Kriteria Azan yang Wajib Dihadiri

Tanya: Saya hamba Allah Subhanahu wa Ta’ala di pedalaman Kabupaten Pasar, Kalimantan Timur. Saya mau tanya. Saya punya kebun yang jauh dari rumah, jaraknya kurang lebih 40 km. Jika saya shalat di kebun itu, apakah sah menurut syariat? Saya mohon jawabannya karena saya menyadari kebodohan saya. Saya mohon dimuat di majalah Asy-Syari’ah. Saya senang sekali membaya majalah ini, mudah-mudahan bisa mengurangi kemaksiatan saya kepada Allah Yang Maha Pencipta alam ini. Saya pelanggan majalah Asy-Syari’ah. Mohon dijelaskan dalil-dalilnya. Jazakallahu khairan.

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Masalah yang Anda tanyakan bermuara kepada dua hadits berikut.

1. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu

Seorang lelaki buta [1] datang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam dan berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku tidak punya penuntun yang menuntunku ke ke masjid.” Lantas ia meminta Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam memberi keringanan untuknya agar ia bisa shalat di rumahnya. Maka dari itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam memberi keringanan untuknya. Tatkala ia berbalik meninggalkan Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam, beliau shallallahu ‘alaihi wassalam memangilnya dan bertanya, “Apakah kamu mendengar azan untuk shalat?” Ia menjawab, “Ya.” Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Kalau begitu, jawablah!” (HR. Muslim)

2. Hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma

“Barangsiapa mendengar azan lalu ia tidak datang (menghadiri shalat jamaah di masjid), tidak ada shalat baginya, kecuali jika ia tidak datang karena uzur (halangan).” (HR. Ibnu Majah, ad-Daruquthni, dan al-Hakim)

Hadits ini diperselisihkan apakah marfu’ (sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam) atau mauquf (ucapan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu sendiri). Al-Imam al-Hakim menyatakannya shahih secara marfu’, serta disetujui oleh adz-Dzahabi dan al-Albani. Kata al-Hafizh Ibnu Hajar, “Sanadnya sesuai syarat al-Imam Muslim, tetapi sebagian ahli hadits merajihkan riwayat yang mauquf.” [2]

Kedua hadits ini menunjukkan wajib bagi lelaki muslim yang mukallaf (baligh dan berakal) untuk menghadiri shalat berjamaah di masjid jika ia mendengar azan, kecuali yang punya uzur (halangan), seperti halnya sakit atau lainnya. Inilah pendapat yang rajih dalam masalah ini.

Kriteria mendengar azan yang dimaksud pada kedua hadits di atas adalah mendengar azan yang dikumandangkan dengan suara biasa tanpa pengeras suara (speaker) di keheningan tanpa ada penghalang sampainya suara ke tempat yang bersangkutan.

Untuk itu kami nukilkan keterangan beberapa ulama ahli fatwa pada masa ini.

1. Kata al-Imam ‘Abdul ‘Aziz Ibnu Baz rahimahullah pada salah satu fatwanya, “Wajib atasmu melaksanakan shalat berjamaah bersama saudara-saudaramu kaum muslimin di masjid jika kamu mendengar azan dari tempatmu, yaitu azan dengan suara biasa tanpa pengeras suara yang dikumandangkan di keheningan dan tidak ada penghalang yang menghalangi sampainya suara azan itu ke tempatmu. Adapun jika kamu berada di tempat yang jauh sehingga tidak mendengar azan yang dikumandangkan tanpa pengeras suara, boleh bagimu shalat di rumahmu atau berjamaah bersama tetanggamu. Hal itu sebagaimana telah tsabit (tetap) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam.”

Kemudian beliau menyebutkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma di atas. [3]

2. Kata al-Imam Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam syarah kitab Riyadh ash-Shalihin, “Akan tetapi, yang dimaksud adalah mendengar azan yang dikumandangkan dengan suara biasa, bukan dengan mikrofon.” [4]

Beliau juga berkata pada syarah kitab Bulughul Maram, “Di antara faedah yang dipetik dari hadits ini (hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu) adalah jika seseorang tidak mendengar azan, tidak wajib atasnya hadir shalat berjamaah di masjid. Apakah yang dimaksud dengan hal ini adalah mendengar secara hakiki ataukah berada di tempat yang darinya ia akan mendengar azan kalau tidak ada sesuatu yang menghalangi terdengarnya azan itu (mendengar secara hukum)? Andaikan masjid dekat darimu, tetapi kamu tidak mendengar azan karena banyaknya suara, keramaian, dan kesibukan, apakah hal itu berarti kamu tidak wajib shalat berjamaah di masjid? Jawabannya, ‘Tidak begitu.’ Yang dimaksud oleh hadits ini adalah jika seseorang berada di suatu tempat yang terjangkau suara azan, wajib baginya hadir shalat jamaah di masjid. Oleh karena itu, jika ia tuli sedangkan ia bertetangga dengan masjid, kewajiban shalat jamaah tidak gugur atasnya. Sebab, yang diperhitungkan adalah dekatnya tempat seseorang dari masjid.

Jika muazin memperdengarkan azannya dari jauh kepada seseorang, yang tampak dari hadits adalah wajib baginya memenuhi seruan itu walaupun memberatkan dirinya.

Akan tetapi, jika muazin memperdengarkan azannya kepadanya melalui alat, seperti pengeras suara yang ada pada masa ini -speaker dapat menjangkau pendengaran seseorang meskipun dia berada di tempat yang sangat jauh- yang tampak bagi kami adalah tidak wajib baginya memenuhi panggilan itu.

Barangsiapa berpegang dengan makna yang tampak dari lafadz hadits, ia akan mewajibkan hadir walaupun seseorang berada di tempat yang jauh selama dirinya mendengar azan melalui pengeras suara.

Barangsiapa berpendapat bahwa yang diperhitungkan adalah alunan suara dan seseorang wajib hadir jika mendengarnya dengan suara biasa, ia akan mengatakan tidak wajib hadir apabila jaraknya jauh dan memberatkan.” [5]

Yang terakhir ini yang dirajihkan oleh Ibnu ‘Utsaimin sebagaimana telah beliau nyatakan secara jelas sebelumnya.

3. Kata al-‘Allamah Shalih al-Fauzan rahimahullah pada salah satu fatwanya, “Yang menjadi kriteria dalam hal wajibnya menghadiri shalat jamaah di masjid adalah mendengar azan. Jika engkau mendengar azan dengan suara biasa tanpa pengeras suara, wajib atasmu shalat di masjid dan memenuhi panggilan muazin. Lain halnya jika engkau terhalangi oleh sebuah uzur syar’i, seperti halnya sakit atau yang kamu sebutkan [6] bahwa istrimu merasa ngeri dan ketakutan di malam hari apabila engkau meninggalkannya pergi ke masjid untuk menghadiri shalat berjamaah. Hal itu adalah uzur syar’i bagimu untuk dibolehkan shalat di rumah, karena istrimu merasa ngeri dan takut sehingga ia membutuhkan kehadiranmu di sisinya.” [7]

Asy-Syaikh al-Fauzan rahimahullah juga ditanya tentang makna hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tersebut, beliau berfatwa, “Ya. Hal itu seperti yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam, barangsiapa mendengar azan, wajib atasnya menjawab panggilan muazin untuk pergi ke masjid jika ia berada dekat dari masjid dan memungkinkan baginya pergi ke masjid untuk mendapatkan shalat berjamaah. Adapun jika ia jauh dari masjid dengan jarak yang memberatkannya dan ia tidak bisa mendapatkan shalat jamaah di masjid itu, tidak wajib atasnya menghadiri seruan azan yang didengarnya melalui mikrofon lantaran jaraknya yang jauh sebagaimana disebutkan.” [8]

Alhasil, berdasarkan keterangan di atas, jawaban pertanyaan anda tidak keluar dari rincian berikut ini.

Jika yang terdekat dari kebun anda adalah kampung anda yang berjarak kurang lebih 40 km, tidak wajib mendatanginya karena jaraknya yang sangat jauh dan sangat memberatkan untuk mendatanginya. Begitu pula halnya jika ada perkampungan dan masjid lain, tetapi letaknya jauh dan memberatkan anda untuk berjalan mendatanginya, anda tidak wajib menghadirinya walaupun azannya terdengar melalui pengeras suara. Dengan demikian, boleh bagi anda melaksanakan shalat sendiri di kebun atau berjamaah dengan kaum muslimin lainnya yang ada di sana.

Jika ada perkampungan dan masjid yang dekat dari kebun anda dengan azan yang terdengar, walaupun dengan suara biasa (tanpa pengeras suara) jika dikumandangkan di keheningan tanpa ada penghalang untuk menjangkau kebun anda, wajib atas anda memenuhi panggilan azan itu untuk shalat jamaah di masjid itu.

Wallahu a’lam.

Catatan kaki:

[1] Dia adalah Ibnu Ummi Maktum radhiyallahu ‘anhu.

[2] Lihat kitab Bulughul Maram (“Kitab ash-Shalah”, pada “Bab Shalatil Jama’ah wal Imamah”) dan al-Irwa (2/337-339).

[3] Lihat kitab Majmu’ al-Fatawa (12/37-38).

[4] Lihat kitab Syarh Riyadh ash-Shalihin (“Kitab al-Fadha’il”, pada “Bab Fadhli Shalatil Jama’ah)

[5] Lihat kitab Fathu Dzil Jalal wal Ikram (“Kitab ash-Shalah”, pada “Bab Shalatil Jama’ah wal Imamah” syarah hadits Abu Hurairah).

[6] Yakni dalam pertanyaan orang yang meminta fatwa kepada beliau.

[7] Lihat kitab al-Muntaqa min Fatawa al-Fauzan (4/”Kitab ash-Shalah”, no. 21).

[8] Lihat kitab al-Muntaqa min Fatawa al-Fauzan (5/”Kitab ash-Shalah”, no. 67).

Sumber: Majalah Asy Syariah no. 81/VII/1433 H/2012, hal. 71-73.

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 18/07/2012, in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Hendra Setiawan

    Assalamualaikum
    bagaiman jika jarak masjid dekat, dan kita adalah seorang guru yang sedang mengajar?
    apakah termasuk halangan yang syar’i?
    mohon jawabannya…
    terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: