Masalah Bekam yang Paling Banyak Ditanyakan

Oleh: dr. Abu Hana El-Firdan

Berikut ini adalah pertanyaan masalah hijamah (bekam) yang sering muncul dan mengganjal, terutama bagi mereka yang “pertama kali” melakukan hijamah.

Diantaranya adalah sebagai berikut:

Soal 1. Apa persiapan khusus sebelum hijamah? Haruskah puasa dulu?

Jawab: Tidak ada persiapan khusus jika anda ingin dihijamah, artinya kapan saja tidak menjadi masalah. Akan tetapi untuk mengurangi efek samping lemas/mual maka disarankan anda makan 3-4 jam sebelum dihijamah, karena jika perut anda kosong (puasa) terkadang menyebabkan pusing/lemas.

Sebaliknya apabila anda dalam kondisi perut penuh makanan atau hanya berselang 1 jam setelah makan kemudian anda dihijamah maka beberapa pasien mengeluh mual atau muntah.

Hindari pula untuk berjima’ sebelum hijamah dan apalagi sesudahnya karena akan mengurus banyak energi.

Soal 2. Saya sedang hamil, bolehkah dibekam? Bagaimana ketika haidh/menyusui?

Jawab: Boleh asalkan kondisi umumnya baik. Sebelum dihijamah harus diperiksa dulu tekanan darah dan keadaan umum lainnya, jika normal maka tidak ada masalah. Yang perlu diperhatikan adalah menghindari pembekaman di daerah perut dan pinggang.

Untuk ibu menyusui, wanita haidh dan menstruasi juga diperbolehkan berbekam asal kondisi umumnya cukup baik.

Soal 3. Orang tua saya sudah “sepuh” apa juga boleh dibekam? Bagaimana dengan anak kecil?

Jawab: Orang yang sudah lanjut usia dan anak kecil (di atas 4 tahun) tidak mengapa dihijamah asalkan dilakukan secara bertahap. Tidak ada batasan umur maksimal untuk dihijamah, selama kondisinya tidak lemah maka boleh dihijamah.

Lakukan hijamah dengan sayatan tipis, menggunakan jumlah kop yang sedikit serta kekuatan pompa yang minimal. Jumlah titik hijamah sebaiknya tidak melebihi 7 titik untuk sekali hijamah.

Bagi anak kecil juga boleh dihijamah asalkan anaknya kooperatif (bisa diam) dan hijamah dilakukan hanya pada titik pokoknya saja, maksimal 5 titik.

Soal 4. Kondisi apa yang merupakan “pantangan” (kontraindikasi) bekam?

Jawab: Ada kontraindikasi yang bersifat absolut dan ada yang bersifat relatif.

Kontraindikasi absolut, adalah kondisi/kelainan penyakit tertentu yang dilarang mutlak untuk dihijamah, diantaranya adalah:

• Pasien yang berumur di bawah 4 tahun

• Pasien yang sedang mengonsumsi obat pengencer darah

• Pasien yang mengalami gangguan sistem pembekuan darah yang berat

• Koma (tidak sadar)

• Dehidrasi (kekurangan cairan) berat

• Renjatan/syok

• Pasien yang baru menjalani transfusi darah

• Donor darah atau cuci darah (kurang dari 48 jam dari waktu bekam)

• Penderita jantung yang menggunakan alat bantu pengatur detak jantung.

Kontqaindikasi relatif, adalah kondisi/kelainan penyakit tertentu yang disarankan untuk tidak melakukan hijamah terkecuali dilakukan oleh ahli hijamah profesional yang sudah berpengalaman, diantaranya adalah:

• Pasien anemia (kadar hemoglobin < 8 gr/dl)

• Pasien diabetes ketika hasil tes kadar gula darah nilainya lebih dari 300

• Pasien tumor/kanker (tepat pada bagian yang terkena kankernya)

• Hipertensi dengan systole lebih dari 200 mmhg

• Penderita gagal jantung (decomp. Cordis) yang berat

• Pasien kesurupan (terkena sihir/gangguan jin)

• Penderita phobia berat terhadap peralatan medis

• Wanita hamil, haidh, nifas atau menyusui dengan kondisi lemah.

Soal 5. Apakah harus memilih hari tertentu dan tanggal tertentu (tanggal 17, 19 dan 21) agar lebih utama dilakukan bekam?

Jawab: Tidak, karena hadits mengenai keutamaan hari dan tanggal tertentu untuk berbekam adalah hadits dhaif (lemah) sehingga tidak bisa dijadikan dalil.

Begitu juga larangan membekam pada hari tertentu (Rabu, Jum’at, Sabtu) juga tidak memiliki dasar yang kuat.

Beberapa orang menyandarkan “waktu utama berbekam” kepada ucapannya Ibnu Sina (Avicenna) yang menganggap bahwa ketika melewati pertengahan bulan qomariyyah kondisi laut mengalami pasang sehingga berakibat kondisi darah pada manusia pun menjadi bergejolak dan membutuhkan pengeluaran darah melalui hijamah.

Wallaahu a’lam, sebatatas yang kami ketahui, pendapat yang shahih adalah kapan pun anda merasa badan kurang fit dan butuh untuk berbekam maka segeralah untuk hijamah sebagaimana kebiasaannya Imam Ahmad rahimahullah.

Soal 6. Apakah ada perbedaan dibekam pada waktu pagi, siang, sore atau malam hari?

Jawab: Sebenarnya tidak ada perbedaan yang mencolok, kapan saja bisa dilakukan bekam. Hanya saja jika dilakukan pada saat sinar matahari terik (tengah hari) lebih memudahkan untuk mengeluarkan darah.

Soal 7. Berapa kali sebaiknya saya melakukan hijamah ini?

Jawab: Semua tergantung dari tujuan hijamah, kondisi tubuh serta penyakit yang diderita. Jika hijamah dilakukan untuk tujuan “pencegahan” maka perlu dilakukan setiap 3 bulan sekali (4 kali setahun). Adapun untuk pengobatan bisa dilakukan setiap 1-2 minggu sekali tergantung jenis dan perkembangan penyakitnya.

Jika penyakitnya ringan, biasanya hijamah cukup dilakukan 1-3 kali saja.

Baarokallaahu fiikum.

Sumber: Majalah Jurnal Asy-Syifa’ edisi 04/1433/2012, hal. 59-62.

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 18/09/2012, in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: