Bolehkah Membunuh Ular yang Berada di Luar Rumah?

Oleh: Al-Ustadz Abu Yasir Wildan

Ular-ular yang berada di luar rumah boleh dibunuh tanpa perlu memberi peringatan, dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Bunuhlah ular-ular, karena sesungguhnya kami tidak pernah berdamai dengan mereka sejak kami memerangi mereka.” (Hadits Riwayat Thabarani, hadits ini hasan)

Begitu juga hadits dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu beliau berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Bunuhlah ular seluruhnya, barangsiapa yang mengkhawatirkan balas dendamnya ular-ular tersebut maka dia bukan dari golonganku.” (Hadits Riwayat Abu Dawud no. 5249)

Dan lafadz ini dari riwayatnya juga dikeluarkan oleh Thabrani dari hadits Jarir radhiyallahu ‘anhu no. 2396. Yang semakin memperkuat tentang hukum bolehnya membunuh ular-ular tersebut adalah riwayat yang datang dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sebagaimana diriwayatkan oleh Al-Imam Abu Dawud no. 921, Al-Imam At-Tirmidzi no. 390, Al-Imam Ibnu Majah no. 1245, Al-Imam Ath-Thoyalisi no. 2539, Al-Imam Al-Baihaqi no. 2/266, Al-Imam Ibnu Jarud no. 213, Al-Imam Ibnu Hibban no. 2352 dan yang lainnya, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Bunuhlah dua binatang hitam dalam shalat, yaitu ular dan kalajengking.”

Dari sini jelaslah bahwa ular-ular yang berada di luar rumah, boleh dibunuh tanpa memberi peringatan, lebih khusus lagi ular yang memiliki dua garis putih di bagian punggungnya dan yang terputus ekornya. (Hadits Riwayat Al-Imam Al-Bukhari no. 3297 dan Al-Imam Muslim no. 2233), dari Ibnu Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Bunuhlah ular yang memiliki dua garis putih di atasnya dan yang terputus ekornya, karena keduanya bisa membutakan mata dan menggugurkan janin.”

Datang juga riwayat dari hadits Abu Lubabah yang dikeluarkan Al-Imam Al-Bukhari no. 3311, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda:

“Janganlah kalian membunuh ular-ular kecil, kecuali setiap ular yang terputus ekornya dan memiliki dua garis di atasnya, karena dia bisa menggugurkan janin dan membutakan mata, maka bunuhlah dia.”

“Al-Abtar” adalah yang terputus ekornya sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Al-Atsir dalam kitab “An-Nihayah”, dan yang dimaksud dengan “Dzu Ath-Thufyatan” adalah ular yang pada punggungnya ada dua garis.

(Dinukil dari Kitab “Ahkam At-Ta’amul Ma’a Al-Jin wa Adab Ar-Ruqo Asyar’iyyah”, karangan Asy-Syaikh Abu Nasr Muhammad bin ‘Abdillah Al Imam)

Sumber: Majalah Konsultasi Kita edisi. 2 hal. 41.

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 27/11/2012, in Uncategorized and tagged , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Ustad, saya kan memelihara ular jenis pyhton regius (ball python) yang terkenal jinak, bagaimana dasar hukumnya? ditambah lagi dengan dasar sbb:

    ”Lima binatang berbahaya yang diperbolehkan membunuhnya dalam keadaan tidak berihrom atau berihrom yaitu ular, burung gagak, tikus, anjing gila, burung rajawali.” (HR. Muslim)

    Diriwayatkan dari Abu Hurairoh berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Kami tidaklah berdamai dengan mereka (ular) sejaka kami memerangi mereka..” (HR. Abu Daud)

    Yang dimaksud dengan sejak kami memerangi mereka adalah sejak terjadi peperangan diantara kami dengan mereka. Sesungguhnya peperangan dan permusuhan antara ular dan manusia adalah karena setiap kelompok dari mereka diciptakan untuk saling membunuh.

    Ada yang mengatakan yang dimaksud dengan peperangan adalah permusuhan antara ular dengan Adam as berdasarkan perkataan bahwa ketika iblis ingin masuk ke surga lalu dihalangi oleh para penjaganya maka pada saat itu ular membantu memasukannya kedalam surga. .Iblis berhasil menggoda Adam dan Hawa untuk memakan buah dari pohon yang dilarang yang berakibat mereka berdua dikeluarkan dari surga. Demikian dikatakan al Qori. (Aunul Ma’bud juz XIV hal 119)

    Ibnu Abbas berkata,”Maka bunuhlah ular dimanapun kalian mendapatkannya. Pendamlah makhluk yang pernah mendapat jaminan dari musuh Allah itu.” (Luqthul Marjan fi Ahkamil Jaan, Imam Suyuthi, edisi terjemahan hal 178)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: