Menelisik Kehidupan Komunitas Salafi

Di mata sebagian masyarakat, dakwah salafiyah tak ubahnya aliran atau sekte sesat. Terkhusus belakangan ini, seiring semakin berkembangnya berbagai aliran dan sekte sesat, baik yang baru atau sekadar berganti baju. Dengan informasi yang sangat terbatas atau setengah-setengah, mereka cenderung emosi atau mengedepankan sikap curiga dengan dalih kewaspadaan. Prinsip ‘pukul rata’ dengan dalil-dalil keumuman atau hukum mayoritas pun menjadi alasan dalam menyikapi semua itu.

Para pembaca yang mulia, alasan atau cara pandang sebagian masyarakat dalam menilai dan menyikapi dakwah salafiyah di atas, tidak bisa dibenarkan secara syar’i. Adalah dilarang dalam agama kita yang mulia untuk menilai dan menyikapi sesuatu dengan informasi yang sangat terbatas atau setengah-setengah. Bahkan, Islam membimbing umatnya agar mengedepankan sikap ilmiah dan proporsional dalam menilai serta bersikap. Semua itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala Rabb semesta alam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (al-Isra: 36)

Demikianlah, Islam melarang umatnya menilai dan bersikap dengan menggunakan dalil-dalil keumuman atau hukum mayoritas, karena itu merupakan prinsip kaum jahiliah yang dahulu dijadikan alasan untuk menentang dakwah para rasul yang mulia.

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Di antara prinsip kaum jahiliah adalah menilai kebenaran dengan jumlah mayoritas dan kesalahan dengan jumlah minoritas. Menurut mereka, segala sesuatu yang diikuti kebanyakan orang berarti benar, sedangkan yang diikuti segelintir orang berarti salah. Inilah patokan yang ada pada mereka dalam menilai kebenaran dan kesalahan. Padahal patokan tersebut tidak benar, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan jika kamu menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah Azza wa Jalla).” (al-An’am: 116)

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

“Tetapi mayoritas manusia itu tidak mengetahui.” (al-A’raf: 187)

“Dan Kami tidak mendapati mayoritas mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati mayoritas mereka orang-orang yang fasik.” (al-A’raf: 102) dan sebagainya.” (Syarh Masail al-Jahiliyyah, hlm. 60)

Maka dari itu, sedikitnya pengikut suatu dakwah, tidak lazimnya cara ibadah yang dilakukan (tidak seperti kebanyakan orang), atau penampilan yang berbeda dengan keumuman, bukanlah alasan untuk memvonis salag atau sesatnya sebuah dakwah. Bukankah dakwah para rasul yang mulia -di awal kemunculannya- juga tidak umum dan tidak lazim di mata kaumnya?! Bukankah tidak sedikit dari para rasul tersebut yang dimusuhi dan ditentang dakwahnya? Sebagian mereka hanya diikuti segelintir orang. Bahkan, sebagian lainnya tak ada yang mengikutinya! Namun, semua itu tidak mengurangi nilai dakwah yang mereka emban. Tidak pula menjadikan dakwah mereka divonis salah atau sesat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan tidaklah beriman bersamanya (Nuh) kecuali sedikit.” (Hud: 40)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Telah ditampakkan kepadaku beberapa umat, maka aku melihat seorang nabi yang bersamanya kurang dari sepuluh orang, seorang nabi yang bersamanya satu atau dua orang, dan seorang nabi yang tidak ada seorang pun yang bersamanya.” (HR. Al-Bukhari no. 5705, 5752, dan Muslim no. 220, dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma)

Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alusy Syaikh rahimahullah berkata, “Hadits ini mengandung bantahan terhadap orang yang berdalil dengan hukum mayoritas dan beranggapan bahwa kebenaran itu selalu bersama jumlah yang banyak. Padahal tidaklah demikian adanya. Yang semestinya adalah mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah bersama siapa saja dan di mana saja.” (Taisir al-’Azizil Hamid, hlm. 106)

Komunitas Salafi Komunitas Malaikat?

Pembahasan tentang komunitas salafi (orang-orang yang menyambut dakwah salafiyah dan berupaya meniti jejak as-salafush shalih dalam kehidupan beragama) tidak bisa dipisahkan dengan dakwah salafiyah, karena keduanya saling terkait.

Dalam kehidupan bermasyarakat, tak bisa dimungkiri bahwa komunitas salafi sering mendapatkan perlakuan yang berbeda di tengah masyarakatnya. Sebabnya bermacam-macam. Bisa jadi, karena informasi yang sangat terbatas atau setengah-setengah tentang mereka. Bisa jadi, karena dianggap tidak lazim cara ibadah yang dilakukan (tidak seperti kebanyakan orang). Bisa jadi, karena penampilan mereka yang berbeda dengan keumuman. Bisa jadi pula, karena anggapan bahwa mereka seperti malaikat, yang tak mungkin terjatuh dalam dosa dan maksiat.

Sebab yang pertama, kedua, dan ketiga, alhamdulillah telah dibahas dalam sub sudul sebelum ini. Adapun sebab yang keempat, berikut inilah pembahasannya.

Para pembaca yang mulia, sesungguhnya manusia -setinggi apapun keimanannya- tak sama dengan malaikat. Manusia adalah makhluk yang berkarakter dasar amat zalim (zhalum) dan amat bodoh (jahul). Bahkan, mayoritas mereka lalai dari ayat-ayat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (al-Ahzab: 72)

“Dan sesungguhnya mayoritas dari manusia benar-benar lalai dari ayat-ayat Kami.” (Yunus: 92)

Adapun malaikat adalah makhluk yang tak pernah mendurhakai Allah Subhanahu wa Ta’ala sesaat pun. Mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya. Bahkan mereka selalu bertasbih kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala malam dan siang tiada henti-hentinya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“(Para malaikat itu) tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)

“Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (al-Anbiya: 20)

Demikian pula dengan komunitas salafi. Layaknya manusia, mereka tidak akan luput dari kesalahan dan dosa. Di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri. Ada yang pertengahan dan ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan. Hal ini mengingatkan kita akan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Kemudian Kitab (Al-Qur’an) itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan [1] dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Fathir: 32)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Mereka semua termasuk yang dipilih Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk mewarisi Al-Kitab (Al-Qur’an), walaupun tingkatan dan keadaan mereka berbeda-beda. Masing-masing mendapatkan porsi tertentu untuk mewarisi Al-Kitab, termasuk orang yang menganiaya diri sendiri. Karena prinsip keimanan, dan pengamalan tentang keimanan yang masih tersisa pada diri orang (yang menganiaya diri sendiri) tersebut merupakan bentuk pewarisan Al-Kitab tersebut. Karena maksud dari mewarisi Al-Kitab di sini adalah mengilmui dan mengamalkannya, mempelajari lafadz-lafadznya, dan mendulang makna yang dikandungnya.” (Taisir al-Karimirrahman, tafsir surah Fathir: 32)

Mungkin ada yang menyoal, “Apa ruginya jika dianggap seperti malaikat, bukankah itu sebagai rekomendasi?”

Memang, sepintas lalu terkesan sebagai rekomendasi. Namun, jika dicermati dengan seksama justru sebaliknya. Anggapan tersebut malah merugikan komunitas salafi itu sendiri. Bahkan, merugikan dakwah salafiyah yang merupakan jalan menuju hidayah.

Mengapa demikian? Karena anggapan tersebut berawal dari sikap berlebihan (ghuluw) dalam merekomendasi. Adalah nyata bahwa kesudahan ghuluw adalah petaka.

Berikutnya, ketika anggapan tersebut menjadi keyakinan di masyarakat, kemudian di antara komunitas salafi ada yang terjatuh dalam kesalahan atau dosa, masalahnya justru akan berbeda. Berbagai ungkapan kekecewaan akan bermunculan. “Masak orang salafi demikian?!” atau “Kelihatannya saja alim, tapi nyatanya zalim!”, “Penampilannya layaknya malaikat, tapi hakikatnya penjahat!”

Rekomendasi berbalik menjadi isolasi (pemboikotan). Kepercayaan berbalik menjadi kebencian. Dakwah salafiyah pun jadi perbincangan. Padahal sekiranya pelakunya itu anggota masyarakat selain mereka, kemungkinan besar tidak ada ungkapan seperti itu.

Para pembaca yang mulia, apabila kita memerhatikan dengan seksama fenomena di atas, ada beberapa pelajaran berharga yang dapat kita ambil. Di antaranya:

1. Bagi komunitas salafi, hendaknya menjaga nama baik dakwah salafiyah, dengan berupaya menjalankan segala ketaatan dan menjauhkan diri dari segala kemaksiatan. Berakhlak mulia, berkata santun, bijak dalam berdakwah, dan tidak menjadi juru fitnah yang membuat orang lari dari dakwah salafiyah.

2. Bagi masyarakat, hendaknya tidak berlebihan menyikapi komunitas salafi. Tidak berlebihan dalam merekomendasi dan tidak berlebihan pula mengkritisi mereka. Sikap ilmiah dan proporsional sangat dibutuhkan dalam semua itu.

3. Kesalahan oknum dari komunitas salafi tidak berarti dakwah salafiyah yang diikutinya salah atau sesat, karena keadaan oknum dapat berubah-ubbh seiring naik dan turunnya keimanan. Adapun keadaan dakwah salafiyah tidak berubah dan senantiasa di atas kemuliaan.

Demikianlah yang dapat kami sajikan dalam kesempatan kali ini. Semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran.

Amin, ya Rabbal ‘Alamin…

Catatan kaki:

[1] Yang dimaksud dengan orang yang menganiaya dirinya sendiri ialah orang yang lemah dalam mengerjakan suatu kewajiban dan masih melakukan sesuatu yang diharamkan. Yang dimaksud pertengahan ialah orang-orang yang mengerjakan semua kewajiban dan meninggalkan semua yang diharamkan, namun terkadang dia meninggalkan sesuatu yang sunnah dan mengerjakan sesuatu yang makruh. Adapun yang dimaksud dengan orang-orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan ialah orang-orang yang mengerjakan semua kewajiban dan yang disunnahkan, serta meninggalkan segala sesuatu yang haram, makruh, dan sebagian hal yang mubah. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, surah Fathir ayat 32)

[Faedah ini diambil dari Majalah Asy Syariah no. 64/VI/1431 H/2010, dalam artikel "Meraih Hidayah dengan Dakwah Salafiyah" tulisan Al-Ustadz Ruwaifi' bin Sulaimi, Lc. Hal. 8-11 dan 18]

About these ads

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 16/10/2010, in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. Assalamualaikum,

    ustad, saya sedang mencari jalan yg lurus,

    saya ikuti NU, maka saya ikuti tahlilan dan zikir berjamaah,,

    saya ikuti juga Muhammadyah, maka saya ikuti idul fitrinya muhammadyah yg biasanya puasa 29 hari dan kadang Idul fitri lebih dulu dari pemerintahan RI,,

    saya juga ikuti salafy, maka saya mengharamkan berkoalisi/berinteraksi/bantu-membantu dg yg namanya Jin!

    saya bingung ustad,,

    Muhammadyah juga anti bidah, Muhammadyah mengharamkan Perayaan Tahun Baru Islam/maulid

    padahal perayaan tahun baru islam di mushola paling biayanya tidak lebih dari 3 juta,

    nah, mereka (Muhammadyah) justru merayakan ulang tahun (Muktamar) Muhammadyah dengan biaya gila2an!! bisa sampai ratusan juta!!! bintang tamunya Orchestra pimpinan Dwiki Dharmawan, padahal mengundang orchestra yg saya tahu biayanya minimal 70 juta!!

    saya bingung ustad,,

    mengapa perayaan tahun baru islam diharamkan, tapi kok ulang tahun Muhammadyah malah diperbolehkan??

    biaya yg 3 juta utk tahun baru islam diharamkan, tapi kok ulang tahun Muhammadyah yg ratusan juta justru diperbolehkan??

    saya benar2 bingung ustad, semuanya menganggap dirinya adalah paling benar…

    krn itulah saya msh mencari mana yg benar!

    apakah yg paling benar adalah NU?? Muhammadyah?? Wahaby?? Salafy?? Sunni?? Syiah?? aswaja??

    saya benar2 bingung..

    hingga saya berpikir untuk mencari kiyai/ulama/ustad/syekh/habib yg mendapatkan keistimewaan dialam kubur, maka saya sempat membatin bila saya dapati informasi mengenai kiyai/ulama/ustad/syekh yg mendapatkan kemuliaan di alam kubur, maka saya akan mencari pengikut dari kiyai/ulama/ustad/syekh tersebut… utk kemudian bersumpah menjadi pengikut dari kiyai/ulama/ustad/syekh yg telah meninggal tsb..

    dan tidak sengaja saya dapati berita ini di internet:

    ustad, saya menemukan tulisan yg kasar ini:

    ” SEMINGGU sebelum ramadhan 1430H/2009, ditemukan jenazah KH Abdullah di Tanggerang MASIH UTUH beserta kain kafannya, bahkan bau harum semerbak dari jasadnya. Padahal telah dikubur selama 26 tahun. Sebagai seorang KYAI tentu beliau setelah sholat melakukan dzikir berjamaah bersama jamaahnya, melakukan tahlilan serta malan pesantren lainnyya yang sering dianggap Bid’ah. Jika amalan-amalan pesantren dianggap bid’ah dan ahli bid’ah, apakah ALLAH MASIH MEMBERI NIKMAT KUBUR KEPADA BELIAU? (berita metro tv/kompas).

    saya kemudian mencari sendiri di youtube siapa tau ada vidionya, ehh.. ternyata ada videonya…

    setelah saya lihat vidionya, saya mulai berfikir…

    apakah kiyai tersebut benar2 mendapatkan nikmat kubur???

    karena spt yg kita ketahui bahwa ahli bidah adalah tempatnya di Neraka!!

    tapi mengapa beliau (si kyai ahli bidah) justru mendapatkan kemuliaan di alam kubur??

    video 1:

    video 2:

    ustad, saya mulai curiga,,

    …jangan2 Allah benar2 sudah menghalalkan Bidah Hasanah…

    saya mencoba merenungkan dengan hati nurani mengharap hidayah Allah..

    karena saya hanyalah seorang pendosa yg sedang mencari jalan yg lurus, tidak perduli apakah jalan yg lurus adanya di Muhammadyah/Nu/Wahabi/Syiah/Sunni/dll..

    saya tdk perduli alirannya, yg saya mau hanya ingin mendapatkan nikmat kubur spt kiyai tersebut…

    saya masih mencari waktu luang utk jalan2 ke tanggerang tempat pesantren kiyai tsb lalu mondok beberapa bulan disana utk mempelajari ajarannya, karena logikanya kalo kyainya saja mendapat kenikmatan kubur spt itu berarti sudah jelas ajarannya adalah di “ridhoi” Allah.

    saya tidak tahu aliran kyai tsb… mungkin setelah mondok beberapa bulan disana baru ketahuan alirannya apa? nah, dg cara pemikiran primitif saya, saya akan mengikuti paham2nya, fatwa2nya, cara beribadahnya, dll…

    tidak lain hanya mengharap ingin mendapatkan kenikmatan kubur seperti kyai tsb..

    Mohon sekiranya keikhlasan ustad memberikan penjelasan kepada saya,

    Assalamualaikum

    • Wa’alaikum salam warahmatullah..
      Banyak di kalangan kaum muslimin yg tidak peduli apakah cara beribadah mereka selama ini benar atau tidak. Mereka hanya menyandarkan tata cara peribadahannya kepada seorang ulama, kyai, atau ustadz yg dipercayai tanpa mau mengetahui dalil2nya. Sehingga apa yg dilakukan tokohnya ia kerjakan dan apa yg tidak dilakukan tokohnya ia tinggalkan. Ini adalah sebuah sikap yg salah.

      Seharusnya, setiap orang muslim berusaha mencari dalil dari ibadah yg ia lakukan dan tdk semata menyandarkan kepada tokoh-tokoh tertentu saja. Sehingga (seharusnya) apa yg sesuai dalil (Al-Qur’an dan hadits) ia amalkan serta apa-apa yg menyelisihi keduanya ia tinggalkan.

      Imam Malik rahimahullaah berkata, “Setiap perkataan bisa diterima dan ditolak, kecuali perkataan penghuni kubur ini (yaitu Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam).”

      Ucapan beliau tsb mengajarkan kpd kita agar selalu bersikap kritis thd amaliah seseorang. Jika amalan dia sesuai dgn tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka kita ambil, sebaliknya bila menyelisihi maka kita tinggalkan.

      Demikianlah seharusnya kita beragama, segala amalan harus disandarkan kepada ada atau tidaknya dalil. Bukan karena mengikuti kelompok atau figur-figur tertentu saja. Yang hal ini akan menjadikan kemantapan dan keyakinan di dalam beribadah.

      Ingatlah, kebenaran itu tidak dikenali dengan seseorang namun seseorang itu akan dikenali dengan kebenaran. Maksudnya, benar atau tidaknya sebuah amalan bukan bergantung kepada siapa yg mengamalkannya namun ia dinilai dari sesuai atau tidaknya dgn dalil. Maka apa-apa yg sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah (hadits) itulah kebenaran dan apa-apa yg menyelisihinya maka ia adalah kebatilan, meskipun banyak orang yg mengamalkan.

      Dengan menyandarkan segala sesuatunya kepada dalil, maka kita pun akan bisa menilai apakah sebuah kelompok atau seseorang di atas kebenaran atau kebatilan. Tentunya siapa yg mencocoki dalil maka itulah di atas jalan yang lurus. Wallahu a’lam bish-shawab.

  2. Alhamdulillah,

    terimakasih ustad atas jawabannya,
    saya semakin mantap untuk melangkahkan kaki berencana tuk belajar beberapa bulan dipesantren tsb,,

    soalnya saya bingung krn keluarga saya selalu mengadakan tahlilan sementara banyak teman2 saya yg mengatakan tahlilan adalah sesat,
    saya juga pernah mengikuti tablig akbar semacam zikir berjamaah gitu, lalu teman saya juga mengatakan itu adalah bidah dan zikirnya tdk diterima Allah!!
    maka saya semakin bingung…

    tujuan ingin belajar di pesantren di tanggerang (pesantren kyainya yg mendptkan kenikmatan kubur tsb) tidak lain hanya untuk memastikan saja, apakah pesantren tsb benar2 mengamalkan ibadah2 bidah spt tahlilan, zikir bejamaah, maulidan dll..
    bila benar kyai tsb ahli bidah hasanah, saya berkesimpulan bahwa Allah telah meridhoi bidah hasanah..

    saya baru menyadari, rupanya dilingkungan keluarga & kerja umumnya terdapat 2 paham yg mencolok, yang satu menamakan aswaja dan yg satunya lagi menamakan salafi (semoga pemantauan saya tdk salah)

    dari informasi yg saya dapat di internet,
    umumnya mereka yg mengaku aswaja (ahlusunahwaljamaah) menghalalkan bidah2 hasanah,
    sementara mereka yg salafi menganggap bidah (apapun) adalah sesat..

    yah… masing2 mempunyai argumen2 yg kuat,, saya yg awam ini menjadi bingung, akhirnya ya.. saya ikuti saja ke-2 paham tsb,, saya anggap saja dua-duanya benar,,

    untuk memastikan apakah bidah hasanah itu diridoi Allah atau tidak saya mencarinya berminggu2 di internet hingga akhirnya tdk sengaja menemukan video yg menyatakan seorang kyai jenazahnya masih utuh walau sdh dikubur selama puluhan tahun…

    saya berpikir, inilah saat yg tepat untuk mencari kebenaran (menurut saya ini adalah petunjuk dari Allah buat saya).

    setelah saya mengetahui dg ‘pasti’ apakah kyai tsb ahli bidah atau anti bidah, Insya Allah saya akan semakin mantap dalam menjalankan Sunah2 Rasul,,

    simpelnya,
    kalau ternyata kyai tsb adalah ahli bidah, maka saya akan mendukung keluarga & kerabat saya utk tetap tahlilan, maulidan, zikir berjamaah dan hal2 bidah hasanah lainnya..

    tetapi kalau ternyata kyai tsb adalah ‘anti bidah’,
    maka saya tidak akan pernah lagi ikut tahlilan, maulidan, zikir2 berjamaah dan amalan2 bidah lainnya,

    demikianlah rencana saya utk kedepannya.
    terima kasih ustad,

    Semoga kita semua mendapatkan hidayah dari Allah (Amin).

    Assalamualaikum,

    • Barakallahu fiik..
      Ada yg harus kita ketahui, bahwa diterima atau ditolaknya sebuah amalan bergantung pada dua syarat yaitu:
      1. Niat ikhlas karena Allah, dan
      2. Ittiba’ (mengikuti petunjuk) Rasulullah.
      Agar amalan diterima Allah, maka dua syarat ini harus terpenuhi, tidak cukup dengan salah satunya saja.

      Sehingga apabila sebuah amalan dikerjakan dgn niat ikhlas karena Allah, namun amalan tsb menyelisihi atau tidak berdasarkan tuntunan Rasulullah, maka ia tertolak. Apabila amalan itu sesuai petunjuk Rasulullah namun ia kerjakan utk selain Allah maka ia pun tertolak.

      Lalu bagaimana kita tahu amalan itu berdasarkan tuntunan Rasulullah atau tidak? Maka jawabnya, kita harus mencari tahu dalil-dalil yang menjadi landasan amalan tsb, adakah Al-Qur’an dan As-Sunnah menuntunkannya, kalau iya maka amalan tsb sesuai sunnah namun bila ternyata tidak ada maka ia adalah bid’ah yg harus kita jauhi.

      Yang penting pula bahwa tidak setiap hadits bisa dijadikan dalil, ia harus berkedudukan shahih atau hasan baru bisa diamalkan. Bila ternyata lemah maka kita tinggalkan. Dalam hal ini kita harus merujuk kepada para ulama Ahlus Sunnah yg terbimbing.

      Bagaimana kita mengetahui ulama yg terbimbing? Jawabnya, mereka senantiasa berpendapat dgn dalil, dgn menyebutkan ayat2 Al-Qur’an dan hadits2 Rasulullah serta pendapat para imam-imam yg dikenal shalih. Mereka tidak berpendapat dgn akal atau perasaannya semata, melainkan selalu dgn dalil. Ulama seperti inilah yg harus kita ikuti.

      Adapun pendapat dari seseorang yg bertentangan dgn dalil shahih maka wajib kita tolak siapapun dia. Karena apa-apa yg bertentangan dgn Al-Qur’an dan As-Sunnah maka dia adalah sebuah kebatilan.

      Kemudian, menilai shalih atau tidaknya seseorang bukan dari keadaan jasadnya (baik ketika hidup maupun setelah wafatnya), namun dari amal perbuatan semasa hidupnya. Meski jasadnya utuh, namun ketika di dunia ia terkenal beramalan bid’ah maka ia tidak disebut shalih. Jadi kita tidak boleh menetapkan shalih tidaknya seseorang tanpa tahu riwayat hidupnya.

      Adapun amalan spt tahlilan, dzikir berjamaah… maka banyak para ulama Ahlus Sunnah yg menganggapnya bid’ah, krn tidak adanya dalil yg menyatakan Rasulullah melakukannya. Maka sebaiknya kita tinggalkan. Ingat, amalan itu harus berdasarkan dalil bukan anggapan baik oleh perasaan semata.

      Untuk mengetahui seputar bid’ah hasanah, maka silakan baca artikel ADAKAH BID’AH HASANAH? Silakan dicari dalam Daftar Isi blog ini.

      Wallahu a’lam.

  3. Assalamu’alaikum,

    Teruntuk akhi Jaka. Ini mungkin sedikit nasihat untuk saya, antum dan semuanya. Dalam mencari kebenaran, niatkanlah mencari ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala. Antum jgnlah berpatokan pada akhir kehidupan seseorg bahwa jika ia meninggal begini begitu maka sudah pasti diridhoi Allah. Benar apa kata akhi Fadhl, kebenaran itu tidak dinilai dari akhir kehidupan seseorg, tidak dinilai dari mimpi2 tetapi dinilai dari ittiba’nya terhadap Qur’an dan Sunnah2 ash-shohihah atau dengan kata lain dinilai dari dalil. Sungguh sudah banyak contoh org2 yg sewaktu hidupnya hobi menenggak khamr, main judi tetapi disaat meninggal ia mendapat husnul khotimah karena sempat bertobat. Pun jg ada contoh org2 yg sewaktu hidupnya terkenal sebagai ahli ibadah tetapi disaat meninggal ternyata ia su’ul khotimah karena ternyata ia bergelimang dengan kesesatan. Semua itu…husnul khotimah dan su’ul khotimah…hanya Allah yang punya kuasa untuk menentukan. Adapun manusia, hanya bisa menduga2 si fulan begini, si fulan begitu. Pun jg dengan berita yg antum kutip, tidak ada yg bisa memastikan bagaimana dengan keadaan roh sang kyai di alam barzakh, semua hanya bisa melihat dari tanda2 lahiriyah dari jasadnya spt jasad yg tidak rusak, harum semerbak dsb. Tetapi biar bagaimanapun jg, sebagai muslim yg baik, kita haruslah husnudzon terhadap sesama muslim yg telah meninggal. Dan kita jg haruslah tau, rahmat Allah Azza wa Jalla mendahului murkaNya. Jika memang kyai fulan tersebut husnul khotimah, pastilah bukan karena bid’ah yg ia lakukan tetapi bisa saja karena ia semasa hidupnya banyak melakukan kebaikan dan banyak menolong kaum muslimin sehingga kebaikannya menutupi keburukannya atau bisa jadi sebelum meninggal ia bertaubat dari bid’ahnya. Tetapi dari sisi bid’ah itu sendiri, sampai hari kiamat pun Allah tidaklah ridho terhadap bid’ah karena Allah berfirman : “…Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi (mereka sendirilah yang mengada-adakannya) untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya. Maka Kami berikan kepada orang-orang yang beriman di antara mereka pahalanya dan banyak di antara mereka orang-orang fasik.” QS Al Hadiid : 27. Rahbaniyyah adalah kehidupan spt rahib, tidak menikah dan mengurung diri dari masyarakat. Lalu didalam firmanNya yg lain : “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” QS An Nahl : 116.

    Lalu jg secara khusus Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam bersabda terhadap bid’ah : “Semua bid’ah adalah sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” Antum bisa baca di http://www.firanda.com/index.php/artikel/manhaj/92-semua-bidah-adalah-kesesatan. Lalu mengenai bid’ah hasanah dan syubhat2nya, silahkan baca di http://www.firanda.com/index.php/artikel/manhaj/93-syubhat-syubhat-para-pendukung-bidah-hasanah.

    Terakhir saya ucapkan untuk akhi Jaka, carilah hidayah Allah dengan banyak2 mentadabburi Al Qur’an dan Sunnah2 shohih dengan pemahaman salafus sholih karena pemahaman merekalah adalah pemahaman yg selamat insya Allah. Banyak2lah memohon petunjuk kepada Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala memberikan hidayahNya untuk antum dan untuk kita semua. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 798 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: