Ketupat Lebaran, Bid’ahkah?

Tanya: Ustadz, mohon maaf, saya mau tanya apakah membuat ketupat berikut pelengkapnya berupa opor atau yang lain pada saat Iedul Fitri termasuk bid’ah? Padahal kan, kita tidak berniat apa-apa, hanya karena memang menu itu disukai oleh kerabat, jadinya kita menghidangkannya. Kita juga tidak membuatnya pada saat hari raya ketupat yang biasa dilakukan orang. Demikian, terima kasih atas jawabannya. (Amatullah, di Kedu)

Jawab:

Alhamdulillah, washalatu wassalam ‘ala Rasulillah.
Tradisi membuat ketupat lebaran, konon muncul bukan karena Iedul Fithrinya, tapi adanya hari raya ketupat yang diadakan 7 hari setelah Ied. Hari raya ini, menurut cerita, dicetuskan oleh Sunan Kali Jaga sebagai perayaan setelah shaum sunah Syawal. Ketupat dibuat untuk diberikan kepada kerabat. Filosofinya, kata “kupat” adalah akronim dari “ngaku lepat” dalam bahasa Jawa yang artinya mengaku bersalah.

Dengan begitu, kupat tidak hanya sebagai bawaan saat berkunjung tapi juga simbol permohonan maaf. Namun demikian, tidak ada data valid mengenai hal ini.

Meskipun katanya tradisi ini memiliki akar sejarah dan filosofi, akan tetapi untuk menghukuminya sebagai bid’ah atau tidak, kita perlu merujuk kepada apa sebenarnya dimaknakan bid’ah itu?

Imam asy Syatibi dalam al I’thisham menjelaskan bahwa bid’ah adalah suatu cara baru dalam agama yang diciptakan untuk menandingi cara-cara dalam syariat, cara ini dianggap memiliki kelebihan untuk beribadah kepada Allah. Definisi ringkasnya, Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ul Fatawa; 18/346 menjelaskan, bid’ah adalah keyakinan atau ibadah yang menyelisihi al Quran, as Sunah dan ijma’ salaf.”

Dalil umumnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﻓِﻰ ﺃَﻣْﺮِﻧَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨْﻪُ‏‎ ‎ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak memiliki landasan dari syariat, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718)

Dalam banyak pembahasan, yang dinilai bid’ah adalah merayakan “Hari Raya Ketupat”-nya, yang biasa dilaksanakan tujuh hari setelah Iedul Fithri. Dikategorikan bid’ah karena umat Islam tidak memiliki hari raya selain Iedul Fithri dan Iedul Adha dan tidak boleh membuat hari raya baru.

Akan tetapi, sekadar membuat ketupat pada saat Iedul Fithri atau bahkan Iedul Adha, hanya sebagai salah satu hidangan tanpa menganggap bahwa hal itu disunnahkan atau memiliki keutamaan, bukanlah bid’ah.

Itu hanya tradisi yang mubah karena tidak menyangkut urusan ibadah. Ketupat dan lontong –yang sebenarnya hanyalah nasi yang dibungkus daun- hanyalah salah satu menu dari menu-menu yang biasa ada pada saat hari raya, di samping kue-kue, opor, soto atau yang lainnya.. Wallahua’lam. (T. Anwar)

Sumber: Arrisalah.net

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 16/08/2012, in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: