Fatwa Ulama Seputar Jual Beli

Wakil dalam Penjualan

Soal: Ada seseorang yang menyerahkan barangnya kepada orang lain untuk dijualkan. Setelah orang yang diserahi barang itu mendapat pembeli, ia datang ke pemilik barang dan membelinya dengan harga yang lebih rendah, setelah dia mendapatkan jaminan dari orang yang akan membeli barang itu. Sedangkan pemilik barang tidak mengetahui harga yang ditawarkan kepada calon pembeli tersebut. Apakah seperti ini boleh?

Jawab:

Orang yang menjadi wakil dalam penjualan suatu barang, kemudian datang pembeli dan menyepakati suatu harga. Lalu wakil itu datang kepada pemilik barang untuk membelinya dengan harga yang lebih rendah dari harga tersebut, tanpa izin dan sepengetahuan pemilik tentang kesepakatan itu, maka hal ini tidak boleh. Karena terkandung di dalamnya kedustaan dan pengkhianatan amanah, juga karena mudharat yang menimpa pemilik barang sebagai penjual.

Wa billahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyina Muhammad wa aalihi wa shahbihi wa sallam.

(Al Lajnah Ad Daimah Lilbuhutsi Al ‘Ilmiyati wal Ifta’) [1]

* * *

Batasan Laba Perdagangan

Soal: Apakah secara syar’i ada ukuran tertentu untuk besarnya laba perdagangan atau tidak, meskipun nilainya mencapai satu atau dua kali lipatnya?

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan -semoga Allah menjaganya- menjawab:

Tidak ada batasan untuk laba perdagangan dan jual beli tanpa mengikatnya dengan jumlah keuntungan tertentu.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al-Baqarah: 282)

Dan Allah tidak membatasi laba jika keuntungan ini berjalan di atas bentuk yang shahih dan disyariatkan.

Adapun jika keuntungan ini dalam bentuk yang tidak syar’i seperti praktek riba atau terdapat penimbunan hajat bagi orang yang membutuhkan dan terpaksa, maka dibenci (makruh) untuk seseorang menahan hajat orang yang terpaksa dan menambah atasnya nilai keuntungan yang memberatkan, karena ia butuh dan terdesak. Maka, tidak disukai yang seperti ini.

Adapun jika laba itu termasuk apa yang biasa berjalan atau disebabkan kenaikan harga maka tidak mengapa.

Penanya: “Walaupun laba itu, misalkan, mencapai satu atau dua kali lipat?”

Asy-Syaikh Al-Fauzan -semoga Allah menjaganya-:

Tidak ada batasan dan terkhusus jika banyaknya keuntungan dikarenakan kenaikan dan mahalnya harga (barang). Maka tidak mengapa yang demikian ini.

Hanya saja, sebagaimana yang telah kami ingatkan bahwa selayaknya bagi seorang muslim untuk bermurah hati kepada saudaranya muslim, tidak memberatkannya dengan hutang dan harga (yang tinggi), terlebih jika orang tersebut butuh dan terdesak.

(Al-Muntaqo min Fatawa Syaikh Al-Fauzan, 5/203)

* * *

Hukum Al ‘Urbun (Mengambil Uang Muka

Soal: Apa hukum seorang penjual yang mengambil uang muka jika jual-beli tidak sempurna (batal), dan bentuknya: dua orang bertransaksi dengan syarat jika jual-beli dilaksanakan sempurna maka pembayarannya disempurnakan (dipenuhi) dan jika tidak sempurna (batal) maka penjual akan mengambil uang muka (yang telah diberikan) dan tidak mengembalikannya ke pembeli?

Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah menjawab:

Tidak mengapa mengambil uang muka menurut salah satu pendapat yang paling shahih dari dua pendapat ulama, jika penjual dan pembeli sepakat atas hal itu dan jual-beli tidak sempurna (batal).

(Al-Fatawa li Ibn Baz – Kitabud Da’wah jilid 2 hal. 189)

* * *

Hukum Menaikkan dan Menurunkan Harga Barang

Soal: Seseorang menjual suatu barang yang pembayarannya ditangguhkan (tempo). Kemudian dia mengambil keuntungan yang terkadang mencapai sepertiga atau seperempat (modal). Dan terkadang, ia menjuak barang itu kepada yang lain dengan harga yang lebih rendah atau lebih tinggi dari harga modal. Apakah boleh yang demikian itu?

Ulama yang tergabung dalam Al-Lajnah Ad-Da’imah menjawab:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al-Baqarah: 275)

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah tidak secara tunai untuk yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya.” (QS. Al-Baqarah: 282)

Dan atasnya, jika penanya menjual barang yang ia beli setelah kepemilikan yang sempurna terhadap barang itu dan barang tersebut berada di tangannya, maka tidak mengapa untuk ia menjualnya dengan dasar perjanjian yang telah disepakati serta saling ridha atasnya, baik keuntungannya seperempat atau sepertiga.

Sebagaimana tidak mengapa atasnya untuk menaik-turunkan harga penjualan dengan syarat:

– Ia tidak berdusta kepada si pembeli bahawa ia menjualnya dengan harga yang sama kepada fulan, padahal dia menjual kepada fulan berbeda dengan harga yang diberikan kepada pembeli tersebut.

– Tidak ada gharar (penipuan) di dalamnya dan tidak ada penyelisihan terhadap harga pasar.

Dan sepantasnya untuk ia bermurah hati, qana’ah, dan mencintai untuk saudaranya muslim apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri. Maka, dengan itu terdapat kebaikan dan barakah serta tidak berlarut-larut di dalam ketamakan dan keserakahan. Sesungguhnya (tamak dan serakah) itu kebanyakan muncul dari hati yang keras, tabiat yang kikir, dan akhlak yang jelek.

Washallallahu ‘ala muhammdin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam.

(Fatawa Al-Lajnah Ad-Da’imah lil Buhuts Al-Ilmiyyah wal If ta’, no. 1249)

* * *

Hukum Jual Beli Barang tanpa Proses Serah Terima Barang tersebut

Soal: Seorang pembeli datang membeli barang tanpa menerima dan melihat barang tersebut, bahkan hanya mengambil nota pembelian dan menyerahkan uang pembayaran lalu meninggalkan barang tersebut di gudang penjual tempat ia membeli. Lalu datang pembeli kedua membeli barang dari pembeli pertama kemudian langsung menjualnya kepada orang lain dalam keadaan barang tersebut masih di gudang penjual terdahulu, maka bagaimana hukum jual-beli tersebut?

Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah menjawab:

Tidak boleh bagi pembeli (pertama) untuk menjual barang ini selama tetap di dalam kepemilikan penjual (pertama) sampai pembeli itu menerima dan memindahkannya ke rumahnya atau ke pasar, karena telah tsabit dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam dari hadits-hadits yang shahih dalam permasalahan itu, di antaranya sabda beliau shallallahu ‘alaihi wassalam:

“Tidak halal salaf (peminjaman) bersama jual-beli, dan tidak pula menjual apa yang tidak ada padamu.” (HR. Ahmad dan Ahlus Sunan dengan sanad yang shahih)

Dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam kepada Hukaim bin Hizam:

“Janganlah kamu menjual apa yang tidak ada padamu.” (Dikeluarkan oleh Al-Khamsah (Ahlus Sunan dan Ahmad) kecuali Abu Daud dengan sanad yang jayyid)

Serta berdasar apa yang tsabit dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bahwa beliau melarang untuk menjual barang yang dibeli sampai pedagang itu mengumpulkannya di rumahnya. (HR. Ahmad, Abu Daud, dishahihkan Ibnu Hibban dan Al-Hakim)

Demikian juga, yang membeli barang dari pembeli (yang pertama) tidak boleh menjualnya sampai ia memindahkannya ke rumahnya atau ke tempat lain dari pasar dikarenakan hadits-hadits yang disebutkan terdahulu dan hadits-hadits lain yang semakna. Wallahu waliyyut taufiq.

(Al-Fatawa li Ibn Baz, 3/200, 201) [2]

Catatan kaki:
[1]
Diambil dari majalah Tashfiyah edisi 14 vol.02 1433 H – 2012, hal. 47.

[2] Diambil dari majalah Bisnis Muslim edisi 01/1433 H/2012, hal. 37-39.

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 26/06/2012, in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: