Hukum Menerima Bantuan dari Yayasan/Organisasi yang Menyimpang

Berikut adalah fatwa Asy-Syaikh Ubaid Al-Jabiri hafizhahullah tentang yayasan Ihya’ At-Turats.

Pertanyaan : Apa nasehat Engkau kepada sebagian ikhwan yang terpedaya dengan gerakan Ihya At-Turats dimana sebagian mereka menyangka bahwa Ihya At-Turats sekarang ini telah berubah dan menjadi salafiyah?

Beliau –hafizhahullah- menjawab :

Ungkapan ini, yaitu ungkapan “berubah” dan menyifati sesuatu “berubah” dari bid’ah menuju sunnah. Ungkapan ini seringkali didengungkan oleh Ikhwanul Muslimin yang bertujuan untuk memberi kelonggaran kepada orang-orang sesat dan mengajak mereka untuk menerimanya dan menerima apa yang berasal dari mereka.

Organisasi Ihya At-Turats telah sering aku jelaskan di berbagai majelis baik di Arab Saudi maupun di Kuwait, dan masih tetap seperti dulu dan tidak ada perubahan.

Apabila kegiatan-kegiatan Ihya At-Turats al-Kuwaitiyah telah berubah, para pemimpinnya, ahlul halli wal ’aqd-nya juga telah berubah menjadi orang-orang yang bermanhaj salafy yang mengarahkan Ihya At-Turats untuk menyebarkan sunnah semata yang bersih dari noda bid’ah, maka kami akan bersamanya. Jika mereka mengajak aku untuk bergabung dalam kegiatan-kegiatan mereka dan aku mampu melakukan hal itu maka aku tidak akan ragu (untuk bergabung).

Kemudian: apakah boleh diambil bantuan dari organisasi ini dan organisasi-organisasi yang menyimpang, apakah itu organisasi Ihya At-Turats atau yang lainnya, ini ada dua keadaan:

Pertama : keadaan meminta, orang yang memiliki kebutuhan mendatangi organisasi ini dan menjulurkan tangannya kepadanya, (kata kurang jelas ….. [1]) maka lebih utama tidak melakukannya, sebab setiap orang yang memiliki penyimpangan memanfaatkan kebutuhan yang dikehendaki pihak lain, dan yang butuh tidak dapat berlepas darinya tatkala diharuskannya dia melakukan apa yang diinginkan oleh orang yang menyimpang ini meskipun di masa yang akan datang.

Keadaan kedua : Jama’ah yang menyimpang ini memberi sumbangan secara mutlak tanpa syarat, menyumbang dengan sesuatu yang memberi manfaat bagi kaum muslimin di sebuah kampung atau beberapa kampung, seperti membangun masjid, sekolah, memberi harta untuk kebutuhan sekolah-sekolah ini dan masjid-masjid, dan menyerahkan segala urusan kepada penduduk negeri tersebut atau penduduk kampung tersebut, dan mereka tidak mendikte mereka sedikitpun, namun sumbangan secara mutlak. Maka ini tidak mengapa insya Allah Ta’ala. Dalilnya adalah sabda Rasulullah Shallallohu ‘alaihi wasallam :

“Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla, menguatkan agama ini melalui seorang yang fajir.”

Bahkan meskipun orang kafir yang menawarkan kepada penduduk kampung, sama saja apakah kafir ini penguasa atau bukan, untuk membangun masjid di kampungnya, sekedar membangun masjid. Maka kita terima darinya, dan tidak mengapa untuk kita katakan kepadanya: terima kasih, engkau telah berbuat baik.

Namun kita tidak mengucapkan “Semoga Allah membalasmu kebaikan”, “Semoga Allah berbuat baik kepadamu”, “Semoga Allah memberimu pahala”, sebab do’a ini termasuk kekhususan kaum muslimin. Namun kita katakan : terima kasih engkau telah berbuat baik. Barakallahu fiik. Ini berkenaan tentang bantuan yang datang kepada Ahlus Sunnah dari jama’ah-jama’ah yang menyimpang.
-selesai ucapan beliau-

Dalam fatwa Syaikh Ubaid Al-Jabiri hafizhahullah Ta’ala ini, ada beberapa hal yang dapat kita simpulkan:

Pertama : Dalam hal meminta dana kepada organisasi yang menyimpang, baik Ihya At-Turats ataupun yang lainnya sebaiknya tidak dilakukan, sebab hal itu akan memberi pengaruh kepada orang yang menerima dana tersebut, cepat atau lambat. Karena kebiasaan mereka yang selalu memanfaatkan orang-orang yang butuh kepada hartanya.

Kedua : Mereka memberi sumbangan tanpa syarat secara mutlak, tanpa didikte sedikitpun, maka hal ini tidak mengapa, bahkan dari orang kafir sekalipun.

Cobalah anda perhatikan, fatwa Syaikh ini dengan jelas merinci permasalahan mengambil dana dari yayasan menyimpang, bahwa tidak mengapa mengambil dana dari mereka jika tanpa disertai syarat apapun, baik syarat idaari (administrasi) atau yang lainnya.

Catatan kaki:
[1] Fatwa ini merupakan transkip dari rekaman.

Sumber: Diambil dari tulisan Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal berjudul DUSTA FIRANDA DI TENGAH BADAI FITNAH YANG SEDANG MELANDA (Bag.2) : Siapa yang menyembunyikan fatwa?

Baca juga fatwa ulama seputar Ihya At-Turats lainnya di sini.

About these ads

Tentang Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 06/03/2011, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 9 Komentar.

  1. Bismillah. Akankah perselisihan ini diramaikan pada ranah penuntut ilmu? Takutlah kepada Allah akan dicabutnya nikmat ilmu dari dada kita ya ikhwah, dan digantikan dengan nikmatnya kebencian yang melampaui batas kepada sesama Ahlus Sunnah. Nas’alullaha salamatan wal ‘aafiyah.

  2. Sesungguhnya penyebab perpecahan ahlus sunnah ini adlh penerapan jarh wa ta’dil yg tdk tepat.
    Dan hendaklah mereka yg suka mencela,mencari2 kesalahan orang lain dan menghibah saudaranya berhenti dr perbuatan itu. Hendaknya mereka bertaqwa kpd Allah.

    Renungkan ayat ini,
    Hai orang2 yg beriman,jauhilah kebanyakan dari prasangka,sesungguhnya sbgn prasangka itu adlh dosa dan janganlah kamu mencari2 kesalahan orang lain dan janganlah sbgn kamu menggunjing sbgn yg lain. Sukakah salah seorang diantara kamu yg memakan daging saudaranya yg sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kpdnya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
    (AL HUJURAT 12).

    Akhirilah perpecahan ini,sudah selayaknya kita sesama Ahlus Sunnah berdamai,
    sbgmn firmanNya,
    Sesungguhnya org2 mu’min adlh bersaudara krn itulah damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.
    (Al Hujurat 10)

  3. Mohon dibaca kembali dgn saksama. Setelah itu silakan anda menentukan, apakah ini sebuah celaan atau nasihat. Kalau itu celaan maka tdk akan memadharatkan bagi orang-orang yg terbebas darinya. Dan bila itu nasehat maka tiada ruginya utk menerima atau sekedar menimbang-nimbangnya kembali. Barakallahu fiikum.

  4. Wafikum barokallahu ya akhi Fadhl.
    Tidak ada yg salah dgn fatwa tersebut.
    Tetapi ada Asatidz yg keliru dlm menyikapi fatwa ini.

  5. nasyeem hameed

    Subkhanallah afwan Ustad ana terus terang baru kmrn mengenal da’wah salafy. Melalui perjuangan yg sangat panjang dari saudara2 ana & temen2 ana akhirnya ana temukan satu titik yaitu ana hrs rujuk pd salafy. Ana sngt bangga dg da’wah dr smua Ustdnya krn bru x ni ana temukan tata bahasa,pnympaian,dan satu hal mrk ilmiah dlm berda’wah. Ana sgt menikmati tiap x da kajian tp 1bln brjln ana mulai mencium bau busuk yg sm se x tdk prnh ana siapkn akn mnrma bau yg sngt mnygt & mnyktkan ini. Perpecahan,gesekan, bahkan adu argumen diantara Ustd yg sgt ana cintai & hormati ternyata sdh trjdi. Ya Allah apkh ini termsk fitnah akhir zaman….? rasanya perjuangan ana hrs berakhir dibelkg layar dg menangisi penderitaan sang tholabul i’lmi sekelas ana. ana bingung makin banyak subhat dikepala ana. Knp hrs saling mentahdzir? bukankah antum semua berilmu?bknkah antum smua tau hkm? apkh smkin tau seseorang terhadap hukum akan smkin berani jg dlm melanggar hukum? Afwan antum smua tlh bikin ikhwan2 sekelas ana bingung.

    • Afwan sebelumnya, ana bukan ustadz cuma penuntut ilmu spt antum.

      Kemudian, memang tak terpungkiri fitnah yg terjadi di kalangan salafiyin begitu merisaukan sekaligus membingungkan, terkhusus bagi mereka yg baru mengenal manhaj al-haq ini. Namun alhamdulillah, para ulama telah membimbing kita utk tdk berlarut2 dan menyibukkan diri dgn fitnah yg terjadi.

      Maka jauhilah fitnah tsb dan sibukkanlah diri kita dgn ilmu. Pelajarilah bagaimana tata cara wudhu dan shalat yg shahih, kenalilah mana yg najis dan mana yg bukan, ketahuilah hukum2 cairan yg keluar tubuh (haidh, mani, madzi dan semisalnya).. dan perkara2 agama lainnya yg wajib diketahui seorang muslim. Itu yg lebih penting dan utama bg kita ketimbang membicarakan apa2 yg masih belus jelas kita ketahui.

      Adapun pemuatan artikel di atas di blog ini bukan dimaksudkan upaya menyibukkan diri dgn fitnah tsb, melainkan sekedar menyampaikan sebuah ilmu yg kita harapkan faedah dari ucapan seorang ulama.

      Wallahu a’lam.

  6. astaghfirullah,,,
    apakah pantas bin layak org2 yg mnisbahkan namanya kepada “salaf ash-sholeh” namun akhlaknya tdk mnggambarkan sprti akhlak mereka..???!!
    para salaf dahulu slalu mnjga persatuan,,,slama dia msh seorang muslim,,meski bnyk dosanya,,,shrusnya trhdap kburukan saudara kita hndaklah kita brsbr smbri trus mnasehati dn mndoakannya,,bkn mlah mncela dan “mntahdzirnya”….
    sungguh tdk ada mnusia yg trbebas dari dosa kecuali Rasulullah,,,
    WAHAI ORG2 YG MNAMAKAN DIRINYA SALAFIYYIN,,,!!! BGAIMANA BSA ORG2 KAFIR YG JLAS2 KEKAFIRAN DAN KMUSYRIKANNYA TERBEBAS DARI LISAN2 KALIAN,,,TAPI SAUDARA KALIAN SENDIRI YG BERDIRI DI ATAS AQIDAH YG SAMA KALIAN HABIS BAHKAN LUMAT KALIAN PERLAKUKAN DGN LISAN2 KALIAN,,,,
    NAS’ALULLAH ‘AFIYAH,,,

    • ada dua blog yang menisbahkan dirinya kepada salaf, namun sangat disayangkan saling mentahdzir ustadz-ustadz yang diluar kelompoknya. Apakah tahdzir ini hanya sepihak? atau masing-masing kelompok merasa paling benar dan mencari-cari aib saudaranya untuk dijatuhkan.

      Sekali lagi saya bertanya, apakah tahdzir ini hanya sepihak atau keduanya saling menjatuhkan?

      semoga Allah menjauhkan kita dari fitnah dan menjaga lisan-lisan kita dari perbuatan ghibah kepada orang-orang yang berilmu.

  7. Permasalahan fitnah ini tidak sesederhana yang antum bayangkan. Saya berikan satu contoh saja perdebatan panjang ustadz-ustadz kita tentang permasalahan Ihyaut Turats dan mengambil dana darinya.

    Sudahkah antum membaca buku “Lerai Pertikaian Sudahi Permusuhan” tulisan Ustadz Firanda, MA beserta bantahan yang ditulis Ustadz ‘Askari yang berjudul “Al-Mirats min Fatawa Al-‘Ulama ‘an Jum’iyyah Ihyaa’ut Turats”? Jika antum belum tamat membaca kedua buku tersebut, jangan terburu-buru komentar…

    Masih banyak pula permasalahan yang lain, tidak bisa saya sebutkan satu-persatu. Mereka bukan orang-orang bodoh. Kewajiban saya dan antum sebagai orang bodoh adalah menuntut ilmu syar’i dan menjahuhi fitnah. Itu urusan mereka, biar mereka yang menyelesaikannya. Bagaimana penilaian kita ketika ada orang-orang bodoh mencela orang-orang yang berilmu?

    Jika antum berkomentar dan saya berkomentar, apakah akan menyelesaikan masalah? Fitnah itu akan semakin besar ketika orang-orang yang bukan ahlinya ikut berkomentar. Hendaknya kita bertakwa kepada Allah dan menjaga lisan kita. waffaqanallah waiyyakum

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.144 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: