Hukum Gaji Pensiunan

Soal: Bagaimana hukum pensiun bagi pegawai negeri yang sudah tidak kerja lagi? Mohon penjelasan. (Penanya: 081575780xxx)

Jawab:

Hukum pensiun pegawai negeri tergantung kepada hukum pekerjaan yang dahulu dia kerjakan, kalau pekerjaan itu halal semacam guru atau lainnya, maka pensiunannya pun halal. Adapun kalau pekerjaan yang dahulu dikerjakannya itu haram, maka pensiunnya pun haram. [1]

Halalnya gaji pensiun dilihat dari beberapa sisi:

1. Pada dasarnya mu’amalah adalah halal kecuali kalau ada cara atau sistem yang membuatnya menjadi haram. [2] Dan setahu kami tidak ada yang membuat gaji pensiun menjadi haram.

2. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ﺍﻟْـﻤُﺴْﻠِﻤُﻮْﻥَ ﻋِﻨْﺪَ ﺷُﺮُﻭْﻃِﻬِﻢْ

“Kaum muslimin itu tergantung pada syarat mereka.” (HR. Bukhori: 2273, Abu Dawud: 3594)

Hadits ini menunjukkan bahwa jika terjadi kesepakatan antara dua orang dan keduanya saling menyetujui syarat yang diajukan pihak lainnya sedangkan syarat itu tidak bertentangan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, maka berarti kesepakatan keduanya boleh dijalankan.

Untuk masalah ini, seorang pegawai negeri saat diangkat menjadi pegawai maka telah terjadi kesepakatan antara pegawai tersebut dengan pihak instansi pemerintah bahwa pekerjaannya demikian dengan gaji demikian dan nantinya kalau sudah sampai pada umur demikian maka akan tidak kerja lagi namun tetap menerima uang pensiun dengan jumlah sekian persen dari gaji sampai waktu sekian.

Maka kalau keduanya telah sepakat akan hal tersebut, tidak ada sesuatu pun yang membuatnya tidak boleh dilaksanakan.

3. Sistem pensiun ini telah beredar di seluruh negeri kaum muslimin, dan para ulama telah mengetahuinya, dan tidak kami temukan ada satu pun ulama yang melarangnya. Bahkan yang ada adalah mereka memperbolehkannya. Di antaranya adalah saat Lajnah Da’imah ditanya:

“Saya adalah seorang pegawai di instansi amar ma’ruf nahi munkar di kota Hanakiyah Saudi (semacam Kepolisian, red.) lalu sampai pada masa pensiun, maka saya pun diberi uang pensiun dari badan keuangan kota tersebut. Lalu para pegawai memindahkan pengambilan uang pensiunku lewat sebuah bank swasta di kota itu, lalu saya pun mengambilnya lewat bank tersebut. Namun saya mendengar bahwa bank itu tidak selamat dari riba, dan hal itu baru saya pastikan setelah saya mengambil sebagian uang pensiun dari bank tersebut, lalu setelah itu saya pun tidak lagi mengambil dari bank tersebut. Maka apakah hukum uang pensiun yang telah saya ambil dan apa yang harus saya lakukan selanjutnya?”

Jawab Lajnah Da’imah: “Jika kenyataannya seperti yang disebutkan di atas, maka tidak ada masalah dengan uang yang telah engkau ambil, dan untuk selanjutnya boleh bagimu untuk menerima uang pensiun yang dialihkan penerimaannya lewat bank, dan insya Alloh tidak membahayakan bagimu meskipun bank itu bermu’amalah dengan riba karena engkau dalam keadaan seperti itu tidak ikut dalam proses riba tersebut, adapun dosanya hanya ditanggung oleh yang bermu’amalah dengan riba itu sendiri.” (Fatwa Lajnah Da’imah 15/407, diambil dari CD al-Maktabah asy-Syamilah Vol. 2)

Disalin dari: Majalah Al-Furqon Ed.8 Th.6 1428 H, Rubrik Soal-Jawab I asuhan Ustadz Ahmad Sabiq bin Abdul Lathif Abu Yusuf ﺧﻔﻈﻪ ﺍﻟﻠﻪ, hal. 4.

Catatan kaki:
[1]Lihat masalah gaji pegawai negeri ini dengan agak terperinci pada Majalah AL FURQON Th. 3 Edisi 5 rubrik Soal-Jawab.

[2] Lihat hal-hal yang membuat mu’amalah menjadi haram pada Majalah AL FURQON Th. 5 Edisi 7.

Sumber: http://soaldanjawab.wordpress.com/2012/04/03/hukum-gaji-pensiunan/

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 13/11/2012, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Abu Hudzaifah Al Atsary

    Yang berlaku di Indonesia belum tentu sama dengan di negara lain. Coba antum rujuk ke UU no 11. tahun 1992 ttg dana pensiun. Sejak UU ini berlaku, yg menangani pengelolaan uang pensiun hanya ada dua lembaga, DPPK (Dana Pensiun Pemberi Kerja) dan DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan). DPPK sifatnya khusus bagi karyawan atau pegawai perusahaan tertentu, akan tetapi pengelolaan dananya diserahkan kepada lembaga lain yg disahkan oleh Menteri Keuangan (?). Sedangkan DPLK pasti melibatkan bank atau jasa asuransi. Kalau DPPK, maka uang pensiun berasal dari gaji yg dipotong selama masa kerja, lalu dikelola… nah, bagaimana cara pengelolaannya? apakah keuntungan yg didapat oleh si karyawan berupa dana pensiun tadi -jika lebih besar dari potongan gaji yg selama ini ia bayarkan- statusnya halal baginya? Ini semua perlu dikaji ulang… kalau ia dianggap qardh, berarti tidak boleh ada manfaat yg dipersyaratkan sebelumnya. namun kalau ia bukan qardh dan dianggap sebagai bentuk mudharabah, maka harus ada resiko yg ditanggung oleh penyetor… nah, apakah kenyataannya spt itu?
    Kemudian kalau dia mengikuti DPLK, berarti dia harus bayar premi kpd bank atau pihak asuransi. Dan mnurut keputusan Majma’ul Fiqhi Al Islami, semua bentuk asuransi komersial hukumnya haram. karena bersifat untung2an alias qimar.
    Intinya: kalau mau ambil pensiun, maka ambil saja dlm jumlah yg sama dengan total potongan gaji/premi yg dibayarkan, tidak lebih dari itu. Ini pun bagi yg sdh terlanjur… adapun bg yg belum, maka tidak boleh dia masuk ke DPLK atas inisiatifnya pribadi. Adapun DPPK, kalau memang sifatnya mrp keharusan bagi setiap karyawan, maka dia tidak berdosa… namun ya tidak berhak mendapat lebih dari yg dia bayarkan. karena sistem yg berlaku di negeri ini tidak mengindahkan halal-haram dan aturan syariat dlm bermuamalah. wallaahu a’lam.

  2. Assalamu’alaikum.
    Saya ingin bertanya bagaimana hukumnya apabila bekerja di instansi pengelola Gaji Pensiunan seperti Dana Tabungan dan Asuransi Pegawai Negeri (TASPEN) – Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ?
    Bagaimana status hukumnya dalam islam?
    terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: