Apakah Mikrofon Bid’ah?

Oleh: Ust. Dzulqarnain M. Sunusi

Tanya: Kalau yang lain banyak dianggap bid’ah, bagaimana dengan salafi yang mengadakan kajian di masjid menggunakan mikrofon? Sedangkan di zaman Rasulullah tidak ada hal semacam ini, jika masuknya dalam teknologi, kajian juga kan termasuk ibadah. Mohon penjelasannya.

Jawab:

Suatu perkara dianggap bid’ah dengan beberapa kriteria,

1. Amalan tersebut adalah perkara baru yang diada-adakan tanpa ada contoh sebelumnya.

2. Perbuatan bid’ah tersebut adalah dalam masalah agama, bukan dalam masalah dunia seperti mobil, motor, dan selainnya.

3. Perbuatan tersebut bertentangan dengan syari’at Islam, baik secara langsung atau secara makna.

Karena itu para ulama berkata, “Tidak ada satu bid’ah yang tersebar, kecuali ada dari sunnah yang hilang.” [Syarhus Sunnah karya Al-Barbahary, dan Al-Muhalla karya Ibnu Hazm]

4. Maksud dari melakukan bid’ah itu adalah beribadah kepada Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Semua orang memaklumi bahwa penggunaan mikrofon tidak dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah atau menghendaki tambahan pahala, maksudnya hanyalah untuk memperbesar suara sehingga didengar oleh banyak orang. Hal ini mirip dengan orang yang membaca Al-Qur`an dengan menggunakan kacamata, karena orang yang menggunakan kacamata tidaklah memaksudkan mendapat tambahan pahala dengan menggunakan kacamata, bahkan yang dia inginkan hanya untuk mampu membaca Al-Qur`an dengan baik.

Jadi, mikrofon ini hanyalah wasilah untuk menyampaikan, tidak tergolong kepada ibadah. Wallahu A’lam.

[Diringkas dari Fatwa Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh dan Taudhîh Al-Ahkam karya Al-Bassâm]

Sumber: http://dzulqarnain.net/mikrofon-bidah.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 19/04/2013, in Uncategorized and tagged , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. Reblogged this on Zarqabila Blog and commented:
    mikrofon, apakah mikrofon bid’ah, mikrofon bid’ah, bid’ah

  2. Bagaaimana bidah membukukan Al-quran di masa khalifah Abu Bakar?
    bukan kan itu juga termasuk bidah ibadah yg tidak ada d zaman rasulullah?

  3. Pengumpulan mushaf di zaman ‘Utsman bukanlah termasuk bid’ah. Walaupun di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam belum ada pengumpulan mushaf tersebut, namun kondisi di zaman ‘Utsman sangat menuntut untuk dikumpulkannya mushaf. ‘Utsman sendiri telah didahului oleh Abu Bakr di zamannya, para sahabat pun waktu itu sepakat. Sehingga hal ini adalah ijma’ atau kesepakatan para sahabat. Dan sesuatu yang disepakati para sahabat tentu bukan termasuk bid’ah. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam justru memerintahkan untuk kita mengikuti mereka sebagaimana sabdanya:

    “Maka hendaknya kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah Al-Khulafa Ar-Rasyidin, berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham.” (Shahih, HR. Abu Dawud)

    Di zaman Abu Bakr, semua sahabat sepakat, termasuk ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali. Sedangkan di zaman ‘Utsman, para sahabat yang ada juga bersepakat, termasul ‘Ali.

    Demikianlah. Ijma’ merupakan salah satu landasan agama, sebagaimana dijelaskan para ulama berdasarkan dalil dari ayat Al-Qur’an maupun hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Di antaranya:

    “Sesungguhnya Allah telah melindungi umatku untuk sepakat dalam kesesatan.” (Shahih, HR. Adh-Dhiya’ dalam Al-Mukhtarah)

    Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah menceritakan sejarah pengumpulan Al-Qur’an: Zaid bin Tsabit Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu -beliau termasuk salah seorang penulis wahyu- berkata: Abu Bakr mengutus kepadaku (utusan untuk memanggilku setelah) pembantaian oleh penduduk Yamamah. Umar berada di sisinya. Lalu Abu Bakr mengatakan: “Sesungguhnya pembunuhan telah memakan korban banyak manusia pada peperangan Yamamah. Aku khawatir akan banyak pembunuhan terhadap para penghafal Al-Qur’an di banyak tempat, sehingga banyak yang hilang dari Al-Qur’an, kecuali bila kalian mengumpulkannya. Sungguh aku memandang agar engkau kumpulkan Al-Qur’an.”

    Abu Bakr mengatakan: “Aku katakan kepada Umar, ‘Bagaimana aku melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!’ Maka Umar menjawab: ‘Itu, demi Allah, baik.’ Maka Umar terus mengulang-ulangi hal itu kepadaku, sehingga Allah shallallahu ‘alaihi wasallam lapangkan dadaku untuk itu dan aku memandang sebagaimana pandangan Umar.

    Zaid mengatakan: Umar duduk di sisi Abu Bakr dan tidak berbicara. Abu Bakr lalu mengatakan: “Sesungguhnya engkau (wahai Zaid) adalah seorang yang masih muda, lagi cerdas dan kami tidak curiga kepadamu. Engkau dahulu ikut menulis wahyu di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka telusurilah Al-Qur’an dan kumpulkanlah.”

    Zaid mengatakan: “Maka demi Allah, seandainya Abu Bakr membebani aku untuk memindahkan salah satu gunung, itu tidak lebih berat bagiku daripada perintahnya kepadaku untuk mengumpulkan Al-Qur’an.”

    Aku katakan: “Bagaimana kalian melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh Nabi?” Maka Abu Bakr mengatakan: “Itu, demi Allah, baik.”

    Maka aku terus berdiskusi dengannya sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala lapangkan dadaku untuk apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala lapangkan untuknya dada Abu Bakr dan Umar. Aku pun bangkit sehingga aku telusuri Al-Qur’an. Aku kumpulkan dari lembaran, potongan tulang, pelepah kurma, dan dada-dada manusia. Sehingga aku dapatkan dua ayat dari surat At-Taubah bersama Khuzaimah Al-Anshari, yang aku tidak dapati keduanya pada seorang pun selain dia:

    “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu…” (At-Taubah: 128-129) sampai akhir kedua ayat.

    Dahulu lembaran-lembaran yang dikumpulkan padanya Al-Qur’an bersama Abu Bakr sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala wafatkan beliau. Lalu lembaran-lembaran itu bersama Umar sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala wafatkan dia, lalu lembaran-lembaran tersebut bersama Hafshah bintu Umar.

    Hudzaifah Ibnul Yaman mendatangi Utsman. Waktu itu, dia membantu penduduk Syam berperang membuka daerah Armenia dan Azerbaijan bersama penduduk Irak. Maka perselisihan mereka dalam bacaan (Al-Qur’an) telah membuat Hudzaifah takut, sehingga beliau mengatakan kepada Utsman: “Wahai Amirul Mukminin, segera selamatkan umat ini sebelum mereka berselisih dalam Al-Qur’an seperti perselisihan Yahudi dan Nasrani.” Maka Utsman mengutus utusan kepada Hafshah: “Kirimkanlah kepada kami lembaran-lembaran (kumpulan Al-Qur’an) untuk kami salin dalam mushaf, lalu kami kembalikan kepadamu.” Maka Hafshah mengirimkannya kepada Utsman, lalu beliau memerintahkan Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Zubair, Sa’id Ibnu Al-Ash, dan Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam, untuk menyalinnya di mushaf-mushaf. Lalu Utsman mengatakan kepada tiga orang Quraisy tersebut, ‘Bila kalian berbeda dengan Zaid bin Tsabit pada sesuatu dari Al-Qur’an, maka tulislah dengan bacaan Quraisy, karena Al-Qur’an turun dengan bahasa mereka.” Maka mereka melakukannya. Ketika mereka telah selesai menyalin lembaran-lembaran itu di mushaf-mushaf, ‘Utsman mengembalikannya kepada Hafshah. Beliau kemudian mengirimkan ke tiap penjuru satu mushaf dari yang mereka salin, lalu beliau memerintahkan agar Al-Qur’an selainnya baik lembaran atau mushaf untuk dibakar.

    Asy-Syatibi mengatakan: “Banyak orang menganggap bahwa mayoritas maslahat mursalah [1] sebagai bid’ah, lalu mereka menyandarkan bid’ah ini kepada para sahabat dan tabi’in. Kemudian mereka menjadikan hal ini sebagai hujjah untuk membenarkan ibadah yang mereka buat-buat… (lalu beliau memberikan beberapa contoh, di antaranya) bahwa para sahabat sepakat untuk mengumpulkan Al-Qur’an padahal tidak ada nash (dalil) yang jelas dalam hal mengumpulkan Al-Qur’an dan menulisnya. Bahkan sebagian sahabat mengatakan: ‘Bagaimana kita melakukan sesuatu yang tidak dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?’ … Akan tetapi mereka melihat adanya maslahat yang sesuai dengan tindakan-tindakan syariat yang pasti, karena pengumpulan itu kembalinya kepada penjagaan syariat. Sementara perintah untuk menjaga syariat itu sesuatu yang sangat diketahui. Hal itu juga menutup jalan menuju perselisihan dalam Al-Qur’an.” (Al-I’tisham)

    Footnote:

    [1] Suatu maslahat yang tidak dianjurkan dengan nash syariat secara tegas dan jelas, namun tidak juga dilarang.

    Sumber: Majalah Asy-Syariah no. 58/V/1431 H/2010, hal. 60, 61 dan 66.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: