Jika Muslimah Ikut-Ikutan I’dad (Latihan Militer)

Tanya: Ana dapat sebuah hadits yang mengisahkan tentang perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat di perang Uhud. Dalam hadits itu diceritakan bahwa ‘Aisyah dan Ummu Sulaim ikut terlibat dalam perjuangan jihad kaum muslimin. Mereka berdua turun ke medan perang dengan memanggul wadah air minum untuk diberikan kepada para sahabat Nabi yang kehausan.

Pertanyaannya, apakah hadits ini bisa menjadi dalil bahwa wanita muslimah boleh menjadi tentara dan ikut pelatihan jihad misalnya? [ukhtixxxxxxx@yahoo.com]

Jawab:

Hadits yang saudari sebutkan adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dalam shahihnya. Akan tetapi hadits tersebut tidaklah memberikan pengertian bahwa wanita boleh menjadi tentara dan ikut pelatihan jihad ataupun militer.

Ummu Abdillah Al-Waadi’iyyah hafidzhahallah menerangkan dalam kitab beliau “Nashihati lin Nisaa” halaman 125, bahwa riwayat di atas sama sekali tidak menunjukkan bahwa wanita boleh menjadi tentara. Akan tetapi jika memang pelayanannya dibutuhkan dalam peperangan atau untuk membela dirinya, maka tidaklah mengapa.

Adapun seorang wanita menjadi tentara seperti yang dilakukan oleh perkumpulan kaum wanita yang menjadi tentara di Shan’a dan negeri-negeri lainnya, demi Allah ini adalah bentuk penghinaan dan merendahkan kaum wanita. Namun kebanyakan orang tidak memahaminya.

Peperangan yang dilancarkan oleh bangsa Amerika terhadap negeri-negeri Islam hanyalah salah satu dari sekian banyak peperangan mereka. Telah nyata sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam:

“Sungguh kalian akan mengikuti sunnah orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai-sampai seandainya mereka masuk ke lubang “dhabb” (sejenis hewan melata), pastilah kalian akan mengikutinya.” Kami (para shahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nashara?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?” (HR. Muslim, 4/2669)

Kemudian Ummu Abdillah menerangkan lebih lanjut, bergabungnya wanita dalam dunia militer mengandung banyak kerusakan dan kemudharatan. Saya akan sebutkan beberapa alasannya sebagai berikut:

1. Menyerupai (tasyabbuh) orang-orang kafir, sedangkan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam telah memperingatkan:

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk dari mereka.”

Aku nasehatkan kepada setiap muslimah yang menghendaki kebaikan untuk dirinya dan saudari-saudarinya. Hendaklah mengambil faedah dari kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah yang berjudul “Iqtidhaa Shiraathal Mustaqiim fi Mukhaalafati Ash-habil Jahiim.”

2. Mengeluarkan kaum muslimah dari rumahnya. Karena pada dasarnya para wanita itu menetap di rumahnya, sebagaimana firman Allah ta’ala:

“Dan hendaklah kalian para wanita menetap di rumah kalian.” (Al-Ahzab: 33)

3. Hilangnya rasa malu dan kewibawaannya sebagai seorang muslimah, dan tidak akan terjadi setelah itu kecuali kejelekan.

4. Tabarruj (berhias ala jahiliyah). Si wanita keluar dalam keadaan wajah dan tangannya terbuka. Terkadang kepala dan yang lainnya juga terbuka. Ia mengenakan pakaian ketat yang akan mengantarkan kepada fitnah dan kejelekan.

5. Perbuatannya itu justru menentang Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam. Rabb kita berfirman dalam kitabnya yang mulia:

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa: 115)

6. Pembebanan terhadap kaum wanita dengan sesuatu yang hakikatnya mereka tidak mampu mengembannya. Karena ini bukanlah tugas dan pekerjaan mereka. Justru dirinya sendiri butuh kepada orang yang menjaga dan melindunginya. Andai terjadi sesuatu di antara mereka, tidaklah akan didengar dari mereka kecuali teriakan histeris. Karena wanita itu bangunannya lemah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam:

“Berlemah-lembutlah dengan qawaarir (botol yang terbuat dari kaca).” (Muttafaqun ‘alaih dari Anas bin Maalik)

Beliau menyerupakan dengan qawaarir disebabkan kelemahannya dan cepatnya ia pecah atau hancur.

Syaikh kami Yahya bin ‘Ali Al-Hajuuri hafidzhahullah, pengganti ayahanda rahimahullah di Darul Hadits Dammaj mempunyai tulisan yang sarat faidah berjudul, “Hasydul Adillah ‘ala Anna Ikhtilaathan Nisaa’ birrijaal wa Tajniidahunna minal Fitan Al-Mudhillah (Pengumpulan dalil-dalil bahwa ikhtilath kaum wanita dengan kaum lelaki dan menjadikan mereka sebagai tentara merupakan fitnah yang menyesatkan)”.

Demikian, wallahu
a’lam.

Sumber: http://madrasahjihad.wordpress.com/2012/10/11/jika-muslimah-ikut-ikutan-idad-latihan-militer/

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 08/11/2012, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: