Kerusakan-kerusakan Seputar Masjid

Oleh: Ustadz Abu Adib

 

Bismillah… dengan mengharap pahala dan ridha-Mu yaa Allah…, kami tulis risalah singkat ini semoga menjadi catatan kebaikan bagi penulis kelak di hari ditimbangnya amal (hari kiamat)…

Risalah yang akan kami tulis ini berisi tentang hal-hal yang berkaitan dengan kesalahan-kesalahan seputar “tata krama” masjid. Hal ini kami paparkan karena kita masih sering menyaksikan dengan jelas bahwa banyak dari kaum muslimin yang masih terjatuh dalam kesalahan ini. Harapan kami semoga risalah ini bisa menjadi nasehat bagi kita semua dan bisa menjadi secercah cahaya bagi orang orang yang cinta dengan kebenaran. Sebagaimana Allah firmankan : “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-’Ashr : 1-3)

Para pembaca yang mulia, masjid adalah tempat yang mulia yang dimuliakan oleh Allah dan rasul-Nya, di dalam masjid itu orang-orang yang beriman bisa mendulang pahala yang banyak dari shalat-shalat mereka, dzikir-dzikirnya, serta qiroatul qur’an. Dan di dalam masjid pula seorang bisa mendapatkan ketenangan dan ketetraman hati dan jiwanya. Sebagaimana hadits dari Abu Hurairah , bahwa Nabi menyatakan,

”Tidaklah berkumpul suatu kaum di satu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca Al-Qur’an dan saling belajar di antara mereka melainkan Allah akan turunkan ketenangan jiwanya dan di rahmati Allah serta dinaungi para malaikat”.

Akan tetapi di sana ada makhluq Allah yang mereka tidak pernah ridha dengan kebaikan-kebaikan yang ada di dalam masjid. Maka merekapun berupaya dan berusaha agar hamba hamba Allah tidak mendapatkan kebaikan di dalamnya, maka merekapun membuat kerusakan-kerusakan di dalamnya. Makhluk itu tiada lain adalah iblis dan wali-walinya.

Dan di antara kerusakan-kerusakan itu adalah :

Yang pertama: Menjadikan kuburan Nabi dan orang orang shalih sebagai masjid atau tempat ibadah.

Awal mula munculnya kerusakan ini adalah ketika kaum Nabi Nuh kehilangan orang-orang shalih yang ada pada mereka yang namanya disebut di dalam Al-Qur’an,

“Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.” (QS. Nuh: 23)

Abdullah bin Abbas dalam menafsirkan ayat di atas beliau berkata: “Mereka nama-nama orang yang shalih di umatnya Nabi Nuh, ketika mereka telah mati syaithan mengilhamkan kepada kaum Nuh agar mereka membuat atau mendirikan patung-patung orang-orang shalih tersebut di depan majelis-majelis mereka sehingga mereka merasa lebih semangat dan lebih khusyu’ kalau beribadah di depan patung-patung itu. Akan tetapi dikala itu mereka belum menyembah patung-patung tersebut. Namun generasi ganti generasi dan ilmu sudah mulai dicabut serta kebodohan semakin menyebar akhirnya patung-patung itulah yang akhirnya disembah”.

Demikian pula kerusakan ini masuk pada peribadatan orang-orang yahudi dan nashara. Di riwayatkan oleh ‘Aisyah radhiyallahu’anha, dia berkata bahwasanya Ummu Salamah pernah menceritakan kepada Nabi satu gereja di bumi Habasyah, bahwa dirinya melihat di dalam gereja ada patung-patung, mendengar cerita demikian maka Nabi bersabda: “Mereka itu suatu kaum jika telah mati di antara mereka hamba yang shalih maka mereka membangun kuburannya sebagai masjid kemudian mereka membuat patung di dalamnya, mereka itu sejelek-jeleknya makhluq di sisi Allah .” (H.R Bukhari-Muslim)

Dan kerusakan ini akhirnya juga menimpa umat Islam, betapa banyak kaum muslimin yang mereka menjadikan kuburan-kuburan orang yang mereka anggap sebagai orang yang shalih atau memiliki jasa bagi umat. Mereka membangun masjid yang ada kuburan orang sholih tersebut, padahal Nabi kita selalu memperingatkan dari kesalahan ini, dari bahaya serta kerusakan-kerusakan dari membangun masjid di atas kuburan.

Beliau bersabda : “Semoga Allah memerangi orang-orang yahudi yang mereka menjadikan kuburan-kuburan para Nabi-Nabi mereka sebagai masjid.” (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam riwayat yang lain beliau juga bersabda :

لَاتَجْعَلُوْا قَبْرِيْ عِيْدًا وَصَلُّوْا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلَا تَكُمْ تَبْلُغُنِيْ حَيْثُ كُنْتُمْ

“Janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai hari raya! Bershalawatlah kepadaku karena shalawat itu akan sampai kepadaku dimana saja kalian berada.” (HR. Abu Dawud)

Syaikhul Islam ibnu Taimiyah rahimahullah menyatakan bahwa kuburan Rasulullah adalah kuburan yang paling mulia di muka bumi ini, akan tetapi Nabi sungguh melarang kuburannya dijadikan sebagai hari raya dan sebagai tempat ibadah. Apalagi kuburan selain beliau tentunya larangannya lebih besar lagi. Beliau juga bersabda :

لَا تَجْلِسُوْا عَلَى الْقُبُوْرِ وَلَاصَلُّوْا إِلَيْهَا

“Janganlah kalian duduk di atas kuburan dan janganlah kalian shalat di dalamnya.” (HR. Muslim)

Telah di nukil dari Imam Nawawi dan Imam Syafi’i dimana beliau berkata :

وَأَكْرَهُ أَنْ يُعَظَّمَ مَخْلُوْقٌ حَتَّى يُجْعَلَ قَبْرَهُ مَسْجِدًا مَخَافَةَ الْفِتْنَةِ عَلَيْهِ وَعَلَى مَنْ بَعْدَهُمُ النَّاسُ

“Aku tidak suka diagungkannya makhluq sampai menjadikan kuburan mereka menjadi masjid, karena aku takut hal itu akan jadi fitnah bagi orang orang setelahku dan dari kalangan manusia.”

Para pembaca yang mulia, dengan demikian sangatlah jelas bagi kita bahwasanya larangan menjadikan kuburan sebagai masjid adalah larangan yang menunjukkan dosa besar bahkan bisa membawa kepada kesyirikan.

Yang kedua : Tabarruk (ngalap berkah) dengan masjid

Para pembaca yang mulia, pada asalnya bersungguh sungguh dalam bepergian kepada suatu masjid untuk mengagungkan dan ngalap berkah itu adalah hal yang dilarang kecuali di tiga masjid saja yaitu Masjidil Haram, Masjidil Al-Aqsha dan masjid Nabawi. Sebagaimana disebutkan dalam hadits, Nabi bersabda,

لَاتَشَدُّ الرِّحَالَ إِلَّا ثَلَاثَةَ مَسَاجِدَ مَسْجِدِيْ هَذَا وَمَسْجِدَالْحَرَامِ وَمَسْجِدَ الْئَقْصَى

“Janganlah kamu melakukan bepergian dengan sungguh-sungguh kecuali di tiga masjid yaitu masjidku ini (yang dimaksud adalah masjid Nabawi) dan Masjidil Haram yang ada di makkah dan Masjidil Al-Aqsha yang ada di palestina.”

Dari hadits di atas menunjukkan bahwa melakukan safar dengan sungguh-sungguh, mengeluarkan harta, tenaga, bahkan jiwa menuju suatu masjid atau tempat yang di yakini masjid atau tempat itu memiliki keutamaan karena di dalamnya ada kuburan orang yang shalih atau mungkin masjid itu dulu pernah shalat di dalamnya orang-orang yang mempunyai keutamaan dari kalangan para wali-wali Allah atau yang lainnya, maka hal yang demikian adalah terlarang atau haram, bahkan bisa mengarah kepada kesyirikan, jika diyakini bahwa dengan perginya ke masjid itu bisa mendatangkan keselamatan atau mungkin menjadikan banyak rizqinya atau yang lainnya dari keyakinan-keyakinan yang syirik.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa ‘Umar bin Khathab adalah seorang yang sangat semangat untuk menjelaskan tercelanya bid’ah ini. Di riwayatkan dari Ma’rur Bin Suwaid, dia berkata, “Kami keluar bersama ‘Umar dalam suatu perjalanan maka di hadapan kami ada sebagian jalan yang menuju ke sebuah masjid maka manusia bersegera menuju masjid tersebut untuk melaksanakan shalat di dalamnya. Lantas ‘Umar berkata: “Ada apa kalian?” Mereka berkata: “Ini masjid yang Nabi pernah shalat di dalamnya”, maka ‘Umar pun marah dan menunjukkan rasa tidak senangnya dengan amalan itu kemudian ‘Umar berkata: “Barang siapa yang ingin sholat di dalamnya, ya shalatlah dan barang siapa tidak ingin shalat di dalamnya, ya tinggalkanlah.” Artinya jangan sampai ada keyakinan bahwa shalat di masjid tersebut ada nilai lebih atau ada keutamaan lebih dari masjid-masjid yang lainnya karena tidak ada dalil yang menunjukkan keutamaan masjid tersebut.”

Perhatikan para pembaca yang mulia

Masjid yang Nabi pernah sholat di dalamnya dan masjid itu tidak ada kuburanya, akan tetapi ketika seseorang meyakini bahwa shalat di dalamnya mempunyai keutamaan maka ‘Umar pun melarangnya dikarenakan tidak adanya dalil yang menjelaskan hal tersebut. Bandingkan dengan umat sekarang ini, yang mereka pergi dengan sungguh-sungguh ke tempat atau masjid yang mereka yakini ada keutamaan lebih dibandingkan dengan masjid yang lain, bahkan di tambah lagi masjidnya ada kuburanya dari tokoh-tokoh yang dikeramatkan, kira-kira bagaimana marahnya ‘Umar kalau seandainya beliau menyaksikan hal tersebut. Semoga Allah menyelamatkan kita dari bid’ah tercela ini.

Yang ketiga : Menghiasi masjid dengan membangun bangunan yang melampaui batas kemewahan.

Ini juga termasuk bid’ah yang tercela, karena perbuatan ini menyerupai perbuatan orang-orang nashara yang mereka menghiasi gereja-gereja dengan melampaui batas.

Dan umat Islampun banyak yang terjatuh dalam kesalahan ini. Sebagian umat Islam merasa bangga kalau bisa memperindah masjid-masjid dengan lukisan-lukisan atau gambar-gambar atau tulisan-tulisan yang di perindah bahkan sampai ada foto-foto dari tokoh-tokoh yang di agungkan, wal’iyadzubillah.

Kerusakan keempat : Melantunkan nasyid-nasyid sesat di dalam masjid.

Masjid itu dirikan untuk ibadah, dzikir, baca Al-Qur’an, pengajian-pengajian dan lain sebagainya. Bukan untuk mendendangkan nasyid-nasyid yang menyimpang hal tersebut telah dilarang Nabi sebagaimana dalam sabdanya :

مَنْ سَمِعَ رَجُلًا يُنْشِدُ صَالَةً فِيْ الْمَسْجِدِ فَلْيَقُلْ رَدَّهَا اللهُ عَلَيْكَ فَإِنَّ الْمَسْجِد لَمْ تُبْنَ لِهَاذَا

“Barang siapa yang mendengar seorang mendendangkan nasyid-nasyid sesat, maka katakanlah Allah akan mengembalikan (artinya Allah tidak akan menerimanya) karena masjid dibangun bukan untuk itu.”

Dalam riwarat lain dari Abdullah Bin ‘Amar bin ‘Ash beliau berkata: “Bahwa Nabi melarang jual-beli di masjid juga melantunkan nasyid-nasyid di dalamnya.”

Kesalahan kelima: Mendatangi masjid dengan bau yang kurang enak

Seperti makan bawang putih, bawang merah, sebagaimana di sebutkan di dalam hadits Nabi bersabda : “Barang siapa yang makan bawang putih atau bawang merah maka hendaklah menjauh dari masjid kami.”

Dalam riwayat lain Nabi juga bersabda, “Barang siapa yag makan bawang putih atau bawang merah atau daun bawang maka janganlah mendekat masjid kami karena para malaikat terganggu dari gangguan yang di lakukan oleh bani adam.”

Kerusakan keenam : Melarang anak-anak kecil untuk masuk

Mereka menyatakan bahwa anak-anak itu kebiasaan mereka suka bermain-main dan itu akan menyebabkan terganggunya orang yang shalat di dalam masjid, mereka berdalilkan dengan hadits :

وَجَنِّبُوْا مَسَاجِدَكُمْ صِبِّيَانَكُمْ وَمَجَانِيْنَكُمْ

“Jauhkanlah masjid masjid kalian dari anak anak dan orang gila.”

Hadits di atas adalah lemah sekali, tidak shahih sanadnya dan telah shahih dari Nabi menyelisihi hal tersebut dimana Hasan dan Husain, cucu beliau , yang ketika masih kecil sering masuk masjid, bahkan pernah naik di punggung Nabi ketika beliau sedang sujud. Bahkan Nabi pernah turun dari mimbar ketika khatbah hanya beliau ingin menggendong Hasan dan Husain. Wallahu a’lamu bish shawab.

Maraji’ : Kitab As-Sunan Wal Mubtadi’at Fil ‘Ibadah

Buletin Istiqomah – Jajar, Solo

Link download artikel pdf

 

Sumber: http://www.mediasalaf.com/aqidah/kerusakan-kerusakan-seputar-masjid/

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 14/07/2012, in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: