Bolehkah Sholat dengan Bahasa Indonesia?

Oleh: Ustadz Abu Adib

Pertanyaan: Gimana hukumnya apa bila lafal arab dalam bacaaan shalat diganti dengan bahasa Indonesia? Kenapa syariat itu begitu mengikat? Mohon penjelasannya. (Rendra, 085735119xxx)

Jawaban:

Hukum mengganti bacaan shalat dengan bahasa Indonesia adalah tidak boleh. Karena, shalat itu adalah ibadah tauqifiyah (sudah tetap ketentuannya), tidak ada celah bagi manusia untuk intervensi dalam ketentuan yang telah Allah tetapkan ini. Dan shalat dengan menggunakan Bahasa Arab memiliki banyak hikmah, yang antara lain adalah di manapun, kapanpun dan siapapun seorang menegakkan shalat maka tata caranya (bacaan) akan selalu sama, yakni dengan Bahasa Arab.

Jika saja setiap orang yang mendirikan shalat itu memakai bahasa daerah masing-masing, maka tidak akan nampak persatuan dan kesatuan umat Islam dalam menjalankan ibadah tersebut (semisal orang Indonesia akan shalat dengan Bahasa Indonesia, orang Inggris pakai Bahasa Inggris, dst). Tentu perbedaan seperti ini bukan yang diinginkan oleh syari’at Islam.

Diantara dalil tidak bolehnya memakai bahasa sendiri dalam shalat adalah hadits dari ‘Aisyah Radhiyallahu’anha bahwasanya Rasulullah bersabda :

“Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru dalam urusan agama kami (Islam) yang bukan darinya, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat Muslim disebutkan bahwa :

“Barang siapa yang mengerjakan suatu amalan yang tidak ada padanya perintah kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim)

Dan syari’at dikatakan mengikat karena memang syari’at itu diturunkan oleh Allah Ta’ala untuk menguji manusia, agar diketahui siapa diantara mereka yang baik amalannya, atau buruk amalannya. Diantara dalilnya adalah Allah berfirman dalam Al- Qur’anul Kariim :

“Dia-lah Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapakah diantara kalian yang paling baik amalannya.” (QS. Al- Mulk : 2)

Sumber: http://almadinah.or.id/325-mengganti-lafal-arab-dalam-sholat-dengan-bahasa-indonesia.html

About these ads

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 31/07/2011, in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. bagaimana dengan niatnya mas? apa harus dalam bhs arab juga? terus terang saya terbiasa niat dalam bhs indonesia…

  2. Menarik sekali membaca tulisan Hafidz J.M. yang berjudul “Salat Berbahasa Indonesia dalam Perspektif Syari’at Islam”, yang dimuat dalam koran ini beberapa hari lalu (12-13 Mei 2005). Dalam tulisan itu saudara Hafidz telah menyatakan bahwa shalat berbahasa Indonesia –sebagaimana yang dipraktikkan oleh KH.M.Yusman Roy– adalah tidak sah, bahkan tidak dibenarkan dan bertentangan dengan syari’at Islam.

    Ada beberapa catatan untuk tulisan saudara Hafidz. Pertama, bahwa memang shalat merupakan jenis ibadah mahdlah. Ibadah ini wajib dilakukan oleh siapapun yang memeluk Islam. Bahkan kita semua memaklumi kalau Rasulullah pernah menyatakan “lakukanlah shalat sebagaimana kalian melihat (shalat)-ku”. Namun demikian shalat yang bagaimanakah? Kaifiyah gerakan dan bacaannya seperti apa?

    Jika kita menelisik literatur-literatur fiqh klasik, kita akan mendapatkan berbagai perbedaan mengenai kaifiyah gerakan dan bacaan shalat. Dengan kata lain, tidak ada kesepakatan bulat di kalangan fuqaha’ mengenai kaifiyah shalat. Dalam masalah takbir misalnya, Ibn Rusyd dalam bukunya Bidayah al-mujtahid fi Nihayah al-Muqtashid telah merangkum beberapa pendapat. Di antaranya, bahwa takbir adalah wajib dalam setiap gerak shalat; takbir tidak wajib dalam seluruh gerakan shalat; dan yang wajib hanya takbiratul ihram.

    Tidak hanya itu. Perselisihan pendapat pun terjadi dalam masalah bacaan takbir yang baku: apakah Allahu Akbar saja atau bisa diganti dengan lafadz yang senada?, masalah basmalah dalam membaca surat al-Fatihah, masalah pengucapan salam… dst.

    Masih dalam kerangka perselisihan kaifiyah shalat, bahwa ternyata di kalangan ulama juga terjadi perselisihan pendapat mengenai masalah membaca al-Fatihah: apakah harus dibaca seperti apa adanya (yakni sebagaimana bacaan dalam al-Qur’an yang menggunakan bahasa Arab) atau bacaan al-Fatihah itu boleh diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Secara jelas, Abu Hanifah adalah salah seorang fuqaha’ yang membolehkan bacaan al-Fatihah dengan bahasa terjemahannya, yaitu menggunakan bahasa Persi. Sementara seperti Imam Syafi’i dan yang lain mewajibkan bacaan al-Fatihah seperti apa adanya.

    Fakta perselisihan pendapat dalam hal kaifiyah shalat tersebut di atas, semakin menggelitik pikiran kita untuk mempertanyakan kembali kesimpulan bahwa shalat berbahasa Indonesia tidak ada dalam syari’at Islam sehingga tidak dapat dibenarkan.

    Pendapat Gus Roy tidak jauh berbeda dengan pendapat Imam Abu Hanifah. Imam Abu Hanifah membolehkan membaca al-Fatihah dalam shalat dengan menggunakan bahasa persi, sementara Gus Roy membacanya dengan bahasa Indonesia.

    Sampai sini kita pun jadi bertanya, apakah yang dimaksud oleh saudara Hafidz mengenai syari’at Islam? Lalu dari sekian banyak perselisihan pendapat, manakah kaifiyah (tuntunan) shalat yang sesuai dengan syari’at Islam?

    Di sini, ada kerancuan mengenai maksud syari’at dengan fiqh (hasil ijtihad para ulama). Kewajiban melaksanakan shalat adalah syari’at.

    Yakni, sebuah jenis amalan wajib yang harus dipenuhi setiap pemeluk Islam. Tetapi, mengenai kaifiyah –seperti bahasa apakah yang harus digunakan untuk melafadzkan al-Fatihah (termasuk juga seluruh bacaan) dalam shalat– merupakan masalah fiqhiyah yang masih bisa diperdebatkan sebagaimana yang terjadi di kalangan fuqaha’ terdahulu.

    Fiqh bukanlah syari’at dan syari’at bukanlah fiqh.

    Dengan demikian, pendapat yang dilontarkan Gus Roy mengenai shalat berbahasa Indonesia tidak bisa dinilai telah keluar dari syari’at Islam.

    Posisi pendapat Gus Roy berada dalam masalah fiqhiyah–padahal fiqh itu sendiri merupakan sekumpulan pendapat ulama mengenai suatu masalah dengan tetap mengacu pada dalil-dalil tertentu.

    Fiqh berisi tentang masalah furu’iyah dan bukan ushuliyah, dan karena itu kita tidak akan pernah menemukan kemufakatan seratus persen.

    Mengklaim pendapat bahwa shalat berbahasa Indonesia termasuk bukan syari’at Islam sama dengan mengingkari kerahmatan akan adanya perbedaan pendapat. Bahkan–dengan meminjam istilah Ali Harb–telah melakukan imprialisasi pemaknaan (imbriyaliyah al-ma’na).

    Kedua, Hafidz dalam menilai pendapat Gus Roy terjebak dengan–apa yang disebut oleh Nasr Hamid Abu Zaid–arabisme. Arabisme yang dimaksud adalah pendapat Hafidz yang mengangap bahwa hanya melalui bahasa Arab-lah shalat itu dilaksanakan dan dianggap sah. Ini didasarkan pada ayat al-Qur’an yang berbunyi “Sesungguhya Kami menurunkan al-Qur’an dalam bahasa Arab supaya kalian memahami” (QS. az-Zukhruf: 3).

    Sejatinya, ayat tersebut dipahami dalam konteks sejarah. Artinya, bahwa Nabi adalah keturunan dan berdomisili di tengah-tengah masyarakat jazirah Arab yang menjadikan bahasa Arab sebagai alat komunikasi dalam kesehariaan. Oleh karena mereka menggunakan bahasa Arab, maka sangat wajar jika Nabi dalam menyampaikan dakwah ke jalan Allah menggunakan bahasa Arab dan tidak bahasa orang-orang ajam.

    Ada hubungan timbal balik dalam pengertian QS az-Zukhruf tersebut. Andai saja dakwah Nabi tidak menggunakan bahasa Arab, maka dapat dipastikan akan mengalami hambatan yang sangat luar biasa, yaitu pesan ilahi tidak akan sampai kepada masyarakat setempat yang menjadi sasaran dakwah Islam pada saat itu.

    Dalam ayat lain dinyatakan “Dan kami tidak mengutus seorang rasul kecuali dengan menggunakan bahasa kaumnya untuk menjelaskan kepada mereka” (QS Ibrahim: 4). Jelaslah, bahwa penggunaan bahasa Arab dalam konteks penyampaian pesan ilahi tidak lain merupakan alat untuk mempermudah komunikasi.

    Pesan ilahi adalah esensi, sementara bahasa Arab merupakan medium komunikasi: padahal bahasa adalah sistem ujaran dan tanda yang terkait dengan pranata masyarakat penggunanya.

    Pesan ilahi bersifat universal, artinya dapat dipahami dang dijangkau dengan berbagai bahasa manusia. Oleh karena itu, jika al-Qur’an yang berisi pesan ilahi dipahami dan diterjemahkan dengan berbagai ragam bahasa manusia di luar bahasa Arab, maka hasilnya tetap pesan ilahi.

    Yang terpenting bukan medium bahasa yang dipakai, tetapi esensi pesan itu sendiri.

    Menganggap terjemahan al-Qur’an sebagai sesuatu yang sekunder dan tidak merupakan al-Qur’an itu sendiri berarti telah membatasi eksistensi Tuhan. Allah tidak hanya milik orang Arab, tetapi juga milik seluruh umat manusia. Tidak tersekat oleh batas wilayah geografis dan waktu.

    Begitulah saudara Hafidz telah merancukan antara agama dengan pemikiran keagamaan, antara syari’ah dengan fiqh, dan ia juga telah menafikan dimensi historis dalam melihat kasus shalat berbahasa Indonesia yang difatwakan dan dilakukan oleh KH.M.Yusman Roy.

    Semestinya, kita mendudukkan masalah shalat berbahasa Indonesia itu pada tempatnya, yaitu sebagai persoalan fiqhiyah-furu’iyah.

    Syari’ah itu tidak sekedar sistem ritual dan lafadz, tetapi–dengan meminjam pengertian Said al-Asymawi–semangat universal untuk mengembalikan dan mengangkat manusia kepada derajat kemanusiaannya. Tulisan ini pernah dimuat di Jawa Pos Radar Malang

    COPY LITERATUR FAISOL FATAWI (2005)

    Dilahirkan di Gresik. Jenjang pendidikannya ditempuh di Madrasah Ibtidaiyah Hidayatul Mubtadi’in Mojopuro Wetan Bungah, lulus tahun 1987. Kemudian melanjutkan ke pondok pesantren Ihyaul Ulum Dukun Gresik untuk ngangsu kaweruh ilmu-ilmu agama. Sambil nyantri, ia sekolah di MTs Ihyaul Ulum (lulus 1990) dan Madrasah Aliyah Ihyaul Ulum (lulus 1993). Jenjang S1 (sarjana) di Fakultas Adab Jurusan Bahasa dan Sastra Arab IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (sekarang berubah menjadi UIN Sunan Kalijaga). Magister (S2) pada perguruan tinggi yang sama, Konsentrasi Akidah dan Filsafat (Jurusan Filsafat Islam) tahun 2004. Sejak tahun 2003 menjadi dosen tetap di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang pada Fakultas Humaniora dan Budaya Jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Sesekali menerjemah buku dan menjadi editor lepas di beberapa penerbit. Sekarang, ikut mengurusi Unit Penerbitan Kampus UIN Malang (UIN-Malang Press). Sejak tahun 2006 sampai sekarang, aktif menjadi pengurus di Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU cabang kota Malang.

    Lihat profil lengkapku

  3. STETMEN KH MOCH OEMAR YUSMAN ROY PENGGAGAS SHOLAT DENGAN BAHASA INDONESIA

    SEJARAH TELAH MENCATAT BAHWA; Bangsa Indonesia melakukan sholat dengan bahasa Indonesia-nya itu adalah sudah nyata benar syah dan sudah teruji kebenarannya.

    Hal yang sedemikian itu tidak termasuk perbuatan menodai agama Islam sebagaimana yang pernah difatwakan oleh MUI.

    MENGINGAT DENGAN ADANYA SURAT AMAR PUTUSAN PN.MALANG, PT.SURABAYA, MA.JAKARTA. NO.75 K / PID / 27 JAN 2006.

    Dengan demikian sudah berakir dan TAMATLAH SUDAH segala hujatan yang pernah kami terima dari banyak pihak, berikut juga dengan SEGUDANG DALIL-DALIL yang menyertai fatwanya MUI yang pernah memfonis sesat dan menodai agama Islam terhadap hasil i’jtihad kami sebagai hamba Allah yang sangat menginginkan perbaikan kualitas ibadah menyembah / sembahyang / sholat.

    ALLAH HUAKBAR, ALLAH YANG MAHA AGUNG … Ternyata pada FINALNYA Allah membuktikan kebenaran-Nya sebagaimana firman-Nya tersebut dibawah ini; 17:81. Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”.Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap (cepat atau lambat waktunya berjalan pasti ).

    OLEH SEBAB ITU, SAYA BERITAHUKAN KEPADA SAUDARA SESAMA MUSLIM-MUKMIN BANGSA INDONESIA DIMANA SAJA SAUDARA BERADA, BAGI SAUDARA YANG INGIN MENYEMBAH / SEMBAHYANG / SOLAT ( KOMUNIKASI KEPADA ALLAH-MU ), LAKUKAN SAJA DENGAN BAHASAMU / BAHASA KAUM / BAHASA INDONESIA YANG MUDAH DIPAHAMI MAKSUD DAN TUJUANNYA DEMIKIANLAH PERINTAH ALLAHMU YANG SEBENARNYA.

    FIRMAN ALLAH; 19:97. Maka sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an itu dengan bahasamu, agar kamu dapat memberi kabar gembira dengan Al Qur’an itu kepada orang-orang yang bertakwa, dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang.

    Note; untuk belajar ilmu pengetahuan agama islam termasuk belajar sholat, Allah tidak mempersulit orang yang mau menyembah-Nya, Qur’an itu bisa dan boleh dibaca, dipelajari dan dipahami dengan bahasamu dw dw (dengan Qur’an terjemah) dan termasuk pekerjaan sholat itu juga demikian afdholnya / sepantasnya dilakukan dengan bahasa bangsa-mu indonesia dan bukan dengan bahasa asing.

    4:59. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

    3:103. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

    49:9. Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang maka damaikanlah antara keduanya. Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan yang lain maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga golongan itu kembali kepada perintah Allah; jika golongan itu telah kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan adil dan berlaku adillah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

    49:10. Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.

  4. Pendapat ulama yang Anda sebutkan adalah pendapat yang syadz (nyleneh), meskipun Anda mencoba mencari pembenaran dari seribu dalil sekalipun. Karena pemahaman Anda terhadap nash-nash Al-Qur’an dan hadits menyelisihi pemahaman para ulama salaf.

    Secara tegas kami menyatakan bahwa TIDAK SAH jika seorang shalat dengan menggunakan bahasa Indonesia.

    Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

    مذهبنا أنه لا يجوز قراءة القرآن بغير لسان العرب، سواء أمكنه العربية أو عجز عنها، وسواء كان في الصلاة أو غيرها، فإن أتى بترجمته في صلاة بدلاً عن القراءة لم تصح صلاته سواء أحسن القراءة أم لا

    “Menurut pendapat kami, tidak diperbolehkan membaca Al-Qur’an dengan selain bahasa Arab. baik ia menguasai bahasa Arab ataukah tidak, baik ia membacanya di dalam shalat maupun di luar shalat. Jika ia membaca terjemah Al-Qur’an di dalam shalat sebagai ganti bacaan Al-Qur’an dalam bahasa Arab, maka TIDAK SAH shalatnya. Sama saja apakah ia dapat membaca Al-Qur’an dengan baik atau tidak” [Al-Majmu' Syarh Al-Muhadzab, 3/379]

    Pendapat yang benar tanpa ada keraguan sedikitpun menyatakan bahwa bacaan Al-Fatihah merupakan rukun dalam shalat. Barangsiapa yang tidak membaca Al-Fatihah secara sengaja ataupun lupa, maka shalatnya tidak sah. Jika seorang lupa tidak membaca Al-Fatihah, maka tidak dapat diganti dengan sujud sahwi. Bagaimana jika ia sengaja meninggalkan bacaan Al-Fatihah, padahal ia mampu membacanya?? Sahkah shalatnya??

    seorang yang hanya membaca terjemah surat Al-Fatihah dalam shalatnya, maka ia belum teranggap telah membaca Al-Fatihah.

    Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

    ترجمة القرآن ليست قرآناً لأن القرآن هو هذا النظم المعجز وبالترجمة يزول الإعجاز فلم يجز

    “Terjemah Al-Qur’an tidaklah dinamakan Al-Qur’an. Karena Al-Qur’an adalah tulisan berbahasa Arab yang memiliki keindahan (susunan kata). Dengan hanya membaca terjemah Al-Qur’an, maka hilanglah keindahannya, sehingga tidak diperbolehkan” [Al-Majmuu' Syarh Al-Muhadzab, 3/380]

    Imam Al-Haramain Al-Juwaini Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

    ترجمة القرآن ليست قرآناً بإجماع المسلمين

    “Terjemahan Al-Qur’an bukanlah Al-Qur’an dengan kesepakatan kaum muslimin” [Al-Majmuu', 3/381]

    Apakah Anda akan menyelisihi ijma’ para ulama yang sangat jelas, dengan mengemukakan beberapa dalil yang salah alamat??

    Kami akan menerima dalil-dalil Anda sepenuh hati, jika memang dalil-dalil tersebut dipahami dengan pemahaman ulama Ahlus sunnah. JIka Anda memahaminya dengan keterbatasan ilmu Anda, maka maaf-maaf saja jika kami tidak sepakat!!

    Imam Ibnu Qudamah Al-Hambali rahimahullah berkata:

    ولا تجزئه القراءة بغير العربية، ولا إبدال لفظها بلفظ عربي سواء أحسن قراءتها بالعربية أو لم يحسن، وبه قال الشافعي وأبو يوسف ومحمد

    “TIDAK SAH membaca Al-Qur’an (dalam shalat -pen-) dengan bahasa selain Arab. Tidak pula menggantinya dengan lafadz Arab yang semakna, baik ia dapat membaca Al-Qur’an dengan baik ataukah tidak. Ini merupakan pendapat Asy-Syafi’i, Abu Yusuf dan Muhammad” [Al-Mughni, 1/350]

    Perlu Anda ketahui bahwa Abu Yusuf dan Muhammad yang disebutkan dalam perkataan Ibnu Qudamah adalah dua murid senior Imam Abu Hanifah rahimahumullah. Keduanya merupakan ulama besar madzhab Hanafi. Kenapa Anda menyandarkan pendapat tersebut kepada madzhab hanafi??

    Ternyata fakta menyatakan bahwa Imam Abu Hanifah telah rujuk dari pendapatnya yang keliru. Imam ‘Aalauddin Al-Hashkafi Al-Hanafi rahimahullah berkata:

    لأن الأصح رجوعه -أبو حنيفة- إلى قولهما -أبو يوسف ومحمد- وعليه الفتوى

    “Yang lebih tepat bahwa beliau -Abu Hanifah- telah rujuk dari pendapatnya dan menyepakati pendapat -Abu Yusuf dan MUhammad-. Pendapat inilah yang fatwa resmi (madzhab Hanafi -pen)” [Ad-Durarul Mukhtar Syarh Tanwiril Abshar, 1/484] Imam Ibnu Abidin Al-Hanafi juga menegaskan rujuknya pendapat Imam Abu Hanifah dari pendapatnya yang keliru dalam Hasyiyah Ibnu Abidin, 1/484.

    Alangkah baiknya jika Anda mau rujuk dari keyakinan Anda yang keliru dan mengikuti pemahaman para ulama Ahlussunnah. Siapkah Anda menanggung dosa orang-orang yang Anda sesatkan!!

    Waffaqanallah waiyyakum

  5. Qs fushshilat 41:44,menyiratkan bahwa suatu bangsa tak bisa menguasai bacaan (lafadz,ucapan dan terjemahannya) berbahasa bukan bahasa sehari harinya (bahasa ibu)/bahasa asing.
    Kenyataan 70%jamaah masjid masjid tak hafal terjemahan faatihah, yg harus segera diatasi.

    Hal tsb yg jadi sebab utama lemah taqwa,pecah,sesat sebagian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 798 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: