Keadaan-Keadaan Dibolehkannya Wanita Keluar Rumah Tanpa Izin Suami/Wali

Syariat Islam yang syamil kamil memberikan perhatian terhadap kemaslahatan umat manusia seluruhnya, baik terkait dengan individu maupun dengan komunitas, baik lelaki maupun perempuan.

Untuk suatu kemaslahatan yang besar, syariat pun memerintahkan kaum perempuan untuk berdiam di rumah mereka[1]. Mereka diizinkan keluar manakala dibutuhkan, atau masyarakat muslim membutuhkannya. Semua itu dalam rangka memerhatikan kemaslahatan masyarakat manusia.

Akan tetapi, pengizinan ketika ada kebutuhan diberikan oleh syariat dengan menepati kaidah-kaidah yang sesuai dengan aturan hukum syar’i yang terkait dengan perempuan dan bersesuaian dengan maksud atau tujuan umum syariat Islam. Keluarnya perempuan dengan memerhatikan ketentuan tersebut adalah kenikmatan, bukanlah kesengsaraan; rahmat, bukan azab.

Di antara ketentuan bolehnya keluar tersebut adalah izin suami atau wali si perempuan. Jadi, tidak sepantasnya seorang perempuan keluar rumahnya selain dengan izin pihak yang berhak dimintai izinnya, seperti suaminya apabila ia bersuami, ayah atau saudara lelakinya. Sampai pun tujuan keluarnya ialah melakukan amal shaleh, seperti shalat di masjid, ia harus minta izin terlebih dahulu. Ia tidak boleh seenaknya keluar, sebagaimana halnya yang dilakukan oleh kebanyakan wanita zaman sekarang.

Sekiranya izin yang diminta tidak diperoleh perempuan atau malah dilarang, ia tidak boleh memaksakan diri untuk keluar. Hendaknya ia tetap tinggal di rumahnya, menaati ucapan orang yang bertanggung jawab atas dirinya.

Kapan Wanita Boleh Keluar Tanpa Izin?

Hukum asalnya wanita harus berdiam di rumahnya, tidak boleh keluar terkecuali seizin suami/walinya. Namun, ada keadaan-keadaan yang dikecualikan dari hukum asal yang telah disebutkan. Di antaranya:

1. Keadaan-keadaan darurat, seperti terjadi kebakaran dalam rumah, atau rumahnya hampir roboh, atau ada kejadian yang mengancam jiwa dan kehormatannya apabila tetap bertahan di dalam rumah. Dalam keadaan demikian, si perempuan boleh keluar tanpa menunggu izin suami.

Sebab, kaidah syar’i menyatakan, “Darurat membolehkan hal yang dilarang.” (al-Asybah wa an-Nazhair, as-Suyuthi, hlm. 211)

2. Keluar rumah saat nafi ‘am (perang umum yang semua orang di negeri tersebut harus keluar guna membela dan mempertahankan diri).

Misalnya saat orang-orang kafir menyerang negeri Islam, na’udzubillah min dzalik, maka perempuan boleh keluar walau tidak minta izin kepada suaminya.

Dalam fikih mazhab Maliki disebutkan, “Apabila orang-orang kafir menyerang negeri Islam, setiap orang yang bisa memberikan pertolongan/pembelaan, sampai pun budak dan perempuan, hendaknya keluar menghadapi serangan tersebut. Tuan dan suaminya tidak berhak melarang.” (Asyraf al-Masalik, I/III)

Dalam fiqih mazhab Hanafi disebutkan, “Apabila musuh menyerang sebuah negeri, wajib bagi seluruh muslimin untuk mempertahankan diri. Perempuan keluar tanpa izin suaminya danbudak keluar tanpa izin tuannya.” (Bada’i’ ash-Shana’i, al-Kasani, 7/98)

3. Si perempuan meyakini suaminya akan setuju dengan keluarnya dirinya dengan adanya izin yang dahulu atau kebiasaannya suaminya mengizinkan.

Jadi, si perempuan tidak harus minta izin setiap kali keluar.

Al-Imam al-Iraqi rahimahullah berkata, “Istri boleh keluar atau si istri yakin suaminya ridha dengan keluarnya.” (Tharhu at-Tatsrib, 7/169)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan kaki:
[1] Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Tetaplah kalian tinggal di rumah-rumah kalian.” (al-Ahzab: 3)

Sumber: Diambil dari tulisan Ummu Ishaq al-Atsariyah dalam artikel “Boleh Keluar, Asal Menuruti Aturan Syariat” dalam majalah Asy Syariah no. 89/VIII/1434 H/2012, hal. 90-91 dan 94-95.

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 12/02/2013, in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. BOLEH BAGI WANITA KELUAR RUMAH BILA MEMENUHI SYARAT-SYARAT ISLAMIY

    Tanya:
    Ada seorang prempuan yang ingin hidup dari usahanya sendiri, karena ia tidak lagi dibantu oleh bapaknya, disebabkan ia tidak mau ikuti kemauan bapaknya untuk sekolah, bolehkah perempuan tadi keluar rumah untuk menitipkan hasil usahanya ke tempat penjualan?, dari hasil usahanya itu ia gunakan untuk membeli kebutuhan-kebutuhan mempelajari ilmu agama.
    Jika ia keluar, maka ia lengkap memakai busana muslimah syar’iyyah. Jazaakumullahukhoira.

    Jawab:
    Dengan adanya kebutuhan seperti itu, dan usaha yang ia lakukan hanya dengan dititipkan, juga ia keluar dengan memakai pakaian syar’iy yang sudah ma’ruf di kalangan kita maka boleh baginya untuk keluar dari rumahnya, Asma’ bintu Abi Bakr Rodhiyallohu ‘anha pernah bekerja di luar rumah, karena keadaan memang mengharuskannya, ia berkata:

    كنت أنقل النوى من أرض الزبير التي أقطعه رسول الله صلى الله عليه وسلم على رأسي، وهي مني على ثلثي فرسخ

    “Dahulu aku membawa an-nawa (makanan ternak) di atas kepalaku, dari tanah Az-Zubair, yang tanah tersebut dikaplingkannya oleh Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam, dia dariku (jauhnya) sekitar tiga kilometer”.

    Dengan dalil ini menunjukan bolehnya wanita bekerja di luar rumah bila mengharuskannya, namun memiliki ketentuan-ketentuan dan syarat-syarat:

    Pertama:
    Aman dari fitnah, sebagaimana keadaan Asma’ tersebut, ia menempuh perjalan dalam keadaan aman dan tanpa disertai oleh seorangpun, di dalam suatu riwayat Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi wa Sallam melewatinya, dan menawarkannya naik kendaraan namun ia enggan, karena memikirkan kecemburuan dari suaminya Az-Zubair.
    Setelah kejadian tersebut, Abu Bakr Ash-Shiddiq selaku orang tuanya, memberikan kepadanya seorang pembantu.

    Kedua:
    Mengenakan pakaian syar’iy, para shohabiyyah dahulu banyak yang tidak mau keluar dari rumahnya, namun ketika ‘iedain diperintahkan untuk keluar, bagi yang tidak memiliki jilbab maka diperintahkan untuk dipinjamkan supaya dikenakan ketika keluar dari rumah.

    Ketiga:
    Menjauhi ikhtilath (campur baur antara pria dan wanita).
    Ini seperti yang pernah dipraktekan oleh dua orang wanita sholihah dari putri pria sholih di negri Madyan, ketika Musa ‘Alaihis Salam bertanya kepada keduanya:

    ما خطبكما، قالتا لا نسق حتى يصدر الرعاء

    “Apa maksud kalian berdua (memisahkan diri seperti itu)?, keduanya berkata: Kami tidak bisa meminumkan ternak-ternak kami sampai para penggembala itu memulangkan ternak mereka”.

    Musa ‘Alaihissalam-pun merahmati keduanya, dengan bergegas masuk di tengah para penggembala laki-laki itu, lalu membantu dua wanita sholihah tersebut.

    Dua wanita sholihah itu, pada asalnya tidak bekerja seperti itu namun bagaimana lagi, bapak keduanya sudah tua, sebagaimana perkataan keduanya:

    وأبونا شيخ كبير

    “Dan bapak kami adalah orang tua yang lanjut usia”.

    Dijawab oleh:
    Abu Ahmad Muhammad Al-Limboriy ‘Afallohu ‘anhu (8 Dzulqo’dah 1435).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: