Tanya Jawab Permasalahan Memandikan dan Mengubur Jenazah Wanita

Siapakah yang Lebih Utama untuk Memandikan Mayat Wanita?

Pertanyaan ke-271: Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Siapakah yang lebih utama untuk memandikan mayat wanita dan bagaimana urutannya? Bolehkah pria kafir memandikan mayat wanita Muslimah atau tidak? Dalam hal memasukkan mayat wanita ke dalam kubur, apakah disyariatkan bagi yang memasukkannya harus dari kalangan kerabatnya, atau boleh siapa saja melaksanakan tugas ini, karena di pemakaman biasanya terdapat orang yang khusus melaksanakan tugas ini, bolehkah para petugas pria itu memasukkan mayat wanita ke dalam kubur?

Jawaban:
Yang lebih utama untuk memandikan mayat wanita adalah saudara-saudara wanita terdekat dari si mayat yang dapat melakukan pekerjaan itu dengan baik, dan boleh pula melaksanakan tugas itu wanita muslimah lainnya yang bisa memandikan mayat walaupun bukan dari kalangan kerabat si mayat. Dibolehkan juga bagi suaminya untuk memandikan mayat istrinya, sebagaimana dibolehkan bagi sang istri untuk memandikan mayat suaminya.

Adapun orang kafir yang memandikan mayat muslim maka hal itu tidak boleh, karena memandikan mayat adalah suatu proses ibadah, dan ibadah yang dilakukan oleh orang kafir adalah tidak sah.

Kemudian mengenai masalah yang ketiga, yaitu: Siapakah yang boleh memasukkan mayat wanita ke dalam kubur? Maka yang boleh memasukkan mayat wanita itu adalah para pria muslim yang bisa melakukan tugas itu dengan baik walaupun bukan mahram si mayat. (Al-Majmu’ah Al-Kamilah, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di, 7/136)

Wanita Haidh Memandikan Mayat

Pertanyaan ke-272: Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Bolehkah bagi wanita yang sedang haidh memandikan dan mengafani mayat?

Jawaban:
Boleh bagi wanita yang sedang haidh untuk memandikan dan mengafani mayat wanita, dan dibolehkan pula untuk memandikan mayat suaminya. Haidh tidak bisa menghalanginya untuk memandikan jenazah. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’, 8/369, fatwa no. 6193)

Hukum Pria yang Memandikan Mayat Wanita

Pertanyaan ke-273: Syaikh Shalih Al-Fauzan ditanya tentang hukumnya pria yang memandikan mayat wanita?

Jawaban:
Untuk memandikan mayat wanita harus dilakukan oleh para wanita, tidak boleh kaum pria memandikan mayat wanita kecuali suaminya, sebab suami berhak untuk memandikan mayat istrinya. Begitu pula sebaliknya, hendaknya yang memandikan mayat pria adalah kaum pria pula dan tidak boleh bagi wanita untuk memandikan mayat pria kecuali jika si mayat adalah suaminya, sebab dibolehkan bagi sang istri untuk memandikan mayat suaminya, karena Ali radhiyallahu ‘anhu telah memandikan istrinya, Fatimah radhiyallahu ‘anha putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam, dan Asma binti Umais rahimahullaha telah memandikan suaminya yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. (At-Tanbihat, Syaikh Al-Fauzan, hal. 33)

Hukum Menutupi Kuburan Saat Penguburan

Pertanyaan ke-262: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Apa hukum menutupi kuburan wanita ketika menurunkan jasadnya ke dalam kuburan, dan berapa lama penutupan itu dilakukan?

Jawaban:
Para ahli ilmu menyebutkan, bahwa sebaiknya kuburan wanita ditutupi ketika meletakkan jasadnya ke dalam kuburan agar lekuk-lekuk tubuhnya tidak tampak. Tapi hal ini tidak wajib, dan penutupan ini dilakukan hingga ditutupkan batu bata pada kuburan tersebut. (Ahkamul Jana’iz, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 25)

Hukum Menutupi Jenazah Wanita dengan Kain Saat Dimasukkan ke Liang Lahat

Pertanyaan ke-263: Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Ada sebagian orang ketika memasukkan jenazah wanita ke liang lahat menutupinya dengan kain agar tidak terlihat oleh orang, bagaimana hukumnya?

Jawaban:
Ini yang dilakukan dan disukai oleh para ulama. Mereka mengatakan bahwa hal ini lebih bisa menutupi jenazah, sebab bila diletakkan di liang lahat tanpa penutup, bisa jadi akan terbuka. Namun orang-orang di sini, di Unaizah, menutupi mayat dengan kain penutup kemudian kain itu ditarik sedikit demi sedikit, setiap kali menempatkan batu bata setiap kali itu pula ditarik sedikit, dengan demikian maksud untuk menutup bisa tercapai. (Fatawa At-Ta’ziyah, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 37)

Hukum Menguburkan Wanita oleh Laki-laki Bukan Mahramnya

Pertanyaan ke-264: Syaikh Muhammad bin Ibrahim ditanya: Apakah memasukkan mayat wanita (ke dalam kubur) boleh dilakukan oleh yang bukan mahramnya, juga membuka ikatan kafannya. Dan bagaimana pula hukumnya bila di sana ada mahramnya?

Jawaban:
Ungkapannya yang mengisyaratkan kebutuhannya terhadap mahram: bila aku mati, siapa yang akan memasukkanku ke dalam kubur dan membukakan ikatan (kafan).

Maka jawabnya, boleh bagi orang asing (bukan mahram) untuk memasukkan mayat wanita ke dalam kuburnya dan membukakan ikatan kain kafannya walaupun di sana ada mahramnya. (Fatawa Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 3/196)

Suami Memasukkan Mayat Istrinya ke Dalam Kubur

Pertanyaan ke-265: Al-Lajnah Ad-Daimah ditanya: Saya dan ayah saya datang setelah meninggalnya istri saya, namun kami hanya menghadiri jenazahnya, adapun penguburannya kami dibantu. Saya sendiri yang memasukkan jasadnya ke dalam kuburan, saya beserta anak laki-laki saya dan seorang sepupu istri saya. Saya pernah mendengar dari orang lain, bahwa saya tidak berhak memasukkan jasadnya ke dalam kuburnya. Benarkah ucapan ini, bila benar, apakah ada kafarah atau hal lain yang harus saya lakukan?

Jawaban:
Anda boleh memasukkan jasadnya ke dalam kuburannya. Adapun yang mengatakan bahwa anda tidak berhak dalam hal ini adalah pendapat yang salah. Untuk itu pula tidak ada kafarah bagi anda, bahwa insya Allah anda mendapat pahala. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 8/368, fatwa no. 3340)

Apakah dalam Memasukkan Jasad Mayat Wanita Disyaratkan Mahram?

Pertanyaan ke-266: Syaikh Abdul Aziz bin Baaz ditanya: Saya seorang laki-laki tanpa sebelah kaki. Ketika istri saya sakit, saya berusaha membawanya ke salah satu rumah sakit di Saudi. Saya selalu menemaninya hingga ia meninggal. Setelah meninggal saya membawanya ke pekuburan dengan menggunakan mobil ambulan yang disertai oleh beberapa karyawan rumah sakit. Hanya saya bersama mereka saat itu ketika menurunkan jasadnya ke dalam kuburan mereka yang bukan mahramnya itulah yang melakukannya, adapun saya, karena kondisi kaki saya maka tidak ikut menurunkan. Saya bingung dalam hal ini, apakah saya berdosa karena hal ini, dan apakah ada sesuatu bila jasad mayat wanita diturunkan oleh laki-laki yang bukan mahramnya?

Jawaban:
Tidak apa-apa menurunkan jasad mayat wanita ke dalam kuburannya oleh laki-laki yang bukan mahramnya. Adapun yang disyaratkan mahram bagi wanita adalah dalam safar, bukan saat menurunkan mayatnya ke dalam kuburan. (Kitab Ad-Da’wah, Syaikh Ibnu Baaz, 2/104)

Hukum Menempatkan Dua Batu Nisan di Atas Kuburan Wanita setelah Selesai

Pertanyaan ke-268: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Bagaimana menurut anda tentang menempatkan dua batu nisan pada kuburan laki-laki dan satu batu nisan pada kuburan wanita. Apakah perbedaan ini disyariatkan?

Jawaban:
Pembedaan ini tidak disyariatkan. Para ulama mengatakan bahwa menempatkan satu atau dua batu nisan atau satu batu bata ataupun dua batu bata sekadar untuk tanda bahwa itu adalah kuburan agar di tempat tersebut tidak digali adalah boleh. Adapun pembedaan antara tanda bagi kuburan laki-laki dan kuburan wanita tidak ada asalnya. (Fatawa At-Ta’ziyah, Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 30)

Hukum Menguburkan Wanita di Pekuburan Laki-laki

Pertanyaan ke-267: Al-Lajnah Ad-Daimah lil Ifta’ ditanya: Ibu saya mengatakan, bahwa ia pernah mempunyai seorang anak perempuan yang meninggal, saat meninggalnya itu ia sedang tidak ada, orang-orang menguburkannya di pekuburan yang tidak ada wanitanya, setiap kuburan di situ adalah kuburan laki-laki. Apakah boleh menguburkan anak perempuan itu di tempat pekuburan laki-laki, atau haruskah memindahkannya?

Jawaban:
Boleh menguburkan wanita di pekuburan laki-laki dan begitu pula sebaliknya, dengan syarat setiap mayat dikuburkan dalam satu kuburan tersemdiri. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’, 8/437, fatwa no. 12592)

Hukum Wanita yang Turut Mengantar Jenazah

Pertanyaan ke-281: Syaikh Shalih Al-Fauzan ditanya tentang hukumnya wanita mengantar jenazah.

Jawaban:
Diriwayatkan dari Ummu Athiyah radhiyallahu ‘anha ia berkata: “Kami dilarang untuk mengantar jenazah, dan beliau tidak menekankan kepada kami.” Larangan ini zhahirnya adalah pengharaman.

Adapun mengenai ucapan wanita itu: “Dan beliau tidak menegaskannya kepada kami,” Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu mengatakan tentang maksud dari ungkapan ini dalam Majmu’ul Fatawa: “Maksud dari ungkapan wanita itu adalah, bahwa larangan itu tidak ditekankan, dengan demikian larangan itu tidak bersifat pengharaman, tapi mungkin juga wanita itu menduga bahwa larangan itu bukan pengharaman.” Namun yang bisa dijadikan hujjah adalah sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wassalam. Bukan ucapan orang lain. (At-Tanbihat, Syaikh Al-Fauzan, hal. 33)

Sumber: Fatwa-fatwa tentang Wanita 1 (Al-Fatawa Al-Jami’ah lil Mar’atil Muslimah), penyusun: Amin bin Yahya Al-Wazan, penerjemah: Amir Hamzah Fakhruddin, penerbit: Darul Haq, cet. III, Syawal 1423 H / Januari 2003 M, hal. 189-192, 195-196, dan 200.

About these ads

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 29/04/2011, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. blog anda bagus>>>

    saya ajungi jempol!!!!
    dan saya hanya sekedar mampir ya sekalian blogwalking!!!
    jika bernit liat blog saya kunjungin balik jja!!!!

  2. Assalamu alaikum,
    Mohon penjelasan penyelenggaraan Jenajah Janin umur 12 minggu di kandungan: setelah dimandikan/dibersihkan, dikafani, (tidak disholatkan), apakah boleh dimakamkan di halaman rumah (kebetulan halaman rumah kami agak luas, rencana di pojok halaman dekat pohon mangga). Apakah boleh memberi tanda dengan meletakkan batu tapi kemudian setelah beberapa lama batu itu disingkirkan dan tidak ada gundukan tanah kubur lagi? ataukah harus dimakamkan di kompleks pekuburan? Syukron, Mukti.

  3. assalamu’alaikum Wr.Wb.
    saya mw menanyakan jika ada mayat wanita sudah d mandikan jg sudah d wudluin truzz d sentuh oleh laki-laki bukan Mahram…
    apakah itu membatalkan wudlu si mayyit wanita tadi…???

    • Wa’alaikumussalam.
      Tidak membatalkan wudhunya.

      Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata: “Pendapat yang rajih adalah menyentuh wanita tidak membatalkan wudhu secara mutlak, sama saja baik dengan syahwat atau tidak dengan syahwat kecuali bila keluar sesuatu darinya (madzi atau mani). Bila yang keluar mani maka wajib baginya mandi sementara kalau yang keluar madzi maka wajib baginya mencuci dzakar-nya dan berwudhu.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail, 4/201, 202)

      [Lihat majalah Asy Syariah no. 12/I/1425 H/2005, hal. 36]

  4. Assalamu Alaikum Wr. Wbr.

    Saya mohon arahan.
    Saya mempunyai seorang adik yang beberapa waktu lalu meninggal di Malaysia, keluarga sepakat untuk menguburnya di sana namun keluarga juga meminta supaya dikirim potongan rambut dan kain kafannya. Ketika itu sampai keluarga melakukan penguburan lagi dengan alasan kuburannya dekat keluarga dan ada yang di ziarahi nantinya, dan orang tua saya rencananya akan mempermanenkan kuburannya setelah 40 hari kematiannya. Jadi sekarang ada dua kuburan adik saya.

    Bagaimana saya menyampaikan ke keluarga jika ini di haramkan dan apakah harus membongkar kembali kuburan yang di kampung yang berisi potongan rambut dan kain kafan.

    Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.246 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: