Fatwa Ulama Berkaitan Wanita Hamil dan Menyusui di Bulan Ramadhan

Istri Saya Hamil dan Mengeluarkan Darah Pada Permulaan Ramadhan

Pertanyaan ke-314: Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Istri saya sedang hamil dua bulan, tapi ada tetesan darah yang keluar darinya pada permulaan bulan Ramadhan, tepatnya setelah Isya, beberapa hari setelah itu ia mengeluarkan tetesan lain sebelum terbenamnya matahari, saat itu ia tetap meneruskan puasanya, mohon keterangan anda tentang hal ini?

Jawaban:

Jika wanita itu hamil dan mengeluarkan darah secara tidak teratur, yaitu tidak seperti sebelum hamil, maka darah ini bukan masalah, baik setetes atau dua tetes ataupun banyak, karena darah yang keluar dari wanita hamil itu dianggap darah rusak (darah penyakit), lain halnya jika keluarnya darah tersebut secara teratur sebagaimana keluarnya darah sebelum hamil, maka darah tersebut dianggap darah haidh. Adapun jika darah tersebut berhenti kemudian keluar lagi seperti yang disebutkan dalam pertanyaan, maka bagi wanita itu tetap diwajibkan puasa dan shalat, puasanya sah dan begitu pula dengan shalatnya. (Durus wa Fatawa Al-Haram Al-Makki, Syaikh Ibnu Utsaimin, 3/63)

Wanita Menyusui Mengeluarkan Sedikit Darah, kemudian Darah Itu Berhenti Selama Dua Hara, maka Ia pun Berpuasa, kemudian Darah Itu Keluar Lagi

Pertanyaan ke-319: Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Seorang wanita di masa menyusui, dan ia tidak mengalami haidh selama tiga bulan pertama setelah melahirkan, kemudian ia mengeluarkan cairan sejenis darah yang amat sedikit di tengah malam lalu darah itu berhenti pada siang harinya, maka ia pun berpuasa selama dua hari. Kemudian darah itu keluar lagi, lalu ia mendapat haidh seperti biasanya. Apakah puasanya yang dua hari itu sah?

Jawaban:

Jika kondisinya sebagaimana yang anda katakan, yaitu bahwa darah keluar darinya di tengah malam saja, maka puasanya yang dua hari itu adalah sah, dan tidak ada pengaruh dari darah yang keluar pada malam hari itu terhadap puasanya pada dua hari tersebut. Begitu juga datangnya haidh yang biasa tidak membatalkan puasa pada kedua hari tersebut. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’, 5)

Melahirkan di Bulan Ramadhan dan Tidak Mengqadha Setelah Bulan Ramadhan karena Ada Kekhawatiran Pada Bayi, kemudian Pada Bulan Ramadhan Selanjutnya Ia Melahirkan Lagi

Pertanyaan ke-323: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya: Seorang wanita melahirkan di bulan Ramadhan dan setelah Ramadhan itu ia tidak mengqadha puasanya karena kekhawatirannya pada si bayi yang sedang menyusu, kemudian wanita itu hamil dan melahirkan pada bulan Ramadhan selanjutnya, bolehkah bagi wanita itu untuk membagikan uang sebagai pengganti puasa?

Jawaban:

Yang wajib bagi wanita ini adalah mengqadha puasanya selama hari-hari puasa yang ia tinggalkan di bulan Ramadhan walaupun puasa itu diqadha di hari-hari setelah Ramadhan yang kedua, hal itu dikarenakan ia tidak mengqadha puasa antara Ramadhan pertama dan Ramadhan kedua yang disebabkan adanya suatu alasan atau udzur. Saya tidak tahu, apakah hal itu akan menyulitkannya atau tidak dalam mengqadha puasa itu di musim dingin dengan dicicil sehari demi sehari, sebenarnya jika ia menyusui maka sesungguhnya Allah akan memberi kekuatan padanya hingga puasa itu tidak mempengaruhi dirinya juga tidak memberi pengaruh kepada air susunya.

Dan hendaknya wanita itu berusaha semampu mungkin untuk mengqadha puasa Ramadhan yang telah berlalu sebelum datangnya Ramadhan yang kedua, jika hal itu tidak bisa ia lakukan maka tidak masalah baginya untuk menunda qadha puasanya itu hingga setelah Ramadhan kedua. (Durus wa Fatawa Al-Haram Al-Makki, Syaikh Ibnu Utsaimin, 3/65)

Bagaimana Hukumnya Wanita Hamil dan Menyusui Jika Tidak Berpuasa Pada Bulan Ramadhan

Pertanyaan ke-325: Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Istri saya belum mengqadha puasanya selama kurang lebih tiga atau empat kali Ramadhan, ia belum mampu melaksanakan puasa qadha itu karena hamil atau menyusui, dan kini ia dalam keadaan menyusui. Istri saya bertanya kepada anda: Apakah ia bisa mendapat keringanan (rukhshah) dengan memberi makan kepada orang miskin, sebab ia menemukan kesulitan yang besar dalam mengqadha puasa sebanyak tiga atau empat kali Ramadhan?

Jawaban:

Tidak ada masalah baginya untuk menunda qadha puasanya yang disebabkan adanya kesulitan pada dirinya karena hamil atau menyusui, dan kapan ia sanggup maka hendaklah ia bersegara melaksanakan qadha puasanya, karena ia dikenakan hukum sebagai orang sakit, dan Allah Subhanallahu wa Ta’ala telah berfirman:

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqarah: 184)

Tidak ada kewajiban memberi makan orang miskin atasnya. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’, 10/221, fatwa nomor 6608)

Bolehkah Wanita Hamil Tidak Berpuasa

Pertanyaan ke-326 Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Apakah ada rukhshah bagi wanita hamil di bulan Ramadhan untuk tidak berpuasa, jika rukhshah itu ada baginya, apakah itu berlaku pada bulan-bulan tertentu saja di masa hamil yang umumnya sembilan bulan itu, ataukah keringanan itu hanya berlaku pada masa hamil. Jika rukhshah itu ada baginya, apakah wajib qadha baginya ataukah boleh memberi makan orang miskin dan berapakah ukuran memberi makan itu? Kemudian, karena kita tinggal di daerah yang panas, apakah puasa itu dapat berpengaruh terhadap wanita hamil?

Jawaban:

Jika seorang wanita hamil khawatir adanya bahaya terhadap dirinya atau terhadap janinnya jika ia melaksakan puasa di bulan Ramadhan, maka hendaknya ia tidak berpuasa dan wajib baginya untuk mengqadha puasa itu, baik ia tinggal di daerah panas ataupun di daerah dingin. Hal itu tidak dibatasi pada umur kehamilam tertentu, karena ia sama kedudukannya dengan orang sakit, dan Allah Subhanallahu wa Ta’ala telah berfirman:

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqarah: 184) (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’, hal. 222, fatwa nomor 7785)

Bagaimana Hukumnya Wanita Hamil yang Tidak Puasa karena Khawatir Terhadap Janinnya

Pertanyaan ke-327: Syaikh Ibnu Utsaimin ditanya: Jika wanita hamil tidak berpuasa karena khawatir terhadap janinnya, apa yang harus ia lakukan, apakah ada perbedaan antara kekhawatiran terhadap dirinya dan kekhawatiran terhadap janinnya menurut Imam Ahmad?

Jawaban:

Pendapat yang masyhur dalam madzhab Imam Ahmad adalah bahwa jika seorang wanita hamil tidak berpuasa karena khawatir terhadap anaknya saja, maka ia harus mengqadha puasanya karena ia tidak berpuasa, dan bagi orang yang bertanggung jawab pada anaknya harus memberi makan seorang miskin setiap harinya, karena wanita itu tidak berpuasa untuk kemaslahatan anaknya. Sebagian ulama berpendapat: Yang wajib bagi wanita hamil itu adalah mengqadha puasanya saja, baik tidak berpuasanya itu karena khawatir pada dirinya atau khawatir kepada anaknya atau khawatir pada keduanya, dan wanita itu dikategorikan sebagai orang yang sakit, dan tidak ada kewajiban bagi wanita tersebut selain itu. (Durus wa Fatawa Al-Haram Al-Makki, Syaikh Ibnu Utsaimin, 3/47)

Apakah Hukum Puasa yang Dilakukan oleh Wanita Hamil atau Wanita Menyusui

Pertanyaan ke-328: Syaikh Shalih Al-Fauzan ditanya tentang hukum puasa yang dilakukan oleh wanita hamil dan wanita menyusui?

Jawaban:

Wanita yang sedang hamil atau wanita yang sedang menyusui bila berpuasa akan rentan terhadap bahaya, berbahaya bagi dirinya atau bagi anaknya atau bagi keduanya, maka kedua wanita itu boleh tidak berpuasa saat hamil dan saat menyusui. Jika bahaya puasa berakibat pada bayinya saja maka wanita itu harus mengqadha puasanya serta memberi makan kepada orang miskin setiap harinya, sedangkan jika bahaya puasa berakibat pada wanita itu, maka cukup bagi wanita itu mengqadha puasanya saja, hal itu dikarenakan wanita hamil dan menyusui termasuk dalam keumuman hukum yang terdapat pada firman Allah:

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqarah: 184) (At-Tanbihat, Syaikh Al-Fauzan, hal. 37)

Bila Wanita Hamil dan Wanita Menyusui Tidak Berpuasa di Bulan Ramadhan

Pertanyaan ke-330: Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Wanita yang sedang hamil atau menyusui yang khawatir pada dirinya atau anaknya jika berpuasa di bulan Ramadhan, lalu karena itu ia tidak berpuasa, apa yang harus ia lakukan nantinya. Apakah ia harus mengqadha serta memberi makan pada orang miskin, atau ia harus mengqadha saja tanpa perlu memberi makan kepada orang miskin, ataukah cukup baginya untuk memberi makan tanpa perlu mengqadha puasanya? Manakah yang benar di antara ketiga hal ini?

Jawaban:

Jika wanita hamil itu khawatir kepada dirinya atau anaknya jika berpuasa di bulan Ramadhan, maka hendaknya ia tidak berpuasa dan wajib baginya untuk mengqadha puasanya saja. Statusnya saat itu adalah seperti orang yang tidak kuat berpuasa atau takut akan timbulnya bahaya pada dirinya, sebagaimana firman Allah Subhanallahu wa Ta’ala:

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqarah: 185)

Begitu juga halnya wanita yang menyusui, jika ia khawatir pada dirinya bila menyusui anaknya sambil berpuasa di bulan Ramadhan, atau khawatir pada anaknya jika ia berpuasa lalu tidak dapat menyusui, maka boleh baginya berbuka, dan wajib baginya mengqadha saja. (Majalah Al-Buhuts Al-Islamiyah, edisi 14, hal. 109-110)

Tidak Berpuasa di Bulan Ramadhan karena Hamil kemudian Berpuasa Sebulan Penuh sebagai Penggantinya dan Bersedekah Pula

Pertanyaan ke-331: Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Saya hamil di bulan Ramadhan maka saya tidak berpuasa, dan sebagai penggantinya saya berpuasa penuh dan bersedekah, kemudian saya hamil kedua kalinya di bulan Ramadhan maka saya tidak berpuasa dan sebagai gantinya saya berpuasa sebulan sehari demi sehari selama dua bulan dan saya tidak bersedekah, apakah dalam hal ini diwajibkan bagi saya untuk bersedekah?

Jawaban:

Jika seorang wanita hamil khawatir pada dirinya atau khawatir pada janinnya jika berpuasa lalu ia berbuka, maka yang wajib baginya hanya mengqadha puasa, keadaannya saat itu adalah seperti keadaan orang sakit yang tidak kuat berpuasa atau seperti orang yang khawatir dirinya akan mendapat bahaya jika berpuasa, Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkannya itu pada hari-hari yang lain.” (Al-Baqarah: 185) (Fatawa Ash-Shiyam, hal. 67)

Apakah Keluar Darah dari yang Hamil Termasuk yang Membatalkan Shaum

Pertanyaan ke-336: Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Pada bulan Ramadhan yang mulia saya sedang keadaan hamil dan saya mengeluarkan darah pada tanggal dua puluhnya, walaupun demikian saya tetap berpuasa kecuali selama empat hari ketika saya di rumah sakit. Setelah Ramadhan saya mengqadha puasa saya yang empat hari itu, apakah saya harus berpuasa lagi sedangkan saya masih mengandung?

Jawaban:

Puasa anda pada saat hamil yang disertai dengan keluarnya darah adalah sah, darah itu tidak mempengaruhi puasa anda sebab darah itu adalah istihadhah, sedangkan puasa yang anda tinggalkan selama empat hari itu karena dirawat di rumah sakit lalu anda mengqadhanya setelah Ramadhan sudah cukup, anda tidak perlu mengqadha puasa itu untuk kedua kalinya. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’, 10/225, fatwa nomor 13168)

Apakah Keluarnya Air Ketuban Dapat Membatalkan Puasa

Pertanyaan ke-347: Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Seorang wanita tengah hamil sembilan bulan saat bulan Ramadhan. Pada permulaan bulan Ramadhan tersebut wanita itu mengeluarkan cairan, cairan itu bukan darah dan dia tetap berpuasa saat cairan itu keluar, hal ini telah terjadi sepuluh tahun yang lalu. Yang saya tanyakan adalah, apakah wanita itu diwajibkan untuk mengqadha puasa, sebab saat mengeluarkan cairan itu ia tetap berpuasa?

Jawaban: Jika kenyataannya seperti yang disebutkan maka puasa wanita itu sah dan tidak perlu mengqadhanya. (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’, 10/221, fatawa nomor 6549)

Tidak Berpuasa karena Menyusui Anaknya dan Belum Mengqadhanya, Kini Anak Itu Telah Berusia 24 Tahun

Pertanyaan ke-359: Syaikh Abdullah bin Jibrin ditanya: Pada bulan Ramadhan tahun 1382 H, seorang wanita tidak berpuasa selama satu bulan penuh karena suatu halangan yaitu menyusui anaknya, anak itu sudah besar dan saat ini berusia dua puluh empat tahun, dan sampai saat ini wanita itu belum mengqadha puasanya itu. Hal itu terjadi karena ketidaktahuannya dan bukan karena kelalaian, juga bukan karena sengaja, apa yang harus dilakukannya?

Jawaban:

Wajib baginya untuk segera mengqadha puasanya itu secepat mungkin walaupun hal itu tidak berurutan sejumlah hari-hari yang dipuasai kaum muslimin pada tahun itu. Di samping berpuasa ia pun harus bersedekah, yaitu memberi makan kepada seorang miskin untuk setiap hari yang ditinggalkannya sejumlah hari-hari yang harus diqadhanya itu sebagai kaffarah (tebusan), karena ia telah menunda qadha puasanya, karena barangsiapa yang menunda qadha puasa hingga tiba masa Ramadhan lainnya, maka di samping wajib mengqadha, ia juga diwajibkan memberi makan orang miskin sebanyak hari yang diqadha. Untuk satu bulan itu cukup dengan sekarung beras yang beratnya 45 kg. Yang wajib baginya adalah bertanya tentang urusan agamanya, karena sesungguhnya masalah yang dihadapi wanita ini adalah masalah yang telah dikenal oleh banyak orang, yaitu barangsiapa yang tidak berpuasa karena suatu udzur, maka wajib baginya mengqadha puasa itu sesegera mungkin dan tidak boleh baginya menunda qadha puasa itu tanpa udzur yang dibenarkan syariat. (Fatawa Ash-Shiyam, hal. 78)

Sumber: Fatwa-fatwa tentang Wanita jilid 1, penyusun: Amin bin Yahya Al-Wazan, penerjemah: Amir Hamzah Fakhruddin, penerbit: Darul Haq, cet. III, Syawal 1423 H/ Januari 2003 M.

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 05/07/2011, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: