Pembahasan Lengkap Shalat Sunnah Rawatib

Tanya: Assalaamualaykum warohmatullahi wabarokatuh. Saya baru belajar mendalami agama Allah yang sebenarnya, yang mengikut al-Qur’an dan hadist dan sunnah para sahabat dan imam. Ada yang ingin saya tanyakan, masalah shalat sunnah dalam menjalankan shalat lima waktu. Ada yang boleh dikerjakan dan tidak. Maksudnya shalat sunnah yang boleh dikerjakan waktu mengerjakan shalat wajib lima waktu: Yang mana boleh di kerjakan dan mana yang tidak? Tolong diberi penjelasannya …

Jawab:

Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.

Mungkin yang anda maksud adalah shalat sunnah rawatib (yang berada sebelum dan setelah shalat wajib). Ada tiga hadits yang menjelaskan jumlah shalat sunnah rawatib beserta letak-letaknya:

1. Dari Ummu Habibah isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ‏‎ ‎يُصَلِّي لِلَّهِ كُلَّ يَوْمٍ‏‎ ‎ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً‏‎ ‎تَطَوُّعًا غَيْرَ فَرِيضَةٍ‏‎ ‎إِلَّا بَنَى اللَّهُ لَهُ‏‎ ‎بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

“Tidaklah seorang muslim mendirikan shalat sunnah ikhlas karena Allah sebanyak dua belas rakaat selain shalat fardhu, melainkan Allah akan membangunkan baginya sebuah rumah di surga.” (HR. Muslim no. 728)

Dan dalam riwayat At-Tirmizi dan An-Nasai, ditafsirkan ke-12 rakaat tersebut. Beliau bersabda:

مَنْ ثَابَرَ عَلَى ثِنْتَيْ‏‎ ‎عَشْرَةَ رَكْعَةً مِنْ‏‎ ‎السُّنَّةِ بَنَى اللَّهُ لَهُ‏‎ ‎بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ‏‎ ‎أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ‏‎ ‎الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ‏‎ ‎بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ‏‎ ‎بَعْدَ الْمَغْرِبِ‏‎ ‎وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ‏‎ ‎الْعِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ‏‎ ‎قَبْلَ الْفَجْرِ

“Barangsiapa menjaga dalam mengerjakan shalat sunnah dua belas rakaat, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga, yaitu empat rakaat sebelum zhuhur, dua rakaat setelah zhuhur, dua rakaat setelah maghrib, dua rakaat setelah isya` dan dua rakaat sebelum subuh.” (HR. At-Tirmizi no. 379 dan An-Nasai no. 1772 dari Aisyah)

2. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radliallahu ‘anhu dia berkata:

حَفِظْتُ مِنْ النَّبِيِّ‏‎ ‎صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ‏‎ ‎وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ‏‎ ‎رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ‏‎ ‎وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا‎ ‎وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ‏‎ ‎الْمَغْرِبِ فِي بَيْتِهِ‏‎ ‎وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ‏‎ ‎الْعِشَاءِ فِي بَيْتِهِ‏‎ ‎وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ صَلَاةِ‏‎ ‎الصُّبْحِ

“Aku menghafal sesuatu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berupa shalat sunnat sepuluh raka’at yaitu; dua raka’at sebelum shalat zuhur, dua raka’at sesudahnya, dua raka’at sesudah shalat maghrib di rumah beliau, dua raka’at sesudah shalat isya’ di rumah beliau, dan dua raka’at sebelum shalat subuh.” (HR. Al-Bukhari no. 937, 1165, 1173, 1180 dan Muslim no. 729)

Dalam sebuah riwayat keduanya, “Dua rakaat setelah jumat.”

Dalam riwayat Muslim, “Adapun pada shalat maghrib, isya, dan jum’at, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan shalat sunnahnya di rumah.”

3. Dari Ibnu Umar dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

رَحِمَ اللَّهُ امْرَأً صَلَّى‎ ‎قَبْلَ الْعَصْرِ أَرْبَعًا

‎“Semoga Allah merahmati seseorang yang mengerjakan shalat (sunnah) empat raka’at sebelum Ashar.” (HR. Abu Daud no. 1271 dan At-Tirmizi no. 430)

Maka dari sini kita bisa mengetahui bahwa shalat sunnah rawatib adalah:

a. 2 rakaat sebelum subuh, dan sunnahnya dikerjakan di rumah.

b. 2 rakaat sebelum zuhur, dan bisa juga 4 rakaat.

c. 2 rakaat setelah zuhur.

d. 4 rakaat sebelum ashar.

e. 2 rakaat setelah jumat.

f. 2 rakaat setelah maghrib, dan sunnahnya dikerjakan di rumah.

g. 2 rakaat setelah isya, dan sunnahnya dikerjakan di rumah.

Lalu apa hukum shalat sunnah setelah subuh, sebelum jumat, setelah ashar, sebelum maghrib, dan sebelum isya?

Jawab: Adapun dua rakaat sebelum maghrib dan sebelum isya, maka dia tetap disunnahkan dengan dalil umum:

Dari Abdullah bin Mughaffal Al Muzani dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ‏‎ ‎صَلَاةٌ قَالَهَا ثَلَاثًا‎ ‎قَالَ فِي الثَّالِثَةِ لِمَنْ‏‎ ‎شَاءَ

“Di antara setiap dua adzan (azan dan iqamah) itu ada shalat (sunnah).” Beliau mengulanginya hingga tiga kali. Dan pada kali yang ketiga beliau bersabda, “Bagi siapa saja yang mau mengerjakannya.” (HR. Al-Bukhari no. 588 dan Muslim no. 1384)

Adapun setelah subuh dan ashar, maka tidak ada shalat sunnah rawatib saat itu. Bahkan terlarang untuk shalat sunnah mutlak pada waktu itu, karena kedua waktu itu termasuk dari lima waktu terlarang. Dari Ibnu ‘Abbas dia berkata:

شَهِدَ عِنْدِي رِجَالٌ‏‎ ‎مَرْضِيُّونَ وَأَرْضَاهُمْ‏‎ ‎عِنْدِي عُمَرُ أَنَّ‏‎ ‎النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ‏‎ ‎عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ‏‎ ‎الصَّلَاةِ بَعْدَ الصُّبْحِ‏‎ ‎حَتَّى تَشْرُقَ الشَّمْسُ‏‎ ‎وَبَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى‎ ‎تَغْرُبَ

“Orang-orang yang diridlai mempersaksikan kepadaku dan di antara mereka yang paling aku ridhai adalah ‘Umar, (mereka semua mengatakan) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang shalat setelah Shubuh hingga matahari terbit, dan setelah ‘Ashar sampai matahari terbenam.” (HR. Al-Bukhari no. 547 dan Muslim no. 1367)

Adapun shalat sunnah sebelum jumat, maka pendapat yang rajih adalah tidak disunnahkan. Insya Allah mengenai tidak disyariatkannya shalat sunnah sebelum jumat akan datang pembahasannya tersendiri, wallahu Ta’ala a’lam.

Faedah tambahan:

Assalamu ‘alaikum Ustadz, apakah shalat rawatib 4 rakaat menggunakan tasyahud awal atau tidak? Mohon penjelasannya Ustadz. Jazakallah.

Jawab:

Wa’alaikumussalam warahmatullah. Ada dua pendapat di kalangan ulama dalam masalah shalat rawatib yang 4 rakaat (yaitu sebelum zuhur, setelah zuhur, dan sebelum ashar):

1. Dikerjakan 2-2 rakaat, yakni salam setiap dua rakaat. Ini adalah pendapat Imam Asy-Syafi’i dan Ahmad. Mereka berdalil dengan hadits Ibnu Umar secara marfu:

صَلاَةُ اللَّيْلِ‏‎ ‎وَالنَّهَارِ مَثْنَى
مَثْنَى

“Shalat malam dan siang itu dua-dua rakaat.” (HR. An-Nasai: 3/227 dan Ibnu Majah no. 1322)

2. Sama seperti shalat wajib yang 4 rakaat, yakni dua kali tasyahud tapi satu kali salam. Ini adalah pendapat mayoritas ulama. Mereka menyatakan bahwa hadits-hadits yang menerangkan shalat rawatib 4 rakaat merupakan pengkhusus dari hadits Ibnu Umar di atas. Mereka juga berdalilkan dengan sebuah riwayat An-Nasai tentang shalat sunnah 4 rakaat sebelum ashar, “Dan beliau salam pada rakaat yang terakhir (keempat).” Riwayat ini dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 237. Dan yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Muhammad Bazmul dalam Bughyah Al-Mutathawwi’ adalah pendapat mayoritas ulama, yang menyatakan bahwa shalat sunnah 4 rakaat dikerjakan dengan dua kali tasyahud dan sekali salam, seperti shalat wajib yang 4 rakaat. Wallahu a’lam.

Sumber: http://al-atsariyyah.com/?p=1864#more-1864

Iklan

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 15/09/2010, in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Assalamu’alaikum Mohon penjelasan, bagaimana cara menggantikan imam sahalat yang tiba-tiba colaps/pinsan pada saat shalat berlangsung, apakah menolong imam yg pinsan lebih dulu, dan bagaiman cara menggantikan imam tersebut supaya jamaah tidak bubar.
    Wassalamu’alaikum

  2. subhanallah sangat bagus mohon dilengkpi cara shalatnya baik niat dan doanya disertai bahasa arab dan tarjamahannya jazakumullh ahsanal jaza’

  3. Muhammad Ali Mahmud

    Mohon koreksi kalau salah. Di laptop saya penulisan hadits dalam tulisan huruf arabnya koq terbalik-balik, ya. Apakah ada aplikasi khusus yang belum terinstall di laptop saya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: