Bid’ah Sujud Setelah Selesai Shalat

Beberapa orang yang shalat melakukan sujud [1] satu kali setelah mereka selesai shalat. Dalam sujud itu mereka berdoa kepada Allah. Perbuatan mereka itu didasarkan kepada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Paling dekat seorang hamba kepada Tuhannya adalah pada saat ia sujud.”

Ibadah diambil dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya dan harus didasarkan kepada dalil. Dalam hal ini tidak ada dalil yang mendukung terhadap sujud tersebut. Sujud yang dimaksud dalam hadits di atas adalah sujud sewaktu shalat (bukan sujud setelah shalat, -admin). Sedangkan sujud yang dimaksud oleh mereka adalah sujud yang tidak ada dasarnya dalam syariat dan merupakan bid’ah yang sesat dan akan mengantarkan ke dalam neraka, sebagaimana dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. [2]

Kewajiban Ulama Terhadap Bid’ah ini dan Bid’ah Lainnya

Para ulama memikul beban berat dan berkewajiban untuk menentang bid’ah tersebut dan bid’ah lainnya yang mungkar. Sebab tidak diragukan lagi bahwa para ulama adalah pewaris para Nabi. Dalam hal ini, saya maksudkan ulama sunnah dan bukan ulama ahli bid’ah serta hawa nafsu. Mereka mengikuti nafsu mereka dan sering mencari hal yang berbau bid’ah. Mereka selalu membawa bid’ah dan menyebarkannya. Oleh karena itu, tugas ulama sunnah adalah meredam tindakan para ulama bid’ah ini sebab para ulama Sunnah tersebut berada dalam jalur kebenaran.

Maka dalam hal ini bagi ulama sunnah dan yang mengikuti jalan ulama salafus shalih agar mematikan api bid’ah yang bergejolak. Sebab kebenaran harus diikuti. Para ulama harus mengatakan yang benar meskipun pahit. Mereka harus tegar dan tidak takut celaan manusia. Mereka perlu bertawakkal kepada Allah dan membela kebenaran, sebab Allah yang menolong mereka. Bagaimana tidak? Allah Ta’ala merupakan pembela, sebagaimana ditegaskan oleh firman Allah:

“Jika kalian menolong (membela) Allah, maka Allah akan menolong kalian dan menegakkan kaki kalian.” (Muhammad: 7)

Dan firman Allah:

“Niscaya Allah akan menolong siapa yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Perkasa.” (Al-Hajj: 40)

Wahai para ulama Islam, dan wahai para ulama sunnah, bangkitlah anda semua demi membela ajaran Nabi kalian. Lawanlah bid’ah dan pengikutnya dengan argumentasi dan penjelasan yang penuh hikmah, dan nasehat yang baik. Sebab nasehat dengan memakai kelembutan akan membuahkan kesuksesan dan keberhasilan. Allah menyuruh kita untuk mengajak dengan cara yang penuh hikmah, dan nasehat yang baik, yaitu dalam firman Allah:

“Ajaklah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasehat yang baik dan debatlah mereka dengan hal yang baik.” (An-Nahl: 125) [3]

Kita katakan kepada saudara kita yang bermaksud mengingkari bid’ah ini, bahwa jika ada seseorang menyalami anda (setelah salam dari shalat, -admin), maka ulurkan tangan anda, kemudian bicaralah kepadanya dengan lembut dan halus dan senyumlah kepadanya. Lalu beritahukanlah kepadanya bahwa berjabat tangan seperti itu tidak ada dasarnya dalam syariat. Dengan begitu orang tersebut akan sadar. Banyak sekali orang yang sadar dengan nasehat yang lembut. Ia terjerumus ke dalam bid’ah karena tidak mengetahui bahwa hal itu melanggar Sunnah Nabi.

Adapun jika anda mencabut tangan anda dari tangannya dengan kasar atau menolak berjabat tangan dengannya dan anda bermuka cemberut dan masam, maka hal itu justru tidak baik. Sebab anda tidak akan berhasil menasehatinya. Bahkan tindakan anda yang kasar seperti itu justru akan menambah kemungkaran dan memutus hubungan silaturahmi antar manusia.

Allah berfirman:

“Ajaklah menuju jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik.” (An-Nahl: 125)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sesungguhnya Allah menyukai kelembutan dalam setiap perkara.” [4]

Wallahu a’lam bish-shawab.

Catatan kaki:

[1] Yakni sujud satu kali dan bukan sujud syahwi, -admin.

[2] Yaitu hadits: “Jauhilah oleh kalian perkara yang diada-adakan karena setiap bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan tempatnya di dalam neraka.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Wadhoh dalam Al Bida’i hal. 13 dan Al Lallika’i hadits ke 100, 1/84. -admin)

[3] Lihat: “Tamamul kalaam fi bidiyyatil mushafahah ba’dassaalam” oleh Muhammad Musa Nashr hal. 49-53.

[4] Diriwayatkan oleh Bukhari dalam pembahasan Al-Isti’dzan (meminta ijin) pada bab bagaimana menolak salam kepada kafir ahli dzimmah, dan Imam Muslim dalam pembahasan Salam, pada bab larangan memulai salam kepada ahli kitab dan bagaimana membalas salam kepada mereka.

Sumber: 44 Kesalahan Orang Shalat karya Syaikh Muhammad Bayumi (penerjemah: H. Muhammad Nasri Hasyim Lc.), penerbit: Pustaka Al-Kautsar, cet. II, November 2003, hal. 238-241.

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 21/12/2010, in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Terima kasih atas penjelasan mengenai sujud satu kali setelah selesai solat fardu,karena ditempat saya semuanya begitu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: