Hukum Berzakat kepada Kerabat

• Berzakat Kepada Suami yang Berutang

Pertanyaan ke-296: Syaikh Abdul Aziz bin Baaz ditanya: Bolehkah seorang istri mengeluarkan zakat perhiasannya kepada suaminya, karena sang suami pegawai yang berpangkat rendah dan memiliki utang yang cukup besar?

Jawaban:
Tidak ada masalah bagi wanita yang mengeluarkan zakat perhiasannya atau zakat yang bukan perhiasan kepada suaminya yang fakir atau memiliki utang yang tidak mampu dilunasinya menurut pendapat yang paling benar di antara dua pendapat ulama, berdasarkan sifat keumuman dalil-dalil tentang zakat, di antaranya firman Allah:

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin ….” (At-Taubah: 60) [Fatawa Al-Mar’ah, Syaikh Ibnu Baaz, 2/43]

• Berzakat Kepada Keponakan

Pertanyaan ke-297: Syaikh Ibnu Baaz ditanya: Bolehkah suami saya mengeluarkan zakat untuk harta saya, sedangkan ia adalah orang yang memberi saya harta, dan apakah boleh saya memberikan zakat kepada keponakan saya yang berstatus yatim sedangkan keponakan saya itu adalah pemuda yang sedang beranjak dewasa dan ingin menikah?

Jawaban:
Anda wajib mengeluarkan zakat dari harta yang anda miliki jika harta anda itu telah mencapai nisab atau melebihinya, bila harta itu berupa emas atau perak atau harta lainnya yang wajib dizakati. Dan jika suami anda telah mengeluarkan zakat untuk haqta anda dengan izin anda maka hal itu tidak masalah. Begitu juga jika ayah anda atau saudara anda atau orang selain keduanya mengeluarkan zakat atas nama anda dengan seizin anda, maka yang demikian itu tidak mengapa. Anda boleh memberikan zakat kepada keponakan anda sebagai pertolongan baginya untuk menikah jika ia lemah dalam segi materi. [Ibid, 2/43]

• Berzakat Kepada Ibu

Pertanyaan ke-298: Syaikh Ibnu Baaz ditanya: Bolehkah seseorang mengeluarkan zakat untuk diberikan kepada ibunya?

Jawaban:
Seorang muslim tidak boleh mengeluarkan zakat untuk diberikan kepada orang tuanya, juga tidak boleh mengeluarkan zakat untuk diberikan kepada anak-anaknya, akan tetapi hendaknya seseorang memberi nafkah kepada kedua orang tua dan anak-anaknya dari hartanya jika mereka membutuhkannya, demikian ini jika ia memang mampu memberi infaq kepada mereka. [Ibid, 2/44]

• Berzakat Kepada Anak Perempuan yang Fakir

Pertanyaan ke-299: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Bolehkah mengeluarkan zakat kepada anak perempuan yang sudah menikah dan dalam keadaan membutuhkan?

Jawaban:
Setiap orang mempunyai ciri-ciri golongan yang berhak mendapatkan zakat pada dasarnya boleh memberikan zakat kepadanya, berdasarkan ini, jika seseorang tidak mampu memberi infak kepada anak perempuannya dan kepada anak laki-lakinya, maka hendaknya zakat tersebut diberikan kepada anak perempuannya, dan yang lebih baik dan lebih selamat adalah memberikan zakat tersebut kepad suami anaknya itu. [Durus wa Fatawa Al-Haram Al-Makki, Syaikh Ibnu Utsaimin, 2/397]

Berzakat Kepada Saudara Perempuan yang Fakir yang Telah Menikah

Pertanyaan ke-300: Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Jika seseorang memiliki saudara perempuan yang telah menikah dan semuanya dalam keadaan fakir, bolehkah saudari orang itu boleh menerima zakat dari saudara-saudaranya?

Jawaban:
Nafkah seorang wanita adalah kewajiban bagi suaminya, dan jika suami itu seorang yang fakir maka bagi saudara-saudara istrinya hendaklah memberi zakat kepada saudara perempuan mereka itu agar ia mendapat nafkah untuk dirinya sendiri dan untuk suaminya serta anak-anaknya. Bahkan jika sang istri ini memiliki harta yang wajib dizakati, maka hendaknya mengeluarkan zakat hartanya itu kepada suaminya agar suaminya itu dapat memberi nafkah kepada orang-orang yang menjadi tanggungannya. [Majalah Al-Buhuts Al-Islamiyah, 8/157]

• Berzakat Kepada Saudaranya Tanpa Sepengetahuan Suaminya

Pertanyaan ke-301: Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Apakah boleh bagi seorang wanita untuk mengeluarkan shadaqah dari hartanya sendiri atas nama salah seorang saudaranya yang telah meninggal tanpa sepengetahuan suaminya, dan apakah hukumnya jika yang disedekahkan itu adalah harta suaminya?

Jawabao:
Boleh bagi seorang wanita untuk menyedekahkan hartanya sendiri untuk salah seorang saudaranya yang telah meninggal demi mencari keridhaan Allah Subhanallahu wa Ta’ala dengan maksud agar pahala dan faedahnya kembali kepada mereka, karena ia berkuasa terhadap hartanya sendiri dan ia bebas untuk mengeluarkan hartanya itu selama masih dalam batasan-batasan yang telah disyariatkan Allah Subhanallahu wa Ta’ala. Bersedekah adalah perbuatan baik yang mana pahalanya akan sampai kepada orang yang bersedekah atas namanya jika Allah menerimanya. Adapun jika wanita itu bersedekah dari harta suaminya dan suaminya tidak mencegah perbuatan itu, dan si istri tahu bahwa suaminya tidak akan mencegah hal itu, maka boleh bagi wanita itu untuk bersedekah tanpa sepengetahuan sang suami. Akan tetapi jika suaminya melarang hal tersebut maka tidak boleh bagi si istri untuk bersedekah tanpa sepengetahuan suami. [Ibid]

• Zakat Kepada Saudara Dekat

Pertanyaan ke-302: Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Jika ada wanita-wanita yang telah bersuami yang mana mereka itu adalah kerabat seorang pria, misalnya sebagai keponakannya, sementara suami-suami mereka adalah orang-orang yang tidak kaya sehingga mereka kurang tercukupi kebutuhannya, apakah boleh bagi pria itu untuk mengeluarkan zakat kepada mereka?

Jawaban:
Tidak diragukan lagi bahwa orang-orang yang menerima zakat adalah fakir miskin. Tentang boleh atau tidaknya memberikan zakat kepada mereka sebagaimana yang ditanyakan yang dianggap termasuk fakir miskin, harus dikaji terlebih dahulu tentang kefakiran mereka, jika kefakiran itu berupa kebutuhan nafkah dan pakaian, sementara para suami mereka tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan tersebut, maka tidak ada alasan untuk mencegah pemberian zakat kepada mereka, namun jika kefakiran itu berupa kebutuhan nafkah perlengkapan, seperti emas atau lainnya, maka tidak boleh memberikan zakat kepada mereka. [Majalah Al-Buhuts Al-Islamiyah, 8/174]

Sumber: Fatwa-fatwa tentang Wanita 1 (Al-Fatawa Al-Jami’ah lil Mar’atil Muslimah), penyusun: Amin bin Yahya Al-Wazan, penerjemah: Amir Hamzah Fakhruddin, penerbit: Darul Haq, cet. III, Syawal 1423 H / Januari 2003 M, hal. 218-221.

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 09/05/2011, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 5 Komentar.

  1. dibulan puas aini ayo kita berzakat kepada mereka yang memerlukan.

  2. Pak ustad… Bolehkah saya memberkan zakat mal, kepada adek perempuan saya bukan kepada suaminya…sukron pak ustad

  3. bagaimana hukumnya bila memberi zakat kepada orang yang justru mengeluarkan zakat?
    http://www.pusakaayu.com

  4. @zul akhyar

    Zakat mal maupun zakat fitrah boleh diberikan kepada orang-orang yang di luar tanggungan nafkah kita. Apabila nafkah adik Anda ditanggung oleh suaminya, dan dia termasuk orang yang berhak menerima zakat, insya Allah tidak apa-apa

    @ahmad

    Apa yang dimaksud memberikan zakat kepada orang yang mengeluarkan zakat?

  1. Ping-balik: Rangkuman Artikel Menyambut Ramadhan (Edisi Lengkap) | Jυrηαl Sαlαfiyυη

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: