Hukum Orang Nasrani Menyentuh Mushaf

Soal: Apa hukum seorang Nasrani menyentuh mushaf? Demikian pula, bagaimana hukumnya jika menyentuh terjemah Al-Qur’anul Karim?

Jawab:

Hal ini ada silang pendapat antara ulama. Yang masyhur dari pemdapat ulama adalah terlarangnya Nasrani, Yahudi, dan nonmuslim lainnya untuk menyentuh mushaf. Karena, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang untuk bepergian jauh dengan membawa Al-Qur’an ke tengah musuh. Beliau bersabda yang artinya,

“Agar tidak disentuh oleh tangan-tangan mereka.” (HR. Muslim di dalam kitab Shahihnya, Kitabul Imarah no. 3476)

Hal itu menunjukkan bahwa mereka tidak boleh menyentuh Al-Qur’an. Yang boleh hanya memperdengarkannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Dan jika seorbng di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah…” (QS. At-Taubah: 6)

Yakni, dibacakan kepada mereka hingga mereka mendengarkannya, namun tidak diberikan kepadanya.

Beberapa ulama berpendapat bahwa hal itu boleh jika diharapkan keislaman orang kafir tersebut. Mereka berargumen bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menulis firman Allah berikut ini kepada Heraklius, raja Romawi:

“Katakanlah, ‘Wahai Ahlul Kitab, marilah kita menuju satu kata yang sama antara kami dan kalian…” (QS. Ali Imran: 64)

Mereka mengatakan bahwa ayat ini adalah salah satu ayat dalam Kitabullah. Dan beliau shallallahu ‘alaihi wassalam menuliskannya kepada Heraklius.

Yang benar, bahwa hal tersebut bukan argumen yang tepat dalam kasus ini. Hal itu hanya menunjukkan bolehnya menulis satu ayat atau dua ayat dari Kitabullah. Adapun menyerahkan mushaf, tidak ada hadits yang tsabit dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

Adapun mengenai terjemah makna Al-Qur’an, maka tidak mengapa disentuh oleh orang kafir. Karena terjemah Al-Qur’an adalah buku tafsir, bukan Al-Qur’an. Maksudnya, terjemahan Al-Qur’an adalah tafsir makna Al-Qur’an. Maka, jika dipegang orang kafir atau muslim yang tidak sedang dalam keadaan suci tidak apa-apa. Sebab, terjemah Al-Qur’an tidak memiliki hukum yang sama dengan Al-Qur’an. Hukum Al-Qur’an khusus untuk yang ditulis dengan bahasa Arab dan tidak ada tafsirnya. Adapun jika ada terjemahannya, maka hukumnya hukum tafsir. Tafsir boleh dibawa oleh orang yang berhadats, muslim, dan kafir karena bukan Kitab Al-Qur’an, tapi termasuk kitab tafsir. [Majmu’ Fatawa Ibni Baz]

Sumber: Majalah Tashfiyah edisi 24 vol. 02/1434 H/2013 M, hal. 51-52.

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 28/07/2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: