Menyentuh Kemaluan Anak, Membatalkan Wudhu?

Batalkah Wudhu Seorang Ibu yang Membersihkan Najis Bayinya

Pertanyaan ke-18: Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh ditanya: Seorang wanita telah berwudhu untuk melakukan shalat, kemudian bayinya buang air besar atau buang air kecil sehingga perlu dibersihkan, lalu wanita itu membasuh dan membersihkan bayi itu dari najis, apakah hal ini membatalkan wudhunya?

Jawaban:
Jika wanita itu menyentuh kemaluan atau dubur bayinya itu maka dengan demikian wudhunya itu batal, jika tidak menyentuh satu di antara dua tempat keluar kotoran itu maka wudhunya itu tidak batal kalau hanya sekedar membasuh kotorannya, bahkan sekalipun ia langsung membersihkan najis itu dengan tangannya, walaupun demikian hendaknya ia memperhatikan kesucian tangannya setelah itu dan selalu waspada jangan sampai najis mengenai badannya serta pakaiannya. [Fatawa wa Wasa’il Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim, 2/75]

Batalkah Wudhu Seorang Wanita yang Membersihkan (Memandikan) Bayinya

Pertanyaan ke-19: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Jika seorang wanita telah bersuci lalu memandikan anaknya, apakah diwajibkan baginya untuk mengulang wudhunya?

Jawaban:
Jika seorang wanita memandikan anak perempuannya atau anak laki-lakinya dan menyentuh kemaluan anaknya itu, maka tidak wajib bagi wanita itu untuk mengulang wudhunya, akan tetapi cukup baginya untuk mencuci kedua tangannya saja, karena memegang kemaluannya tanpa syahwat tidak membatalkan wudhu, dan sudah dapat diketahui bahwa wanita yang memandikan anak-anaknya tidak terdetik gejolak syahwat dalam hatinya, dan jika ia memandikan putra atau putrinya maka cukup baginya untuk mencuci kedua tangannya itu, untuk membersihkan najis yang mengenai dirinya tanpa harus berwudhu lagi. [Fatawa wa Rasa’il Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, 4/203]

Batalkah Wudhu Wanita yang Mencuci Najis Anak-anaknya

Pertanyaan ke-20: Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Saya seorang ibu dengan beberapa orang anak, setelah berwudhu saya membersihkan kotoran dan najis yang ada pada anak saya, apakah hal itu membatalkan wudhu atau tidak?

Jawaban:
Membersihkan najis yang ada di badan orang yang telah berwudhu atau pada badan orang lain tidak membatalkan wudhu, akan tetapi jika anda menyentuh kemaluan anak itu maka hal itu akan membatalkan wudhu, sebagaimana seseorang menyentuh kemaluan dirinya sendiri. [Majalah Al-Buhuts Al-Islamiyyah, 22/62]

Menyentuh Aurat Anak Kecil, Apakah Membatalkan Wudhu?

Pertanyaan ke-21: Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Apakah menyentuh aurat anak kecilku saat mengganti pakaian membatalkan wudhu saya?

Jawaban:
Menyentuh aurat tanpa adanya pembatas membatalkan wudhu, baik yang disentuh itu anak kecil ataupun orang dewasa, berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam:

“Barangsiapa yang menyentuh kemaluannya maka hendaklah ia berwudhu.”

Maka menyentuh kemaluan orang lain sama hukumnya dengan menyentuh kemaluan sendiri. [Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’, 5/265. Disusun oleh Ad-Duwaisy]

Sumber: Fatwa-fatwa tentang Wanita 1 (Al-Fatawa Al-Jami’ah lil Mar’atil Muslimah), penyusun: Amin bin Yahya Al-Wazan, penerjemah: Amir Hamzah Fakhruddin, penerbit: Darul Haq, cet. III, Syawal 1423 H / Januari 2003 M, hal. 16-18.

TAMBAHAN:

Perbedaan Pendapat Ulama tentang: Apakah Menyentuh Kemaluan Membatalkan Wudhu?

Dari Busrah bintu Shafwan radhiyallahu ‘anha, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Apabila salah seorang dari kalian menyentuh dzakarnya, hendaklah ia berwudhu.” (HR. Abu Dawud no. 154, dishahihkan Al-Imam Ahmad, Al-Bukhari, Ibnu Ma’in dan selainnya. Kata Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu: “Hadits ini paling shahih dalam bab ini.” Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Abu Dawud no. 174)

Dalam riwayat At-Tirmidzi rahimahullahu disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Siapa yang menyentuh kemaluannya maka janganlah ia shalat sampai ia berwudhu.”

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu berkata tentang hadits ini: “Hadits shahih di atas syarat Al-Bukhari dan Muslim.” (Al-Jami’ush Shahih, 1/520)

Sementara Thalaq bin Ali radhiyallahu ‘anhu mengabarkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam pernah ditanya tentang seseorang yang menyentuh dzakarnya setelah ia berwudhu, apakah batal wudhunya? Beliau shallallahu ‘alaihi wassalam menjawab:

“Bukankah dzakar itu tidak lain kecuali sebagian daging dari (tubuh)nya?” (HR. At-Tirmidzi no. 85 dan kata Ibnul Madini rahimahullahu: “Hadits ini lebih baik daripada hadits Busrah.” Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu menshahihkan sanadnya dalam Al-Misykat)

Dua hadits di atas menerangkan, yang pertama menetapkan menyentuh dzakar itu membatalkan wudhu sementara hadits yang kedua menetapkan tidak membatalkan wudhu. Sebagaimana dua hadits di atas bertentangan makna secara dzahirnya maka dalam masalah ini ada perselisihan pendapat di kalangan ulama.

Pertama, berpendapat menyentuh kemaluan membatalkan wudhu seperti pendapatnya Umar, Ibnu Umar, Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Aisyah, Saad bin Abi Waqqash, Atha, Urwah, Az Zuhri, Ibnul Musayyab, Mujahid, Aban bin Utsman, Sulaiman bin Yasar, Ibnu Juraij, Al-Laits, Al-Auza’i, Asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, Malik dalam pendapatnya yang masyhur dan selain mereka. Mereka berdalil dengan hadits Busrah. (Sunan Tirmidzi 1/56; Al-Mughni 1/117; Al-Muhalla 1/223; Nailul Authar 1/282)

Kedua, berpendapat dengan hadits kedua bahwa menyentuh dzakar tidaklah membatalkan wudhu. Hadits ini dijadikan pegangan oleh mereka, seperti ‘Ali, Ibnu Mas’ud, ‘Ammar bin Yasir, Hudzaifah, Abud Darda, ‘Imran bin Hushain, Al-Hasan Al-Bashri, Rabi’ah, Ats-Tsauri, Abu Hanifah dan murid-muridnya dan selain mereka. (Sunan Tirmidzi, 1/57; Al-Mughni, 1/117; Nailul Authar, 1/282)

Ketiga, mereka yang berpendapat dijamak atau dikumpulkannya antara dua hadits yang sepertinya bertentangan tersebut, di antaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu dan yang lainnya, yang menyatakan apabila menyentuhnya dengan syahwa [1] maka hendaknya dia berwudhu dengan (dalil) hadits Busrah dan kalau menyentuhnya tanpa syahwat maka tidak mengapa akan tetapi disenangi baginya apabila dia berwudhu [2], dengan (dalil) hadits Thalaq. Pendapat inilah yang penulis pilih dan memandangnya sebagai pendapat yang rajih, walaupun pendapat yang pertama menurut pandangan penulis adalah pendapat yang juga kuat di mana pendapat ini banyak dipilih dan dibela oleh ahlul ilmi, seperti di antaranya Al-Imam Ash-Shan’ani (di dalam Subulus Salam, 1/104), Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullahu (Nailul Authar, 1/283; Ad-Darari Al-Mudhiyyah hal. 36) dan yang lainnya. Namun penulis lebih condong pada pendapat yang ketiga, wallahu ta’ala a’lam bish-shawab wal ilmu ‘indallah.

Asy-Syaikh Al-Albani radhiyallahu ‘anhu berkata: “Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam, “Hanyalah dzakar itu bagian dari (tubuh)mu”, di dalamnya ada isyarat yang lembut bahwa menyentuh dzakar yang tidak dibarengi syahwat tidak mengharuskan wudhu, karena menyentuh dalam keadaan seperti ini sama halnya dengan menyentuh anggota tubuh yang lain. Berbeda keadaannya apabila ia menyentuh dengan syahwat maka ketika itu tidak bisa disamakan dengan menyentuh anggota tubuh yang lain. Karena secara kebiasaan menyentuh anggota tubuh yang lain tidaklah dibarengi dengan syahwat. Perkara ini adalah perkara yang jelas sebagaimana yang kita ketahui.

Berdasarkan hal ini maka hadits: “Hanyalah dzakar itu bagian dari (tubuh)mu” tidak bisa dijadikan dalil oleh madzhab Al-Hanafiyyah untuk menyatakan bahwa menyentuh dzakar tidaklah membatalkan wudhu secara mutlak. Namun hadits ini merupakan dalil bagi orang yang berpendapat bahwa menyentuh dzakar tanpa disertai syahwat tidaklah membatalkan wudhu. Adapun bila menyentuhnya dengan syahwat maka dapat membatalkan wudhu, dengan dalil hadits Busrah. Dengan demikian terkumpullah di antara dua hadits tersebut. Pendapat inilah yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam sebagian kitabnya berdasarkan apa yang aku ketahui. Wallahu a’lam.” (Tamamul Minnah, hal. 103)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata: “Apabila seseorang menyentuh dzakarnya maka disenangi baginya untuk berwudhu secara mutlak, sama saja apakah ia menyentuhnya dengan syahwat ataupun tidak. Apabila menyentuhnya dengan syahwat maka pendapat yang mengatakan wajib baginya berwudhu sangatlah kuat, namun hal ini tidak ditunjukkan secara dzahir dalam hadits. Dan aku tidak bisa memastikan akan kewajibannya namun demi kehati-hatian sebaiknya ia berwudhu.” (Syarhul Mumti’, 1/234)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab wal ilmu ‘indallah.

Footnote:
[1] Karena dalam keadaan demikian ini sangat memungkinkan keluarnya madzi.
[2] Juga disenangi wudhu di sini dalam rangka kehati-hatian, Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

[Faidah di atas diambil dari Majalah Asy Syariah no. 13/II/1426 H/2005, dalam artikel “Pembatal-pembatal Wudhu Bagian-2” tulisan Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim Al-Atsari, hal. 53-54]

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 08/05/2011, in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. mau nanya mas, bagaimana hukumnya kalau menggaruk kemaluan dari luar (memakai pakaian), jadi secara tidak langsung menyentuh daerah tersebut. apakah hal ini membatalkan wudhu?

  2. salamu’alaykum akhi… afwan ana ijin copas utk website ISLAMIC ZONE http://thibbalummah.wordpress.com boleh akh?
    jazaakallah khair…

  1. Ping-balik: DALIL PERBEDAAN PENDAPAT : Apakah Menyentuh Kemaluan Membatalkan Wudhu? “Bukankah dzakar itu tidak lain kecuali sebagian daging dari (tubuh)nya?” « ‎ ‎طبيب الطب النبوي | Dokter Pengobatan Nabawi |

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: