Hukum Orang yang Marah Terhadap Musibah

Soal: Bagaimana hukumnya orang yang marah-marah apabila mendapatkan musibah?

Jawab:

Sikap manusia dalam menghadapi musibah ada beberapa tingkat.

Tingkat pertama adalah marah. Hal ini pun ada beberapa macam.

1. Marah dengan hati. Ia seolah-olah marah kepada Tuhannya dan berang terhadap takdir yang ditetapkan Allah. Bersikap seperti ini haram karena dapat menyebabkan kekafiran. Allah berfirman:

“Di antara manusia ada yang menyembah Allah menurut seleranya. Apabila ia mendapatkan kebaikan, hatinya merasa tenang. Akan tetapi, apabila ia mendapatkan cobaan buruk, ia memalingkan wajahnya. Rugilah dunia dan akhiratnya.” (QS. Al-Hajj: 11)

2. Marah dengan lisan, seperti menyerukan kata-kata: “Alangkah celakanya,” “duhai binasanya,” dan kata-kata lain yang serupa. Bersikap seperti ini haram.

3. Marah dengan tindakan, seperti menampar muka, merobek-robek baju, menjambak rambut sendiri, dan lain-lain. Bersikap seperti ini haram karena menyalahi sikap wajib bersabar.

Tingkat kedua adalah sabar, seperti yang dikatakan penyair: “Sabar, seperti namanya, adalah sesuatu yang pahit dirasakan, tetapi hasilnya lebih manis daripada madu.”

Seseorang menganggap sesuatu itu berat bagi dirinya, tetapi ia tetap menerimanya, ia tidak suka yang berat itu terjadi pada dirinya, namun ia menjauhkan diri dari sikap marah demi menjaga imannya. Demikianlah, karena terjadinya atau tidak terjadinya sesuatu tidaklah sama baginya. Bersikap seperti ini wajib karena Allah telah memerintahkan berlaku sabar, sebagaimana firman-Nya:

“Bersabarlah kalian. Sungguh Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfaal: 46)

Tingkat ketiga adalah ridha, yaitu seseorang ridha terhadap musibah yang menimpanya bagaimana pun keadaannya. Ia tidak merasa berat atas adanya musibah dan tidak menerimanya sebagai sesuatu yang berat. Menurtt pendapat yang kuat, bersikap seperti ini hukumnya boleh, tidak wajib. Sangat jelas perbedaan tingkat ketiga dengan tingkat sebelumnya karena pada tingkat ini ada atau tidak adanya musibah diterimanya dengan ridha. Adapun pada tingkat sebelumnya, musibah itu dianggapnya sebagai sesuatu yang berat, namun ia menghadapinya dengan sikap sabar.

Tingkat keempat adalah syukur. Inilah tingkatan tertinggi. Ia bersyukur kepada Allah dalam menghadapi musibah karena ia menyadari bahwa musibag yang menimpanya menjadi seaab terhapusnya dosa-dosanya dan barangkali dapat memperbanyak pahalanya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Apapun bentuk musibah yang menimpa seorang muslim, niscaya akan Allah jadikan sebagai penghapus dosa dari dirinya, sekalipun sebatang duri yang menancap pada dirinya.” [1]

(Syaikh Ibnu Utsaimin, Majmu’ Fataawa wa Rasaail, juz 2, hlm. 109-111)

Catatan kaki:

[1] Bukhari no. 5640 dalam Kitaabul Mardha dan Muslim no. 2572 dalam Kitaabul Birri wash Shilati.

Sumber: Fatwa Kontemporer Ulama Besar Tanah Suci disusun oleh Khalid Al-Juraisy (penerjemah: Ustadz Muhammad Thalib), penerbit: Media Hidayah, cet. Pertama, Rajab 1424 / September 2003, hal. 47-49.

About these ads

Tentang Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 28/01/2011, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.108 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: