Yahudi dan Nasrani Bisa Masuk Surga?

Pertanyaan: Orang yang mengikuti jalan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya (salafush sholih) inilah yang selamat dari neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan; satu golongan masuk surga, 70 golongan masuk neraka. Nashrani terpecah menjadi 72 golongan; satu golongan masuk surga, 71 golongan masuk neraka. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, umatku akan terpecah menjadi 73 golongan; satu golongan masuk surga dan 72 golongan masuk neraka. Ada sahabat yang bertanya, ’Wahai Rasulullah! Siapa mereka yang masuk surga itu?’ Beliau menjawab, ‘Mereka adalah Al-Jama’ah‘.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud, dishahihkan Syaikh AlAlbani)

Dalam riwayat lain para sahabat bertanya, ’Siapakah mereka wahai Rasulullah?‘ Beliau menjawab, ‘Orang yang mengikuti jalan hidupku dan para sahabatku.‘ (HR. Tirmidzi)

Apa benar Yahudi & Nasrani juga ada yang masuk surga? Bukankah selain agama Islam itu akan masuk neraka, bahkan juga tidak di hisab? Lalu Yahudi & Nasrani yang seperti apa yang dapat masuk surga?

Jawaban:

Bismillahirrahmanirrahim.
Ya, benar bahwa Yahudi dan Nasrani juga ada yang masuk surga. Yahudi yang masuk surga adalah mereka yang taat kepada nabi-nabi mereka di zaman mereka. Misalnya adalah para pengikut nabi Musa ‘alaihis salam. Nasrani yang masuk surga adalah mereka yang taat kepada nabi ‘Isa alaihis salam di zaman beliau.

Adapun setelah diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Yahudi dan Nasrani yang bisa masuk surga adalah mereka yang taat kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan kata lain, mereka yang masuk Islam dan baik keislamannya. Allah ta’ala berfirman:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮﺍ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻫَﺎﺩُﻭﺍ‎ ‎ﻭَﺍﻟﻨَّﺼَﺎﺭَﻯٰ ﻭَﺍﻟﺼَّﺎﺑِﺌِﻴﻦَ ﻣَﻦْ ﺁﻣَﻦَ ﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ‏‎ ‎ﻭَﺍﻟْﻴَﻮْﻡِ ﺍﻟْﺂﺧِﺮِ ﻭَﻋَﻤِﻞَ ﺻَﺎﻟِﺤًﺎ ﻓَﻠَﻬُﻢْ‏‎ ‎ﺃَﺟْﺮُﻫُﻢْ ﻋِﻨﺪَ ﺭَﺑِّﻬِﻢْ ﻭَﻟَﺎ ﺧَﻮْﻑٌ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﻭَﻟَﺎ‎ ‎ﻫُﻢْ ﻳَﺤْﺰَﻧُﻮﻥَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal shalih, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al Baqarah: 62)

Seorang ahli tafsir dari kalangan Tabi’in bernama Qatadah rahimahullah berkata menafsirkan makna Shabiin:

ﻗﻮﻡ ﻳﻘﺮﺀﻭﻥ ﺍﻟﺰﺑﻮﺭ ﻭﻳﻌﺒﺪﻭﻥ ﺍﻟﻤﻼﺋﻜﺔ‎ ‎ﻭﻳﺼﻠﻮﻥ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻜﻌﺒﺔ ﻭﻳﻘﺮﻭﻥ ﺑﺎﻟﻠﻪ‎ ‎ﺗﻌﺎﻟﻰ ﺃﺧﺬﻭﺍ ﻣﻦ ﻛﻞ ﺩﻳﻦ ﺷﻴﺌﺎ

“Mereka adalah suatu kaum yang membaca kitab Zabur, beribadah kepada Malaikat, shalat menghadap Ka’bah, dan mengakui adanya Alloh ta’ala. Mereka mengambil sesuatu dari setiap agama.” (Tafsir Al Baghawi)

Adapun orang Yahudi dan Nashrani yang tidak mau beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mendustakan dan bahkan mempermainkan ayat-ayat Alloh dan merubah kitab suci nabi mereka, mereka tidak akan masuk surga. Alloh ta’ala menjelaskan:

ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﻛَﻔَﺮُﻭﺍ ﻭَﻛَﺬَّﺑُﻮﺍ ﺑِﺂﻳَﺎﺗِﻨَﺎ ﺃُﻭﻟَٰﺌِﻚَ‏‎ ‎ﺃَﺻْﺤَﺎﺏُ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ ﻫُﻢْ ﻓِﻴﻬَﺎ ﺧَﺎﻟِﺪُﻭﻥَ

“Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Al Baqarah: 39)

ﻭَﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻟَﻦ ﺗَﻤَﺴَّﻨَﺎ ﺍﻟﻨَّﺎﺭُ ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻳَّﺎﻣًﺎ ﻣَّﻌْﺪُﻭﺩَﺓً ۚﻗُﻞْ ﺃَﺗَّﺨَﺬْﺗُﻢْ ﻋِﻨﺪَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻋَﻬْﺪًﺍ ﻓَﻠَﻦ ﻳُﺨْﻠِﻒَ‏‎ ‎ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻬْﺪَﻩُ ۖ ﺃَﻡْ ﺗَﻘُﻮﻟُﻮﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻣَﺎ ﻟَﺎ‎ ‎ﺗَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ

“Dan mereka (orang-orang Yahudi) berkata: “Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa hari saja.” Katakanlah: “Sudahkah kalian menerima janji dari Alloh sehingga Alloh tidak akan memungkiri janji-Nya, ataukah kalian hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (Al Baqarah: 80)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﻣﻮﺳﻰ ﺣﻴﺎ ﻣﺎ ﻭﺳﻌﻪ ﺇﻻ‎ ‎ﺍﺗﺒﺎﻋﻲ. ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺣﻤﺪ ﻭﺍﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺏ‎ ‎ﺷﻌﺐ ﺍﻹﻳﻤﺎﻥ، ﻭﻫﻮ ﺣﺪﻳﺚ ﺣﺴﻦ.

“Seandainya Musa masih hidup, dia tidaklah memiliki keleluasaan kecuali harus mengikutiku.” (Hadits riwayat Ahmad dan Al Baihaqi dalam kitab Syu’abul Iman, dari hadits Jabir radhiallahu ‘anhu. Hadits tersebut adalah hadits hasan)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa orang-orang Yahudi yang masih hidup setelah diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib untuk beriman kepada beliau, wajib untuk masuk Islam. Karena nabi mereka saja (yaitu Nabi Musa) seandainya masih hidup di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wajib untuk mengikuti beliau.

Dakwah yang dahulu dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap orang-orang Yahudi dan Nashrani menunjukkan bahwa jika mereka tetap berada pada agama mereka yang dahulu, berarti mereka berada di atas kebatilan, dan tidak akan masuk surga.

Wabillahit taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam.

Sumber: http://media-sunni.blogspot.com/2012/01/yahudi-nasrani-dapat-masuk-surga.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 20/08/2012, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 14 Komentar.

  1. bujankz mualang

    Kita tidak tau, agama mana yang benar, yang jelas firman dari nabi musa, sebelum dia wafat, dia mengatakan kepada pengikutnya, bahwa ” akan hadir ke dunia penyelamat dunia” dan ternyata itu yesus…
    Org islam menganggap nabi Muhamad adalah Nabi paling suci, kalau dia suci, mengapa di menikah, ataupun menikah lebih dari satu, kita dengar cerita yesus, demi menjalankan amanat dari Tuhan, dia rela tidak menikah.. Sdarlah islam yang mengatakan agama kristen dgn Yahudi kafir, sadarlah bahwa kalianlah yang kafir, ada satu lagi, saya dengar2, diatas ka’abah, ada tanduk seperti tanduk iblis, itulah buktinya agama islam agama berasal dari iblis.. Dan Muhamad Adalah Nabi, kalian tau Nabi itu apa? Dan satu lagi, islam menyebut yesus dengan sebutan Nabi, kalian tau Yesus itu Puetra tuhan.. Yang menyelamatkan dunia dari dosa2.. Dia Bukan Nabi, melainkan Putera Tuhan, atau firman Tuhan.. Sadarlah islam, janganlah kalian bangga dengan agama kalian, sebab ajaranya tentang banyak meniru ajaran kristen, seperti kisah adam dan hawa.. Jadi saya tekankan sekali lagi sadarlah, sebelum dunia berakhir,

    • maling lumdang

      Kalau yesus putra tuhan. Saya mau tanya siapa kakeknya

    • la trus Agamamu opo Dol

    • Shabrina Zhafira

      Muhammad, Isa, Musa, Ibrahim, Daud merupakan Nabi dan Rasul. Rasul adalah orang yang diberi wahyu oleh Allah untuk dirinya sendiri dan untuk umatnya. Nabi Muhammad dan Nabi Isa merupakan Nabi, karena mereka menyampaikan wahyu yang berasal dari Allah Swt.
      Nabi Muhammad menikah karena menjalankan perintah dari Allah Swt. sang pencipta. Hal tersebut dapat kita temui dalam salah satu ayat dalam Al-Qur’an, yang berisi agar umat manusia menikah dan keturunan.
      Nabi Muhammad menikah lebih dari satu agar lebih mudah bagi-Nya untuk berdakwah kepada manusia lainnya.
      Seperti yang saya tuliskan sebelumnya, Nabi adalah orang yang diberi wahyu oleh Allah untuk dirinya sendiri.
      Nabi Muhammad maupun Nabi Isa merupakan Nabi dan Rasul. Karena wahyu atau ajaran yang mereka dapat dari Allah Swt. disampaikan juga pada umatnya.
      Yesus (Nabi Isa), bukanlah Puetra Tuhan. Sebenarnya yang disalib oleh kaum Nasrani pada saat itu adalah teman Nabi Isa yang mengkhianatinya, sedangkan Nabi Isa sendiri telah diselamatkan oleh Allah Swt. dengan cara mengangkat Nabi Isa ke langit. Dan nanti Nabi Isa akan diturunkan lagi oleh Allah pada hari kiamat untuk membuktikan kepada kaum Nasrani bahwa selama ini yang disembah bukanlah Nabi Isa as. Saya membaca hal tersebut dari buku “Kisah 25 Nabi dan Rasul”
      Sebaiknya mumpung masih ada waktu untuk bertaubat, maka segeralah bertaubat. Karena umur manusia tidak ad yang tahu kecuali Allah Swt.

  2. Ada beberapa point yang perlu dikritisi dari ungkapan mas Bujank :

    1. “Kita tidak tau, agama mana yang benar”.

    Kalau mas Bujank tidak tau agama mana yang benar, berarti mas sendiri belum yakin dengan agama Kristen.

    Kami (kaum muslimin) Alhamdulilah telah yakin bahwa agama Islam merupakan satu-satunya agama yang benar, sedangkan agama selain Islam adalah batil.

    Allah ta’ala berfirman :

    إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

    “Agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam.” [Ali Imran :19]

    وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

    “Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima (oleh Allah). Dan kelak ia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” [Ali Imran : 85]

    إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّة

    “Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan Ahlul Kitab (Yahudi & Nashrani) dan musyrikin, mereka berada di dalam Neraka Jahanam, kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk.” [Al-Bayyinah : 6]

    2. “yang jelas firman nabi Musa sebelum dia wafat, dia mengatakan kepada pengikutnya bahwa “akan hadir ke dunia penyelamat dunia” dan ternyata itu Yesus…”

    Kami juga meyakini bahwa Nabi Musa ‘alaihissalam merupakan nabi yang diutus sebagaimana Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan diwahyukan kepada beliau kitab Taurat sebagaimana Al-Qur’an yang diwahyukan kepada nabi kami. Namun pertanyaan saya,

    – Apakah Kitab Taurat sekarang masih ada?
    – Tunjukkan pada saya letak firman nabi Musa tersebut (surat : halaman), agar kami dapat mengeceknya secara langsung?

    3. “saya dengar2, di atas Ka’abah ada tanduk seperti tanduk iblis, itulah buktinya agama Islam agama berasal dari Iblis..”

    Pertanyaan saya,

    – Mas mendengar kabar itu dari siapa?
    – Mas sendiri sudah pernah melihat Ka’bah secara langsung (bukan di TV)?
    – Coba mas tanyakan pada tetangga sekitar yang baru pulang haji, apa ada yang pernah melihat tanduk iblis di atas Ka’bah?

    4. “Islam menyebut yesus dengan sebutan nabi, kalian tau Yesus itu Puetra tuhan..”

    Nabi ‘Isa ‘alaihissalam adalah seorang nabi dan rasul Allah yang mulia, bukan putra Tuhan, bukan pula satu dari yang tiga (Trinitas).

    Allah ta’ala berfirman :

    وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُم

    “Dan ketika ‘Isa bin Maryam berkata : “Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah rasul Allah yang diutus kepada kalian.” [Ash-Shaff : 6]

    لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُم

    “Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah Al-Masih (‘Isa) Ibnu Maryam. Al-Masih (‘Isa) berkata : “Wahai Bani Israil, beribadahlah kalian hanya kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian.” [Al-Maidah : 72]

    لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيم

    “Sunggu telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah satu dari yang tiga. Tidak ada Tuhan yang (berhak disembah) kecuali Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak mau berhenti dari apa yang mereka kataan, niscaya orang-orang kafir diantara mereka akan mendapatkan azab yang pedih.” [Al-Maidah : 73]

    قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَد

    “Katakanlah : “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung pada-Nya segala sesuatu. Dia tidak memiliki anak dan tidak pula dilahirkan (seperti makhluk –pen-).” [Al-Ikhlash : 1-3]

    Di Kitab Injil juga disebutkan bahwa Yesus adalah rasul Allah, bukan anak tuhan. Ini buktinya :

    “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah (Tuhan) yang benar, dan mengenali Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” [Yohanes 17 : 3]

    “Jawab Yesus : “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari kaum Israel” [Matius 15 :24]

    “Jawab Yesus : “Dengarlah, hai Bani Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu maha esa.” [Markus 12: 29]

    “Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup.” [Korintus 8 : 6]

    “Engkau diberi melihatnya untuk mengetahui, bahwa Tuhanlah Allah, tidak ada yang lain kecuali Dia.” [Ulangan 4: 35]

    Mohon maaf mas bila nukilannya tidak lengkap, agar tidak terlalu panjang.

    yahdikumullah wayushlihu baalakum..

  3. 5. “Orang Islam menganggap nabi Muhamad adalah Nabi paling suci, kalau dia suci, mengapa dia menikah… kita dengar cerita yesus, demi menjalankan amanat dari Tuhan, dia rela tidak menikah”

    Allah ta’ala berfirman :

    وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلاً مِّن قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً

    “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan” [Ar-Ra’d : 38]

    a. Nabi Adam, Ibrahim, Ya’qub, Daud, Sulaiman dan para nabi yang lain juga menikah, apakah mereka tidak suci seperti Yesus?

    b. Ternyata persangkaan mas keliru, di Kitab Injil juga dinyatakan bahwa Yesus penah melaksanakan upacara pernikahan dengan seorang wanita,

    “Datanglah seorang perempuan dengan membawa buli buli pualam yang berisi minyak wangi murni yang mahal harganya, setelah dipecahkan buli buli itu dan dicurahkan minyak itu ke kepala Yesus.” [Markus 14: 3]

    – Dijelaskan dalam Injil Lukas pasal 7 ayat 37 bahwa wanita tersebut adalah Maria Magdalena yang sedang mengadakan resepsi pernikahan dengan Yesus

    – Dalam Injil Yohanes pasal 12 ayat 3 disebutkan bahwa Yesus telah berhubungan badan dengannya.

    – Dalam Kisah Para Rasul pasal 6 ayat 7 disebutkan bahwa Maria melahirkan anak pertamanya bernama Yesus Justus

    Bahkan Prof. Dr. Barbara Tiring (Pakar Thelology dari Universitas di Australia) setelah melakukan penelitian selama lebih dari 20 tahun tentang ayat-ayat dalam Kitab Injil, Prof. menyimpulkan bahwa Yesus tidak hanya menikah namun juga berpoligami. Dikisahkan bahwa setelah 17 tahun menikahi Maria, Yesus menikahi istri keduanya yang bernama Lidya.

    6. “ataupun menikah lebih dari satu”

    Kenapa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki lebih dari satu istri?

    a. Allah lah yang memerintahkan nabi-Nya untuk menikahi lebih dari satu istri, bukan semata-mata kepentingan pribadi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

    – Misalkan perintah Allah kepada nabi-Nya untuk menikahi Zainab binti Jahsy. Ketika agama Islam datang menghapuskan anggapan buruk kaum musyrikin bahwa seorang ayah tidak boleh menikahi mantan istri anak angkatnya. Allah ta’ala berfirman :

    فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِم

    “Ketika Zaid telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya (menceraikannya), Maka Kami nikahkan engkau dengannya. Supaya tidak ada keberatan bagi kaum mu’minin untuk menikahi (mantan) istri anak-anak angkat mereka.” [Al-Ahzab : 37]

    Istri nabi yang dimaksud dalam ayat di atas adalah Zainab binti Jahsy radhiyallahu ‘anha, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari 8/524 dan Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Ibnu Katsir 6/354.

    – Isyarat Allah kepada nabi-Nya melalui mimpi agar beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Aisyah,

    عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَيْتُكِ فِي الْمَنَامِ مَرَّتَيْنِ يَجِيءُ بِكِ الْمَلَكُ فِي سَرَقَةٍ مِنْ حَرِيرٍ
    فَقَالَ لِي هَذِهِ امْرَأَتُكَ فَكَشَفْتُ عَنْ وَجْهِكِ الثَّوْبَ فَإِذَا أَنْتِ هِيَ فَقُلْتُ إِنْ يَكُ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ يُمْضِهِ. رواه البخاري

    Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata padaku : “Aku telah melihatmu dalam mimpi dua kali. Malaikat datang membawamu dengan kain sutra yang indah, lalu berkata : “Ini adalah istrimu”. Maka aku pun menyingkap wajahmu, ternyata engkau lah orangnya. Maku aku berkata : “Jika memang ini adalah (wahyu) dari Allah tentu Allah akan mewujudkannya.” [HR. Al-Bukhari no. 4832]

    b. Istri-istri yang dinikahi nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam seluruhnya adalah janda kecuali Aisyah. Jika memang nabi hanya ingin memuaskan nafsunya –sebagaiman tuduhan miring para orientalis- tentu beliau lebih memilih untuk menikahi wanita-wanita perawan daripada janda. Dan ternyata fakta menyatakan sebaliknya.

    c. Istri pertama nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang janda tua bernama Khadijah radhiyallahu ‘anha. Beliau menikahinya ketika berumur 25 tahun, sedangkan Khadijah berumur 40 tahun. Kenapa nabi tidak memilih untuk menikahi gadis yang masih muda belia, namun memilih wanita yang usianya jauh di atas beliau!? Padahal pernikahan pertama adalah pernikahan yang paling berkesan dalam kehidupan seseorang.

    d. Ketika Khadijah masih hidup, nabi tidak menikahi wanita lain. Hal ini berlangsung selama puluhan tahun hingga Allah mewafatkan Khadijah. Dan ketika nabi masih bersama Khadijah, usia beliau masih sangat muda. Usia yang sangat rentan terhadap godaan wanita. Apakah nabi tergoda untuk menikahi wanita lain!?

    Allahu a’lam.

  4. Good hanif.
    I am agree with you.
    Jika di amati dari kaum kristen, banyak juga yang sudah berpindah atau berpaling dari agama yang salah menjadi agama yang benar “Islam”, bahkan beliau semua yang dari lahir secara keturunan keristen, ada yang sudah menjadi padri, atau pendeta…
    tetapi kenapa mereka berpaling dan memilih agama yang benar,..
    itu karena mereka benar2 mempelajari dan mengkaji antara kitab injil dan al-qur’an.
    Dan bahkan mereka berani untuk berdebat tetntang agama “demi agama yang benar”…
    padahal ia seorang padri/pendeta, yang sudah dari keturunanya beragama kristen..

  5. السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُه

    Allah berfirman: “Sesungguhnya kesyirikan benar-benar adalah kezhaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13)

    Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang menyekutukan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisaa’: 116).

    Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang kafir, yakni Ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke dalam neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (QS. Al-Bayyinah: 6)

    Memang dlm ayat diatas tidak disebut secara langsung Nasrani ato Yahudi, tapi yg diancamkan Neraka adalah orang2 kafirin (orang yg menolak kebenaran setelah datangnya kebenaran/Al Quran) dan musyrikin (orang yg menyekutukan/menduakan ALLAh SWT)

    Jadi maaf untuk yg beragama Nasrani yg masih menganggap bahwa Nabi Isa AS/Jesus itu anak ato bahkan Tuhan/ALLAH, kalian termasuk gol. Orang2 musyrikin

    Dan baik Nasrani ato Yahudi yg ngeyel akan kebenaran hal tersebut di atas yg bersumber dari Al Quran, kalian termasuk gol. Orang2 kafirin

    Tapi jika ada .. Baik Nasrani ato Yahudi yg tidak menyekutukan ALLAH SWT dan berpegang teguh pada kebenaran/Al Quran dan menjadikannya mizan dan pedoman hidup .. Maka insyaALLAH Kalian termasuk gol. Orang2 yg selamat

    Dan untuk mereka yg tinggal di kutub utara/selatan oleh karena Kuasa-NYA tidak sampai pada mereka kebenaran, maka hanya ALLAH SWT lah yg maha kuasa dan maha tahu apa yg terbaik bagi mereka

    Dan jika telah sampai kebenaran kepada mereka, karena beratnya menjalankan syariat Islam sebagai agama disana (katanya 6bln malam terus menerus dan 6bln siang terus menerus) jika mampu maka berhijrahlah ..

    Jika tiϑαk mampu, maka menjadi kewajiban sodaranya sesama muslim untuk membantunya berhijrah

    وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

  6. Artikelnya bagus sih tapi banyak diplintir-plintir, awalnya dibilang org yahudi, kristen, islam hanya satu golongan aja yg bisa masuk surga, lalu Al Baqarah: 62 dijelaskan bahwa org islam, kristen, yahudi, shabiin bisa masuk surga bila benar-benar beriman pd Allah (tdk harus masuk islam karna islam sendiri klo tdk beriman pd Allah dari 73 golongan hanya 1 golongan masuk surga), tapi kemudian dipelintir harus beriman pd rasulullah baru bisa masuk surga dgn mengutip Al Baqarah: 39 padahal disitu ditulis yg masuk neraka adalah org kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, tdk ada hubungannya beriman pd rasulullah. Lalu kata “Kami” itu siapa? Alloh. Klo Alloh knapa “Kami” (lebih dari satu ato jamak) dan bukan “Aku”. Yg masuk neraka itu org kafir dan mendustakan ayat-ayat Alloh, lalu yg dimaksud kafir itu siapa? org islam atau non islam? Penjelaskan berikutnya dikatakan bahwa Muhammad mengatakan seandainya Musa masih hidup, tdk memiliki keleluasaan kecuali mengikutinya. Berarti Muhammad hendak memosisikan diri sebagai Alloh karna menyuruh nabi-nabi mengikutinya seakan-akan Alloh telah salah memberikan ayat-ayat pd Musa dan Isa, apakah ini bukan “mendustakan ayat-ayat Alloh”. Terus terang jika saya disuruh “mengikuti jalan hidup Muhammad” agar masuk surga, saya bisa dicerai istri karna harus poligami, harus memusuhi non islam, harus jihad (boleh membunuh demi membela islam), dll. Masalahnya, bila saya melakukan itu semua, apa saya masuk surga. Coba renungkan dgn hari nurani dan jgn asal mengklaim.

  7. Sebelumnya saya berterima kasih kepada seorang yang menyebut dirinya Abdul Khohar, karena apresiasi Anda terhadap ajaran agama Islam, meskipun Anda beragama Kristen namun Anda tertarik untuk mempelajari agama Islam lebih dalam…

    Ada beberapa point yang akan saya kritisi,

    Perkataan Pak Abdul Khohar:

    “lalu Al Baqarah: 62 dijelaskan bahwa org islam, kristen, yahudi, shabiin bisa masuk surga bila benar-benar beriman pd Allah (tdk harus masuk islam karna islam sendiri klo tdk beriman pd Allah dari 73 golongan hanya 1 golongan masuk surga), tapi kemudian dipelintir harus beriman pd rasulullah baru bisa masuk surga dgn mengutip Al Baqarah: 39 padahal disitu ditulis yg masuk neraka adalah org kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, tdk ada hubungannya beriman pd rasulullah. Penjelaskan berikutnya dikatakan bahwa Muhammad mengatakan seandainya Musa masih hidup, tdk memiliki keleluasaan kecuali mengikutinya. Berarti Muhammad hendak memosisikan diri sebagai Alloh karna menyuruh nabi-nabi mengikutinya seakan-akan Alloh telah salah memberikan ayat-ayat pd Musa dan Isa, apakah ini bukan “mendustakan ayat-ayat Alloh”

    Komentar,

    Allah ta’ala berfirman:

    إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ

    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Nashrani dan Shabi’in, siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir dan berbuat kebajikan, maka mereka akan mendapatkan pahala di sisi Tuhan mereka.” [Al-Baqarah: 62]

    Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa siapa saja yang beriman pada Allah dan hari akhir maka ia akan mendapatkan balasan yang baik. Namun sekali lagi saya ingatkan, harus BERIMAN kepada Allah dan hari akhir. Diantara hal yang harus diimani, diyakini dan diamalkan adalah Al-Qur’an yang merupakan firman Allah. Kita wajib yakin dan beriman terhadap seluruh firman Allah dalam Al-Qur’an, tidak hanya mengimani sebagian ayat, lalu mendustakan ayat Al-Qur’an yang lain.

    Jika memang mereka beriman kepada Allah, wajib bagi mereka untuk merealisasikan hal-hal berikut,

    1. Masuk ke dalam Islam

    Karena Allah ta’ala berfirman:

    إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ

    “Sesungguhnya agama yang diterima di sisi Allah hanyalah Islam.” [Ali Imran :19]

    وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

    “Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima (oleh Allah). Dan kelak ia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” [Ali Imran : 85]

    Apakah orang Yahudi dan Kristen mengimani firman Allah di atas? Jawabnya, mereka tidak mau masuk Islam dan tidak mau beriman…

    2. Meyakini bahwa seluruh sesembahan atau tuhan selain Allah adalah batil. Juga meyakini bahwa Allah itu Maha Esa dan tidak mempunyai anak.

    Allah ta’ala berfirman:

    قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَد

    “Katakanlah : “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan tempat bergantung pada-Nya segala sesuatu. Dia tidak memiliki anak dan tidak pula dilahirkan (seperti makhluk –pen-).” [Al-Ikhlash : 1-3]

    لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيم

    “Sungguh telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah satu dari yang tiga (trinitas –pen). Tidak ada Tuhan yang (berhak disembah) kecuali Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak mau berhenti dari apa yang mereka kataan, niscaya orang-orang kafir diantara mereka akan mendapatkan azab yang pedih.” [Al-Maidah : 73]

    Apakah orang Kristen beriman kepada firman Allah di atas? Jawabnya, justru mereka meyakini Allah itu tiga, Allah Bapa, Yesus dan Roh Kudus. Sekali lagi apakah mereka dikatakan beriman dengan keyakinan rusaknya tersebut?

    3. Mengimani bahwa Nabi Muhammad adalah seorang nabi dan rasul (utusan) Allah, sebagaimana mereka juga beriman kepada Nabi Isa dan Musa ‘alaihimus shalatu wassalam.

    Allah ta’ala berfirman:

    وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ

    “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau terbunuh kalian akan berbalik ke belakang (murtad)?” [Ali Imran: 144]

    Allah ta’ala berfirman:

    مَا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِنْ رِجَالِكُمْ وَلَكِنْ رَسُولَ اللَّهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ

    “Muhammad bukanlah hanya sekedar ayah dari salah seorang kalian, namun ia adalah rasul (utusan) Allah dan penutup para nabi” [Al-Ahzab: 40]

    Bahkan dalam ayat Al-Qur’an yang lain, Allah menambah satu persyaratan lagi agar mereka mendapatkan balasan yang baik berupa surga. Allah ta’ala berfirman:

    وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَى مُحَمَّدٍ وَهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ

    “Orang-orang yang beriman, beramal shalih serta beriman dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad. Itulah kebenaran dari Tuhan mereka. Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka” [Muhammad: 2]

    Dalam ayat di atas, sangat jelas bahwa Allah lah yang memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk beriman dan mengikuti ajaran nabi Muhammad. Apakah Nabi Muhammad mendustakan ayat-ayat Allah sebagaimana tuduhan Anda??

    Perbedaan kami (kaum muslimin) dan kalian adalah keimanan kami kepada nabi Muhammad serta keimanan kami kepada seluruh nabi dan rasul Allah yang diutus sebelum beliau. Kami tidak hanya beriman kepada nabi Muhammad, namun juga beriman bahwa Musa, Isa, Daud, Sulaiman, Ibrahim, Ismail, Yusuf sebagai nabi dan rasul (utusan) Allah. Sementara kalian hanya beriman kepada Nabi Isa, namun tidak mau beriman kepada Muhammad !!

    Apakah orang Yahudi dan Kristen meyakini kenabian Muhammad? Jawabnya, boro-boro meyakini, bahkan sebaliknya mereka mendustakan dan melecehkan beliau dengan membuat berbagai film dan karikatur yang melecehkan Islam

    Apakah mereka dikatakan beriman kepada Allah??

    Adapun 72 golongan muslimin yang dimasukkan ke dalam neraka sebagaimana termaktub dalam hadits, mereka adalah orang-orang muslim yang tersesat dari jalan yang ditempuh oleh nabi Muhammad. Dalam artian pemahaman Islam mereka bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Sebagai contoh adalah kelompok sesat Khawarij, mereka salah dalam memahami permasalahan jihad, sehingga tindakan teror yang mereka lakukan, ngebom sana sini dianggap sebagai ajaran Islam !! Padahal Islam tidak pernah mengajarkan demikian.

    Ada lagi yang dinamakan kelompok Murji’ah, mereka meyakini bahwa iman seseorang cukuplah berada dalam hati, meskipun secara lahirnya ia berbuat kekufuran, melakukan tindakan keji berupa pembunuhan, perzinaan, perampokan, dll. Kelompok Murji’ah meyakini perbuatan tersebut tidak merusak keimanannya sama sekali karena iman itu hanya sebatas di hati !!

    Saya kira dua contoh kelompok sesat dalam Islam tersebut telah mencukupi. Meskipun mereka mengaku muslim, namun mereka menempuh jalan kesesatan dan menyimpang dari jalan Islam yang sesungguhnya.

    Adapun satu golongan yang selamat dari kesesatan, penyimpangan dan dimasukkan dalam surga sebagaimana juga disebutkan dalam hadits. Mereka dinamakan Ahlus-Sunnah wal Jama’ah yaitu orang-orang yang senantiasa mengikuti petunjuk nabi Muhammad dalam aqidah (keyakinan), ibadah, akhlak dan dalam seluruh aspek kehidupannya. Mereka selamat dari berbagai penyimpangan yang menimpa kelompok-kelompok sesat yang lain, pemahaman mereka tentang Islam lurus dan mereka tetap tegar di atas kebenaran hingga maut menjemput mereka. Semoga Allah menggolongkan kita termasuk dalam golongan ini, amin..

    Perkataan Abdul Khohar berikutnya:

    “Lalu kata “Kami” itu siapa? Alloh. Klo Alloh knapa “Kami” (lebih dari satu ato jamak) dan bukan “Aku”

    Komentar

    Barangkali Anda ingin menggiring pembaca untuk sampai pada kesimpulan Allah itu lebih dari satu (trinitas), karena dalam Al-Qur’an terkadang Allah menyebutkan diri-Nya dengan lafadz “Kami”. Sebagai contoh dalam firman Allah berikut:

    إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

    “Sesungguhnya Kami lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan Kami pula lah yang akan menjaganya” [Al-Hijr: 9]

    Dalam bahasa Arab kata “kami” tidak mesti bermakna jamak atau lebih dari satu. Terkadang juga dipakai untuk menunjukkan kemuliaan dan keagungan orang yang berkata. Cermatilah firman Allah berikut,

    وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

    “Perintahkanlah keluargamu untuk menegakkan shalat dan bersabarlah. Kami tidaklah meminta kepadamu rizki, bahkan Kami lah yang memberikan rizki kepadamu. Kesudahan (yang baik – pen) hanyalah bagi (orang-orang yang –pen) bertakwa” [Thaha: 132]

    Dalam ayat di atas, Allah menyebutkan diri-Nya dengan lafadz “Kami” karena Allah hendak mengingatkan nikmat yang telah Dia berikan kepada hamba-Nya berupa rizki yang tak terhitung, serta berkat kedermawanan dan kemuliaan Allah lah mereka masih mendapatkan rizki, sedangkan Dia tidak membutuhkan balasan apa pun dari hamba-Nya.

    Selain itu Allah juga sedang memerintahkan hamba-Nya untuk menegakkan shalat, suatu perintah yang datang dari Allah zat yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Jika seorang hamba telah mengetahui keagungan dan kemuliaan Allah, tentu ia akan bersegera untuk taat dan merealisasikan perintah-Nya.

    Berbeda dengan konteks firman Allah berikut,

    إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

    “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada tuhan selain Aku. Maka beribadahlah kepadaku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku” [Thaha: 14]

    Dalam ayat di atas, kenapa Allah tidak menggunakan kata “Kami” tatkala mensifati diri-Nya? Jawabnya, karena dalam ayat tersebut Allah sedang mengajarkan ajaran tauhid dan menanamkan keesaan Allah pada hamba-hamba-Nya.

    Penggunaan lafadz “Kami” dan “Aku” dalam tiap ayat Al-Qur’an memiliki rahasia dan hikmah yang agung.

    Perkataan Abdul Khohar berikutnya,

    “Yg masuk neraka itu org kafir dan mendustakan ayat-ayat Alloh,
    lalu yg dimaksud kafir itu siapa? org islam atau non islam?”

    Komentar,

    Siapapun yang mendustakan ayat-ayat Allah dalam Al-Qur’an, maka ia kafir dan terancam dengan kekekalan azab di neraka. Baik ia seorang yang asli beragama Yahudi, Kristen, Budha, maupun seorang yang tadinya muslim. Jika memang ada dari seorang muslim yang mendustakan ayat Allah, maka ia telah murtad (keluar) dari Islam dan terjerumus dalam kekafiran.

    Allah ta’ala berfirman:

    وَأَمَّا الَّذِينَ كَفَرُوا وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَلِقَاءِ الْآخِرَةِ فَأُولَئِكَ فِي الْعَذَابِ مُحْضَرُونَ

    “Adapun orang-orang yang kafir lagi mendustakan ayat-ayat Kami dan mendustakan hari akhirat, mereka akan tetap berada dalam azab” [Ar-Ruum: 16]

    فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَّبَ بِآيَاتِ اللَّهِ وَصَدَفَ عَنْهَا سَنَجْزِي الَّذِينَ يَصْدِفُونَ عَنْ آيَاتِنَا سُوءَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يَصْدِفُونَ

    “Maka siapakah yang lebih zalim dari orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling dari-Nya. Kelak Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan siksa yang buruk, disebabkan mereka selalu berpaling.” [Al-An’am: 157]

    Saya akan sedikit mengulangi pembahasan sebelumnya, lihatlah dalam ayat di atas, Allah menggunakan lafadz “Kami” untuk menunjukkan keagungan dan kekuasaan-Nya. Dia Maha Kuasa untuk menimpakan azab kepada orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya

    yahdikumullah wayushlihu baalakum

  8. Perkataan Anda berikutnya:

    “Terus terang jika saya disuruh “mengikuti jalan hidup Muhammad” agar masuk surga, saya bisa dicerai istri karna harus poligami”

    Komentar,

    Islam memang membolehkan seorang laki-laki menikahi lebih dari satu istri (poligami), namun hal itu bukanlah sebuah keharusan !!

    Poligami adalah solusi yang tepat dalam beberapa keadaan, diantaranya:

    1. Setelah menikah ternyata baru diketahu bahwa sang istri mandul dan tidak dapat memberikan keturunan, sedangkan buah hati adalah dambaan setiap keluarga. Apakah Anda tega menceraikan dan meninggalkannya lalu menikahi wanita lain? Jika demikian, betapa malangnya nasib para wanita yang mandul…

    2. Terdapat tipe suami yang memiliki nafsu birahi yang melebihi laki-laki pada umumnya. Meskipun sang istri telah memberikan segala daya dan kemampuannya, tetap saja sang suami belum terpuaskan. Kesalahannya bukan terletak pada istri, namun karena “kelebihan” sang suami. Bagaimana solusinya? Apakah Anda menganjurkan agar sang suami selingkuh??

    Sekali lagi saya tegaskan bahwa berpoligami bukanlah sebuah keharusan dalam Islam. Bahkan ketika seorang suami melakukan poligami, namun ia tidak berbuat adil terhadap istri-istrinya, maka ia terjatuh dalam perbuatan zalim yang tidak dibenarkan dalam Islam.

    Allah ta’ala berfirman:

    فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلَّا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً

    “Silahkan kalian menikahi dua, tiga atau empat wanita yang kalian sukai. Namun jika kalian khawatir tidak dapat berbuat adil terhadap mereka, maka (nikahilah) satu saja..” [An-Nisaa’: 3]

    Allah ta’ala juga berfirman:

    وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

    “Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat zalim” [Ali Imraan: 140]

    Perkataan Anda berikutnya,

    “harus memusuhi non islam”

    Komentar,

    Allah ta’ala berfirman:

    لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

    “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” [Al-Mumtahanah: 8]

    Apakah dalam ayat di atas, Islam mengajarkan pemeluknya untuk memusuhi non Islam? Ataukah Islam merupakan agama yang mengajarkan keadilan, bahkan terdapat anjuran berbuat adil kepada orang-orang non Islam yang tidak memerangi kaum muslimin?

    Allah ta’ala juga berfirman:

    وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

    “Janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” [Al-Ma’idah: 8]

    Renungkanlah ayat di atas, kepada musuh atau orang yang dibenci pun, Allah tetap memerintahkan hamba-Nya untuk tetap berbuat adil. Allah juga mengingatkan kembali kepada hamba-hamba-Nya yang tidak berbuat adil agar mereka bertakwa.

    Adapun tindakan sebagian oknum muslim yang berbuat curang maupun zalim, maka itu kembali kepada kecerobohan dirinya. Kelak ia akan menanggung akibat perbuatannya karena menyelisihi perintah Allah dan menyelisihi ajaran Islam.

    Namun demikian, bukan berarti juga kita diam saja tatkala ada musuh Islam yang melakukan peperangan dan pembantaian terhadap kaum muslimin. Allah ta’ala dengan hikmah-Nya yang agung memperbolehkan kita untuk membalas perlakuan keji mereka tanpa melampui batas dalam membalas.

    Allah ta’ala berfirman:

    وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ

    “Perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, namun janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” [Al-Baqarah: 190]

    Masihkah Anda tetap menuduh Islam mengajarkan permusuhan terhadap non Islam?

    Perkataan Anda berikutnya:

    “Masalahnya, bila saya melakukan itu semua, apa saya masuk surga. Coba renungkan dgn hari nurani dan jgn asal mengklaim”

    Komentar,

    Jika Anda beriman kepada Allah, masuk ke dalam Islam, beriman kepada seluruh nabi dan rasul termasuk Muhammad, meninggalkan peribadahan kepada selain Allah, meyakini keesaan Allah, meninggalkan aqidah “trinitas”, berlaku adil dalam berucap dan beramal, tidak pula melakukan tuduhan dusta terhadap agama Islam, melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya sebagai konsekuensi dari keimanan Anda, maka Insya Allah Anda masuk surga..

    Semoga Allah memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada saya, Anda dan seluruh kaum muslimin… amin

  9. Bagaimana muslim dapat masuk pintu surga, sedangkan nabi Muhammad terkunci dalam kuburan Medinah.
    Kalau nabi aja terkunci dalam kuburan Medinah, berarti muslim berada disamiping kuburan nabinya.

    Ini jelas karena dimana Muhammad berada disana ada umatnya.
    kan fakta.

  10. Kami orang muslim hanya bisa bilang, “Bagimu agamamu, bagiku agamaku”. . . .jangan menjelek-jelekkan agama lain. Walaupun berdebat selama mungkin ini tak akan berhasil karena kita, kau, aku, kalian akan tetap ngotot dengan pendirian agama masing masing. . .kembali pada diri masing-masing. . Aku Islam, terus kalian para non-islam mau apa?. Kenapa kalian sewot sendiri. . .kalian jangan seperti negara amerika(penghasut).

  11. kalo menurut saya biarkan saja si bujank atau si taun tersebut bicara sesuka dia nanti aja setelah malaikat izrail datang merenggut nyawanya baru dia rasakan akibat yang telah diperbuat selama didunia yang singkat ini….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: