Keadaan yang Mengharuskan Khitan Dua kali

Pertanyaan: Ada seorang anak yang dikhitan dengan metode yang katanya metode cincin begitu. Sore harinya sudah bisa bermain. Beberapa hari kemudian bengkak, terus ada kulit yang menutup glans penis. Nah, apa seperti itu wajib dikhitan ulang?
Nuwun.
Dari: Wong Nggunung

Jawaban:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Inti khitan bagi laki-laki adalah terpotongnya lapisan kulit (foreskin) yang menutupi tudung dzakar (glans penis).

Dalam Mausu’ah Fiqhiyah dinyatakan:

يكون ختان الذكور بقطع الجلدة التي تغطي الحشفة , وتسمى القلفة , والغرلة , بحيث تنكشف الحشفة كلها

Khitan bagi laki-laki dilakukan dengan memotong lapisan kulit yang menutupi hasyafah (tudung dzakar). Kulit ini disebut qulfah atau ghurlah, dimana kulit ini menutupi seluruh hasyafah (tudung dzakar) (al-Mausu’ah al-Fiqhiyah al-Kuwaitiyah, 19/28)

Imam Ibnu Baz menjelaskan,

الختان : قطع القلفة التي على رأس الذكر ، حتى تخرج الحشفة التي هي طرف الذكر وتبرز

Khitan : memotong qulfah (foreskin) yang menutupi permukaan ujung dzakar, sehingga bagian hasyafah (glans penis) yang merupakan ujung dzakar bisa nampak dan kelihatan. (Majmu’ Fatawa Ibn Baz, 29/51)

Jika terpenuhi keadaan ini dan bertahan, khitan statusnya sah, dan tidak perlu diulang. Namun jika keadaan ini tidak bisa dipertahankan, misalnya foreskin kembali menutupi hasyafah (tudung dzakar), maka kulit itu harus dipotong.

An-Nawawi mengatakan,

قَالَ الشَّيْخُ أَبُو مُحَمَّدٍ الْجُوَيْنِيُّ فِي كِتَابِهِ التَّبْصِرَةُ فِي الْوَسْوَسَةِ : لَوْ وُلِدَ مَخْتُونًا بِلَا قلفة فَلَا خِتَانَ لَا إيجَابًا وَلَا اسْتِحْبَابًا ، فَإِنْ كان من القلفة التى تغطي الحشفة شئ مَوْجُودٌ : وَجَبَ قَطْعُهُ ، كَمَا لَوْ خُتِنَ خِتَانًا غَيْرَ كَامِلٍ ، فَإِنَّهُ يَجِبُ تَكْمِيلُهُ ثَانِيًا حَتَّى يُبَيِّنَ جَمِيعَ الْقُلْفَةِ الَّتِي جَرَتْ الْعَادَةُ بِإِزَالَتِهَا فِي الْخِتَانِ

Syaikh Abu Muhammad Al-Juwaini mengatakan dalam kitabnya At-Tabshirah fil Waswasah: Jika ada anak yang dilahirkan sudah terkhitan, tanpa qulfah (foreskin), maka tidak ada anjuran maupun kewajiban khitan untuknya. Namun jika qulfah yang menutupi hasyafah masih ada yang tersisa, wajib dipotong. Sebagaimana ketika ada orang yang dikhitan, tapi tidak sempurna, maka khitannya wajib disempurnakan, sampai semua qulfah terbuka semua qulfah yang umumnya dipotong ketika khitan.

(Al-Majmu’ Syarh Muhadzab, 1/307)

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur Baits (Dewan Pembina www.KonsultasiSyariah.com)

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 24/06/2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: