Inilah Cara Membedakan Ahlus Sunnah dengan Teroris Khawarij!

Tanya jawab bersama Asy Syaikh Khalid bin Dhahwi Azh Zhafiri ketika beliau menjadi narasumber dalam acara ceramah & dialog interaktif dengan tema “Bahaya Terorisme & Anarkisme bagi Kaum Muslimin, Generasi Muda Islam dan Negara” Rabu malam 20 Juli 2011 di Masjid Agung Sleman.

Pertanyaan: Bagaimana cara membedakan kelompok teroris dengan yang lainnya, sedangkan pakaian dan atribut mereka secara zhohir (tampak luar) sama dengan yang lainnya?

Jawaban:

Tidak diragukan lagi tentunya perbedaan begitu nyata, sebagaimana telah Allah Subhanahu wa Ta’ala sebutkan dalam Al Qur’an:

ﻭَﻟَﺘَﻌْﺮِﻓَﻨَّﻬُﻢْ ﻓِﻲ ﻟَﺤْﻦِ ﺍﻟْﻘَﻮْﻝِ

“Dan sungguh kamu akan mengetahui mereka dari perkataan dan ucapan mereka.” (QS. Muhammad: 30)

Terbedakan mereka yang sebagai kaum Khawarij/teroris dengan kelompok yang lain terutama dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, dalam beberapa point.

Yang pertama dalam keyakinan mereka demikian pula dalam statement dan perkataannya. Jika kita mendapati orang yang menjabarkan dan menjelaskan tentang kewajiban dan pentingnya taat dan patuh kepada pemerintah, menjelaskan tentang haramnya pengkafiran seorang muslim apalagi pemerintahnya, pengkafiran tanpa hujjah, maka pastilah yang demikian dari Ahlus Sunnah.

Maka ini semua mengajarkan kepada kita, bahwa penilaian bukan pada sekedar atribut belaka, bukan hanya karena pakaian sama atau atribut luar sama, kemudian kita sama ratakan yang satu dengan yang lain, tentu hukum semacam ini tidaklah adil. Yang menjadi penentu adalah keyakinan seseorang, statement dan ucapannya, demikian pula amal perbuatannya.

Kita pula bisa membedakan yang kedua dari amal perbuatan mereka. Maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah mereka selalu taat dan patuh kepada pemerintahnya, dan itu yang mereka ajarkan kepada umatnya. Mereka (Ahlus Sunnah wal Jama’ah) tidak akan menyebut kesalahan dan kekurangan pemerintahnya, tidak akan mereka sebut-sebut itu di majelis-majelis umum, tidak akan mereka bicarakan itu di atas mimbar-mimbar atau di podium, di hadapan khalayak ramai.

Mereka pun tidak akan memprovokasi masa untuk melawan dan menentang pemerintahnya. Mereka tidak akan mencela dan mencaci maki pemerintahnya. Justru Ahlus Sunnah mencintai kebaikan untuk pemimpinnya.

Mereka justru berdoa mendoakan kebaikan bagi pemimpinnya, dan mereka selalu meyakini dan menyeru kepada yang lain untuk taat dan patuh kepada pemerintahnya dalam perkara yang ma’ruf, bukannya melawan atau menentang kepada mereka.

Tentu keyakinan dan perbuatan semacam ini sangat tampak, sebagai pembeda dan ciri khas antara teroris/khawairj dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Dari Al-Akh Faris Aqsha.

Jazaahullaahu khairan.

Sumber: http://rizkytulus.wordpress.com/2011/08/21/walaupun-penampilan-luar-ahlus-sunnah-dengan-teroris-terkadang-sama-namun-hakikatnya-berbeda-penting/

* * *

TAMBAHAN

Mereka (teroris Khawarij) bisa pula kita kenali dari buku-buku atau kitab-kitab yang dikaji, dibaca dan dijadikan rujukan dalam bersikap, bertindak, beramal, dan berucap. Manakala buku atau kitab yang dijadikan pegangan melegalkan anarkisme, terorisme, mendorong untuk melakukan kemaksiatan, bid’ah, dan penyimpangan syar’i lainnya, akan semakin tampak arah kecenderungannya dalam beragama.

Di antara buku atau kitab yang berbahaya adalah tulisan Sayid Quthb, Salman al-Audah, Hasan al-Bana, Said Hawa, Fathi Yakan, Abu Muhammad al-Maqdisi (yang dijebloskan ke penjara di Jordania), dan Abdul Qadir bin Abdul Aziz alias Dr. Fadhl alias Sayid Imam Abdul Aziz asy-Syarif (dipenjara seumur hidup di Mesir atas perannya dalam kelompok Islamic Jihad, dia adalah teman sekolah dan sahabat Aiman azh-Zhawahiri, pentolan al-Qaeda Usamah bin Ladin), serta buku-buku yang diterbitkan oleh jaringan teroris Khawarij. Seseorang yang memiliki kecenderungan kepada al-haq akan menghindari buku-buku semacam itu. Dia akan mengikuti bimbingan salafus saleh.

Dinukil oleh al-‘Allamah Ibnu Muflih rahimahullah dalam al-Adabu asy-Syar’iyah, mengutip apa yang disebutkan oleh asy-Syaikh Muwaffiquddin rahimahullah bahwa salaf melarang bermajelis dengan ahli bid’ah, memerhatikan buku-buku mereka dan mendengarkan perkataannya. (Ijma’ul Ulama’, hlm. 69)

Lihat: Majalah Asy Syariah no. 86/VIII/1433 H/2012, hal. 21.

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 18/10/2012, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: