Hukuman Dalam Pembunuhan

Pembunuhan terbagi menjadi pembunuhan yang disengaja, menyerupai pembunuhan yang disengaja dan pembunuhan yang salah. Pembunuhan yang disengaja yaitu membunuh seseorang yang darahnya terlindungi dengan sesuatu yang diduga kuat dapat membunuhnya. Dengan ini dipahami bahwa pelaku pembunuhan yang disengaja adalah seorang yang berakal, baligh dan sengaja berniat menghilangkan nyawa seseorang yang tidak berhak untuk dibunuh secara syar’i.

Adapun pembunuhan yang menyerupai pembunuhan yang disengaja, yaitu seorang mukallaf yang sengaja membunuh seseorang yang darahnya terlindungi dengan sesuatu yang menurut kebiasaan tidak dapat menghilangkan nyawa seseorang, seperti dia memukulnya dengan tongkat yang ringan, batu kecil, meninju dengan tangannya, cambuk atau sejenis itu, maka ini adalah pembunuhan tanpa kesengajaan dengan perbuatannya. Beda halnya dengan orang yang dipukul di bagian tubuhnya yang dapat mematikan atau yang dipukul adalah anak kecil atau orang sakit yang bisa mati dengan pukulan semacam itu, atau yang dipukul orangnya kuat hanya saja si pemukul menghantamnya secara bertubi-tubi sehingga dia mati, maka ini merupakan pembunuhan yang disengaja.

Adapun pembunuhan yang salah, yaitu seorang mukallaf melakukan sesuatu yang dibolehkan, seperti dia sengaja melemparkan sesuatu ke tujuan tertentu namun ternyata mengenai seseorang yang darahnya terlindungi sehingga menewaskannya, atau seperti seseorang menggali sumur lalu orang lain tersungkur di dalamnya. Maka ini tergolong pembunuhan yang salah, termasuk ini pula pembunuhan yang sengaja yang dilakukan oleh orang yang bukan mukallaf seperti anak kecil dan orang yang gila.

Konsekuensi dari pembunuhan yang disengaja adalah: pelakunya berdosa, tidak mendapatkan waris atau wasiat (dari orang yang dibunuh), dan membayar kafarah atau denda ketika wali yang terbunuh memaafkan dan rela menerima denda itu, sebagaimana dijatuhkannya qishash sebagai konsekuensinya karena firman Allah Azza wa Jalla:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Rabb kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.” (Al-Baqarah: 178)

Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang dibunuh maka walinya memilih salah satu dari dua perkara yaitu meminta tebusan (diyat) atau membunuh si pembunuh (qishash).”

Maka (memilih) memaafkan atau qishash mengikuti kemauan wali korban pembunuhan dan mereka adalah ahli waris si terbunuh jika ingin menuntut denda. Mereka boleh menuntutnya (untuk diqishash) dan jika ingin, memaafkannya. Jika salah seorang ahli waris itu memaafkannya maka gugurlah qishash, karena hak itu tidak terbagi-bagi.

Adapun pembunuhan yang menyerupai pembunuhan yang sengaja mengharuskan dua perkara:

1. Berdosa, karena dia telah membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah Azza wa Jalla kecuali dengan alasan yang benar.

2. Denda yang berat yaitu 100 ekor onta dan 40 ekor darinya telah bunting. Denda ini dibebankan atas kerabat pembunuh dari kalangan laki-laki yang baligh dari arah bapak yang mendapatkan warisan dengan bagian sisa (ashabah), mampu serta berakal. Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang dibebani membayar denda itu adalah kabilah dari orang yang melakukan dosa atau kejahatan.

Sedangkan pembunuhan yang salah, maka di dalamnya ada dua perkara:

1. Membayar kafarah.

2. Denda yang diringankan yaitu membayar 100 ekor unta yang diwajibkan atas kerabatnya secara mengangsur selama 3 tahun.

Kafarah dalam Pembunuhan

Kafarah merupakan ungkapan tentang kewajiban memerdekakan budak wanita mukminah yang selamat dari cacat, tidak memiliki pekerjaan dan usaha. Jika tidak mampu maka berpuasa selama 2 bulan berturut-turut, karena Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diyat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mukmin, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diyat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara taubat kepada Allah. Dan adalah Allah Azza wa Jalla Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’: 92)

Madzhab Syafi’i berpendapat bahwa kafarah membunuh boleh dilakukan dengan memberikan makanan jika tidak mampu berpuasa karena telah berusia lanjut, sakit atau mendapati banyak kesulitan. Dia memberi makan 60 orang miskin dan memberi satu makanan kepada setiap orang.

Para ahli fiqih tidak sependapat dengan hal itu karena tidak ada dalil yang menunjukkannya.

Adapun jika sekelompok manusia membunuh seseorang dengan pembunuhan yang salah, mayoritas ulama berpendapat: masing-masing wajib membayar kafarah.

Al-Qurthubi rahimahullah menyebutkan, “Meskipun dalil itu menunjukkan bahwa kafarah diwajibkan atas orang yang membunuh dengan pembunuhan yang salah, maka yang melakukan pembunuhan dengan sengaja juga wajib menunaikannya bahkan ia lebih pantas diwajibkan membayar kafarah.”

Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Hadits Wailah radhiyallahu ‘anhu menjadi dalil temtang ditetapkannya kafarah atas pembunuhan dengan sengaja. Demikian ini jika pembunuh itu dimaafkan atau ahli waris yang terbunuh rela menerima denda. Adapun jika dia menuntut (qishash) terhadapnya maka tidak ada kafarah bahkan membunuhnya menjadi kafarah baginya.

Denda

Denda adalah harta yang wajib diberikan kepada korban kejahatan atau walinya disebabkan kejahatan itu. Denda dinamakan Al-Aq, tujuannya untuk mencegah kejahatan semisalnya dan menjaga jiwa. Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mewajibkan dan menentukan kadarnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menentukan denda 100 ekor unta untuk seorang yang merdeka dan muslim jika dia memiliki unta, 200 ekor sapi atas orang yang memiliki sapi, 2000 kambing bagi yang memiliki kambing, 1000 dinar atas mereka yang memiliki emas, 12.000 dirham atas orang yang memiliki perak dan 200 perhiasan atas orang yang memiliki perhiasan. Denda manapun yang ditetapkan untuk orang yang harus membayar denda, maka pihak wali harus menerimanya.

Di antara yang disepakati oleh para ulama denda diwajibkan atas yang salah, pembunuhan yang menyerupai pembunuhan yang disengaja dan pembunuhan sengaja yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki salah satu syarat dari syarat-syarat taklif seperti anak kecil dan orang gila. Diwajibkan pula atas orang tidur yang terbalik tubuhnya ketika tidur dan mengenai orang lain sehingga menewaskannya, atas orang yang jatuh menimpa orang yang lain sehingga menghilangkan nyawanya, atas orang yang membuat lubang sehingga orang jatuh ke dalamnya hingga mati dan atas orang yang terbunuh sebab berdesak-desakan. Adapun denda yang berat dalam pembunuhan menyerupai pembunuhan yang disengaja hanyalah membayar unta bukan yang lainnxa dimana 40 ekor darinya harus mengandung anak atau bunting.

Diyat (denda) wajib dibayarkan dari harta pelaku kejahatan dalam pembunuhan yang sengaja jika qishas digugurkan, sedangkan dalam pembunuhan yang menyerupai pembunuhan yang sengaja dan pembunuhan yang salah, diyat dibebankan atas kerabatnya laki-laki yang sudah baligh lagi mampu mendapatkan warisan dengan bagian sisa (ashabah) jika pelaku kejahatan memiliki kerabat dan asal kewajiban diyat dibebankan atas kerabat tersebut, karena terdapat riwayat yang shahih bahwa dua orang perempuan dari Huzail sedang berkelahi hingga satu sama lain saling melempar, akhirnya salah satu terbunuh beserta janin yang ada dalam perutnya, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan beban diyat wanita itu atas kerabatnya.” Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Keluarga si pelaku bersama-sama membantu dan menolong membayar denda atas pelaku kejahatan yang tanpa ada unsur kesengajaan, dan dendanya diserahkan kepada kabilah atau keluarga korban supaya orang-orang yang memiliki nasab dengan keluarga kabilah korban tidak melakukan pembalasan.

Ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan, “Diyat diambilkan dari harta pelaku pembunuhan yang salag ketika keluarganya tidak mampu membayar menurut salah satu dari dua pendapat ulama yang benar.”

Terkadang seseorang dapat menggugurkan haknya di dalam menerima denda (dengan menuntut qishas), tetapi dia tidak mampu menggugurkan hak orang lain yang juga berhak menerima denda, maka dalam hal ini harus mendapatkan keridhaan dari mereka. Sebagaimana diwajibkan memberikan diyat dalam perkara pembunuhan jiwa, maka diyat juga diwajibkan pada kasus terpotongnya anggota-anggota badan serta bagian lain yang bermanfaat, luka-lukapun memiliki diyat sebagaimana telah dijelaskan dengan rinci dalam kitab-kitab fiqih…

Diyat wanita yang membunuh dengan pembunuhan yang salah adalah setengah dari diyat seorang laki-laki, demikian pula diyat jari-jemari dan luka-lukanxa adalah setengah dari diyat laki-laki dan luka-lukanya, inilah pendapat mayoritas ahli ilmu. Seperti itu juga diyat untuk Ahli Kitab jika mereka terbunuh dengan pembunuhan yang salah, maka diyatnya setengah dari diyat seorang muslim. Maka diyat seorang laki-laki dari mereka adalah setengah diyat laki-laki yang muslim dan diyat seorang perempuan dari mereka adalah setengah diyat seorang perempuan muslimah. Di samping membayar diyat, juga wajib menunaikan kafarah tatkala membunuh orang kafir yang berada dalam perlindungan negara muslim (kafir dzimmy) dan orang kafir yang memiliki perjanjian damai dengan kaum muslimin (kafir mu’ahad, demikian menurut pendapat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Sya’by rahimahullah, Nakha’i rahimahullah, Syafi’i rahimahullah dan dipilih oleh Ath-Thabary rahimahullah. [1]

Qishas

Qishas wajib ditegakkan dengan syarat: yang terbunuh darahnya terlindungi dan pembunuhnya adalah orang yang baligh dan berakal. Jika yang dibunuh seorang yang berhak diperangi atau pelaku zina yang telah menikah atau orang yang murtad, maka tidak ada tanggungan atas si pembunuh, tidak ada qishas dan tidak ada denda karena mereka adalah orang-orang yang darahnya tidak terlindungi. Sedangkan pembunuhan yang dilakukan anak kecil termasuk pembunuhan yang salah.

Juga, tidak ada paksaan dalam pembunuhan, karena itu Malik dan pengikut madzhab Hambali berpendapat bahwa yang memerintah dan yang diperintah untuk membunuh semuasnya diqishas/dihukum bunuh jika wali yang terbunuh tidak memaafkan. Jika wali memberikan maaf maka wajib membayar diyat, karena pembunuh telah sengaja mengambil haknya secara penuh dengan membunuh kepada yang lain, dan yang memaksa membunuh menjadi penyebab terjadinya pembunuhan dengan suatu alat yang menurut keumuman dapat mengantarkan kepada kematian. Sedangkan jika seseorang memerintah anak kecil untuk membunuh orang lain, maka qishas ditetapkan atas yang memerintah.

Disyaratkan dalam qishas bahwa yang membunuh bukanlah asal nasabnya yang dibunuh. Maka tidak ditetapkan qishas pada seorang ayah yang membunuh anaknya dan anak yang membunuh anaknya demikian seterusnya ke bawah meskipun dia telah membunuhnya dengan sisi kesengajaan apapun. Berbeda dengan anak yang membunuh salah satu dari kedua orang tuanya, maka ia diqishas dengan dasar kesepakatan ulama. Tidaklah dibunuh seorang muslim yang telah membunuh seorang kafir dan seorang kafir yang tergolong memerangi muslimin berdasarkan ijma’ (kesepakatan) ulama dan mayoritas ulama berpendapat bahwa seorang muslim tidak dibunuh (dalam hal ini). Juga ketika membunuh kafir dzimmi dan kafir mu’ahad karena adanya hadits-hadits shahii tentang hal itu.

Jika sekelompok manusia membunuh satu orang, maka disebabkan hal itu mereka semua dibunuh atas dasar perkataan Umar radhiyallahu ‘anhu tentang orang yang terbunuh dengan tipudaya, “Jika penduduk Shan’a bersepakat untuk membunuhnya, niscaya akan saya bunuh mereka semua.”

Jika seseorang memegangi atau menahan si A, kemudian yang lain membunuh si A itu, maka yang membunung dibunuh dan yang menahan atau memegangi dipenjara. Demikian itu keputusan Ali radhiyallahu ‘anhu dan pendapat ini diikuti oleh pengikut madzhab Imam Syafi’i dan Imam Hanafi.

Qishas ditetapkan berdasarkan pengakuan atau persaksian dua orang yang adil. Dalam pelaksanaannya, disyariatkan pengqishas adalah orang yang berakal dan baligh, jika tidak demikian maka pelaku kejahatan ditahan sehingga pengqishas yang masih anak-anak itu mencapai usia baligh dan yang gila menjadi sadar serta semua wali korban kejahatan sepakat untuk menegakkan qishas. Jika sebagian mereka tidak ada, masih anak-anak atau gila, maka yang tidak ada ditunggu sehingga hadir, yang anak kecil ditunggu sehingga baligh, dan yang gila ditunggu sehingga sadar. Jika salah satu walinya memaafkan maka gugurlah qishas karena hak qishas tidak terbagi.

Sebagaimana telah disyaratkan, hukuman yang ditimpakan kepada pelaku kejahatan tidak menimpa kepada yang lainnya. Maka orang hamil yang melakukan pembunuhan tidak dibunuh sehingga dia melahirkan kandungannya dan menyusuinya -jika tidak didapati orang lain yang akan menyusui serta mengasth bayinya- wanita itu dibebaskan sehingga menyusui anaknya selama 2 tahun. Seperti itu juga seorang wanita hamil yang melakukan kejahatan atas anggota badan orang lain, maka tidak diqishas sehingga melahirkan anaknya. Qishas ditegakkan ketika wali-wali korban kejahatan telah hadir, dalam keadaan baligh serta merta menuntutnya.

Para ulama sepakat bahwa orang yang membunuh di Tanah Haram, maka dia boleh dibunuh di situ pula.

Kewajiban menegakkan qishas menjadi gugur dengan sebab semua wali korban atau salah satunya memaafkan -dengan syarat yang memaafkan itu berakal dan tamyiz (dapat membedakan)- sebagaimana qishas itu gugur disebabkan pelaku kejahatan mati atau jari-jemari yang dipakai melakukan kejahatan itu terputus. Jika qishas telah gugur maka diyat wajib diambilkan dari warisannya untuk diserahkan kepada wali korban menurut pendapat madzhab Hambali dan salah satu pendapat Syafi’i.

Qishas merupakan hak hakim. Al-Qurthuby rahimahullah menyatakan, “Tidak ada perselisihan bahwa yang menegakkan qishas bagi pelaku pembunuhan adalah pemimpin rakyat. Mereka diwajibkan menegakkan qishas serta hukuman-hukuman lain bagi pelaku tindak kejahatan, karena Allah Azza wa Jalla menuntut semua orang yang beriman untuk menegakkan qishas. Jika semua orang yang beriman tidak sanggup berkumpul untuk menegakkan qishas, maka mereka menjadikan pemimpin rakyat sebagai wakil mereka dalam penegakkan qishas serta hukuman-hukuman lainnya.”

Tidak boleh melancangi wali korban kejahatan, barang siapa yang membunuh pelaku kejahatan sebelum hakim memberikan izin maka dia dita’zir [2].

Wallahu a’lam bish-shawab.

Footnote:

[1] Demikian itu karena ada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menetapkan bahwa denda yang diberikan kepada Ahli Kitab adalah setengah denda yang diberikan kepada keluarga seorang muslim.

[2] Yakni hukuman yang dijatuhkan atas dasar kebijaksanaan hakim karena tidak terdapat dalam Al Qur’an dan hadits. (ed.)

Sumber: Kafarah Penghapus Dosa oleh Sa’id Abdul ‘Adhim (penerjemah: Abu Najiyah Muhaimin bin Subaidi), penerbit: Cahaya Tauhid Press, Malang. Hal. 55-66.

About these ads

Tentang Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 16/07/2010, in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.136 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: