Hukum Memanfaatkan Barang Gadai

Tanya: Kebiasaan di desa, orang pinjam uang dengan memberikan jaminan berupa sawah. Lalu, orang yang meminjami memanfaatkan sawah tersebut dan mengambil hasil panen atau dibagi dua dengan pemilik sawah. Apakah hal itu dibenarkan menurut tinjauan syariat?

Jawab:

Pada dasarnya barang jaminan dari hutang atau rahn sama sekali tidak boleh dimanfaatkan oleh pemberi hutang. Sebab manfaat tersebut akan dihukumi sebagai riba. Mengapa riba? Karena hutang tidak boleh berkembang dan diberi penambahan meski nilainya adalah pemanfaatan.

Ibnu Qudamah menjelaskan: ”Jika pemilik barang gadai mengijinkan bagi pemegang gadai (pemberi pinjaman) untuk memanfaatkan barang gadai tersebut tanpa ada imbalan, sedang ar rahin berhutang kepada al murtahin, maka hal ini tidak boleh, karena hutang yang memberikan manfaat bagi yang memberikan utang, sehingga masuk dalam katagori riba.“ (Al Mughni: 4/431)

Lebih dari itu, barang gadai pada dasarnya adalah masih menjadi milik penggadai (orang yang berhutang) dan belum menjadi hak penerima gadai. Sehingga mayoritas ulama mengembalikan hak pakai barang tersebut kepada pemilik aslinya asalkan pemakaian tersebut tidak mengurangi nilai jual barang. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi:

ﻻَ ﻳَﻐْﻠَﻖُ ﺍﻟﺮَّﻫْﻦُ ﻟَﻪُ ﻏُﻨْﻤُﻪُ ﻭَﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻏُﺮْﻣُﻪُ

“Janganlah (yang diberi gadai) menahan/mengambil barang gadaian (dari orang yang menggadaikan) karena ia (yang menggadaikan) berhak atasnya dan menanggung biaya pemeliharaannya.” (HR. Bihaqiy, Daruqutniy dan Ibnu Hibban)

Atau jika barang tersebut diserahkan kepada pemberi hutang, maka dia tidak boleh memanfaatkan. Adapun biaya perawatannya sepenuhnya ditanggung oleh pemilik barang (peminjam hutang). Namun, jika pemegang gadai membayar atau memberikan imbalan atas pemanfaatan barang gadai tersebut sebesar nilai manfaat yang diambilnya, madzhab Hanbali membolehkan. Mereka menilainya sebagi sewa. Hal ini didasarkan pada sabda Nabi:

“(Hewan) boleh dikendarai jika digadaikan dengan pembayaran tertentu, susu hewan juga boleh diminum bila digadaikan dengan pembayaran tertentu, dan terhadap orang yang mengendarai dan meminum susunya, ia wajib membayar.” (HR. Bukhari, no. 2329)

Namun mayoritas ulama tetap tidak memperbolehkan. (Ibnu Rusydi, Bidayatul Mujtahid, Juz: 2, hlm: 276)

Jadi kesimpulannya, pemanfaatan sawah dan membagi hasilnya menjadi dua atau bahkan sepenuhnya diambil pemberi hutang adalah dilarang. Karena berarti hutang itu berkembang dari jumlah yang dipinjam oleh peminjam misalnya sebesar 1 juta menjadi 1 juta + hasil panen selama masa peminjaman. Sebaiknya yang diserahkan cukup sertifikat saja agar tidak terjadi kerancuan. Toh nilai sawah tersebut tidak berkurang meskipun ditanami.

Semua harus dikembalikan pada prinsip hutang sebagai akad tabarru’at, akad yang motifnya murni untuk membantu bukan mendapat keuntungan. Wallahua’lam.

Sumber: http://www.arrisalah.net/konsultasi/2011/07/hukum-memanfaatkan-barang-gadai.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 15/10/2012, in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Hendra Setiawan

    bagaimana jika kebun sawit digadaikan?lalu pembayaran, diambil penuh dari hasil kebun?

  2. Imam Ibnu Qudamah rahimahullah berkata : “Kami tidak mengetahui adanya perselisihan pendapat di kalangan ulama (tentang bolehnya orang yang menggadaikan mengambil manfaat dari barang yang ia gadaikan). Karena barang yang ia gadaikan tersebut merupakan hak miliknya, begitu pula hasilnya dan hal-hal yang bisa diambil manfaat darinya. Tidak boleh bagi selainnya untuk mengambil manfaat dari harta tersebut kecuali dengan izin dari orang yang menggadaikan”.[Al-Mughni 6/509]

    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata : “(Pada asalnya) biaya perawatan harta yang digadaikan menjadi tanggungan orang yang menggadaikan. Namun jika biaya perawatannya diambil dari harta orang yang menerima gadai, maka boleh bagi pihak yang menerima gadai tersebut untuk mengambil manfaat dari barang/harta yang digadaikan sebagai ganti dari biaya perawatan yang ia keluarkan”.[Majmu’ Al-Fatawa 20/560 diterjemahkan secara makna]

    Syaikh Abdullah bin Shalih Al-Fauzan hafidzahullah berkata : “Jika yang menanggung biaya perawatan barang/harta yang digadaikan adalah orang yang menggadaikan, maka diperbolehkan baginya mengambil manfaat dari harta tersebut.”[Mihantul ‘Allam Syarh Bulughul Maraam 6/267 cetakan Daar Ibnul Jauzi]

    Dari penjelasan para ulama di atas, dapat disimpulkan bahwa :

    Jika biaya perawatan kebun sawit ditanggung oleh orang yang menggadaikan, maka diperbolehkan baginya membayar kembali barang/harta yang ia gadaikan dari hasil kebun sawit tersebut. Karena pada asalnya kebun sawit tersebut masih menjadi hak milik orang yang menggadaikan sehingga hasil panen sawitnya pun merupakan hak miliknya. Allahua’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: