Hukum Memasang Susuk Pada Tubuh

Tanya : Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Akhi, ana mau nanya.. mudah-mudahan dijawab langsung oleh ustadz karena ini sangat penting bagi ana atau mungkin ada orang lain yang senasib. Tahun 1997 ana merantau ke Jakarta, di sana ana terjebak syirik yakni dengan memasang susuk pada tubuh. Setelah itu pada saat tidur ana sering merasa diganggu oleh makhluk halus (mimpi buruk dan menyeramkan), malas beribadah dsb.. yang ana tanyakan:

1. Mungkinkah dosa ana diampuni, bagaimana cara ana bertobat?

2. Bila ana meninggal dunia sementara susuk yang ana pasang masih ada (berpengaruh), apakah kematian ana kafir?

3. Bolehkan ana minta tolong orang untuk ruqyah, atau mungkinkah susuk itu bisa hilang sendiri?

4. Sudah beberapa bulan ini ana mengikuti kajian salaf/salafy, apakah ana terkategori sebagai orang munafik bila saat ini kadang-kadang masih menggunakan pakaian isbal terutama bila di masyarakat umum. Soalnya ana takut dikira orang alim bila berpakaian di atas mata kaki sementara ana masih sangat awam. Ana sangat membutuhkan jawabannya. Ana ingin meninggal dunia sebagai muslim. Jazakummullah Khairon wa barrokallahu fiik.

Dijawab oleh Al-Ustadz Abdul Qadir Abu Fa’izah:

Wa’alaykumussalam warohmatullah wabarokatuh

1. Insya Allah dosa antum akan diampuni, jika antum jujur dalam bertaubat, meninggalkan dosa, dan tidak mengulanginya. JIka antum mengulangi dosa syirik itu, dan antum meninggal di atasnya maka dosa antum tidak akan diampuni dan kelak akan dimasukkan dalam neraka. Allah Ta’aala berfirman :

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (An Nisaa: 48)

2. Adapun masalah susuk, maka antum berusaha menghilangkannya dengan cara meruqyah diri sendiri dengan membaca ayat-ayat Al-Quran, dan dzikir-dzikir pagi dan sore yang ada dalam hadits yang shahih.

Jika susuk itu tidak bisa hilang, sedangkan antum sudah bertaubat dan menyesali perbuatan tersebut, lalu antum meninggal, maka antum insya Allah akan meninggal di atas tauhid.

3. Tidak usah meminta ruqyah kepada orang lain, dan cukup meruqyah diri sendiri dan dengan izin Allah dan usaha dari antum niscaya susuk itu akan hilang.

4. Pakailah pakaian yang sunnah yaitu pakaian yang tidak melewati mata kaki, sekalipun orang-orang sekitar kita menganggap kita aneh, karena itulah sunnatullah bagi para penegak sunnah; mereka akan dicemooh, dianggap asing, dijauhi. Namun bersabarlah di atas sunnah, niscaya Anda termasuk dalam sabda Nabi Shalallaahu ‘alaihi wasallam :

“Islam ini awal kali munculnya dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana awal munculnya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa mereka adalah orang-orang yang sholeh (baik) ketika manusia rusak. Maksudnya, mereka (orang-orang asing karena melaksanakan sunnah) tetap dalam keadaan baik aqidahnya, ibadahnya, dan akhlaknya bagus di tengah manusia yang rusak akidahnya, ibadahnya, dan akhlaknya.

Jadi seseorang yang menapaki manhaj salaf di akhir zaman ini, harus bersabar di tengah manusia-manusia rusak yang menganggap para penegak sunnah sebagai orang yang asing, dan musuhnya. Inilah yang dikabarkan oleh Nabi Shalallaahu ‘alaihi wasallam :

“Sesungguhnya di belakang kalian ada hari-hari di mana orang yang sabar ketika itu seperti memegang bara api. Mereka yang mengamalkan sunnah pada hari itu akan mendapatkan pahala lima puluh kali dari kalian yang mengamalkan amalan tersebut. Para Shahabat bertanya: “Mendapatkan pahala lima puluh kali dari kita atau dari mereka?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam menjawab: “Bahkan lima puluh kali pahala dari kalian.” (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Hakim. Dan dishahihkan oleh Imam Hakim dan disepakati oleh Dzahabi; lihat Dlaruratul Ihtimam, Syaikh Abdus Salam bin Barjas, hal. 49)

Di bawah naungan cahaya hadits ini, kita mendapatkan petunjuk dan bimbingan bahwa orang-orang asing yang melaksanakan sunnah akan menghadapi kondisi yang susah antara mengikuti sunnah ataukah meninggalkan sunnah. Di sinilah seorang membutuhkan kesabaran agar dia tetap berada dalam sunnah. Insya Allahu Ta’aala, kesabaran inilah yang akan mengumpulkan kita bersama Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam di akhirat kelak. Allahumma Amin.

Sumber: http://almakassari.com/tanya-jawab/aqidah-2/hukum-memakai-susuk-pada-tubuh-2.html

About these ads

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 13/10/2010, in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. assalamu”alaikum Wr.Wb
    saya mau tanya, kalau susuk tujuannya untuk olahraga biar tidak ganpang capek, gimana hukumnya? terima kasih

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.278 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: