Apa Pengertian Hewan Fasik?

Tanya: Saya pernah mendengar istilah hewan fasik yang lima, apa maknanya? Apakah kita diperintah membunuh hewan-hewan tersebut sekalipun berada di tanah Haram?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjawab, “Hewan fasik yang lima adalah tikus, kalajengking, anjing yang suka menggigit, burung gagak, dan ular. Demikian yang disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,

‘Ada lima hewan fasik [1] yang boleh dibunuh, baik seseorang dalam keadaan halal (tidak sedang berihram) maupun sedang berihram.’ (HR. Al-Bukhari dan Muslim) [2]

Disunnahkan bagi manusia untuk membunuh hewan fasik yang lima ini, baik dia sedang berihram (muhrim) maupun tidak, masuk dalam batas tanah haram maupun di luar wilayah tanah haram.

Mengapa hewan-hewan tersebut harus dibunuh? Karena hewan-hewan ini mengganggu dan berbahaya pada beberapa keadaan. Hewan-hewan yang semisalnya atau lebih berbahaya lagi dianalogikan dengan kelimanya, kecuali ular-ular yang berada di dalam rumah. Ular yang berada di dalam rumah tidak boleh langsung dibunuh, tetapi diberi peringatan terlebih dahulu sebanyak tiga kali. Sebab, dikhawatirkan ular-ular tersebut adalah jelmaan jin. [3]

Dikecualikan dalam hal ini adalah ular abtar dan dzu thufyatain, tetap boleh dibunuh walaupun didapatkan dalam rumah, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang membunuh ular-ular yang didapatkan dalam rumah selain abtar dan dzu thufyatain. [4] (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Al-abtar adalah ular berekor pendek dan dzu thufyatain adalah ular yang di atas punggungnya ada dua garis hitam. Kedua jenis ular ini dibumuh di mana saja ditemui. Adapun selain kedua jenis ular ini tidak boleh dibunuh, tetapi diberi peringatan sebanyak tiga kali, misalnya dengan mengatakan, “Keluar kamu dari rumahku ini!” atau ucapan yang semisalnya yang menunjukkan dia diperingatkan dan tidak diperkenankan tetap berada di dalam rumah tersebut.

Apabila ular tersebut tetap berada di dalam rumah setelah diperingatkan, berarti ular itu bukanlah jelmaan jin, tetapi benar-benar ular; atau bisa jadi jelmaan jin, namun karena tidak mau diperingatkan berarti dia telah menghalalkan keharamannya (membiarkan dirinya dibunuh), maka ketika itu dia boleh dibunuh.

Apabila si ular yang ditemukan di dalam rumah ternyata membahayakan orang yang berada dalam rumah, sementara dia sedang diperingatkan, orang tersebut boleh melawannya walaupun peringatan baru diberikan sekali. Orang tersebut melakukan perlawanan/pembelaan dirinya walaupun tindakannya mungkin berakibat terbunuhnya ular tersebut. Atau seandainya gangguan ular tersebut tidak bisa dicegah kecuali dengan membunuhnya, orang tersebut boleh membunuhnya saat itu, karena hal ini termasuk membela diri.”

(Fatawa Islamiyah, Ibnu Utsaimin 4/450-451, dinukil dalam Fatawa Ulama al-Balad al-Haram, hlm. 1795)

Catatan kaki:

[1] Hewan-hewan tersebut disebut fasik karena gangguan dan kerusakan yang ditimbulkannya melebihi hewan lain. (al-Minhaj, 8/353)

[2] HR. Al-Bukhari (no. 3314) dan Muslim (no. 2854 & 2857)

[3] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang ular di dalam rumah, “Sesungguhnya rumah-rumah ini ada penghuninya (dari kalangan jin). Apabila kalian melihat sesuatu darinya (menampakkan dirinya), berilah peringatan tiga kali. Jika ia pergi, biarkan. Jika tidak mau pergi setelah diberikan peringatan, bunuhlah, karena ia adalah jin kafir….” (HR. Muslim no. 5801)

Dalam hadits lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Dia adalah setan.” (HR. Muslim no. 5800)

Kata ulama, apabila ular yang didapatkan di dalam rumah tidak juga pergi setelah diberi peringatan, kita menjadi yakin bahwa ular tersebut bukanlah penghuni rumah (tetapi benar-benar ular), bukan jelmaan jin yang telah masuk Islam. Ular itu adalah setan sehingga tidak ada kehormatan baginya. Karena itu, ia boleh dibunuh. (al-Minhaj, 14/404)

[4] Kedua jenis ular ini dibunuh walau didapatkan di dalam rumah tanpa diberi peringatan sebelumnya karena berbahaya. Keduanya dapat menghilangkan penglihatan dan menggugurkan kandungan, kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. (HR. Al-Bukhari no. 3297 dan Muslim no. 5786)

Sumber: Majalah Asy Syariah no. 91/VII/1434 H/2013, hal. 103-104.

About these ads

Tentang Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 18/07/2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.144 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: