Fatwa Ulama Seputar Film yang Menghina Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam

Oleh: Asy Syaikh Shalih Al Fauzan hafidhahullah

Pertanyaan: Fadhilatusy Syaikh, semoga Allah memberi taufiq kepada Anda. Pertanyaan yang masuk banyak sekali. Di antaranya ada yang bertanya tentang bimbingan Anda bagi para penuntut ilmu dan juga selain mereka tentang apa yang terjadi akhir-akhir ini berkaitan dengan film yang menghina Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Apa bimbingan Anda dalam hal ini?

Jawaban:

Bimbingan kami dalam hal ini adalah: hendaknya kita tetap tenang dan tidak mengingkari hal ini dengan cara-cara seperti demonstrasi, mendhalimi orang-orang yang tidak memiliki keterkaitan dengan hal ini, atau merusak harta benda. Ini adalah cara-cara yang tidak diperbolehkan. Yang wajib untuk membantah mereka adalah para ulama, bukan orang awam! Para ulamalah yang berhak membantah dalam perkara-perkara ini. Hendaknya kita senantiasa tenang.

Orang-orang kafir itu ingin mengganggu kita serta memancing amarah kita. Ini yang mereka inginkan. Mereka juga ingin agar kita saling membunuh. Aparat keamanan berusaha menghalang-halangi, sedangkan yang lain (para demonstran muslim) berusaha menyerang, sehingga terjadilah pemukulan, pembunuhan, dan banyak yang terluka. Mereka menginginkan hal ini. Hendaknya kita senantiasa tenang, hendaknya kita senantiasa tenang. Yang berhak untuk membantah mereka adalah orang-orang yang memiliki ilmu dan bashirah, atau hendaknya mereka tidak perlu dibantah.

Orang-orang yang membantah mereka juga tidak boleh disamaratakan. Dahulu orang-orang musyrik berkata terhadap Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Penyihir…dukun…tukang bohong…,” dan sebagainya, dan Allah memerintahkan RasulNya untuk bersabar. Kaum muslimin ketika itu tidak melakukan demonstrasi di Mekkah, tidak menghancurkan sedikit pun dari rumah-rumah kaum musyrikin, juga tidak membunuh seorang pun. Sabar dan tenang, sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan adanya jalan keluar bagi kaum muslimin.

Yang wajib dilakukan adalah tenang, khususnya di hari-hari ini, di saat munculnya banyak fitnah dan kejelekan di negeri-negeri kaum muslimin. Wajib untuk tenang dan tidak tergesa-gesa dalam masalah-masalah ini.

Orang-orang awam tidaklah pantas untuk menghadapinya. Mereka bodoh, tidak memahami hakikat masalah. Tidak boleh menghadapi masalah ini kecuali orang yang memiliki ilmu dan bashirah. Na’am.

Sumber: klik di sini

Catatan: Fatwa tersebut termasuk dalam rangkaian tanya jawab pada kajian Shifatush Shalat dari kitab ‘Umdatul Fiqh oleh Syaikh Al Fauzan hafidhahullah ba’da Maghrib di Masjid Jami’ Mut’ib bin Abdul Aziz, Malaz, Riyadh, Arab Saudi pada hari Sabtu, 28 Syawal 1433 H (15 September 2012).

Sumber: http://media-sunni.blogspot.com/2012/09/fatwa-seputar-film-yang-menghina-nabi.html

* * *

Renungan: Perlukah Rasulullah Dibela??

Ada yg berkata begini:
Apakah ketika Pemimpin spiritual dihina ia jadi terhina? Tidak. Apakah ketika Agama dihina ia jadi terhina? Tidak. Apakah ketika Tuhan dihina Ia jadi terhina? Tidak. Lantas untuk apa marah? Biarkan saja mereka membuat lelucon yang sangat menjijikkan itu, toh hanya itu yang bisa mereka lakukan setelah banyak sekali cara dipakai. Tetaplah tenang dan tersenyum, sebab mereka ingin kita tersulut dan marah. Kemudian, kepada kemarahan kita yang berupa api itu, mereka akan menambahkan bahan bakar, kemudian mereka akan katakan “Nah, betulkan? Mereka memang teroris!” -Tetaplah menjadi kasih sayang bagi semesta, meskipun ketika mereka menawarkan benci…

Saya jawab begini:
Apakah ketika Orang tua kita dihina ia jadi terhina? Tidak.
Apakah ketika Ibu kita dibilang pelacur ia jadi Pelacur? Tidak.
Apakah ketika Bapak kita dikatakan pencuri Ia jadi Pencuri? Tidak.
Lantas untuk apa kita marah?
Jelas: Karena untuk membela kehormatan mereka, sekaligus untuk menguji apakah kita ini benar-benar anak dari orang tua kita? Siapakah yang tidak tersinggung jika orang tuanya dihina, apalagi NABInya? Kecuali dia hanyalah seorang yang benci pada orang tuanya, atau dia hanyalah anak-anak yang belum mengerti arti sebuah perasaan.

Begini:
Sebenarnya jika ada yang menghina orang tua kita, itu sama halnya menghina kita bahkan lebih dari itu. Karena kita adalah keturunan mereka. Jika ada yang menghina Rasulullah, itu sama halnya menghina semua orang Islam yang taat mengikuti ajarannya. Bahkan menghina Allah sebagai Zat yang memilih beliau sebagai utusan-Nya. Kecuali bagi yang tidak mengikuti ajarannya dengan baik, pasti tidak terasa hinaan itu.

Masalahnya:
– Kita ingin ditolong Allah. “Jika kamu menolong agama Allah, maka Allah akan menolongmu.”
– Kita harus mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari segalanya, karena itu bagian dari keimanan. Konsekwensi dari cinta itu adalah membela dan menjaga kehormatannya.
– Kita ini masih hidup. Silahkan hina siapa saja kalau kami sudah mati, karena kami tidak akan ditanyai lagi tentang apa yang terjadi sepeninggal kami.

Solusinya:
Silahkan marah, asalkan marahnya tetap dalam koridor syariat. Marah karena Rasulullah dihina itu baik, asal jangan akibat kemarahan itu membuat Allah marah.

Sumber: Catatan Ali Thahir (dengan sedikit penyesuaian).

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 22/09/2012, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Hendra Setiawan

    setuju dengan :
    Masalahnya:
    – Kita ingin ditolong Allah. “Jika kamu menolong agama Allah, maka Allah akan menolongmu.”
    – Kita harus mencintai Allah dan Rasul-Nya lebih dari segalanya, karena itu bagian dari keimanan. Konsekwensi dari cinta itu adalah membela dan menjaga kehormatannya.
    – Kita ini masih hidup. Silahkan hina siapa saja kalau kami sudah mati, karena kami tidak akan ditanyai lagi tentang apa yang terjadi sepeninggal kami.
    Solusinya:
    Silahkan marah, asalkan marahnya tetap dalam koridor syariat. Marah karena Rasulullah dihina itu baik, asal jangan akibat kemarahan itu membuat Allah marah.

    pertanyaan untuk fatwa di atas (awal tulisan): jika umat dihimbau untuk diam, lantas langkah kongkrit apa yang dilakukan oleh para ulama?

  2. Abu Khair El Banjari

    Itulah.. yang disangsikan, kwatir ulama juga kl tidak diingatkan dari ketidak diaman maassa akan demo tsb, tidak jua ada action-nya.. Apakah kita tetpa huznuzon pada mreka walau kita blm tau apakah itu sudah maximal dilakukan ulama?..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: