Seputar Pernikahan Beda Agama

Oleh: Al Ustadz Abu Zakaria Risqi hafizhahullah

Pertanyaan: Assalamu’alaikum. Ustadz, saya ingin bertanya:

1. Bagaimana hukum bagi orang yang mempertahankan pernikahan dengan pemeluk agama lain, dengan harapan si wanita muslimah dapat membimbing suaminya yang non muslim untuk dapat menjadi seorang muslim? Sedangkan dampak dari hal tersebut adalah anak lebih sering bermain di tempat keluarga yang non muslim karena kesibukan ibunya yang bekerja di luar rumah.

2. Bagaimana hukumnya di saat mereka melakukan hubungan badan, apakah itu termasuk zina?

3. Bagaimana hukumnya bila saat menikah mereka satu agama, namun di kemudian hari salah satu dari mereka keluar dari agama Islam. Apakah dalam hukum Islam mereka dianggap cerai ataukah pernikahan mereka masih sah?

Mohon jawabannya dan terima kasih sebelumnya. (Aditya, Surakarta)

Jawaban:

Wa’alaykumussalam warahmatullah.

1. Pernikahan seorang muslimah dan seorang laki-laki kafir tidaklah dibenarkan menurut kesepakatan ulama Islam, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan janganlah kalian menikahi laki-laki musyrik hingga mereka beriman.” (Al-Baqarah: 221)

Seorang yang kafir tidak memiliki al-wilayah (kekuasaan) terhadap seorang muslimah. Hal ini telah disepakati oleh para ulama, di antara mereka adalah Imam Malik, Imam asy-Syafi’i, Abu Ubaid dan para ulama ashhab ar-ra’yi.

Pada muktamar ketiga Majelis Majma’ al-Fiqh al-Islami yang diadakan di Oman, ibukota Kerajaan Yordania dari tanggal 8-13 Shafar 1407, yang bersesuaian dengan tanggal 11-16 Oktober 1986, terdapat beberapa keputusan mengenai sejumlah persoalan hukum Islam.

Di antara pertanyaan yang dijawab oleh Majelis Majma’ al-Fiqih al-Islami dalam muktamar tersebut:

Pertanyaan ketiga:

Apakah hukum pernikahan seorang wanita muslimah dengan seorang laki-laki non muslim, lebih khusus apabila si muslimah berharap suaminya akan memeluk Islam setelah menikah. Karena banyak sekali muslimah yang mengklaim tidak ada pasangan yang sepadan untuk mereka dari kalangan muslim pada banyak kesempatan. Sementara mereka terancam oleh penyimpangan, atau hidup dalam kondisi yang demikian keras?

Jawab:

Pernikahan muslimah dengan laki-laki non muslim terlarang secara syara’ berdasarkan al-Qur’an, Sunnah dan konsensus ulama. Apabila pernikahan ini terjadi, maka pernikahan tersebut batal. Dan aspek-aspek syara’ suatu pernikahan tidak terwujud pada pernikahan tersebut. Anak-anak yang dilahirkan dari hasil pernikahan ini bukanlah anak-anak yang syar’i. Harapan agar sang suami kelak memeluk Islam tidaklah merubah hukum ini sedikitpun juga.

Pertanyaan keempat:

Apakah hukum terus berlangsungnya hubungan pernikahan antara istri yang telah memeluk Islam dan suami yang tetap dalam keadaan kafir. Sementara istri tersebut telah mendapatkan anak dari suaminya, dan ia khawatir anak-anaknya akan terlantar dan terbengkalai. Sang istri juga berharap suaminya kelak akan mendapatkan hidayah memeluk Islam sekiranya hubungan pernikahan mereka dipertahankan?

Jawab:

Hanya dengan masuknya istri ke dalam Islam dan menolaknya suami untuk masuk Islam, tali pernikahan mereka berdua telah terputus. Pergaulan/hubungan suami istri tidak halal lagi bagi keduanya. Hanya saja, sang istri menunggu hingga masa iddahnya selesai. Apabila sang suami memeluk Islam dalam masa iddah tersebut, sang istri kembali kepadanya dengan akad pernikahan yang awal. Adapun apabila masa iddah istri telah berakhir, dan suaminya tidak memeluk Islam, maka pernikahan keduanya telah terputus (fasakh). Apabila suaminya memeluk Islam -setelah masa iddah itu- dan mereka berdua berkeinginan untuk kembali kepada pernikahan mereka, keduanya dapat kembali dengan akad pernikahan yang baru. [1]

Pergaulan yang baik tidaklah memberi pengaruh apapun pada pembolehan keberlangsungan pernikahan tersebut.

Hal serupa juga telah ditanyakan kepada Dewan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia dalam beberapa kesempatan. Dewan Fatwa memberikan jawaban:

“Seorang wanita muslimah tidak diperbolehkan menikahi seorang laki-laki non muslim. Keduanya -apabila telah menikah, pent- wajib dipisahkan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kalian menikahi laki-laki musyrik hingga mereka beriman.” (Al-Baqarah: 221)

Dan si wanita muslimah wajib bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala atas segala yang telah diperbuat, menyesalinya dan ber’azam untuk tidak kembali melakukan hal serupa.”

(Pertanyaan no. 9304, dan yang serupa pada no. 7774, 13504 dan 18063)

2. Melihat pembahasan di atas, perempuan yang menikah dengan non muslim, pernikahannya tidak sah. Apabila sang suami keluar dari Islam setelah menikah, atau istri memeluk Islam setelah menikah sedangkan suaminya tetap kafir, maka dengan sendirinya sang istri telah terlepas dari ikatan pernikahan dengan suaminya, sesuai dengan rincian yang akan kami sebutkan selanjutnya.

Terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama, mengenai apakah jika istri memeluk Islam sementara suaminya dalam keadaan kufur, maka keadaan istri terhitung sebagai wanita asing di hadapan suaminya yang kafir. Tidak dibenarkan bagi mereka untuk berduaan, berkumpul, terlebih lagi berhubungan badan. Jika istri memenuhi permintaan suaminya untuk melakukan hubungan badan, hal tersebut dapat dikategorikan perzinaan. Wallahu a’lam.

3. Imam Ibnu Hazm menyebutkan beberapa bentuk fasakh nikah (terputusnya ikatan pernikahan). Di antaranya beliau menyebutkan:

“Kelima -sebab fasakh nikah-, perbedaan agama, dikecualikan bilamana perbedaan ini pada pihak istri. Yaitu, apabila suami memeluk Islam sementara istri tetap dalam agama Ahli Kitab. Pada keadaan ini keduanya tetap dalam pernikahan mereka.

Perbedaan agama menurut sisi pandang yang kami sebutkan terbagi atas lima bagian:

Pertama: Suami memeluk Islam, sementara istri kafir dan bukan Ahli Kitab.

Kedua: Istri memeluk Islam, sementara suami tetap dalam keadaan kafir, baik dari Ahli Kitab atau selainnya. Apabila keduanya memeluk Islam bersamaan, maka keduanya tetap dalam pernikahan mereka.

Ketiga: Suami murtad, sementara istrinya tetap dalam keadaan Islam.

Keempat: Istri murtad, sementara suami tetap dalam keadaan Islam.

Kelima: Keduanya murtad.

Ke semua sisi pandang ini menyebabkan pernikahan mereka berdua putus/fasakh …”

Selanjutnya pada kondisi pernikahan tersebut, jika salah satu dari kedua suami istri itu murtad, perlu diperhatikan kondisi masing-masing. Apabila istri yang murtad, keluar dari Islam dan beralih ke agama Ahli Kitab (Nasrani atau Yahudi), sebagaimana yang disinggung oleh Imam an-Nawawi di dalam ar-Raudhah 7/141-142, beliau menyebutkan:

“Bagian Kedua: Perpindahan dari agama yang benar ke agama yang batil, yang tiada lain adalah seorang muslim yang murtad, al’iyyadz billah. Maka tidaklah diterima dari orang tersebut selain Islam. Jika dia menolak maka dikenakan hukum bunuh…

Dan tidak sah pernikahan seorang murtad bagi siapa saja. Apabila suami istri murtad, baik keduanya ataupun salah seorang dari keduanya sebelum mereka melakukan hubungan suami istri, diberlakukan pemisahan keduanya. Dan apabila setelah melakukan hubungan suami istri, maka kita menunggu masa iddah. Apabila Islam kembali menyatukan keduanya sebelum masa iddah habis, pernikahan tetap dilanjutkan. Dan jika tidak terjadi, pemisahan kedua suami istri tersebut telah berlaku sejak masa murtad dan pada masa penantian. Selanjutnya hubungan suami istri tidak dihalalkan. Namun jika suami melakukannya, tidak dikenakakan hukum akan tetapi berlaku masa iddah wajib bagi wanita, yaitu dua masa iddah. Hukum bagi suaminya serupa dengan hukum menggauli istri yang telah ditalaknya dalam masa iddah istri tersebut …”

Dan apabila yang murtad adalah suami, terdapat silang pendapat dalam masalah ini. Yang tepat adalah bahwa tidak seorang pun dari kalangan ulama yang membenarkan seorang wanita muslimah dinikahi oleh seorang kafir musyrik apabila keislaman suaminya yang kafir belakangan dari keislaman si wanita. Imam an-Nawawi menyebutkan detail persoalan tersebut di dalam Raudhah ath-Thalibin 7/148,

“… Demikian pula apabila suami memeluk Islam setelah melakukan hubungan suami istri lalu suami tersebut murtad setelahnya. Apabila si wanita tidak memeluk Islam hingga berakhirnya masa iddah dari waktu suami telah memeluk Islam, si wanita telah terpisah dari suaminya.

Namun jika si wanita telah memeluk Islam, maka kami menanti, maka kami menanti, apabila suami kembali kepada Islam sebelum berakhirnya masa ‘iddah dari waktu murtad si suami, pernikahan tetap berkelanjutan. Dan jika tidak maka pemisahan keduanya terjadi sedari waktu tersebut.

Berkata al-Imam, “al-Qaffal menghikayatkan keterangan bahwa pernikahan tertolak pada kasus islamnya salah seorang dari suami istri sementara yang satunya murtad, dan tidak terdapat penantian.” Namun pendapat yang masyhur adalah adanya masa penantian. Pendapat inilah yang dikuatkan oleh al-Baghawi dan selainnya: “Masalah murtad dibedakam pada hukum permulaan nikah dan keberlangsungannya. Karena pada permulaan pernikahan seorang murtad batil tidak sah pada masa penantian. Sedangkan pada keberlangsungan pernikahan kami memberlakukan masa penantian …”

Dan beberapa ulama telah mengutip ijma’ mengenai persoalan ini, diantaranya Ibnu Abdil Barr, sebagaimana beliau sebutkan di dalam kitab at-Tamhid.

Ibnul Qayyim menyebutkan hal serupa di dalam Zaadul Ma’ad sebagaimana yang disebutkan oleh an-Nawawi di atas. Bahwa pernikahan tersebut bergantung. Apabila si suami masuk Islam sebelum berakhirnya masa iddah istrinya, maka istrinya tetap menjadi istrinya -setelah dia masuk Islam-. Dan apabila masa iddah istrinya telah berakhir, si istri berhak menikahi siapa saja yang dikehendaki. Apabila si istri menyukai, dia dapat menunggu suaminya. Apabila suaminya telah memeluk Islam, maka dia akan menjadi istrinya tanpa perlu memperbaharui pernikahannya.

Terkait hal ini pula, Dewan Fatwa Kerajaan Saudi Arabia memberikan jawaban atas beberapa pertanyaan yang serupa dengan pertanyaan di atas. Di antara jawaban tersebut (fatwa dengan nomor 21516):

“B. Apabila salah seorang saja dari kedua suami istri tersebut memeluk Islam, maka keduanya harus dipisahkan. Dan ditunggu, apabila pasangamnya memeluk Islam dalam masa iddah si istri, maka keduanya tetap dalam pernikahan mereka berdua. Apabila masa iddah telah berakhir sebelum pasangannya memeluk Islam, maka tali pernikahan keduanya telah berakhir, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan jikalau kalian mengetahui bahwa mereka adalah wanita-wanita yang beriman maka janganlah kalian mengembalikan mereka kepada kaum kafir. Tidaklah mereka halal bagi orang-orang kafir tersebut dan tidak juga orang-orang kafir halal bagi mereka.”

Hingga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan janganlah kalian tetap berpegang dengan tali pernikahan dengan wanita-wanita kafir.” (Al-Mumtahanah: 10)

Referensi: Fathul Bari 9/433, at-Tamhid 11/116, Raudhah ath-Thalibin 7/141-143 dan 148, al-Mughni 9/178, Zaadul Ma’ad 5/126-127, al-Muhalla 9/19 dan 329-330, al-Ijma’ karya Ibnul Mundzir hal. 76, Fatwa al-Lajnah ad-Daa’imah 18/291-292.

Catatan kaki:
[1] Pendapat ini -dengan akad pernikahan yang baru apabila masa iddah telah berlalu- merupakan pendapat sebagian ulama Islam. Sebagian lainnya tidak mensyaratkan akad nikah baru, dan ini merupakan pendapat yang dipilih oleh Ibnul Qayyim di dalam Zaad al-Ma’ad, wallahu a’lam.

Sumber: Majalah Akhwat Shalihah vol. 16/1433 H/2012, hal. 91-95.

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 23/05/2012, in Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. fitrianurmuchlisa

    Astaghfirullooh, musibah terbesar adalah yang menimpa agama seseorang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: