Hukum Adzan dan Iqamat di Kuburan

Di sebagian tempat ada pemandangan aneh saat penguburan, yaitu adanya adzan atau iqomat saat mayat diletakkan dalam kuburnya. Hal ini pernah ditanyakan kepada Syaikh bin Baaz -rahimahulloh- dengan pertanyaan berikut:

Soal: Apa hukum adzan dan iqamat di kuburan seorang mayat saat ia diletakkan dalam liang lahadnya?

Syaikh Abdul Aziz bin Baaz -rahimahullah- menjawab:

“Tak ragu lagi bahwa hal itu adalah bid’ah yang tak pernah Allah turunkan keterangan tentangnya. Karena, hal itu tak pernah ternukil dari Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- dan para sahabatnya -radhiyallahu anhum-. Sedangkan kebaikan itu seluruhnya adalah dalam mengikuti mereka dan menapaki jalan hidup mereka sebagaimana yang Allah -Subhanahu wa Ta’ala- firmankan,

ﻭَﺍﻟﺴَّﺎﺑِﻘُﻮﻥَ ﺍﻟْﺄَﻭَّﻟُﻮﻥَ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﻤُﻬَﺎﺟِﺮِﻳﻦَ‏‎ ‎ﻭَﺍﻟْﺄَﻧْﺼَﺎﺭِ ﻭَﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺍﺗَّﺒَﻌُﻮﻫُﻢْ ﺑِﺈِﺣْﺴَﺎﻥٍ‏‎ ‎ﺭَﺿِﻲَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺭَﺿُﻮﺍ ﻋَﻨْﻪُ ﻭَﺃَﻋَﺪَّ ﻟَﻬُﻢْ‏‎ ‎ﺟَﻨَّﺎﺕٍ ﺗَﺠْﺮِﻱ ﺗَﺤْﺘَﻬَﺎ ﺍﻟْﺄَﻧْﻬَﺎﺭُ ﺧَﺎﻟِﺪِﻳﻦَ ﻓِﻴﻬَﺎ‎ ‎ﺃَﺑَﺪًﺍ ﺫَﻟِﻚَ ﺍﻟْﻔَﻮْﺯُ ﺍﻟْﻌَﻈِﻴﻢُ ]ﺍﻟﺘﻮﺑﺔ100/ ]

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besarg.” (QS. At-Taubah: 100)

Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

ﻣَﻦْ ﺃَﺣْﺪَﺙَ ﻓِﻲ ﺃَﻣْﺮِﻧَﺎ ﻫَﺬَﺍ ﻣَﺎ ﻟَﻴْﺲَ ﻣِﻨْﻪُ‏‎ ‎ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩ

“Barangsiapa yang mengada-ada dalam urusan (agama) kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia (hal yang diada-ada itu) adalah tertolak.” [HR. Al-Bukhoriy (no. 2697) dan Muslim (no. 1718) (17)]

Dalam lafazh lain, beliau -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda,

ﻣَﻦْ ﻋَﻤِﻞَ ﻋَﻤَﻼً ﻟَﻴْﺲَ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﺃَﻣْﺮُﻧَﺎ ﻓَﻬُﻮَ ﺭَﺩّ

“Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tak ada padanya urusan (agama) kami, maka ia (amalan) itu tertolak.” [HR. Muslim (no. 1718) (18)]

Beliau juga bersabda,

ﻭَﺷَﺮُّ ﺍﻷُﻣُﻮﺭِ ﻣُﺤْﺪَﺛَﺎﺗُﻬَﺎ ﻭَﻛُﻞُّ ﺑِﺪْﻋَﺔٍ ﺿَﻼَﻟَﺔ

“Seburuk-buruk urusan (dalam agama) adalah yang diada-ada dan semua bid’ah (yakni, urusan agama yang tak ada contohnya dalam agama,- pent.) adalah kesesatan.” [HR. Muslim dalam Shohih-nya (no. 867) dari hadits Jabir -radhiyallahu anhu-]

Semoga sholawat dan salam buat Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.”

[Sumber Fatwa: Majmu’ Fatawa Al-Allamah Abdul Aziz bin Baaz (1/439/no. 5)]

[http://pesantren-alihsan.org]

Sumber: http://www.darussalaf.or.id/fatwa-ulama/hukum-adzan-dan-iqamat-di-kuburan/

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 18/01/2013, in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. berarti jika kita berjabat tangan selesai sholat dan membaca qunut sewaktu salat subuh apakah itu haram? karena tidak ada hadits yang menyuruhnya begitu,belum lagi hadits yang anda sampaikan apakah itu dhoif atau bukan ?

  2. Diantara pertanyaan yang ditanyakan:

    1. Hukum berjabat tangan setelah shalat wajib.

    Bersalaman setelah shalat wajib bukan merupakan sunah Rasulullah dan bukan pula kebiasaan para sahabatnya, namun perbuatan ini dilakukan oleh generasi setelah mereka. Itu pun terbatas dilakukan setelah shalat Subuh dan Ashar. Namun di masa kita, tradisi bersalaman ini dilakukan di setiap shalat wajib.

    Dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : “Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah selesai (salam –pen-)dari shalatnya adalah membaca istighfar tiga kali, lalu membaca “Allahumma antassalaam waminkassalaam tabarakta yaa dzal jalali walikram”[HR. Muslim no. 591]

    Seandainya bersalaman setelah shalat merupakan sunah rasul, tentu disebutkan dalam hadits di atas. Namun kebiasaan nabi setelah salam adalah membaca dzikir berupa istigfar, tasbih, tahmid, takbir, dan seterusnya. Mengikuti sunah nabi tentu lebih utama.

    Imam ‘Iz bin Abdussalam rahimahullah berkata:

    “Kebiasaan bersalaman setelah shalat Subuh dan Ashar termasuk bid’ah, kecuali bagi orang yang baru datang dan belum bersalaman sebelum shalat.”[Akhtha’ul Mushalliin hal. 108]

    Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i rahimahullah berkata:

    “Adapun kebiasaan yang sering dilakukan manusia yaitu bersalaman setelah shalat Subuh dan Ashar, maka hal itu tidak memiliki landasan dalil dalam syariat. Namun, (aku memandang –pen-) hal tersebut tidak apa-apa.[Al-Majmu’ Syarhul Muhadzab, 4/635]

    Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata:

    “Telah shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: “Tidaklah dua orang muslim bertemu lalu bersalaman, kecuali dihapuskan dosa-dosa mereka sebagaimana gugurnya daun-daun dari pohonnya”. Disunahkan bersalaman ketika kita bertemu seseorang di masjid atau bertemu di shaf. Jika ia belum bersalaman sebelum shalat, maka hendaknya bersalaman setelah shalat demi mengamalkan sunah yang agung ini. Karena hal tersebut dapat menimbulkan rasa kecintaan dan menghilangkan perasaan kedengkian…

    Adapun apa yang sering dilakukan sebagian orang yakni bersegera untuk bersalaman setelah shalat wajib seusai salam kedua, maka aku tidak mengetahui adanya dalil dalam permasalahan ini. Yang nampak bagiku, kebiasaan tersebut tidak disukai karena tidak adanya dalil dalam masalah ini. Karena ketika itu justru seorang disyariatkan untuk bersegera membaca dzikir dengan doa yang dicontohkan Nabi.”[Majmu’ Fatawa Syaikh Ibnu Baz juz 11 bab Shalat]

    Allahua’lam

  3. 2. Hukum Qunut Subuh

    Para ulama berbeda pendapat tentang hukum membaca doa qunut Subuh.

    a. Sebagian ulama seperti Imam Malik dan Imam Syafi’i rahimahumallah berpendapat sunah muakkadah. Sehingga seorang yang lupa tidak membaca qunut subuh disyariatkan untuk sujud sahwi sebelum salam.

    b. Sebagian ulama berpendapat bid’ah, karena syariat qunut subuh ini telah mansukh. Ini merupakan pendapat Imam Abu Hanifah

    c. Sebagian ulama yang lain berpendapat seorang yang qunut subuh secara terus-menerus tidak diingkari. Namun mereka juga tidak menyatakan disunahkannya qunut subuh sebagaimana pendapat pertama. Ini merupakan pendapat Ibnu Jarir Ath-Thabari dan diantara ulama yang menguatkan pendapat ini adalah Ibnu Hazm dalam Al-Muhalla 4/143, Ibnul Qayyim dalam Zaadul Ma’ad 1/274

    Saya tidak bisa menyebutkan dalil masing-masing pendapat karena akan terlalu panjang. Saya pribadi lebih condong pada pendapat ketiga. Allahua’lam.

    3. Perkataan penanya “karena tidak ada hadits yang menyuruhnya begitu”

    JIka yang dimaksud penanya adalah tidak hadits khusus yang memerintahkan berjabat tangan seusai salam setelah shalat wajib. Maka jawabnyamemang tidak ada, sebagaimana ditegaskan oleh Imam An-Nawawi dan Syaikh Ibnu Baz rahimahumallah.

    Namun jika yang dimaksud hadits tentang disyariatkannya qunut Subuh, maka jawabnya ada,

    a. Hadits Al-Barra’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata :

    أن رسول الله كان يقنت في الصبح

    “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam biasa qunut ketika shalat Subuh” [Diriwayatkan oleh Muslim no 678, At-Tirmidzy no 401, Abu Daud no 1441 dan An-Nasa’i 202/2]

    b. Hadits Anas bin Malik radhiyalllahu ‘anhu, beliau ditanya :

    أقنت النبي في الصبح ؟ قال : ((نعم)) فقيل له : أو قنت قبل الركوع ؟ قال : ((بعد الركوع يسيرا))

    “Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membaca doa Qunut ketika shalat Subuh?”,

    Anas menjawab : “Iya”, lalu beliau ditanya lagi : “Apakah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam qunut sebelum ruku’?

    Anas bin Malik menjawab : “Setelah ruku’ sebentar”. [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no 1001 dan Muslim no 677]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: