. Karena telah diriwayatkan bahwa Al-Khansa bintu Haram Al-Anshariyyah meriwayatkan bahwa ayahnya pernah memaksa ia untuk menikah sementara ia dalam keadaan menjanda. Ia menolaknya dan kemudian mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam selanjutnya beliau membatalkan pernikahannya. [Fatawa wa Rasail Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim jilid 10 hal. 85-86]

Seorang Anak Perempuan Dinikahkan oleh Ayahnya ketika Masih di Bawah Umur dan ketika Dewasa Ia Merasa Tidak Ridha

Samahatusy Syaikh Muhammad bin Ibrahim ditanya tentang hukum seorang anak perempuan yang diserahkan oleh ayahnya kepada seorang lelaki untuk dinikahi, sementara usianya masih kecil, lalu sang ayah meninggal dunia.

Setelah anak perempuan itu baligh, ia menolak penyerahan dirinya yang dilakukan ayahnya dulu, dan ia merasa tidak ridha kepada lelaki (suaminya) itu yang dulu ayahnya telah menyerahkan dirinya kepadanya.

Jawaban:

Apabila keadaannya adalah sebagaimana yang disebutkan, maka tidaklah perbuatan penyerahan yang dimaksud sebagai cara menikahkan yang sah, tidak pula wanita itu dianggap sebagai istri bagi pria tersebut hanya dengan sekedar melakukan apa yang anda sebutkan itu, karena tidak lengkapnya syarat-syarat dari akad nikah yang sah. [Fatawa wa Rasail Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim jilid 10 hal. 78.

Hukum Menikahkan Seorang Perempuan Yatim tanpa Seijinnya?

Fadhilatusy Syaikh Abdurrahman As-Sa'di ditanya:

Apakah boleh menikahkan seorang anak perempuan yatim tanpa seijinnya?

Jawaban:

Seorang perempuan yatim tidak dibenarkan untuk dinikahkan oleh saudara laki-lakinya kecuali dengan persetujuannya. Dan bentuk persetujuan seorang janda adalah dengan ucapan lisan dan ijinnya, sedangkan persetujuan dari seorang gadis bisa dengan ucapan lisannya bisa pula dengan sikap diamnya sepanjang ia tidak mengucapkan kata "tidak".

Bila ibunya, bibinya (dari jalur ibu), atau saudara perempuannya mengatakan bahwa ia ridha sebelum ia mengatakannya sendiri, maka tidak perlu ada persaksian (pernyataan) langsung atas persetujuannya. Kecuali bila dikhawatirkan bahwa saudara laki-lakinya atau walinya ingin memaksanya untuk melakukan pernikahan, maka harus ada persaksian (pernyataan) langsung atas persetujuannya. [Al-Majmu'ah Al-Kamilah li Muallafat Asy-Syaikh As-Sa'di hal. 349/7]

Menikahkan Seorang Anak Perempuan dengan Lelaki yang tidak disukainya

Fadhilatusy Syaikh Abdurrahman As-Sa’di ditanya:

Apakah boleh memaksa seorang anak perempuan untuk menikah dengan lelaki yang tidak disukainya?

Jawaban:

Tidak boleh bagi ayah perempuan itu untuk memaksa dan tidak boleh pula bagi ibunya untuk memaksa anak perempuan itu menikah, meski keduanya ridha dengam keadaan agama dari lelaki tersebut. [Al-Majmu'ah Al-Kamilah li Muallafat Asy-Syaikh As-Sa'di hal. 349/7]

Wallahu a’lam bish-shawab.

Footnote:

[1] Lihat pengertian kufu di Batasan Kufu dalam Nikah

Referensi:

1. Bingkisan ‘tuk Kedua Mempelai karya Abu ‘Abdirrahman Sayyid bin ‘Abdirrahman Ash-Shubaihi (alih bahasa: Abu Hudzaifah), penerbit: Maktabah Al-Ghuroba’, hal. 451-456.

2. Fatwa-fatwa Ulama Ahlus Sunnah Seputar Pernikahan, Hubungan Suami Istri dan Perceraian disusun oleh Amin bin Yahya Ad-Duwaisi (penerjemah: Abu Abdirrahman Muhammad bin Munir), penerbit: Qaulan Karima, hal. 23-28.

About these ads

Tentang Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 04/05/2010, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 56 Komentar.

  1. assalamu’alaikum ya ustadz,,,,,,,,,saya sudah di khitbah ,,dan sekarang ini ,calon saya selalu ingin menjimak saya pada hal saya belum menjadi yang halal untuknya,,,,dan saya baru menyadari bahawa dia mencintai saya karena nafsu,,,,karena terlanjur di khitbah orang tua saya lebih memberatkan malunya dari pada keslamatan saya,,,

    • Anda wajib menjaga kehormatan diri anda, hindari sekuat mungkin utk khalwat (berdua2an). Bgmnpun anda belum halal bg dia dan jg sebaliknya. Dan sbg wanita anda yg akan mengalami kerugian bila sampai terjadi perzinaan. Dekatkan diri anda kpd Allah dan mintalah pertolongan kpd-Nya agar kesucian anda terjaga. Semoga Allah memberi kemudahan kpd anda.

  2. Assalamualaikum Warahmatullah wabarakatu,
    Saya memiliki beberapa pertanyaan pak ustad,
    1. Bila seorang wanita(janda) di nikahkan di bawah ancaman, apakah pernikahannya sah dlm agama?
    2. Apakah boleh wanita tersebut meminta cerai/menceraikan suaminya tersebut?

    Terima kasih atas penjelasannya pak ustad,
    Assalamualaikum Warahmatullah wabarakatu.

  3. assalamu’alaikum ustd, saya seorg wanita sudah tdk perawan tp saya sudah taubat dan menyesali perbuatan saya, org tua saya memaksa saya untk menikah dg lelaki pilihan org tua saya. lelaki tersebut msh keluarga dkat dg kami. tetapi saya menolak krn saya tdk suka. apakah saya termasuk anak durhaka jika tdk mau menuruti kehendak org tua??

    • ALLOH dan RosulNYA tdk melarang siapapun untk menolak pernikahan paksa…Rosululloh juga sllu mengembalikan keputusan kpd org yg akn/menjalani nikah paksa,bkn kpd org tuanya..ingat “bkn kpd org tuanya”..

  4. assalammualaikum pak ustad.,saya mau tanya untuk menenangkan hati saya yang lagi sakit.
    dulu saya pacararan..kami saling mencintai dan di restui sama ortu nya,
    tapi kini sebalik nya,sekarang kami berdua di pisahkan.,sebab ortu nya cewek telah menjodohkan dia,karna alasan nya orang itu melebihi saya.

    hati saya pun sakit.,begitu juga pacar saya.
    tapi pacar saya harus nuruti kata orang tua nya.walaupun dia berat mutusin saya.

    yang saya mau tanyakan
    1.bagaimana cara melupain dia tanpa ada rasa dendam
    2.apakah salah ortu nya memisahkan kami berdua.dan menjodohkan pacar saya dengan orang lain.yang tidak dia cintai..
    3.apakah ini takdir dari allah
    4.bagaimana langkah saya selanjut nya
    saya mohon nasehat nya
    Balas

    • ya, berimanlah kpd takdir Allah. yakinilah apa yg tdk ditakdirkan utkmu selamanya tak akan kamu peroleh dan apa yg tlh ditetapkan utkmu pasti akan kamu dapat, meski kamu tak ada usaha mendapatkannya. kalau sdh beriman kpd takdir, lantas utk apa mengharapkan apa yg bukan milikmu?

  5. assalaamu alaikum pak ustadz saya imron mau bertanya bagaimana hukumnya seorang istri tidak dapat ucapan talak dari suaminya selama 5thn,apakah boleh nikah lg dengan pria lain? krna suaminya ttp sakit hati tdk mau ngucapin talak terhadap istrinya,laki2 itu pilihan dr orang tuanya,menggugat mintak ditalak si istri itu, suami ttp tdk mau karna bilang aku sangat mencintai kamu.9bln lamanya berkeluarga bentrok tiap hari akhirnya lari sampai sekarang suaminya dah nikah sama wanita lain.bagaimana pak ustadz apa selamanya tetap tidak bisa nikah dengan pria lain mohon penjelasannya saya tunggu wssalam imron rosadi

    • Ada beberapa point yang perlu dipahami :

      1. Jika wanita tersebut masih berstatus sebagai istri yang sah (belum diceraikan oleh suaminya) maka haram hukumnya menikah dengan laki-laki lain sampai suaminya menceraikannya dan melewati masa iddah.

      2. Masa iddah istri yang ditalak/dicerai suaminya perlu dirinci :

      a. jika istri dicerai dalam keadaan hamil, masa iddahnya sampai ia melahirkan

      b. jika istri dicerai tidak dalam kedaan hamil, masa iddahnya tiga kali haid.

      3. Jika ternyata istrinya nekad menikah dengan laki-laki lain dalam keadaan belum dicerai oleh suaminya yang pertama, maka akad nikahnya tidak sah dan wajib bagi hakim untuk memisahkan keduanya.

      4. Jika suami tersebut tidak mau menceraikan istrinya karena sakit hati atau ingin menyusahkan istrinya sehingga tidak bisa menikah dengan laki-laki lain, maka hukumnya juga haram.

      Allah ta’ala berfirman,

      وَلاَ تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًا لِّتَعْتَدُوا وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ وَلاَ تَتَّخِذُوا ءَايَاتِ اللهِ هُزُوًا

      “Janganlah kamu menahan (tidak menceraikan) mereka (istri) untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah permainan…” [Al-Baqarah : 231]

      5. Jika suami tersebut tidak mau menceraikan istrinya karena masih mencintainya maka hal itu diperbolehkan, selama ia dapat memenuhi hak-hak istrinya dengan baik. Hendaknya ia bersabar dalam menghadapi istrinya, tidak bosan dalam memberikan nasehat dan menghindari perselisihan sedapat mungkin.

      4. Pernikahan suami tersebut dengan wanita lain (istri kedua) hukumnya sah.

      Allahua’lam

  6. manteb broo artikel nya…berguna bgt :)

  7. Assalamu’alaikum..
    Ustad, saya ingin bertanya, saya seorang gadis dan mencintai seorang duda dan punya 1 anak.. Awalnya saya takut untuk menjalin hubungan dengannya krn statusnya tersebut.. Tp melihat kesungguhannya akhirnya saya menerimanya dan menjalani hubungan ini selama 4 tahun.. Orangtuanya sangat menyayangi saya, namun Orgtua saya tidak menyukainya krn statusnya.. Orangtua mengharapkan saya punya pendamping yg mapan, dan mempunyai tittle, krn saya sdh mempunyai pekerjaan tetap. Padahal laki2 yg saya suka juga seorang pekerja keras dan mempunyai usaha. Sendiri.. Laki2 itu berniat menikahi saya, namun orgtua saya dan keluarga saya tidak ada yg setuju, saya sangat menyayanginya…apa yg Harus saya lakukan?

  8. adinda bahtiar

    aslamualaiku, mohon bimbingannya, saya dijodohkan oleh orang tua saya, dan dipaksa menikah dengannya, padahal saya tidak mencintainya, dan saya punya pilihan sendiri, dia baik, sopan, taat agama, dan berasal dari keluarga yang baik2 (insyaallah bisa bimbing saya), tapi saya tetap dipaksa nikah oleh orang tua saya walopun saya sudah kasih pengertian pada mereka, dan mereka tidak mau mengrti saya (mungkin mereka takut malu jika membatalkan perjodohan ini), kini saya telah menikah dengan orang yang dijodohkan dengan saya, saya tidak bahagia dan merasa tersiksa batin, bukankah pernikahan untuk menentramkan jiwa? saya takut akan jadi orang yang kufur, sy harus gimana dengan keadaan ini?

  9. @ Yaya

    Carilah calon suami yang Anda cintai dan diterima di keluarga Anda. Laki-laki lain yang baik di dunia ini masih banyak. Saya yakin Anda bisa melupakannya. Pernikahan bukan hanya melibatkan Anda dan suami, namun juga melibatkan dua keluarga besar. Perjalanan masih panjang. Jika di awal sudah bermasalah, saya khawatir permasalahan berikutnya akan lebih besar. Apa jadinya jika seluruh keluarga Anda membenci suami Anda nanti?

    Carilah calon suami yang baik agamanya, menentramkan hati dan dapat membuat Anda menundukkan pandangan dari laki-laki lain. Kriteria lain yang tidak kalah penting, mendapat restu dari dua keluarga..

    Betapa banyak sepasang muda-mudi yang kawin lari, ternyata di tengah perjalanan ia menyesal dengan pasanganya. Ia telah salah memilih pasangan. Jika keadaannya demikian, kemana kita akan mengadu jika orang tua kita terlanjur sakit dan kecewa..

    @ Adinda Bahtiara

    Jika Anda telah menikah dengannya, bersabarlah.. . Lupakanlah masa lalu yang menyakitkan. Mulailah hidup baru dengan seorang suami yang sangat mencintai Anda. Terimalah dia apa adanya, maafkanlah kekurangan-kekurangan yang ada padanya. Ingatlah kebaikan-kebaikan suami selama ini.

    Saya yakin suatu hari nanti Anda akan mencintai suami Anda, merindukannya jika ia pergi dan berbahagia dengan memperoleh buah hati dan buah cinta kalian berdua.

    Mudah-mudahan Allah melapangkan hati kita untuk menerima ketentuan dan takdir dari Allah..

    wabillahittaufiq

  10. Assalamu’alaikum saya mau bertanya, saya ppunya pacar, dan insyaAllah kami seriuss ddlm hub ini, pacar saya juga niat melamar saya akhir tahun, tp di satu sisi org tua saya tidak suka krna mslh keerjaan..dan trnyata org tua saya sudah mmemilih calon lain tp saya snddri tidak suka, yg ingin saya tanya, apakah saya durhaka kepd orgtua saya jika saya menolak dan memppertahankan calon pilihan ssaya? Makassiih..

  11. Wa’alaikumussalam warahmatullah..

    Tidak diperbolehkan bagi orang tua untuk memaksa anaknya menikah dg lelaki atau wanita yg tidak disukai.. Jika Anda menolak pilihan orang tua, itu tidak terhitung sebagai kedurhakaan. Jika calon Anda tidak direstui keluarga & pilihan keluarga jg tidak Anda suka, maka ambillah jalan tengah. Carilah calon yg Anda cintai dan mendapatkan restu keluarga.. Brtanyalah pd mereka, kriteria spt apa yg mereka maukan. Lalu berusahalah mencari pendamping hidup yg sesuai kriteria keluarga tp jg ia mendapatkan tempat di hati Anda..

    @ Adinda Bahtiar

    jika Anda telah berusaha mencintai suami! Anda dan berbakti padanya, namun cinta itu belum tumbuh. Bahkan makin hari, perasaan Anda makin tersiksa dengan apa yg Anda jalani. maka sampaikanlah pd keluarga Anda apa yg Anda rasakan selama ini. Mudah2an mereka mau mengerti, atau Anda boleh menggugat cerai suami Anda di pengadilan agama. Tapi ini adalah solusi trakhir, jika memang Anda telah berusaha mencintai suami Anda sepenuh hati, namun cinta itu tidak kunjung datang, bahkan Anda semakin tersiksa batin.

    waffaqanallahu waiyyakum

  12. Muslim al ghazali

    apakah ada hadist yang m,enjewlaskan tidak di perbolehkannya kawin paksa ???????????

  13. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    وَلا تُنْكَحُ الْبِكْرُ حَتَّى تُسْتَأْذَنَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ إِذْنُهَا، قَالَ أَنْ تَسْكُتَ

    “Seorang gadis tidak dinikahkan sebelum diminta persetujuannya (baik dengan perkataan atau diam). Para shahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana persetujuannya?’ Beliau menjawab, ‘Dia diam (sudah dianggap setuju).” [HR. Al-Bukhori no. 4741]

    عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
    أَنَّ زَوْجَ بَرِيرَةَ كَانَ عَبْدًا يُقَالُ لَهُ مُغِيثٌ كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَيْهِ يَطُوفُ خَلْفَهَا يَبْكِي وَدُمُوعُهُ تَسِيلُ عَلَى لِحْيَتِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعبَّاسٍ يَا عَبَّاسُ أَلَا تَعْجَبُ مِنْ حُبِّ مُغِيثٍ بَرِيرَةَ وَمِنْ بُغْضِ بَرِيرَةَ مُغِيثًا فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ رَاجَعْتِهِ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ تَأْمُرُنِي قَالَ إِنَّمَا أَنَا أَشْفَعُ قَالَتْ لَا حَاجَةَ لِي فِيهِ

    Dari Ibnu Abbas bahwasanya suami Bariroh adalah seorang budak. Namanya Mughits. Sepertinya aku melihat ia selalu menguntit di belakang Bariroh seraya menangis hingga air matanya membasahi jenggot. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Abbas, tidakkah kamu ta’ajub akan kecintaan Mughits terhadap Bariroh dan kebencian Bariroh terhadap Mughits?” Akhirnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda: “andaisaja kamu mau meruju’nya kembali (menikah dengannya).” Bariroh bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah Anda menyuruhku?” beliau menjawab, “Aku hanya menyarankan.” Akhirnya Bariroh pun berkata, “Sesungguhnya aku tak butuh sedikit pun padanya.” [HR. Al-Bukhari, 16/322]

    Mughits sangat mencintai Bariroh. Besarnya cinta ini sampai membuat Mughits mengikuti kemanapun Bariroh pergi dengan derai air mata yang membasahi janggutnya. Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam iba dengan penderitaan Mughits, lalu merekomendasikan Bariroh agar berkenan menikah dengan Mughits. Ternyata Bariroh menolaknya dan Nabipun tidak memaksa. Tidak adanya paksaan dari Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam kepada Bariroh kepada Mughits padahal Mughits sangat mencintai Bariroh, menunjukkan bahwa memilih suami adalah hak penuh wanita hingga Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi Wasallam sendiripun tidak berani intervensi yang bersifat memaksa/menekan.

    عَنْ خَنْسَاءَ بِنْتِ خِذَامٍ الْأَنْصَارِيَّةِ
    أَنَّ أَبَاهَا زَوَّجَهَا وَهِيَ ثَيِّبٌ فَكَرِهَتْ ذَلِكَ فَأَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرَدَّ نِكَاحَهَا

    Dari Khansa’ binti Khidzam Al Anshariyah; bahwa ayahnya mengawinkannya -ketika itu ia janda-dengan laki-laki yang tidak disukainya, kemudian dia menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau membatalkan pernikahannya. [HR.Al-Bukhari, 21/273]

    عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ
    أَنَّ ابْنَةَ خِذَامٍ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَتْ أَنَّ أَبَاهَا زَوَّجَهَا وَهِيَ كَارِهَةٌ فَخَيَّرَهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

    Dari Ibnu Abbas; bahwasannya anak perempuan Khidzam menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan bahwa ayahnya telah menikahkan dirinya, padahal ia tidak menyukainya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memberinya hak untuk memilih. [HR. Ahmad, 5/372]

    Dikutip oleh Hanif dari tulisan Abu Haura hafizhahullah

  14. Ustad, saya mau tanya, umur pernikahan kami baru 11 bulan. Dulu kami menikah karena istri saya di paksa oleh ibunya (karena ayah udah meninggal), istri saya memang ikhlas menerima perjodohan ini, tapi ikhlasnya itu karena takut ibu kenapa-kenapa. Takut ibu mikir yang macam2 lah. Akhirnya dia menerima perjodohan ini dng ikhlas, tapi juga terpaksa.
    bahkan sampai sekarang pun istri saya belum bisa menerima saya. Terkadang saya juga sakit hati ustad. Tp saya berusaha nerima semua ini dng ikhlas.
    saya mau tanya, hukum pernikahan qt ini gimana ustad?

  15. Pernikahan Anda sah insya Allah. Berbuat baiklah pada istri Anda, buatlah ia menjadi wanita yang paling bahagia bersuamikan Anda. Insya Allah suatu saat nanti cinta istri kepada Anda akan tumbuh. Bersabarlah terhadap perilaku istri yg kurang menyenangkan.

    Janganlah menunda-nunda kehamilan, karena kehadiran anak bisa menjadi faktor tumbuhnya kasih sayang antar suami istri. Sebagai contoh, ketika istri Anda brsusah payah mengurus anak, mencuci, dll, Anda memberikan sikap pengertian yang membuatnya simpati terhadap Anda. Jangan lupa pula Anda berdoa pada Allah, semoga Allah menjadikan rumah tangga kita sebagai rumah tangga yang bahagia, penuh kasih sayang dan berjalan di atas sunah rasul. amiin.

    wabillahittaufiq

  16. Oiya ustadz, maaf sedikit menyimpang.
    sudah lama saya pgen hubungan suami-istri, tapi istri saya selalu tidak mau. Apakah ada solusi tadz agar saya bisa lebih bersabar?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.108 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: