Mengobati Pilek/Asma dengan Obat yang Dihirup Melalui Hidung

Oleh: Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’

Pertanyaan ke-346: Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Ifta’ ditanya: Ada sejenis obat untuk penyakit pilek yang cara penggunaannya dengan menghirupnya melalui hidung, apakah menggunakan obat ini dapat membatalkan puasa atau tidak?

Jawaban: Obat penyakit pilek yang digunakan oleh penderita itu dengan cara menghirupnya melalui hidung lalu masuk ke dalam paru-paru melalui rongga tempat berlalunya pernafasan dan tidak menuju ke tempat perut besar, maka hal ini tidak dinamakan memakan atau meminum atau yang serupa dengan keduanya. Cara pengobatan seperti itu sama halnya dengan meneteskan obat melalui suntikan untuk menuju pada badan tanpa menggunakan mulut atau hidung.

Mengenai masalah ini para ulama berbeda pendapat, apakah pengobatan dengan cara itu dapat membatalkan puasa atau tidak, sebagian mereka ada yang berpendapat bahwa hal tersebut tidak membatalkan puasa, walaupun demikian mereka semua bermufakat bahwa hal tersebut tidak dinamakan makan ataupun minum, akan tetapi mereka yang berpendapat bahwa hal itu dapat membatalkan puasa karena benda yang dimasukkan itu masuk ke dalam tubuh, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam:

“Dan bersungguh-sungguhlah dalam istinsyaq [1] kecuali jika kamu sedang berpuasa.”

Perintah bersungguh-sungguh ber-istinsyaq ini dikecualikan bagi orang yang sedang berpuasa, karena dikhawatirkan air yang dihirup itu akan masuk ke dalam kerongkongan lalu ke perut besar, sebab hal itu dapat membatalkan puasa. Maka hadits ini menunjukkan bahwa segala sesuatu yang masuk ke dalam tenggorokan yang bukan karena keterpaksaan, dapat membatalkan puasa.

Adapun golongan ulama yang berpendapat bahwa hal tersebut tidak membatalkan puasa, di antara mereka adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu dan yang sependapat dengannya, menyatakan bahwa tidak benar mengkiaskan hal ini dengan makan dan minum, karena dalil-dalil yang ada tidak menunjukkan bahwa yang membatalkan puasa adalah masuknya sesuatu yang sampai ke dalam otak atau ke dalam tubuh, dan juga bukan yang masuk melalui suatu jalan yang sampai ke tenggorokan. Karena tidak ada dalil syar’i yang menjadikan salah satu proses itu (istinsyaq atau berkumur) sebagai penyebab berlakunya hukum, yakni membatalkan puasa.

Jadi proses tersebut (istinsyaq atau berkumur) tidak dapat dikategorikan dengan sampainya benda ke dalam tenggorokan atau perut sehingga membatalkan puasa, baik itu sampainya melalui hidung maupun melalui mulut, sebab keduanya hanyalah jalan. Karena itu, puasa seseorang tidak batal hanya karena berkumur atau istinsyaq yang tidak dalam, bahkan hal ini tidak dilarang. Mulut itu sendiri, hanya sebagai jalan masuk saja, tapi jalan ini tidak pasif, artinya tidak semua yang masuk ke mulut mesti masuk ke teoggorokan, sebab mulut bisa memuntahkan lagi.

Jika masuknya sesuatu melalui hidung sama dengan yang melalui mulut, kemudian adakalanya hidung digunakan untuk memasukkan sesuatu, maka mulut dan hidung mempunyai fungsi yang sama, yakni bisa sebagai jalan masuk, bisa menahan dan bisa mengeluarkan kembali. Tampaknya pendapat yang benar adalah pendapat yang menyatakan tidak membatalkan puasa bila menggunakan obat yang dihirup, karena cara tersebut tidak sama dengan makan dan minum. (Majalah Al-Buhuts Al-Islamiyah, 3/365)

Footnote:
[1] Istinsyaq adalah menghirup air dengan hidung lalu dikeluarkan lagi untuk membersihkannya ketika wudhu. Bersungguh-sungguh istinsyaq adalah menghirupnya lebih dalam.

Sumber: Fatwa-fatwa tentang Wanita jilid 1, penyusun: Amin bin Yahya Al-Wazan, penerjemah: Amir Hamzah Fakhruddin, penerbit: Darul Haq, cet. III, Syawal 1423 H/ Januari 2003 M, hal. 253-255.

.

* * *

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu ditanya: Dijumpai pada sebagian apotik (rumah sakit) terdapat peralatan pernafasan yang dipakai oleh sebagian orang yang terkena penyakit asma atau sesak nafas, apakah boleh bagi orang yang berpuasa untuk memakainya di siang bulan Ramadhan?

Beliau menjawab:

Memakai alat pernafasan dibolehkan bagi orang yang berpuasa. Baik itu puasa bulan Ramadhan atau bukam. Yang demikian karena alat pernafasan tersebut tidak sampai ke lambung. Akan tetapi sampai ke aliran pernafasan, lalu akan memperlancar (mempermudah) pernafasannya yang merupakan keistimewaan alat tersebut. Kemudian setelah itu dia akan bernafas sebagaimana biasanya. Dan bukanlah alat tersebut semakna dengan makan atau minum dan bukan makanan atau minuman yang masuk (sampai) ke lambung.

Sebagaimana yang telah dimaklumi bahwa hukum asalnya ialah puasa seseorang itu sah hingga dijumpai dalil yang menunjukkan rusak (batalnya) puasa tersebut baik dari Al-Qur’an maupun sunnah, ijma’ (kesepakatan ulama) atau qiyas yang shahih.

Sumber: 48 Soal Jawab tentang Puasa Bersama Syaikh Utsaimin karya Syaikh Salim bin Muhammad Al-Juhani, alih bahasa: Khairur Rijal, penerbit: Maktabah Al-Ghuroba, cet. Pertama Sya’ban 1427 H – Agustus 2006, hal. 104-106.

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 05/07/2011, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. saya sangat menyukai post ini,,,, salam kenal, saya dari 4lifesistemimun.com…..

    salam sahabat kesehatan….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: