Apakah Ahli Fatrah Masuk Surga?

Lajnah Ad-Daa’imah (Dewan Fatwa Saudi Arabia) ditanya tentang ahli fatrah [1]: apakah mereka termasuk golongan yang selamat dari neraka atau tidak? Maka Lajnah menjawab sebagai berikut:

Segala puji hanya bagi Allah semata, shalawat dan salam terlimpah kepada Rasulullah dan para sahabatnya, wa ba’du.

Barangsiapa telah sampai padanya dakwah Islam dari umat sebelumnya, ataupun yang satu masa dengannya namun tidak menerimanya dan mati dalam keadaan demikian, maka dia termasuk ahli neraka. Dan barangsiapa yang tidak sampai kepadanya dakwah, maka ia akan diuji pada hari Kiamat, sebagaimana dijelaskan hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. (Fatawa Lajnah Ad-Daa’imah, III: 369)

Ketua Lajnah: Syaikh Abdul Aziz bin Baaz
Wakil Ketua Lajnah: Abdurrazzaq ‘Afifi
Anggota Lajnah: Abdullah bin Ghadyan, Abdullah bin Qu’ud

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah ditanya tentang tempat kembali ahli fatrah -surga atau neraka- maka beliau menjawab:

Yang benar adalah bahwa ahli fatrah terbagi menjadi dua golongan: Pertama, orang yang telah sampai padanya hujjah, dan mengetahui al-haq akan tetapi dia mengikuti apa yang dianut oleh bapak moyang mereka, maka tiada keringanan bagi mereka, maka jadilah mereka ahli neraka. Kedua, orang yang tidak sampai padanya hujjah, maka urusan mereka diserahkan kepada Allah Azza wa Jalla, dan kita tidak mengetahui tempat kembalinya. Dan ini di antara perkara yang tidak ada nash syar’i yang menjelaskannya. Adapun yang telah dijelaskan bahwa mereka berada dalam neraka, menurut ketentuan dalil yang shahih, maka tempat mereka di neraka. (Fataawaa Ibnu Utsaimin, II: 48 No. 172)

Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah memaparkan perkataan ulama tentang hal tersebut, ketika menafsirkan firman Allah:

“Dan tidaklah Kami mengazab sebelum Kami utus seorang rasul.” (Al-Israa': 15)

Kemudian Ibnu Katsir berkata di akhir pembahasannya tentang masalah ini: Di antara ulama ada yang berpendapat bahwa ahli fatrah akan diuji di hari kiamat. Barangsiapa yang taat akan masuk surga dan ilmu Allah telah mendahului tentang kebahagiaan itu. Dan barangsiapa yang menolak akan masuk neraka dan ilmu Allah telah mendahului mengetahuinya dengan kecelakaan yang telah ditetapkan. Pendapat ini memadukan dalil-dalil yang ada. Dan telah dijelaskan dengan hadits-hadits yang telah disebutkan, sebagiannya menjadi penguat bagi yang lain.

Inilah pendapat yang dihikayatkan oleh Syaikh Abul Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari dari Ahlus Sunnah wal Jama’ah, itulah pendapat yang didukung oleh Al-Hafidz Abu Bakar Al-Baihaqy dalam kitab Al-I’tiqad. Demikian pula pendapat lainnya dari para ulama yang muhaqqiqin (peneliti), para huffadz dan para kritikus hadits. (Tafsir Ibnu Katsir, III: 31-32)

Komentar paling bagus dan tiada bandingnya dalam masalah ini sejauh pengetahuan saya adalah pendapat Imam As-Syinqithiy dalam kitabnya Adhwa’ul Bayan ketika menafsirkan ayat-ayat di atas. Beliau telah menyebutkan beberapa mazhab dan kelemahan setiap mazhab dalam masalah ini, kemudian beliau berkata pada akhir pembahasannya:

Kesimpulan dalam masalah ini apakah orang-orang musyrik dalam masa fatrah disiksa atau tidak? Yaitu Allah akan menguji mereka pada hari Kiamat dengan api, dan memerintahkan mereka untuk memasukinya. Barangsiapa memasukinya akan masuk surga. Mereka itulah yang mempercayai para rasul seandainya mereka didatangi para rasul di dunia. Dan barangsiapa yang menolak akan memasuki neraka dan disiksa di dalamnya, karena Allah mengetahui apa yang mereka kerjakan seandainya para rasul datang. (Al-Adhwa, III: 481)

Wallahu a’lam bish-shawab.

Catatan kaki:

[1] Ahli fatrah adalah orang yang hidup di masa kekosongan wahyu antara kurun Nabi Isa ‘alaihis salam dan masa kerasulan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. (-admin)

Sumber: Membongkar Kedok Al-Qaradhawi karya Ahmad bin Muhammad bin Manshur Al ‘Udaini Al Yamani (penerjemah: Abu Muqbil Ahmad Yuswaji, Lc. dan Ibnu Rokhy, Lc.), penerbit: Masyarakat Belajar Depok, hal. 172-173.

About these ads

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 30/01/2011, in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Surga dan neraka bkn tmpt kembali, knapa hrs berfikir siapa yg akan masuk surga atau neraka, seharusnya kita meyakini bhw kita akan kembali dan bertemu Tuhan, jadi yg difikirkan bgmn cara agar dpt bertemu Tuhan.. Yaitu dgn mengenali diri..

  2. Yang benar, kita semua akan kembali kepada Allah Azza wa Jalla untuk mempertanggungjawabkan setiap amal perbuatan yg kita perbuat di dunia, kemudian Allah akan menempatkan hamba-Nya yg taat di Surga sedangkan yg bermaksiat kepada-Nya akan ditempatkan di Neraka.

    Beribadah dengan mengharap surga adalah diperbolehkan berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau memerintahkan umatnya agar meminta surga yg paling tinggi yaitu al-Firdaus.

    Dan beribadah karena takut siksa api neraka juga tidak diharamkan, bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan umatnya agar mereka berlindung darinya. Inilah aqidah yg diyakini Ahlus Sunnah.

    Selanjutnya, seseorang tdk akan dapat mengenali dirinya sebelum ia mengenal siapa Rabb-nya, apa agamanya dan siapa Nabinya. Kalau ketiga hal ini sudah ia ketahui, maka ia akan mengenal siapa dirinya dan untuk apa ia diciptakan. Wallahu a’lam bish-shawab.

    • Tidakkah kita mengenali diri sendiri dulu baru dpt mengenal Tuhan?? Dalam sebuah buku begitulah yg sy baca dan sy setuju. Diri saya dan diri mu sama.. Maka sy tdk akan melakukan hal2 yg menyakiti setiap diri. Karna Tuhan pun tdk pernah menyakiti diri siapapun. Inilah yg sy pahami.

      • Tidak bisa demikian, bahkan kita mesti mengenal siapa Tuhan terlebih dahulu dan utk apa kita diciptakan, baru setelah itu kita akan mengenal siapa diri kita dgn sebenarnya. Bahkan dengan cara ini pengetahuan kebaikan yg kita dapatkan akan lebih sempurna sehingga akan sempurna pula kebaikan yg kelak kita sebarkan kepada sesama. Karena kebaikan itu semuanya berasal dari Sang Pencipta. Bagaimana mungkin kita tahu baik atau buruk hanya dari akal lemah semata?? Tentunya kita membutuhkan Pembimbing ke arah itu. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.245 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: