Bolehnya Tidur Telentang di Dalam Masjid

Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah (menerangkan):
Boleh berbaring dengan posisi telentang di dalam masjid. Berdasarkan hadits Abdullah bin Zaid Al-Mazini:

ﺃﻧﻪ ﺭَﺃَﻯ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ﻣُﺴْﺘَﻠْﻘِﻴًﺎ ﻭَﺍﺿِﻌًﺎ ﺇِﺣْﺪَﻯ ﺭِﺟْﻠَﻴْﻪِ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﺄُﺧْﺮَﻯ

‎“Bahwa dia pernah melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam tidur terlentang di dalam masjid sambil meletakkan salah satu kaki beliau di atas kaki lainnya.”

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1/446) (10/328) (11/68) dan dalam Al-Adab Al-Mufrad (172), Muslim (6/154), Malik (1/186) serta Abu Daud (2/297) dan An-Nasai (1/118) dari jalannya, Muhammad dalam kitabnya Muwaththa` (398), At-Tirmizi (2/127 -cet. Bulaq), Ad-Darimi (2/282), Ath-Thayalisi (hal. 148 no. 1101), dan Ahmad (4/38, 39, 40) dari beberapa jalan dari Az-Zuhri dia berkata: Abbad bin Tamim mengabarkan kepadaku dari pamannya (Abdullah bin Zaid, pent.) dengan lafazh di atas. At-Tirmizi berkata, “Hadits hasan shahih.”

Hadits ini mempunyai pendukung dari hadits Abu Hurairah dan dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban sebagaimana dalam Al-Fath (11/68). Hadits ini adalah dalil dari apa yang kami sebutkan berupa bolehnya tidur telentang di dalam masjid. Dan dengan inilah, Al-Bukhari dan An-Nasai memberikan judul bab terhadap hadits ini, dan ini pula yang dijelaskan oleh para ulama yang mensyarah Shahih Al-Bukhari, Shahih Muslim, dan selain keduanya.

Al-Hafizh berkata dalam Al-Fath, “Kelihatannya, perbuatan beliau shallallahu alaihi wasallam adalah untuk menunjukkan bolehnya hal tersebut. Dan hal itu beliau lakukan pada waktu beliau beristirahat sendirian, bukan di hadapan banyak orang, karena sudah menjadi kebiasaan yang diketahui dari beliau bahwa beliau shallallahu alaihi wasallam selalu duduk-duduk bersama mereka dengan sikap rendah hati yang sempurna.”

Al-Khaththabi berkata, “Dalam hadits ini terdapat pembolehan bersandar, berbaring, dan posisi istirahat lainnya di dalam masjid.”

Ad-Daudi berkata, “Dalam hadits ini terdapat keterangan bahwa pahala yang disebutkan bahwa orang yang tinggal di dalam masjid itu tidak terkhusus bagi orang yang duduk saja, akan tetapi juga didapatkan oleh orang yang tidur terlentang.”

Ketahuilah bahwa telah shahih dalam Shahih Muslim dan selainnya dari hadits Jabir bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang seseorang mengangkat salah satu kakinya lalu meletakkannya di atas kaki lainnya, sementara dia berbaring di atas punggungnya. Suatu hal yang jelas kalau hadits Jabir ini tidak bertentangan dengan pembolehan tidur terlentang secara mutlak. Hanya saja lahiriah hadits ini bertentangan dengan tidur terlentang dengan cara yang tersebut dalam kedua hadits (yakni dengan salah satu kaki di atas, pent.).

Para ulama telah memadukan kedua hadits ini dengan cara mereka mengarahkan larangan dalam hadits Jabir ini jika dikhawatirkan hal itu akan membuat auratnya terlihat, dan hal itu dibolehkan jika itu tidak dikhawatirkan terjadi. Wallahu a’lam.

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari hadits Qatadah bin An-Nu’man: Bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya ketika Allah telah selesai menciptakan makhluk-Nya, Dia berbaring telentang dengan meletakkan salah satu kaki-Nya di atas kaki lainnya seraya berfirman, “Tidak boleh ada seorang pun dari makhluk-Ku yang boleh melakukan seperti ini,” maka keabsahannya masih butuh ditinjau lebih jauh.

Al-Haitsami berkata dalam Al- Majma’ (8/100), “Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari tiga orang gurunya: Ja’far bin Sulaiman An-Naufali, Ahmad bin Rusydin Al-Mishri, dan Ahmad bin Daud Al-Makki. Ahmad bin Rusydin adalah perawi yang dha’if, dan dua orang lainnya belum saya ketahui. Dan perawi lainnya adalah perawi Ash-Shahih.”

Saya pribadi menganggap sangat tidak mungkin hadits ini shahih, karena kandungannya mengesankan makna yang dikatakan oleh orang-orang Yahudi yang dimurkai Allah. Dimana mereka mengatakan, “Allah menciptakan langit-langit dan bumi dalam enam hari kemudian Dia beristirahat pada hari yang ketujuh,” yaitu hari sabtu. Mereka menamakan hari sabtu ini sebagai hari istirahat.

Dan sungguh Allah Ta’ala telah membantah mereka dalam banyak ayat, di antaranya adalah firman Allah Ta’ala,

“Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan.” (QS. Qaf: 38)

Maka dugaan besar saya adalah asal hadits ini berasal dari kisah-kisah israiliyat yang kaum muslimin impor dari sebagian ahli kitab. Kemudian sebagian perawinya keliru sehingga dia menyandarkannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, padahal beliau berlepas diri darinya. Dan kasus seperti ini mempunyai banyak contoh berupa riwayat-riwayat. Di antaranya adalah kisah Harut dan Marut, yang sebagian perawi menyandarkannya kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam, sebagaimana yang terdapat dalam Musnad Ahmad. Padahal penyandaran itu keliru, sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya dan selainnya.

[Diterjemahkan dari kitab Ats-Tsamar Al-Mustathab jilid 2 pada point 16 dari amalan-amalan yang dibolehkan dalam masjid]

Sumber: http://al-atsariyyah.com/bolehnya-tidur-terlentang-di-dalam-masjid.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 17/05/2012, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: