Antara Memakan Makanan Haram dan Berobat dengan Barang Haram

Oleh: Asy-Syaikh al-Utsaimin rahimahullah

Tanya: Bagaimanakah ketentuan bolehnya melakukan sesuatu yang haram dengan tujuan menjaga diri tetap hidup, sedangkan hal yang haram tadi bertentamgan dengan perkara pokok yang lebih utama dari jiwa, yaitu agama. Misalnya, disyariatkan memakan bangkai untuk orang yang khawatir akan mati (karena sangat lapar dan tidak ada makanan -pent.).

Sedangkan pada hal lain, diharamkan (mengobati dengan) minum bisa beracun, demikian pula melepas sihir dengan sihir, juga melakukan pencangkokan organ tubuh -menurut pendapat anda-, padahal perolehan manfaat dari semua hal ini lebih mendekati dugaan yang kuat?

Jawab:

Perbedaannya adalah bahwa memakan bangkai untuk orang yang terdesak dipastikan dapat menghilangkan keterdesakannya. Dan keadaan terdesak orang itu sendiri pun dapat dipastikan.

Pertama, keadaan terdesak menyebabknnya harus memakan bangkai. Kalau tidak ia makan, ia pasti akan mati.

Kedua, dengan memakan bangkai tersebut, dipastikan keadaan terdesaknya akan hilang.

Sedangkan pada kondisi selain ini, kepastian tersebut tidak ada. Orang tersebut tidak pasti berada dalam keadaan benar-benar terdesak (untuk melakukan hal yang haram -pent.), atau hal yang haram itu tidak pasti dapat menghilangkan keadaannya yang terdesak.

Misalnya kita umpakan hal ini dengan minum khamar. Seorang dokter berkata, “Anda tidak dapat sembuh kecuali hanya dengan minum khamr.” Kami katakan, “Minum khamr tidak diperbolehkan. Pertama, karena orang itu tidak benar-benar terdesak untuk minum khamr, karena orang sakit kadangkala bisa sembuh tanpa obat. Kedua, karena kami tidak yakin penyakit tersebut benar-benar bisa sembuh dengan minum khamr. Sebab terkadang obat yang mujarab pun tidak bermanfaat apa-apa. Ini bisa dibuktikan oleh siapapun. Berbeda halnya dengan memakan bangkai untuk orang yang berada dalam keadaan darurat.

Oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa manakala seseorang tersedak makanan (sehingga tidak bisa bernafas -red) dan ia tidak memiliki apapun kecuali segelas khamr, maka tidak apa-apa ia meminum khamr tersebut untuk sekedar mendorong makanan di kerongkongannya kemudian ia berwudhu. Hal ini dikarenakan kita yakin dengan keadaan yang mengharuskan orang itu minum khamr. Kedua, kita yakin keadaan darurat tersebut akan hilang dengan meminum khamr.

(Disadur oleh Tim Naskah dari Irsyaadaat Lith Thabiib al-Muslim)

Sumber: Majalah Jurnal Asy Syifa edisi 04/1433/2012, hal. 49-50.

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 14/09/2012, in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: