Hukum Seputar Budak

Oleh: Dzulqarnain M. Sunusi

Tanya: Saya pernah membaca bahwa pada zaman Rasulullah seorang budak dapat disetubuhi oleh pemiliknya walaupun tanpa dinikahi. Apakah hal itu benar adanya, dan jika benar, apa sebabnya? Bukankah hubungan di luar pernikahan itu adalah zina? Mohon juga penjelasannya tentang bagaimanakah seseorang itu dapat dikatakan budak?

Jawab:

Terkait dengan hal yang dihalalkan untuk seorang muslim, memang dalam Al-Qur’an diterangkan dua hal yang dihalalkan, yaitu istri dan budak yang dimiliki. Sebagaimana dalam firman Allah menjelaskan sifat orang-orang yang beriman,

“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (Al-Mukminun: 5-7)

Budak yang dihalalkan adalah budak perempuan yang merupakan hasil peperangan dari jihad syar’iy yang dipimpin oleh seorang pemimpin muslim. Demikian pula dihalalkan dari budak yang dijual setelah itu. Dibolehkan bagi siapa yang memiliki budak untuk menggaulinya setelah istibrâ` (diketahui rahimnya kosong setelah sekali haidh).

Ada beberapa ketentuan seputar perbudakan, diuraikan secara lengkap dalam buku-buku fiqih. Wallahu A’lam.

Sumber: http://dzulqarnain.net/hukum-seputar-budak.html

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 24/07/2013, in Uncategorized and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: