Hukum Hiasan Rumah dari Hewan yang Diawetkan

Soal: Syaikh Abdul Aziz bin Baz ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ditanya tentang hukum memanfaatkan hewan atau burung yang sudah diawetkan dan hukum jual beli hewan tersebut, dan apakah ada perbedaan antara mumi hewan yang haram dipelihara ketika masih hidup dengan yang boleh dipelihara ketika masih bernyawa?

Jawab:

Syaikh ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ menjawab:

Memanfaatkan burung-burung dan hewan yang sudah diawetkan, baik dari hewan yang haram dipelihara ketika masih hidup atau dari hewan yang boleh dimanfaatkan ketika masih bernyawa, maka ini merupakan tindakan penyia-nyiaan harta dan termasuk berlebih-lebihan, juga termasuk perbuatan mubazir, padahal Rasulullah telah melarang dari menyia-nyiakan harta. Lagi pula hal tersebut sebagai wasilah untuk menggambar burung-burung dan selainnya dari makhluk-makhluk yang bernyawa. Maka memajang dan meletakkannya di dalam rumah dan kantor atau selainnya adalah haram. Dan tidak boleh menjual dan memanfaatkannya.” (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah: 5/377)

Di fatwa lain Syaikh menjelaskan, “Tidak boleh memajang gambar (makhluk bernyawa) dan mumi hewan di dalam rumah, kantor dan tempat-tempat pertemuan berdasarkan keumuman hadits-hadits dari Rasulullah ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ yang menunjukkan akan haramnya memasang gambar makhluk bernyawa dan memajang patung-patung di dalam rumah. Sebab, semua itu adalah sebagai wasilah syirik kepada Allah ﻋﺰّﻭﺟﻞّ, menyamai ciptaan Allah dan menyerupai musuh-musuh-Nya.

Lagi pula, memajang mumi-mumi hewan tersebut termasuk menyia-nyiakan harta dan menyerupai musuh Allah. Sebagaimana telah shahih dari Rasulullah ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ bahwa ia mengatakan kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu:‎‏

ﻟَﺎ ﺗَﺪَﻉْ ﺻُﻮْﺭَﺓً ﺇِﻟَّﺎ ﻃَﻤَﺴْﺘَﻬَﺎ ﻭَﻟَﺎ ﻗَﺒْﺮًﺍ ﻣُﺸْﺮَﻓًﺎ ﺇِﻟَّﺎ ﺳَﻮَّﻳْﺘَﻪُ‏

‎“Janganlah kamu biarkan gambar melainkan harus kamu hapus (lenyapkan), dan tidak ada satu kuburan pun yang menggunung melainkan harus kamu ratakan.” (HR. Muslim) (Al-Fatawa: 1/19)

[Disalin dari: Majalah Al-Mawaddah Vol 45/ Dzulhijjah 1432 H/Okt-Nov 2011 M, hal. 40-41 dengan judul Hiasan Rumah dari Hewan yang Diawetkan]

Sumber: http://soaldanjawab.wordpress.com/2012/03/13/hiasan-dari-hewan-yang-diawetkan/

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 05/07/2012, in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Hendra Setiawan

    Assalamualaikum
    saya ingin menanyakan tentang

    “Janganlah kamu biarkan gambar melainkan harus kamu hapus (lenyapkan), dan tidak ada satu kuburan pun yang menggunung melainkan harus kamu ratakan.” (HR. Muslim) (Al-Fatawa: 1/19)

    maksud meratakan kuburan gmn?apakah harus benar2 rata atau seperti kuburan2 pada saat ini (agak timbul)

    terima kasih

  2. Assalamualaykum, mas hendra..
    yang ana tahu, yang diajarkan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengenai kuburan, adalah tidak meninggikan gundukan kuburan lebih dari sejengkal, tidak dibangun dan dibuat bangunan di atasnya, dan tidak dihias.
    Jadi kalau mas hendra bisa lihat di pemakaman baqi di Arab, maka pemakamannya adalah seperti hamparan tanah lapang saja, dengan gundukan-gundukan makan yag tidak lebih dari sejengkal, dengan pada bagian kepala hanya ada penanda dengan batu. tidak ada yang dihias atau dibuat perkerasan, atau dibuat bangunan di atasnya. Jadi kuburannya seragam semua, seperti yang diajarkan Rasulullah…
    Wallahualam…

    • Benar, menurut petunjuk Rasulullah kuburan hanya ditinggikan sejengkal saja, tdk lebih! dan bagian kepala diberi tanda batu. Bisa dilihat contohnya di pemakaman Baqi’ (lihat di google). Jazakillah khair.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: