Adab Tidur yang Islami

Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam sudah seharusnya kita perhatikan. Bila kita mengikuti bimbingan adab beliau, maka segala aktivitas kita akan dinilai ibadah. Termasuk dalam tidur. Siapakah yang tidak menginginkan nikmatnya tidur dibalas dengan nikmat pahala? Bukankah ini berarti mendapat nikmat dunia dan akhirat? Ya, bila kita melaksanakan ajaran Islam, kita akan dapati kedua nikmat ini, insya Allah. Nah bagaimana kita bisa memperoleh pahala dalam tidur kita?

1. Menutup pintu, jendela, memadamkan api, dan menutup bejana-bejana sebelum tidur

Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda yang artinya,

“Padamkanlah lampu di malam hari apabila kamu hendak tidur. Tutuplah pintu, tutuplah rapat-rapa bejana, dan tutuplah makanan serta minuman.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

2. Berwudhu

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam menganjurkan kita untuk berwudhu sebelum tidur. Sebagaimana hadits beliau yang artinya,

“Apabila engkau hendak mendatangi pembaringan (tidur), maka hendaklah berwudhu terlebih dahulu sebagaimana wudhumu untuk melakukan shalat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

3. Mengibas tempat tidur

Sebelum tidur, hendaknya kita mengibas tempat tidur. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yang artinya,

“Jika salah seorang di antara kalian akan tidur, hendaklah mengambil kain dan mengibaskan tempat tidurnya dengan kain tersebut sambil mengucapkan: Bismillah. Karena ia tidak tahu apa yang terjadi sepeninggalnya tadi.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

4. Posisikan tubuh miring di atas sisi tubuh sebelah kanan, dan telapak tangan kanan di bawah pipi kanan

Ini dilakukan pada saat hendak tidur. Adapun dalam keadaan tidur ternyata kita berubah posisi, maka ini tidak mengapa. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yang artinya,

“Berbaringlah di atas rusuk sebelah kananmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Jangan lupa pula untuk meletakkan pipi di atas tangan sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam melakukannya.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam apabila tidur meletakkan telapak tangan kanannya di bawah pipinya.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah)

5. Membaca ayat kursi dan dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah

Disunnahkan pula membaca surat Al-Ikhlas dan Al-Mu’awwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas), karena banyaknya hadits-hadits shahih yang menganjurkan hal tersebut. Membaca pula doa dan dzikir yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam seperti:

ALLAHUMMA QINII ‘ADZAABAKA YAUMA TAB’ATSU ‘IBAADAK

“Ya Allah, lindungilah aku dari azab-Mu pada hari Engkau membangkitkan kembali segenap hamba-Mu.” (HR. Abu Dawud dari Ummul Mukminin Hafshah radhiyallahu ‘anha, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’)

Atau membaca:

BISMIKALLAHUMMA AMUUTU WA AHYAA

“Dengan menyebut nama-Mu, ya Allah, aku mati dan aku hidup.”

Setelah bangun tidur membaca:

ALHAMDULILLAHILLADZII AHYAANAA BA’DAMAA AMAATANAA WA ILAIHIN NUSYUUR

“Segala puji milik Allah yang telah menghidupkan setelah mematikan kami, dan kepada-Nyalah dikumpulkan.” (HR. Al-Bukhari)

6. Berdoa ketika bermimpi buruk

Terkadang dalam tidur, kita mendapati mimpi yang buruk yang membuat gelisah dan bimbang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam telah mengajarkan kepada kita doa untuk mengusir perasaan buruk tersebut. Doanya adalah:

A’UUDZU BIKALIMAATILLAHIT TAMMATI MIN GHOZHOBIHI WA SYARRI ‘IBAADIHI WA MIN HAMAZAATISY SYAYAATHIINI WA AN YAHZHURUUN

“Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang maha sempurna dari murka-Nya, siksa-Nya, dari kejahatan hamba-hamba-Nya, dari godaan syaithan, dan dari kedatangan mereka.” (HR. Abu Dawud dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani rahimahullah)

Kemudian hendaknya meludah ringan ke kiri tiga kali (meniup dengan sedikit ludah), dan memohon perlindungan kepada Allah dari syaithan dan keburukan mimpi yang dilihat. Selanjutnya, pindahlah posisi tidur ke sisi selainnya atau bangun dan shalat bila mau. (HR. Muslim). Selain itu, janganlah ia menceritakan mimpi buruk pada siapa pun.

7. Tidak boleh telanjang

Pada saat tidur, kita tidak diperbolehkan telanjang. Berdasarkan hadits yang artinya,

“Tidak diperbolehkan tidur hanya dengan memakai selimut, tanpa memakai busana apa-apa.” (HR. Muslim)

8. Sesama jenis dilarang tidur satu selimut

Hadits yang menyebutkan pelarangannya adalah sebagai berikut,

“Tidak diperbolehkan bagi laki-laki tidur berdua (begitu juga wanita) dalam satu selimut.” (HR. Muslim)

9. Cara tidur yang makruh: telentang dan tengkurap

Adapun dalil makruhnya tidur tengkurap, hal itu sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkisah, “Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam pernah lewat ketika aku sedang tiduran tengkurap. Maka Nabi membangunkanku dengan kaki beliau sambil bersabda yang artinya,

“Wahai Junaidab (panggilan Abu Dzar), sesungguhnya berbaring seperti ini (tengkurap) adalah cara berbaringnya penghuni neraka.” (HR. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah)

Dalam riwayat yang lain disebutkan bahwa ini adalah tidurnya orang yang dibenci dan dimurkai oleh Allah. Adapun dimakruhkannya tidur telentang, ditunjukkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam yang artinya,

“Janganlah salah seorang di antara kalian tidur telentang, kemudian meletakkan salah satu kakinya di atas kaki yang lain.” (HR. Muslim)

Jadi, tidur yang dianjurkan adalah dengan posisi miring ke kanan sebagaimana yang telah disebutkan.

10. Makruh tidur di atas atap yang terbuka (loteng)

Nabi shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda yang artinya,

“Barangsiapa yang tidur malam di atas atap rumah yang tidak ada penutupnya, maka hilanglah jaminan darinya.” (HR. Al-Bukhari di dalam Al Adab Al Mufrad dan dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani rahimahullah)

Demikianlah beberapa adab yang mesti kita lakukan sebelum tidur. Semoga Allah memudahkan kita untuk melaksanakannya. Amin.

Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 17 vol. 02 1433 H – 2012 M, hal. 47-50, penulis: Hammam.

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 07/09/2012, in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: