Hari-hari yang Dilarang untuk Berpuasa

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Berikut adalah penjelasan beberapa hari yang dilarang untuk melakukan puasa sunnah. Semoga bermanfaat.

Pertama: Hari Idul Fithri dan Idul Adha

Dari bekas budak Ibnu Azhar, dia mengatakan bahwa dia pernah menghadiri shalat ‘ied bersama ‘Umar bin Al Khottob –radhiyallahu ‘anhu-. ‘Umar pun mengatakan,

هَذَانِ يَوْمَانِ نَهَى رَسُولُ‏‎ ‎اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – عَنْ‏‎ ‎صِيَامِهِمَا يَوْمُ فِطْرِكُمْ‏‎ ‎مِنْ صِيَامِكُمْ ، وَالْيَوْمُ‏‎ ‎الآخَرُ تَأْكُلُونَ فِيهِ مِنْ‏‎ ‎نُسُكِكُمْ

“Dua hari ini adalah hari yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam larang untuk berpuasa di dalamnya yaitu Idul Fithri, hari di mana kalian berbuka dari puasa kalian. Begitu pula beliau melarang berpuasa pada hari lainnya, yaitu Idul Adha di mana kalian memakan hasil sesembelihan kalian.” [1]

Dari Abu Sa’id Al Khudri –radhiyallahu ‘anhu-, beliau mengatakan,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله‎ ‎عليه وسلم- نَهَى عَنْ صِيَامِ‏‎ ‎يَوْمَيْنِ يَوْمِ الْفِطْرِ‏‎ ‎وَيَوْمِ النَّحْرِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpuasa pada dua hari yaitu Idul Fithri dan Idul Adha.” [2]

Kaum muslimin telah bersepakat (berijma ’) tentang haramnya berpuasa pada dua hari raya, yaitu Idul Fithri dan Idul Adha. [3]

Kedua: Hari-hari Tasyriq (11, 12, dan 13 Dzulhijah)

Tidak boleh berpuasa pada hari tasyriq menurut kebanyakan pendapat ulama. Alasannya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ‏‎ ‎أَكْلٍ وَشُرْبٍ

“Hari-hari tasyriq adalah hari makan dan minum.” [4]

An Nawawi rahimahullah memasukkan hadits ini di Shahih Muslim dalam Bab “Haramnya berpuasa pada hari tasyriq”.

An Nawawi rahimahullah dalam Al Minhaj Syarh Shahih Muslim mengatakan, “Hari-hari tasyriq adalah tiga hari setelah Idul Adha. Hari tasyriq tersebut dimasukkan dalam hari ‘ied. Hukum yang berlaku pada hari ‘ied juga berlaku mayoritasnya pada hari tasyriq, seperti hari tasyriq memiliki kesamaan dalam waktu pelaksanaan penyembelihan qurban, diharamkannya puasa (sebagaimana pada hari ‘ied, pen) dan dianjurkan untuk bertakbir ketika itu.” [5]

Hari tasyriq disebut tasyriq (yang artinya: terbit) karena daging qurban dijemur dan disebar ketika itu. [6]

Imam Malik, Al Auza’i, Ishaq, dan Imam Asy Syafi’i dalam salah satu pendapatnya menyatakan bahwa boleh berpuasa pada hari tasyriq pada orang yang tamattu’ jika ia tidak memperoleh al hadyu (sembelihan qurban). Namun untuk selain mereka tetap tidak diperbolehkan untuk berpuasa ketika itu. [7]

Dalil dari pendapat ini adalah sebuah hadits dalam Shahih Al Bukhari dari Ibnu ‘Umar dan ‘Aisyah, mereka mengatakan,

لَمْ يُرَخَّصْ فِى أَيَّامِ‏‎ ‎التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ ، إِلاَّ‏‎ ‎لِمَنْ لَمْ يَجِدِ الْهَدْىَ

“Pada hari tasyriq tidak diberi keringanan untuk berpuasa kecuali bagi orang yang tidak mendapat al hadyu ketika itu.” [8]

Ketiga: Puasa Hari Jum’at Secara Bersendirian

Tidak boleh berpuasa pada Jum’at secara bersendirian. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَصُمْ أَحَدُكُمْ يَوْمَ‏‎ ‎الْجُمُعَةِ إِلاَّ أَنْ يَصُومَ‏‎ ‎قَبْلَهُ أَوْ يَصُومَ بَعْدَهُ

“Janganlah salah seorang di antara kalian berpuasa pada hari Jum’at kecuali jika ia berpuasa pada hari sebelum atau sesudahnya.” [9]

An Nawawi rahimahullah membawakan hadits ini di Shahih Muslim dalam Bab “Terlarang berpuasa pada hari Jum’at secara bersendirian.”

Dari Juwairiyah binti Al Harits –radhiyallahu ‘anha-, ia mengatakan,

أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه‎ ‎وسلم – دَخَلَ عَلَيْهَا يَوْمَ‏‎ ‎الْجُمُعَةِ وَهْىَ صَائِمَةٌ‏‎ ‎فَقَالَ » أَصُمْتِ أَمْسِ « .‏‎ ‎قَالَتْ لاَ . قَالَ » تُرِيدِينَ‏‎ ‎أَنْ تَصُومِى غَدًا « . قَالَتْ‏‎ ‎لاَ . قَالَ » فَأَفْطِرِى «

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki rumahnya pada hari Jum’at dan ia sedang berpuasa. Lalu beliau bertanya, “Apakah engkau berpuasa kemarin?” “Tidak,” jawab Juwairiyah. Beliau bertanya kembali, “Apakah engkau ingin berpuasa besok?” “Tidak,” jawabnya seperti itu pula. Beliau kemudian mengatakan, “Hendaknya engkau membatalkan puasamu.” [10]

Catatan penting: Puasa pada hari Jum’at dibolehkan jika:

Pertama: Ingin menunaikan puasa wajib, mengqodho’ puasa wajib, membayar kafaroh (tebusan) dan sebagai ganti karena tidak mendapatkan hadyu tamattu’. [11]

Kedua: Jika berpuasa sehari sebelum atau sesudah hari Jum’at sebagaimana diterangkan dalam hadits di atas.

Ketiga: Jika bertepatan dengan hari puasa Daud (sehari puasa, sehari berbuka).

Keempat: Berpuasa pada hari Jum’at bertepatan dengan puasa sunnah lainnya seperti puasa Asyura, puasa Arofah, dan puasa Syawal. [12]

Keempat: Berpuasa pada Hari Syak (Yang Meragukan)

Yang dimaksud di sini adalah tidak boleh mendahulukan puasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan dalam rangka hati-hati mengenai masuknya bulan Ramadhan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدٌ‏‎ ‎الشَّهْرَ بِيَوْمٍ وَلاَ‏‎ ‎يَوْمَيْنِ إِلاَّ أَحَدٌ كَانَ‏‎ ‎يَصُومُ صِيَامًا قَبْلَهُ‏‎ ‎فَلْيَصُمْهُ

“Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan berpuasa satu atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi seseorang yang terbiasa mengerjakan puasa pada hari tersebut maka berpuasalah.” [13]

Dalam hadits lainnya, dari ‘Ammar bin Yasir disebutkan,

مَنْ صَامَ الْيَوْمَ الَّذِي‎ ‎يُشَكُّ فِيهِ فَقَدْ عَصَى أَبَا‎ ‎الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ‏‎ ‎وَسَلَّمَ

“Barangsiapa berpuasa pada hari yang meragukan, maka ia berarti telah mendurhakai Abul Qosim, yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” [14]

Catatan penting: Berpuasa pada hari meragukan ini dibolehkan jika:

Pertama: Untuk mengqodho’ puasa Ramadhan.

Kedua: Bertepatan dengan kebiasaan puasanya seperti puasa Senin Kamis atau puasa Daud.

Kelima: Berpuasa Setiap Hari Tanpa Henti (Puasa Dahr)

Yang dimaksud puasa Dahr adalah berpuasa setiap hari selain hari yang tidak sah puasa ketika itu (yaitu hari ‘ied dan hari tasyriq). [15]

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ صَامَ مَنْ صَامَ الأَبَدَ لاَ‏‎ ‎صَامَ مَنْ صَامَ الأَبَدَ لاَ صَامَ‏‎ ‎مَنْ صَامَ الأَبَدَ

“Tidak ada puasa bagi yang berpuasa setiap hari tanpa henti. Tidak ada puasa bagi yang berpuasa setiap hari tanpa henti. Tidak ada puasa bagi yang berpuasa setiap hari tanpa henti.” [16]

Hadits di atas menunjukkan terlarangnya berpuasa setiap hari tanpa henti walaupun tidak ada kesulitan dan tidak lemas ketika melakukannya. Begitu pula tidak boleh berpuasa setiap hari sampai-sampai melakukannya pada hari yang terlarang untuk berpuasa. Yang terakhir ini jelas haramnya. [17]

Yang paling maksimal adalah melakukan puasa Daud yaitu sehari berpuasa dan sehari berbuka. Inilah rukhsoh (keringanan) terakhir bagi yang ingin terus berpuasa. Hadits larangan puasa Dahr tadi asalnya ditujukan pada Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash. Namun sebagaimana disebutkan dalam riwayat Muslim bahwa di akhir hidupnya Abdullah bin ‘Amr menjadi lemas karena kebiasaannya melakukan puasa Dahr. Ia pun menyesal karena tidak mau mengambil rukhsoh dengan cukup melakukan puasa Daud. [18]

Berpuasa Wishol

Terlarang pula berpuasa wishol yaitu berpuasa berturut-turut tanpa berbuka dan tanpa makan sahur. Dalil larangannya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

» إِيَّاكُمْ وَالْوِصَالَ «.‏‎ ‎قَالُوا فَإِنَّكَ تُوَاصِلُ يَا‎ ‎رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ » إِنَّكُمْ‏‎ ‎لَسْتُمْ فِى ذَلِكَ مِثْلِى إِنِّى‎ ‎أَبِيتُ يُطْعِمُنِى رَبِّى‎ ‎وَيَسْقِينِى فَاكْلَفُوا مِنَ‏‎ ‎الأَعْمَالِ مَا تُطِيقُونَ «.

“Janganlah kalian berpuasa wishol.” Para sahabat pun mengatakan, “Lalu engkau sendiri melakukan wishol, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Kalian tidaklah seperti aku dalam hal ini. Aku selalu diberi kenikmatan makan dan minum oleh Rabbku. Lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian.” [19]

Namun jika tidak menyulitkan boleh melakukan wishol hingga waktu sahur saja. Hal ini berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تُوَاصِلُوا ، فَأَيُّكُمْ‏‎ ‎أَرَادَ أَنْ يُوَاصِلَ‏‎ ‎فَلْيُوَاصِلْ حَتَّى السَّحَرِ

“Janganlah kalian melakukan wishol. Jika kalian ingin, maka lakukanlah wishol hinga sahur saja.” [20] [21]

Berpuasa pada Hari Sabtu

Ada sebuah hadits yang melarang berpuasa pada hari Sabtu,

لاَ تَصُومُوا يَوْمَ السَّبْتِ‏‎ ‎إِلاَّ فِيمَا افْتُرِضَ عَلَيْكُمْ

“Janganlah engkau berpuasa pada hari Sabtu kecuali puasa yang diwajibkan bagi kalian.” [22]

Mengenai status hadits ini masih diperselisihkan oleh para ulama tentang keshahihannya.

Perselisihan tersebut adalah:

Pertama: Ada yang menilai hadits larangan berpuasa pada hari Sabtu adalah lemah (dho’if) sehingga hadits tersebut tidak diamalkan. Dari sini berarti boleh berpuasa pada hari Sabtu.

Kedua: Sebagian ulama lainnya menilai bahwa hadits larangan berpuasa pada hari Sabtu adalah jayyid (boleh jadi shahih atau hasan). Namun yang mereka pahami, puasa hari Sabtu hanya terlarang jika bersendirian. Bila diikuti dengan puasa sebelumnya pada hari Jum’at, maka itu dibolehkan.

Rincian yang bagus untuk puasa hari Sabtu yang dibolehkan adalah sebagai berikut:

Pertama: Puasa pada hari Sabtu dihukumi wajib seperti berpuasa pada hari Sabtu di bulan Ramadhan, mengqodho ’ puasa pada hari Sabtu, membayar kafaroh (tebusan), atau mengganti hadyu tamattu’ dan semacamnya. Puasa seperti ini tidaklah mengapa selama tidak meyakini adanya keistimewaan berpuasa pada hari tersebut.

Kedua: Jika berpuasa pada hari Sabtu diikuti dengan berpuasa sehari sebelum hari Sabtu, maka ini tidaklah mengapa.

Ketiga: Berpuasa pada hari Sabtu karena hari tersebut adalah hari yang disyari’atkan untuk berpuasa. Seperti berpuasa pada ayyamul bid (13, 14, 15 setiap bulan Hijriyah), berpuasa pada hari Arofah, berpuasa ‘Asyuro (10 Muharram), berpuasa enam hari di bulan Syawal setelah sebelumnya berpuasa Ramadhan, dan berpuasa selama sembilan hari di bulan Dzulhijah. Ini semua dibolehkan. Alasannya, karena puasa yang dilakukan bukanlah diniatkan berpuasa pada hari Sabtu. Namun puasa yang dilakukan diniatkan karena pada hari tersebut adalah hari disyari’atkan untuk berpuasa.

Keempat: Berpuasa pada hari sabtu karena berpuasa ketika itu bertepatan dengan kebiasaan puasa yang dilakukan, semacam berpapasan dengan puasa Daud –sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa-, lalu ternyata bertemu dengan hari Sabtu, maka itu tidaklah mengapa. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan mengenai puasa satu atau dua hari sebelum Ramadhan dan tidak terlarang berpuasa ketika itu jika memang bertepatan dengan kebiasaan berpuasanya.

Intinya, puasa hari Sabtu yang terlarang adalah jika mengkhususkan berpuasa pada hari Sabtu dan tidak diikuti berpuasa pada hari sebelum atau sesudahnya. [23]

Demikian pembahasan kami mengenai hari-hari yang terlarang untuk berpuasa. Semoga bermanfaat.

Segala puji bagi Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan menjadi sempurna.

Catatan kaki:

[1] HR. Bukhari no. 1990 dan Muslim no. 1137.

[2] HR. Muslim no. 1138.

[3] Lihat Ad Daroril Madhiyah Syarh Ad Durorul Bahiyah, Muhammad bin ‘Ali Asy Syaukani, hal. 220, Darul ‘Aqidah, cetakan pertama, tahun 1425 H.

[4] HR. Muslim no. 1141, dari Nubaisyah Al Hudzali.

[5] Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, Yahya bin Syarf An Nawawi, 6/184, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobi, Beirut, 1392.

[6] Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim bin Al Hajjaj, 8/17.

[7] Idem

[8] HR. Bukhari no. 1997 dan 1998.

[9] HR. Bukhari no. 1985 dan Muslim no. 1144, dari Abu Hurairah.

[10] HR. Bukhari no. 1986 dan Muslim no. 1143, dari Juwairiyah binti Al Harits.

[11] Faedah dari penjelasan Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin ketika menerangkan puasa pada hari Sabtu. Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 20/57-58, Darul Wathon – Darul Tsaroya, cetakan terakhir, tahun 1413 H.

[12] Lihat pembahasan di Shahih Fiqh Sunnah, Syaikh Abu Malik, 2/142-143, Al Maktabah At Taufiqiyah.

[13] HR. An Nasai no. 2173, dari Abu Hurairah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[14] HR. An Nasai no. 2188, At Tirmidzi no. 686, Ad Darimi no. 1682, Ibnu Khuzaimah no. 1808. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[15] Lihat catatan kaki dalam Kitab Kifayatul Akhyar, Taqiyuddin Abu Bakr bin Muhammad Al Husain Asy Syafi’i, 1/209, Darul Kutub Al Islamiyah, cetakan pertama, 1424 H.

[16] HR. Muslim no. 1159, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash.

[17] Lihat Shahih Fiqh Sunnah, 2/144.

[18] Lihat penjelasan An Nawawi rahimahullah dalam Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/40.

[19] HR. Muslimm no. 1103, dari Abu Hurairah.

[20] HR. Bukhari no. 1967, dari Abu Sa’id Al Khudri.

[21] Lihat penjelasan Syaikh Abu Malik dalam Shahih Fiqh Sunnah, 2/146.

[22] HR. Abu Daud no. 2421, At Tirmidzi no. 744, Ibnu Majah no. 1726. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[23] Lihat Majmu’ Fatawa wa Rosa-il Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, 20/57-58.

Sumber:

http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/2999-hari-yang-terlarang-untuk-berpuasa-1.html

http://www.rumaysho.com/hukum-islam/puasa/3000-hari-yang-terlarang-untuk-berpuasa-2.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 20/04/2010, in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink. 20 Komentar.

  1. Menarik sekali postingnya, sukses untuk anda.
    Silahkan kunjungi Blog kami http://www.harisistanto.wordpress.com, baca posting baru hari ini berjudul : “Analisa usaha cuci sepeda motor”, serta artikel lain yang menarik, dan kalau berkenan mohon diberi komentar. Terima kasih.

  2. jazakahllah khoir atas ilmunya. :)

  3. Izin copas akhy…

  4. kalau niatnya puasa hajat (krn mmpunyai suatu hajat),dan puasa itu dilakukan setiap hari,smapi hajatnya terkabul,apakah itu boleh?

  5. kalau bernazar puasa seminggu/ 7 hari berturut2 itu termasuk puasa dahr tdk? bagaimana solusinya?
    Jzakallohu khairan atas jawabannya

    • Puasa dahr itu puasa yang menyambung dari terbit fajar hingga fajar berikutnya (24 jam), dan puasa spt ini dilarang. Shg apa yg antum jelaskan tsb, jelas terlarang. Wallahu a’lam.

      • Akhi, barangkali yang antum maksud puasa yang dilakukan dari terbit fajar hingga fajar di hari berikutnya (24 jam) adalah puasa wishal. Orang yang berpuasa wishal di waktu maghrib ia tidak berbuka, namun meneruskan puasanya hingga waktu sahur.

        Sedangkan puasa dahr adalah puasa sunah yang dilakukan setiap hari kecuali di hari-hari yang memang diharamkan berpuasa. Para ulama berselisih tentang hukum puasa dahr, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim menguatkan pendapat ulama yang menyatakan makruh (tidak haram).

        Sehingga bagi yang bernazar puasa 7 hari secara berurutan, hendaknya menunaikan nazarnya karena menunaikan nazar hukumnya wajib. Kecuali jika ketika bernazar puasa 7 hari, ia tidak mensyaratkan harus berurutan. Sebaiknya ia menunaikan puasa nazarnya tidak berurutan karena khawatir termasuk dalam larangan puasa dahr. Allahua’lam.

        kita saling koreksi ya, kalo memang ada yang keliru. Barakallahu fikum

  6. saya ingin cari kepastian,
    jadi boleh kan,puasa pada hari sabtu untuk mengganti puasa ramadhan, tanpa puasa juga keesokan harinya? tapi niat saya hanya mengganti saja, tidak mengistimewakan hari sabtu??

    • Bila memang puasa yg dilakukan tdk berkaitan dgn puasa sebelumnya (misal puasa sunnah Daud) atau krn hari2 tertentu (misal puasa arafah) maka tdk boleh berpuasa pd hari sabtu tanpa diiringi hari sebelumnya atau setelahnya. Wallahu a’lam.

  7. kalau seandainya puasa Daud bertepatan di hari Jum’at atau sabtu bagaimana?

    • Seorang yang berpuasa Daud bertepatan dengan hari Jum’at atau Sabtu. Maka larangan hadits tersebut tidak berlaku pada puasa Daud. Karena dalil hadits puasa Daud diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dan disepakati keshahihannya oleh para ulama. Sedangkan keshahihan hadits larangan puasa pada hari Sabtu masih diperselisihkan.

      Seandainya shahih, maka maknanya adalah larangan berpuasa secara bersendirian di hari Jum’at atau Sabtu tanpa sebab. Jika ada sebab, misalkan bertepatan dengan puasa Daud, puasa Arafah, puasa 6 hari di bulan Syawal, maupun puasa Asyura maka diperbolehkan insya Allah. Inilah pendapat ulama yang lebih kuat yang saya yakini, wabillahittaufiq

  8. Assalamu alaikum..
    Bagaimana dg kebanyakan org berpuasa pd tgl 15 bln sya’ban,dan pada tahun ini bertepatan dg hari jum’at,sementara dia tdk diikuti berpuasa pd hari sebelum dan tdk berniat puasa pd hari esoknya,boleh kah atau tdk?

  9. Assalamu alaikum…Saya keluarga dan orang2 di kampung saya, biasanya,kalo pagi hari idul adha dilarang makan sampai kami pulang sholat ied dan sebaliknya di hari idul fitri kami di haruskan makan sebelum berangkat sholat idul fitri,Mohon dalil dan hadits yang shohih….terimakasih…..

  10. Pada saat Idul Fitri Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidaklah berangkat untuk shalat sebelum makan beberapa kurma.” Murajja bin Raja berkata, berkata kepadaku ‘Ubaidullah, katanya: berkata kepadaku Anas, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Beliau memakannya berjumlah ganjil.” (HR. Bukhari No. 953)

    Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah, mengutip dari Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah, mengatakan, “Kami tidak ketahui adanya perselisihan pendapat tentang sunahnya mendahulukan makan pada hari ‘Idul Fithri.”

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah keluar pada hari Idul Fitri sampai dia makan dulu, dan janganlah makan ketika hari Idul Adha sampai dia shalat dulu.” (HR. At Tirmidzi No. 542, Ibnu Majah No. 1756, Ibnu Hibban No. 2812, Ahmad No. 22984, shahih)

  11. Assalamualaikum
    mau nanya nih,kalau puasa nazarnya cuma sehari lalu dikerjakan hari kamis berarti hari senin nanti apa puasa juga??

  12. Wa’aikumussalam warahmatullah,

    Kalo puasa nazar Anda hanya sehari, lalu dikerjakan hari Kamis, maka Anda telah menunaikan nadzar. Kewajiban nazar Anda telah gugur. Kalo mau puasa lagi hari Senin, hukumnya sunah..

    wabillahittaufiq

  13. kalau saya bayar puasa nazar pada hari sabtu bagaimana ya? sedangkan pada hari itulah saya bisa melaksanakannya, dan tdk ada maksud utk mengistimewakannya. mhn jwbnnya segera, terima kasih.

  14. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    لا تَصُومُوا يَوْمَ السَّبْتِ إِلا فِيمَا افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ

    “Janganlah kalian berpuasa pada hari Sabtu, kecuali puasa yang diwajibkan Allah kepada kalian” [HR. At-Tirmidzi no. 744 , Abu Daud no. 242 dan Ibnu Majah no. 1726 serta dishahihkan oleh Al-Albani dalam Al-Irwa’ no. 960]

    Abu ‘Isa At-Tirmidzi rahimahullah berkata:

    هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ ، وَمَعْنَى كَرَاهَتِهِ فِي هَذَا أَنْ يَخُصَّ الرَّجُلُ يَوْمَ السَّبْتِ بِصِيَامٍ لأَنَّ الْيَهُودَ تُعَظِّمُ يَوْمَ السَّبْتِ

    “Hadits ini hasan, makna larangan makruh dalam hadits ini adalah saat seorang mengkhususkan hari Sabtu untuk berpuasa, karena orang-orang Yahudi sangat mengagungkan hari Sabtu. [Jami’ At-Tirmidzi no. 744]

    Ibnu Qudamah rahimahullah berkata:

    يكره إفراد يوم السبت بالصوم … والمكروه إفراده , فإن صام معه غيره ; لم يكره ; لحديث أبي هريرة وجويرية . وإن وافق صوما لإنسان , لم يكره

    “Dimakruhkan mengkhususkan puasa hari Sabtu… hukum makruh berlaku jika puasa itu dikhususkan pada hari Sabtu. Jika ia berpuasa bersamaan dengan hari Sabtu (misalkan puasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya –pen), maka tidak makruh berdasarkan hadits Abu Hurairah dan hadits Juwairiyyah. Jika puasa hari Sabtu bertepatan dengan kebiasaan puasa seseorang, hukumnya juga tidak makruh.” [Al-Mughni, 3/52]

    Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata:

    وليعلم أن صيام يوم السبت له أحوال :
    الحال الأولى : أن يكون في فرضٍ كرمضان أداء ، أو قضاءٍ ، وكصيام الكفارة ، وبدل هدي التمتع ، ونحو ذلك ، فهذا لا بأس به ما لم يخصه بذلك معتقدا أن له مزية .
    الحال الثانية : أن يصوم قبله يوم الجمعة فلا بأس به ؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم قال لإحدى أمهات المؤمنين وقد صامت يوم الجمعة : ( أصمت أمس ؟ ) قالت : لا ، قال : ( أتصومين غدا ؟ ) قالت : لا ، قال : ( فأفطري ) . فقوله : ( أتصومين غدا ؟ ) يدل على جواز صومه مع الجمعة .
    الحال الثالثة : أن يصادف صيام أيام مشروعة كأيام البيض ويوم عرفة ، ويوم عاشوراء ، وستة أيام من شوال لمن صام رمضان ، وتسع ذي الحجة فلا بأس ، لأنه لم يصمه لأنه يوم السبت ، بل لأنه من الأيام التي يشرع صومها .
    الحال الرابعة : أن يصادف عادة كعادة من يصوم يوما ويفطر يوما فيصادف يوم صومه يوم السبت فلا بأس به ، كما قال النبي صلى الله عليه وسلم لما نهى عن تقدم رمضان بصوم يوم أو يومين : ( إلا رجلاً كان يصوم صوماً فليصمه ) ، وهذا مثله .
    الحال الخامسة : أن يخصه بصوم تطوع فيفرده بالصوم ، فهذا محل النهي إن صح الحديث في النهي عنه
    “Ketahuilah bahwa puasa hari Sabtu memiliki beberapa keadaan:

    Pertama, puasa hari Sabtu yang hukumnya wajib, seperti puasa Ramadhan, puasa qadha Ramadhan, puasa kaffarah, puasa menebus hadyu haji tamattu’ dan semisalnya. Puasa Sabtu dalam keadaan ini tidak apa-apa, selama ia tidak meyakini adanya keutamaan khusus jika berpuasa pada hari itu

    Kedua, bersamaan dengan puasa sehari sebelumnya yaitu hari Jum’at, ini juga diperbolehkan. Sebab nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepada salah seorang istri beliau yang sedang berpuasa pada hari Jum’at. “Apakah kamu kemarin berpuasa”. Ia menjawab: “tidak”. Nabi bertanya: “Apakah kamu ingin berpuasa besok?”. Ia menjawab: “tidak”. Nabi berkata: “Berbukalah”. Perkataan nabi “Apakah kamu ingin berpuasa besok?” menunjukkan kebolehan berpuasa hari Sabtu jika bersamaan dengan Jum’at.

    Ketiga, bertepatan dengan puasa di hari-hari yang disyariatkan, seperti puasa ayyamul bidh (puasa tanggal 13,14 dan 15 tiap bulan hijriyyah –pen), puasa Arafah, puasa Asyura, puasa 6 hari di bulan Syawwal bagi yang telah sempurna berpuasa Ramadhan, puasa 6 hari di awal Dzulhijjah, puasa ini juga diperbolehkan. Sebab ia berpuasa bukan karena hari itu adalah hari Sabtu, namun karena hari itu adalah hari yang memang disyariatkan berpuasa

    Keempat, bertepatan dengan kebiasaan puasa Daud, ini juga diperbolehkan berdasarkan sabda nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat melarang untuk mendahului puasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan: “kecuali seorang yang memiliki kebiasaan puasa, silahkan ia berpuasa”. Larangan puasa ini juga semisal dengan larangan puasa hari Sabtu.

    Kelima, mengkhususkan puasa sunah pada hari Sabtu, inilah larangan yang terkandung dalam hadits, jika hadits tersebut shahih. [Asy-Syarhul Mumti’, 20/57]

    Dari keterangan para ulama di atas, jelaslah bahwa Anda boleh berpuasa nazar pada hari Sabtu, jika tidak meyakini kekhususan hari tersebut. Allahua’lam

  1. Ping-balik: Jangan Lupa, Senin Besok Jangan Puasa Ya ! « Sains-Inreligion

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 5.981 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: