Tawakal akan Menambah Rizki?

Soal: Saya mengharapkan penjelasan yang gamblang agar saya dapat memahami dengan benar tentang hadits yang artinya, “Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, maka pasti Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana burung diberi rezeki yang pergi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.”

Jawab:

Hadits tersebut diriwayatkan dari shahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam, beliau bersabda:

“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, maka pasti Allah akan memberikan rezeki kepada kalian sebagaimana Dia memberi rezeki kepada seekor burung, pergi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah)

Tawakal hakikatnya adalah bersandarnya hati dengan sebenarnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam mencari kemaslahatan dan menolak kemudharatan baik pada perkara dunia maupun akhirat. Adapun makna hadits tersebut adalah bahwa manusia seandainya merealisasikan tawakal dalam qalbunya dan bersandar sepenuhnya kepada Allah dalam mendapatkan kemanfaatan ataupun menolak kemudhratan, bersamaan dengan melakukan sebab-sebab yang efektif, maka Allah pasti memberikan rezeki kepada mereka walaupun hanya dengan melakukan sebab yang paling ringan. Sebagaimana Allah memberikan rezeki kepada burung dengan sekedar berangkat berpagi hari dan kemudian kembali. Ini pun termasuk usaha walaupun ringan.

Dan merealisasikan tawakal bukan berarti meniadakan usaha yang Allah Subhanahu wa Ta’ala telah takdirkan kadarnya dan telah berlaku ketetapan Allah ini atas hamba-Nya. Allah telah memerintahkan untuk berusaha sekaligus bertawakal kepada-Nya. Jadi usaha yang dilakukan adalah bentuk ketaatan, dan tawakal dengan hati adalah bentuk keimanan kepada-Nya. Allah berfirman:

“Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah sajalah orang-orang mukmin itu hendaknya bertawakal.” (QS. Al-Maidah: 11)

Allah Subhanahu wa Ta’ala gandengkan tawakal dengan takwa yang maknanya adalah melakukan usaha yang diperintahkan (diizinkan). Maka, tawakal tanpa disertai dengan usaha adalah kelemahan, walaupun ada sedikit tawakal. Tidak sepantasnya seorang hamba menjadikan tawakalnya sebagai sikap lemah dan menjadikan sikap lemahnya sebagai bentuk tawakal. Namun yang benar adalah menjadikan tawakalnya sebagai bagian dari usaha, yang tidak akan tercapai segala tujuan kecuali dengannya.

Wa billah taufiq, wa shalallahu ‘ala nabiyina Muhammad wa ‘aalihi wa sahbihi wa sallam.

[Al Lajnah Ad Daimah Lilbuhutsi Al Ilmiyati wal Ifta’]

Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 13 vol. 02 1433 H – 2012 M, hal. 52-53.

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 07/06/2012, in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: