Hukuman Bagi Para Perampok dan Perampas

Perampasan atau dikatakan pula perampok jalanan adalah sekelompok orang yang keluar dengan bersenjata di negeri Islam untuk membuat kekacauan, menumpahkan darah, merampas harta, merusak kehormatan, pertanian dan keturunan. Termasuk pula sekelompok orang yang menculik anak laki-laki atau perempuan dan sekelompok orang yang melakukan penyergapan dan pembunuhan. Seorang yang merampas jiwa, harta dan kehormatan sekelompok orang juga dinamakan dengan perampas dan perampok jalanan. Sebagian ahli fiqih menamakan perampasan atau perampokan dengan nama pencurian besar -berbeda dengan pencurian yang biasa terjadi yang mereka namakan dengan pencurian kecil. Disebutkan dalam hadits:

“Barangsiapa yang keluar untuk melawan dan menyelisihi jamaah kaum muslimin dan dia mati, maka dia mati jahiliyah.”

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa yang mengangkat senjata terhadap kami, maka dia bukan dari bagian kami.”

Maka pemerintah wajib memerangi mereka sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah terhadap bangsa Irny dan para khalifah setelah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikian pula kaum muslimin wajib membantu pemerintah untuk membasmi mereka sampai akar-akarnya dan memutuskan pangkal kekuatan mereka. Jika para perampok dan pembuat kerusakan di muka bumi ini telah bertaubat sebelum mereka dikuasai dan sebelum pemerintah menangkap mereka, sesungguhnya Allah Azza wa Jalla telah mengampuni apa yang mereka lakukan sebelumnya dan Allah Azza wa Jalla menghapuskan siksaan dari mereka karena firman-Nya Azza wa Jalla:

“Kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah: 34)

Adapun hak-hak hamba tidak gugur dari mereka. [1] Al-Qurthubi rahimahullah menyatakan, “Peminum khamr, pezina dan pencuri jika bertaubat serta melakukan perbaikan -dan hal ini nampak pada diri mereka- kemudian mereka dihadapkan kepada pemimpin negara maka tidak sepantasnya mereka dihukum. Sedangkan jika mereka (belum bertaubat) dihadapkan kepadanya lalu mereka mengatakan, “Kami telah bertaubat”, maka mereka tidak dibiarkan pergi begitu saja dan keadaan mereka ini sebagaimana para perampok yang telah ditangkap.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Jika orang yang berhak mendapat hukuman -selain dari kalangan perampas atau perampok- bertaubat dan telah memperbaiki perilakunya, maka salah satu riwayat menyatakan: hukuman itu gugur darinya karena Allah Azza wa Jalla berfirman,

“Dan terhadap dua orang yang melakukan perbuatan keji di antara kamu, maka berilah hukuman kepada keduanya, kemudian jika keduanya bertaubat dan memperbaiki diri, maka biarkanlah mereka. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’: 16)

Allah Azza wa Jalla telah menyebutkan hukuman bagi pencuri, kemudian Dia Azza wa Jalla berfirman,

“Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah: 39)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Orang yang bertaubat dari dosa sebagaimana orang yang tidak memiliki dosa.”

Barangsiapa yang tidak memiliki dosa, maka tidak ada hukuman atasnya, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berkata tatkala dikabarkan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tentang larinya Maiz, “Apakah kalian tidak membiarkannya bertaubat sehingga Allah Azza wa Jalla menerima taubatnya?”

Karena ia murni hak Allah Azza wa Jalla maka hukuman itu digugurkan dengan taubat sebagaimana hukuman bagi perampas atau perampok.

Yang kedua: hukuman itu tidak gugur sebagaimana pendapat Malik, Abu Hanifah, dan salah satu pendapat Syafi’i atas dasar firman Allah Azza wa Jalla:

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera.” (QS. An-Nuur: 2)

Ayat ini adalah umum dan mencakup orang yang bertaubat atau tidak. Allah Azza wa Jalla berfirman,

“Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Maidah: 38)

Juga, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah merajam Maiz, Al-Ghamidiyah dan memotong tangan seseorang yang mengaku mencuri. Sesungguhnya mereka datang telah bertaubat dan meminta agar diri mereka disucikan dengan penegakan hukuman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menamakan perbuatan mereka dengan “taubat”. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang hak wanita:

“Sesungguhnya dia telah bertaubat, yang kalau taubatnya dibagikan atas 70 orang dari penduduk Madinah tentulah mencukupi mereka.”

Pernah Umar bin Samurah radhiyallahu ‘anhu datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka dia berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam! Sesungguhnya saya telah mencuri seseorang dari bani fulan, maka sucikanlah saya.” Maka Rasul menegakkan hukuman atasnya. Hukuman merupakan penghapus dosa (kaffarat) maka ia tidak gugur dengan taubat, sebagaimana kafarah sumpah dan pembunuhan. Sebab lain, karena hukuman merupakam perkara yang telah ditetapkan atasnya maka ia tidak gugur darinya, seperti itu pula keadaan seorang perampas dan perampok setelah mereka ditangkap. Jika kita katakan bahwa hukuman itu gugur dengan taubat, maka apakah hukuman itu gugur dengan semata-mata taubat ataukah taubat yang diiringi perbaikan amalan? Dalam hal ini ada dua pendapat. Selesai.

Hukuman Perampasan dan Perampokan

Allah Azza wa Jalla berfirman,

“Sesungguhnya balasan terhadap orang-orang yang memerangh Allah dan Rasul-Nya serta membuat kerusakan di muka bumi, adalah dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bersilang balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar.” (QS. Al-Maidah: 33)

Ayat ini diturunkan sebab perbuatan orang-orang Irni.

Adapun makna “yuhaaribuunallaha wa rasuuluhu” yaitu: “Mereka memerangi Allah dan Rasul-Nya”.

Mereka memerangi wali-wali Allah Azza wa Jalla sebagaimana dikatakan oleh Qurthubi rahimahullah, mayoritas ulama berpendapat bahwa kalimat “au (atau)” yang tersebut dalam ayat ini memberikan makna yang bermacam-macam bukan bermakna memberikan pilihan. Dan tuntutan ayat menunjukkan bahwa macam-macam hukuman itu diberikan sesuai keadaan dan tingkat kejahatan yang dilakukan bukan atas dasar memilih, sesungguhnya terdapat atsar dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dia berkata,

“Jika mereka membunuh dan merampas harta maka mereka disalib, jika membunuh dan tidak merampas harta, maka dibunuh dan tidak disalib. Jika mereka merampas harta dan tidak membunuh, maka tangan-tangan dan kaki-kaki mereka dipotong secara bersilangan, sedangkan jika mereka menakut-nakuti para pemakai jalan dan tidak merampas harta, maka mereka diusir dari wilayah itu.” Ini adalah madzhab Syafi’i dan Ahmad dalam riwayat yang paling shahih dari mereka, sedangkan pendapat Abu Hanifah rahimahullah memberikan pilihan dalam hal itu.

Syarat-syarat yang telah ditentukan sehingga pelaku kejahatan perampasan dan perampokan berhak mendapat hukuman harus terpenuhi. Maka disyaratkan pelakunya berakal dan baligh. Para ahli fiqih tidak berselisih tentang syarat tersebut, tetapi yang mereka perselisihkan adalah tentang gugurnya hukuman atas anak-anak dan orang-orang gila yang berserikat bersama para pembegal dalam kejahatan ini. Sebagian ahli fiqig berpendapat bahwa laki-laki merupakan syarat dalam tindak perampasan dan perampokan itu, sedangkan Syafi’i, Malik, pengikut madzhab Hambali, Abu Yusuf, Abu Tsur dan Ibnu Hazm berpendapat bahwa penetapan hukuman tidak didasarkan dengan macam persenjataan dan banyaknya pelaku, sebaliknya dengan dasar kejahatan perampasan atau perampokan yang dilakukan.

Hukum para perampas dan perampok jalanan baik di kota-kota atau di padang sahara adalah sama karena mereka sama-sama membahayakan orang lain. Termasuk dalam jenis ini sekelompok manusia yang membayar pelaku tindak kejahatan untuk merampas dan membunuh, demikianlah madzhab Syafi’i, Hambali, Abu Tsur, juga sebagaimana dikatakan oleh Al-Auza’i, Al-Laits, madzhab Malik dan Dzahiriyah. Di antara syarat perampasan dan perampokan yang terang-terangan yaitu mereka mengambil harta dengan terang-terangan. Jika mereka mengambilnya dengan sembunyi-sembunyi maka mereka adalah pencuri, sedangkan jika mereka menculik dan lari maka mereka adalah para perampas dan tidak ada hukum pemotongan tangan atas mereka. Demikian pula jika satu atau dua orang keluar mendatangi kafilah bagian belakang kafilah untuk merampas sesuatu darinya, karena mereka melakukan penghadangan dan melumpuhkan kekuatan mereka. Sedangkan jika mereka mendatangi sejumlah manusia (yang sedikit) lalu menguasai mereka, maka mereka termasuk perampas dan perampok jalanan, ini adalah madzhab Hanafi, Syafi’i dan Hambali.

Sumber: Kafarah Penghapus Dosa karya Sa’id Abdul ‘Adhim (penerjemah: Abu Najiyah Muhaimin bin Subaidi), penerbit: Cahaya Tauhid Press, hal. 47-54.

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 03/06/2010, in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: