Kita dan Ahlus Sunnah Iran (sebuah kisah yang perlu kita renungi!)

Oleh: Ma’ruf Khoirul Musthofa [1]

“Jangan lupa doakan kami!” pesan salah seorang saudara kita Ahlus Sunnah dari Iran.

Sore itu di masjid Nabawi, saya datang agak cepat karena setelah shalat Ashar akan ada pelajaran baru Syaikh Abdur Razzaq Al-Badr hafidhahullah. Tapi begitu saya tiba, ada seorang ikhwah dari Tajakistan mengabarkan bahwa pelajaran beliau baru dimulai beberapa hari ke depan. Thayyib, mendengar hal itu maka kami melanjutkan rutinitas kami sebagai penuntut ilmu.

Setelah saya duduk di salah satu sudut masjid Nabi, tiba-tiba datang sebuah rombongan dari Iran. Tapi sepertinya mereka bukan jama’ah umrah seperti biasanya. Pakaian mereka mirip orang Pakistan, gamis panjang dan sirwal di atas mata kaki. Sebagian mereka memelihara jenggot. Tapi ada satu orang di antara mereka yang penampilannya mirip jama’ah Iran yang lainya, memakai kemeja dan celana biasa.

Tidak lama kemudian, datang salah satu ikhwah dari Al-Jazair menghampiri saya. Dengan nada mengingkari dia mengatakan,”Le tajlis ma’ar rowaafidhil khubatsaa?” (Mengapa kamu duduk bersama orang-orang Rofidhoh yang jelek ini?)

Maka saya jawab, “Kuntu jaalisan huna wa haaulai jaauu qobl qoliil.” (Dari tadi saya sudah duduk di sini, sedangkan mereka barusan datang)

Kemudian ikhwah tadi pun pergi meninggalkan saya.

Kita kembali ke kisah jama’ah dari Iran tadi. Mereka sedang sibuk membaca Al-Qur’an. Datanglah seorang pemuda dari Pakistan menghampiri mereka. Setelah mengucapkan salam dan saling berjabat tangan, mereka bercakap-cakap. Tapi saya tidak faham satu patah katapun. Kenapa? Karena mereka berbicara menggunakan bahasa Persia. Hmm…

Kemudian saya menyapa ikhwah Pakistan itu dengan bahasa Arab. Dia mengatakan bahwa mereka adalah Sunny. Dengan bangga saya ucapkan salam kepada mereka. Saya senang ternyata di Iran masih ada saudara-saudara kita Ahlus Sunnah.

Melihat wajah saya yang begitu gembira, tiba-tiba salah seorang pemuda di antara mereka yang sedari tadi berada di dekat saya angkat bicara, “Min Maaliziya?” (Dari malaysia?) sapanya.

Oh, alangkah kagetnya saya. Ternyata dia bisa bahasa Arab..!! Dia adalah seorang pemuda Persia yang tampan, dengan jenggot tipis yang baru tumbuh. Maka saya katakan bahwa saya berasal dari Indonesia. Dia pun mulai memperkenalkan dirinya. Namanya Uwais Mujahid.

Kemudian saya tanyakan tentang bagaimana keadaan saudara-saudara kita Ahlus Sunnah di Iran. Alangkah sedihnya hati saya mendengar penuturannya.

Dia mengatakan, “Mereka (pemerintah Iran) membunuh orang-orang yang hanya menyembah kepada Allah saja. Orang-orang yang hanya berdoa kepada Allah saja, yang tidak mau menjadikan kuburan-kuburan sebagai perantara dalam berdoa, mereka bunuh dengan alasan bahwa mereka adalah Wahhabi.”

Allahu akbar! Begitu kejamnya mereka. Saya jadi teringat perkataan Abu Bakr radhiallahu ‘anhu ketika mencegah seorang musyrik yang berusaha membunuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang melaksanakan shalat di Hijr Ka’bah. Abu Bakr radhiallahu ‘anhu mengatakan:

ﺃﺗﻘﺘﻠﻮﻥ ﺭﺟﻼ ﻗﺎﻝ ﺭﺑﻲ ﺍﻟﻠﻪ

“Apakah kalian ingin membunuh seorang laki-laki yang mengatakan bahwa Rabbku adalah Allah?”

Pemerintah Iran tidak hanya membunuh jiwa-jiwa Ahlus Sunnah di sana, tapi juga membunuh aqidah mereka. Tidak ada satu pun masjid Ahlus Sunnah yang berdiri, kecuali mereka robohkan. Ulama Ahlus Sunnah mereka bantai, wanitanya mereka nodai. Hanya kepada Allah lah kita mengeluhkan semua ini.

Tapi, ada satu hal yang membuat saya tersenyum lega, ternyata di Iran masih ada markiz Ahlus Sunnah, tepatnya di suatu daerah yang Uwais sebutkan. Saya kurang faham karena namanya merupakan bahasa Persia sehingga sulit dicerna. Nama markiz itu adalah Darul Hadits Al-Imam Bukhary. Dari situlah Uwais dan teman-temannya menimba ilmu, meskipun mereka dihantui rasa takut karena berada di bawah intimidasi pemerintah Iran yang berfaham Syiah Rafidhah. Uwais begitu merindukan ketenangan dalam menuntut ilmu. Untuk bisa belajar ke Saudi saja, mereka harus mengganti kewarganegaraan menjadi Pakistan.

Maka ambillah pelajaran, wahai ikhwati fillah! Gunakanlah nikmat keamanan yang ada di negeri kita untuk bersemangat dalam menuntut ilmu!

Apakah kalian tidak malu dengan orang-orang semisal Uwais ini? Di tengah ancaman penguasa yang dhalim dia masih semangat menuntut ilmu! Lalu bagaimana dengan kita? Pemerintah kita memberikan kebebasan, tapi malah hari-hari kita disibukkan dengan fitnah-fitnah! Kalau bicara soal fitnah seolah-olah dia jagonya. Seakan-akan dia adalah seorang Imam Ahmad di zamannya. Tapi kalau bicara soal aqidah atau fiqh, dia tak ada apa-apanya!

Ditanya tentang syarat Laa ilaha illallah saja masih keteteran, rukun shalat juga tidak hafal. Tapi kalau bicara bahwa ustadz fulan demikian, si fulan demikian, seolah-olah ada air yang mengalir dari mulutnya, padahal dia hanyalah seorang Ruwaibidhah [2] yang tidak pantas untuk berbicara dalam hal-hal semacam ini. Cukuplah asatidzah kita yang memang berilmu untuk membicarakannya, atau para ulama yang berbicara.

Sedangkan kita? Siapa kita? Belajar saja baru kemarin sore! Kita diam dan menjauh dari fitnah itu lebih baik daripada ikut larut di dalamnya tanpa ada pijakan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﺴَّﻌِﻴْﺪَ ﻟَﻤَﻦْ ﺟُﻨِّﺐَ ﺍﻟْﻔِﺘَﻦَ

“Sesungguhnya orang yang bahagia itu adalah orang yang benar-benar dijauhkan dari fitnah-fitnah.” (Hadits riwayat Abu Dawud dan dishahihkan oleh Syaikh Al Albany rahimahullah)

Hukum asal dari fitnah itu adalah dijauhi, bukan didekati.

Kita kembali ke kisah Uwais. Di akhir percakapan kami, ia berpesan agar jangan lupa mendoakan saudara-saudara kita Ahlus Sunnah di Iran agar mereka segera mendapatkan pertolongan Allah ta’ala. Dia berkata, “Doakan kami dalam sholat-sholat kalian. Sampaikan kepada keluargamu dan teman-temanmu untuk mendoakan kami.”

Tak lama setelah itu, berkumandanglah adzan Maghrib di masjid Nabawi yang mengakhiri pembicaraan kami.

Semoga Allah menolong Uwais dan teman-temannya, menolong Ahlus Sunnah di Iran dan ahlus sunnah di seluruh negeri. Amiin ya rabbal ‘alamin.

———————————–
[1] Beliau adalah salah seorang thuwailibul ‘ilm di Madinah, Arab Saudi.

[2] Tentang Ruwaibidhah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ﺇﻧﻬﺎ ﺳﺘﺄﺗﻲ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺳﻨﻮﻥ‎ ‎ﺧﺪﺍﻋﺔ ﻳﺼﺪﻕ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﻜﺎﺫﺏ‎ ‎ﻭﻳﻜﺬﺏ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﺼﺎﺩﻕ ﻭﻳﺆﺗﻤﻦ‎ ‎ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﺨﺎﺋﻦ ﻭﻳﺨﻮﻥ ﻓﻴﻬﺎ‎ ‎ﺍﻷﻣﻴﻦ ﻭﻳﻨﻄﻖ ﻓﻴﻬﺎ ﺍﻟﺮﻭﻳﺒﻀﺔ‎ ‎ﻗﻴﻞ ﻭﻣﺎ ﺍﻟﺮﻭﻳﺒﻀﺔ ﻗﺎﻝ ﺍﻟﺴﻔﻴﻪ‎ ‎ﻳﺘﻜﻠﻢ ﻓﻲ ﺃﻣﺮ ﺍﻟﻌﺎﻣﺔ.

“Sesungguhnya akan datang kepada manusia masa-masa penuh dengan kepalsuan. Pada masa itu pendusta dibenarkan, dan orang yang jujur didustakan. Pengkhianat diberi amanah, dan orang yang amanah dianggap pengkhianat. Dan pada masa itu para Ruwaibidhah berbicara.” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Apa itu Ruwaibidhah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Orang bodoh berbicara tentang urusan besar.” (Hadits riwayat Al Imam Ahmad dan Ibnu Majah dari Anas radhiallahu ‘anhu dan Abu Ya’la dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Sumber: Media Sunni

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 23/08/2012, in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: