Mengirim Fatihah untuk Mayit Menurut Imam Syafi’i

Oleh: Ust. Sofyan Chalid bin Idham Ruray

Pertanyaan: Saya mau tanya, kalo mau kirim Al-Fatihah, kalau
kita tidak tau bin-nya, yang lebih afdol pake Pulan/Adam? Terima kasih.

Jawaban:

Mengirim Al-Fatihah kepada orang yang sudah meninggal dunia termasuk bid’ah atau mengada-ada dalam agama, karena tidak ada dalil dari Al-Qur’an maupun As-Sunnah yang menunjukkannya. Dan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah termasuk yang berpendapat bahwa pahalanya tidak akan sampai kepada mayit, berdasarkan firman Allah ta’ala,

ﻭَﺃَﻥْ ﻟَﻴْﺲَ ﻟِﻠْﺈِﻧْﺴَﺎﻥِ ﺇِﻟَّﺎ ﻣَﺎ ﺳَﻌَﻰ

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (An-Najm: 39)

Ulama besar Mazhab Syafi’i, Al-Imam Ibnu Katsir Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

ﻭﻣﻦ ﻭﻫﺬﻩ ﺍﻵﻳﺔ ﺍﻟﻜﺮﻳﻤﺔ ﺍﺳﺘﻨﺒﻂ‎ ‎ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ، ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ، ﻭﻣﻦ ﺍﺗﺒﻌﻪ ﺃﻥ‎ ‎ﺍﻟﻘﺮﺍﺀﺓ ﻻ ﻳﺼﻞ ﺇﻫﺪﺍﺀ ﺛﻮﺍﺑﻬﺎ ﺇﻟﻰ‎ ‎ﺍﻟﻤﻮﺗﻰ؛ ﻷﻧﻪ ﻟﻴﺲ ﻣﻦ ﻋﻤﻠﻬﻢ ﻭﻻ‎ ‎ﻛﺴﺒﻬﻢ؛ ﻭﻟﻬﺬﺍ ﻟﻢ ﻳﻨﺪﺏ ﺇﻟﻴﻪ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ‎ ‎ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﺃﻣﺘﻪ ﻭﻻ ﺣﺜﻬﻢ‎ ‎ﻋﻠﻴﻪ، ﻭﻻ ﺃﺭﺷﺪﻫﻢ ﺇﻟﻴﻪ ﺑﻨﺺ ﻭﻻ ﺇﻳﻤﺎﺀ،‏‎ ‎ﻭﻟﻢ ﻳﻨﻘﻞ ﺫﻟﻚ ﻋﻦ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ،‏‎ ‎ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻢ، ﻭﻟﻮ ﻛﺎﻥ ﺧﻴﺮﺍ ﻟﺴﺒﻘﻮﻧﺎ‎ ‎ﺇﻟﻴﻪ، ﻭﺑﺎﺏ ﺍﻟﻘﺮﺑﺎﺕ ﻳﻘﺘﺼﺮ ﻓﻴﻪ ﻋﻠﻰ‎ ‎ﺍﻟﻨﺼﻮﺹ، ﻭﻻ ﻳﺘﺼﺮﻑ ﻓﻴﻪ ﺑﺄﻧﻮﺍﻉ‎ ‎ﺍﻷﻗﻴﺴﺔ ﻭﺍﻵﺭﺍﺀ، ﻓﺄﻣﺎ ﺍﻟﺪﻋﺎﺀ ﻭﺍﻟﺼﺪﻗﺔ‎ ‎ﻓﺬﺍﻙ ﻣﺠﻤﻊ ﻋﻠﻰ ﻭﺻﻮﻟﻬﻤﺎ، ﻭﻣﻨﺼﻮﺹ‎ ‎ﻣﻦ ﺍﻟﺸﺎﺭﻉ ﻋﻠﻴﻬﻤﺎ

“Dari ayat yang mulia ini, Imam Syafi’i rahimahullah dan pengikutnya beristimbath bahwa bacaan (Al-Qur’an) tidak sampai kepada orang-orang mati, karena bacaan tersebut bukan amalan mereka, bukan pula usaha mereka. Oleh karenanya Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tidak mensunnahkannya bagi umatnya, tidak mendorong mereka untuk melakukannya, tidak pula membimbing mereka dengan sebuah nash, tidak pula dengan isyarat. Dan juga, tidak dinukil hal itu dari seorang sahabat radhiyallahu’anhum, andaikan itu baik, tentunya sahabat telah mendahului kita melakukannya. Dan masalah al-qurubaat (ibadah-ibadah khusus untuk taqarrub kepada Allah Ta’ala) harus berdasarkan nash-nash, tidak boleh berdasarkan kias-kias dan akal-akal. Adapun doa dan sedekah telah disepakati (ulama) atas sampainya kedua amalan tersebut (kepada orang mati), dan kedua amalan itu terdapat nashnya dari pembuat syari’ah.” [Tafsir Ibnu Katsir, 7/465]

ﻭﺑﺎﻟﻠﻪ ﺍﻟﺘﻮﻓﻴﻖ ﻭﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ ﻧﺒﻴﻨﺎ‎ ‎ﻣﺤﻤﺪ ﻭﺁﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﻭﺳﻠﻢ

Sumber: http://nasihatonline.wordpress.com/2012/12/11/mengirim-fatihah-untuk-mayit-menurut-imam-syafii/

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 10/01/2013, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 8 Komentar.

  1. Jadi hanya doa anaknya aja yang bisa ya..??? Kalo Fatihah yang kirim anaknya gimana??

  2. ya setidaknya kita kan bisa mengucapkan dan membaca doa untuk yang meninggal dan untuk diterima atau tidak diterimanya hanyalah sang pencipta yang maha mengetahui dan berkehendak..🙂

    • Mustafa Adnani

      Jawaban apologetikpun belum merupakan jawaban yg benar. Kita tidak mungkin akan mampu menelusuri jawaban dari mereka yang mati, artinya tak akan ada berita dari mereka yg dikirimi fatihah atau doa, dg menyatakan bahwa doa itu sampai kepada mereka.Oleh karena itu hanya dg ayat-ayat Alquranlah kita akan memahami tentang bagaimana mati itu. Disinlah perlunya kita memahami makna “mempercayai ghaib/yu-minuuna bilghaibi” itu. Ketahuilah yang di maksud dg “bilghaibi” bukan santet atau dongeng-dongeng penampakan, namun ihwal hari akhir atau kiamat alias dunia kematian. Demikianlah kehendak Sang Pencipta menurut Kitab SuciNya, Alquran.

  3. manhaj salafy

    maka dari itu jangan asal copas…ngaji tuh kitab2 imam syafi’i,,,bener pa engga’ penjelasan ente,,,udah jadi rahasia umum kaum wahabi suka usil mnghapus isi kitab ulama salaf yg gak sesuai dgn pemikirannya,,yg bilang pahala gak sampai itu cuma orang salafi wahabi,,,,hadewh

  4. Perkataan mas : “yg bilang pahala gak sampai itu cuma orang salafi wahabi”.

    Memang para ulama berbeda pendapat “apakah hadiah bacaan Al-Qur’an sampai pada mayit?”.

    Imam Malik dan Imam Asy-Syafi’i rahimahumallah berpendapat pahalanya tidak sampai mayit, meskipun sebagian ulama mutaakhirin madzhab Syafi’i berpendapat pahalanya sampai.

    Imam An-Nawawi rahimahullah berkata :

    والمشهور في مذهبنا -أي مذهب الشافعي- أن قراءة القرآن للميت لا يصله ثوابها. وقال جماعة من أصحابنا: يصله ثوابها

    “Pendapat yang masyhur dalam madzhab kami –madzhab Asy-Syafi’i-, bacaan Al-Qur’an yang dihadiahkan untuk mayit pahalanya tidak sampai. Sebagian dari sahabat kami (ulama syafi’iyyah –pen-) berpendapat pahalanya sampai.”[Syarh Shahih Muslim, 9/70]

    Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

    { وَأَنْ لَيْسَ لِلإنْسَانِ إِلا مَا سَعَى } أي: كما لا يحمل عليه وزر غيره، كذلك لا يحصل من الأجر إلا ما كسب هو لنفسه. ومن وهذه الآية الكريمة استنبط الشافعي، رحمه الله، ومن اتبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى؛ لأنه ليس من عملهم ولا كسبهم؛ ولهذا لم يندب إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم أمته ولا حثهم عليه، ولا أرشدهم إليه بنص ولا إيماء، ولم ينقل ذلك عن أحد من الصحابة، رضي الله عنهم، ولو كان خيرا لسبقونا إليه

    “firman Allah {seseorang tidak akan mendapatkan selain apa yang ia usahakan} mengandung makna : sebagaimana seseorang tidak menanggung dosa oranag lain, ia pun tidak akan mendapatkan pahala orang lain. Ia hanya akan mendapatkan apa yang telah ia usahakan untuk dirinya. Dari ayat yang mulia ini, Imam Asy-Syafi’i dan para ulama yang mengikutinya mengambil kesimpulan bahwa pahala bacaan Al-Qur’an tidak sampai pada mayit. Karena hal itu bukan berasal dari amal dan hasil usaha mereka sendiri. Oleh karena itu, Rasulullah tidak pernah menganjurkan dan tidak pula mendorong umatnya untuk menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur’an. Tidak pula Rasulullah membimbing umatnya untuk itu baik dengan dalil yang tegas maupun isyarat. Tidak pula hal tersebut dinukil dari para sahabat radhiyallahu ‘anhum. Seandainya hal itu baik, niscaya mereka (para sahabat) telah mendahului kita dalam beramal”[Tafsir Ibnu Katsir 7/645 ketika Ibnu Katsir menafsirkan surat An-Najm ayat 39]

    Imam An-Nawawi rahimahullah juga berkata :

    لا يصل إلى الميت عندنا ثواب القراءة على المشهور

    “Pahala bacaan Al-Qur’an tidak sampai kepada mayit menurut pendapat yang masyhur dalam madzhab kami (madzhab Syafi’i –pen-)”[Syarh Al-Minhaj]

    Imam Asy-Syaukani rahimahullah berkata :

    المشهور من مذهب الشافعى وجماعة من أصحابه أنه لا يصل إلى الميت ثواب قراءة القرآن

    “Pendapat yang masyhur dalam madzhab Asy-Syafi’i dan sebagian sahabat-sahabatnya, pahala bacaan Al-Qur’an tidak sampai pada mayit”[Nailul Authar, 4/142]

    Sebagian ulama berkata :

    وهذا الخلاف محله إذا قرئ القرآن بغير أجر، أما إن قرى بأجر الجمهور على عدم انتفاع الميت به ، لأن القارئ أخذ ثوابه الدنيوى عليها فلم يبق لديه ما يهديه أو يهدى مثل ثوابه إلى الميت

    “Perbedaan pendapat ulama ini (tentang apakah pahalanya sampai pada mayit –pen-) hanya ketika seorang tidak mengambil upah dalam bacaannya. Adapun jika ia menghadiahkan bacaan Al-Qur’an disertai upah, maka kebanyakan ulama (jumhur) berpendapat hal itu tidak bermanfaat bagi mayit. Karena ia telah mengambil pahala duniawi, sehingga tidak tersisa lagi pahala yang akan ia hadiahkan untuk mayit,”

    Perkataan mas : “ngaji tuh kitab2 imam syafi’i,,,bener pa engga’ penjelasan ente”

    Alhamdulillah saya sudah tamat belajar kitab fiqih madzhab Syafi’i “Safinatun Naja” pada guru saya, kalo mas sudah tamat belum?

    Perkataan mas : “udah jadi rahasia umum kaum wahabi suka usil mnghapus isi kitab ulama salaf yg gak sesuai dgn pemikirannya…”

    Saya telah menyebutkan sumbernya di atas, misal kitab Tafsir Ibnu Katsir, Syarh Shahih Muslim, Syarh Al-Minhaj dan Nailul Authar. Ketika saya menyebutkan Tafsir Ibnu Katsir 7/645 maksudnya jilid 7 halaman 645. Barangkali mas mau ngecek ke kitab aslinya. Misalkan ada kekeliruan saya dalam menukil, silahkan dikoreksi dan saya siap untuk ruju’ kepada kebenaran insya Allah.

    Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah pada kita..

  5. Sebenarnya kita beribadah itu mencari ridlo Allah. Oleh karena itu sebaiknya hanya beribadah menurut aturan yang diberikan oleh Allah dan Rasulnya. Jika kita beribadah harus mengarang-ngarang model sendiri maka hadiah yang akan didapat adalah Neraka. Sunnah Rasulullah sangatlah banyak, jika ingin melaksanakannya tidak pernah akan habis maka ikuti sajalah sunnah Rasul agar kita tidak merugi. Kesempatan hidup hanya sekali, jangan sampai kita beribadah yang justru menjerumuskan kita ke neraka. kita selalu minta ditunjukkan ke jalan yang lurus.
    aketahuilah bahwa bengkoknya ibadah adalah bid’ah dan bengkoknya aqidah adalah kufur dan syirik jadi jauhilah kufur,syiri dan bid’ah. allahu a’lam.

  6. Mustafa Adnani

    Memang sulit sekali untuk merubah keyakinan yang sudah berurat-akar pada diri seseorang atau golongan. Analoginya, sebagaimana nabi Ibrahim ketika menyampaikan ajaran tauhid kepada ayah dan kaumnya, sehingga setelah mereka kalah berhujjah (berdebat/berargumen/menyodorkan fakta) kaumnya berniat membakar nabi Ibrahim. Demikianlah keterangan menurut Alquran. Demikian pula betapa beratnya perjuangan Rasulullah SAW ketika menghantarkan Islam di jazirah Arab, tidak sebatas disebut si gila atau si tukang sihir, bahkan nyawa taruhannya. Inipun mengikuti penuturan Alquran. Tidak memahami sumber-sumber (Alquran danriwayat-riwayat yg sejalan dg Alquran)akhirnya yg keluar sekadar emosi atau tekanan fisik). Persis seperti zaman nabi Ibrahim di Babilonia atau Muhammad SAW di Arab Jahiliyah.
    Ya Allah ampunilah mereka, karena merka tidak memahami.

  7. wahabi nich yang buat artikel kurang piknik dia hadeehhh kasian ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: