Mengenal Negeri Saba’

Oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Asal Usul Saba’

Ribuan tahun sebelum Masehi, berdiri sebuah kerajaan Arab kuno di bagian selatan Semenanjung Arab. Kerajaan yang makmur, aman, dan sentosa itu adalah Saba’. Saba’ adalah nama gelar salah seorang raja Yaman kuno, yaitu Saba’ bin Yasyjub. Dia digelari Saba’ karena dialah orang Arab yang pertama kali menjadikan musuh-musuh yang telah ditaklukkannya sebagai sabaya (tawanan). Dia dijuluki juga ar-Raisy, karena dialah yang pertama mengambil rampasan perang (ghanimah) lalu membagi-bagikannya kepada bangsanya. Bangsawan-bangsawan Tubba’ juga berasal dari keturunan Saba’, demikian pula Ratu Saba’ yang terkenal dan diceritakan bertemu dengan Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, yaitu Bilqis. [1]

Nama asli Saba’ sendiri ialah ‘Abd Syams bin Yasyjub bin Ya’rub bin Qahthan. Tetapi, ahli sejarah dan nasab berselisih tentang Qahthan ini, keturunan siapakah dia?

Ada yang berpendapat bahwa dia adalah anak cucu Iram bin Sam bin Nuh. Yang lain mengatakan dia keturunan ‘Abir, yaitu Hud ‘alaihissalam, dan ada pula yang berpendapat dia adalah keturunan Nabi Isma’il bin Ibrahim ‘alaihimussalam.

Yang terakhir ini, disimpulkan dari riwayat yang ada di dalam Shahih al-Bukhari, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati salah satu suku Anshar, yaitu Aslam, yang sedang berlomba memanah. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Panahlah, hai bani Isma’il, karena bapak kalian dahulu seorang pemanah.” [2]

Hal ini karena orang-orang Anshar, baik Aus maupun Khazraj, berasal dari suku Azdi. Suku Azdi ini adalah keturunan Saba’ yang dahulu melakukan migrasi dari Yaman ke daerah sekitarnya, bahkan sampai ke Syam, Irak, dan Hijaz. Wallahu a’lam.

Kebanyakan peneliti menyebutkan bahwa kerajaan Saba’ adalah kerajaan tertua di Semenanjung Arab, dan telah berdiri di tanah Arab sejak 1300 SM. Ada juga yang berpendapat lebih tua dari itu (sekitar 2500 SM). Ibu kota pertama negeri ini adalah Shirwah, kemudian pindah ke Ma’rib yang akhirnya menjadi pusat perdagangan penting saat itu.

Kerajaan Saba’ sudah dikenal di kalangan umat-umat terdahulu sebelum Islam. Di dalam Taurat, demikian pula dalam prasasti di zaman Raja Asyiria (720-705 SM), termaktub cerita yang menerangkan bahwa Kerajaan Saba’ pernah mengirimkan hadiah berupa emas, wangi-wangian, dan kayu a’syab kepada Raja Asyiria. [3]

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma pernah mengatakan bahwa ada seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Saba’, nama apakah itu, apakah seorang laki-laki ataukah perempuan, ataukah sebuah negeri?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Dia adalah (nama) seorang laki-laki yang mempunyai sepuluh orang anak. Enam di antara mereka menetap di Yaman, sedangkan yang empat lagi bermukim di Syam.

Yang menetap di Yaman ialah Madzhij, Kindah, Azdi, Asy’ari, Anmar, dan Himyar. Semua adalah bangsa Arab.

Adapun yang menetap di Syam ialah Lakhm, Judzam, ‘Amilah, dan Ghassan.” [4]

Jadi, Saba’ adalah nama orang yang kemudian diabadikan sebagai nama sebuah kerajaan besar masa itu. Dialah yang pertama kali membangun kota Ma’rib (tiga marhalah [5] dari ibu kota Shan’a). Sebagian ulama mengatakan bahwa dia seorang muslim. Dia mempunyai beberapa bait syair yang menerangkan berita gembira tentang kedatangan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

“Akan menguasai kerajaan besar sepeninggal kami

Seorang nabi yang tidak memberi keringanan terhadap yang haram.” [6]

Penduduk Saba’ bertempat tinggal di Yaman, sebagian mereka mendiami kota-kota besar dengan benteng-bentengnya yang kokoh. Sisa-sisa peninggalan bangunan tersebut masih dapat kita lihat di zaman kita ini, meskipun kebanyakannya berupa puing-puing. Bekas-bekas tersebut menjadi bukti ‘kemajuan’ mereka saat itu dalam bidang arsitektur.

Sebagaimana di atas, Saba’ di zaman itu adalah negeri yang subur dan makmur. Curah hujan yang tinggi adalah salah satu sebabnya, dan itu semua adalah anugerah Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi mereka. Kebun kurma dan anggur tumbuh dengan subur.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri.”

Kebun-kebun itu berada di kanan kiri wadi yang luas (biasanya dilalui air jika hujan turun). Begitu luasnya, diceritakan bahwa siapa saja yang berjalan di kebun-kebun itu tidak akan keluar dari naungan pepohonannya, karena subur dan lebatnya. Bahkan, para wanita yang ingin memetik hasil kebun mereka, cukup hanya membawa sebuah keranjang yang dijunjung di atas kepalanya dan berjalan di bawah rimbunan pohon di kebun mereka. Begitu mereka keluar, keranjang itu sudah penuh dengan buah-buahan. [7]

Sistem pemerintahan mereka juga lebih maju, angkatan perang negeri itu terkenal kuat. Seperti diceritakan di dalam al-Qur’an, betapa besar percaya diri para pembesar istana Ratu Saba’ ketika dimintai pendapat mereka oleh sang Ratu sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

“Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan).” (an-Naml: 33)

Allah Subhanahu wa Ta’ala benar-benar melimpahkan berbagai kesenangan hidup kepada mereka. Ibnu Katsir rahimahullah menukil cerita sebagian ahli bahwa di negeri itu dahulunya tidak terdapat serangga berbisa, nyamuk, dan kutu, karena iklim yang stabil. Semua itu adalah agar mereka beribadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satu-Nya, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Penduduk Saba’ benar-benar menikmati kesenangan yang berlimpah di negeri mereka. Kemudian, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus para rasul yang memerintahkan mereka memakan sebagian rezeki yang Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan dan bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allag Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maham Pengampun.” (Saba’: 15)

Ibnu Ishaq menukilkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus tiga belas orang nabi kepada penduduk Saba’, sementara as-Suddi mengatakan ada sekitar 12.000 nabi yang diutus kepada mereka. Demikian dinukil oleh Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya tentang surat ini.

Bendungan (Sadd) Ma’rib

Mulanya, air sungai mengalir begitu saja dari tempat yang sangat jauh tanpa mereka manfaatkan. Ada yang menyebutkan hampir tujuh puluh cabang anak sungai yang mengalir di sekeliling mereka. Penguasa Himyar yang memerintah saat itu menawarkan kepada rakyatnya untuk membuat bendungan sebagai tempat yang menampung dan mengatur sirkulasi air tersebut. Rakyat menerima dan mulai bekerja sama membuat bendungan tersebut dengan batu dan besi. Di beberapa tempat mereka membuat saluran untuk mengatur sirkulasi air ke sawah ladang mereka, sehingga air itu benar-benar tersebar merata.

Tinggi bendungan ini ada yang mengatakan 16 meter, sedangkan lebarnya 60 dan panjangnya 620 meter.

Tetapi, melihat keadaan yang senantiasa menyenangkan itu, tumbuhlah dalam hati mereka keyakinan seakan-akan kerajaan mereka tidak mungkin ada yang dapat menghancurkannya. Sedikit demi sedikit, mereka mulai menyembah matahari. Mereka merasa, mataharilah yang memberi kehidupan bagi mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Tetapi mereka berpaling.” (Saba’: 16)

dari beribadah dan mensyukuri Allah Subhanahu wa Ta’ala atas nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada mereka. Setan menggiring mereka agar beribadah kepada matahari.

Kebiasaan baru yang buruk dan keji ini terus berlanjut turun-temurun, bahkan sampai pada masa pemerintahan Ratu Saba’, yang merupakan penguasa generasi ke-17 di kerajaan itu. Mereka merasa aman, yakin bahwa apa yang mereka lakukan adalah budaya leluhur dan adat-istiadat yang baik. Para rasul yang diutus kepada mereka justru diingkari dan dimusuhi.

Setelah Ratu Saba’ beriman kepada Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, rakyatnya ikut pula beriman. Sampai beberapa kurun, mereka tetap beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala satu-satunya, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.

Namun, lama kelamaan, semakin jauh dari masa nubuwah, kehidupan yang serba nyaman, membuat mereka sombong. Kesenangan yang mereka rasakan diakui sebagai milik mereka dan diperoleh karena usaha keras mereka. Sedikit demi sedikit, mereka kembali kepada budaya leluhur mereka yang salah jalan, menyembah matahari.

Keadaan itu berlanjut sampai memasuki abad setelah masehi.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma dan yang lain menyebutkan, ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala hendak menimpakan hukuman-Nya atas kekafiran mereka, dengan mengirimkan banjir besar kepada mereka, Dia mengirimkan seekor binatang sebangsa tikus yang menggerogoti bendungan itu. Menurut Ibnu Munabbih rahimahullah, penduduk Saba’ telah mendapati dalam kitab mereka bahwa bendungan itu akan dihancurkan oleh binatang sebangsa tikus, maka mereka menyiapkan kucing untuk menangkap tikus tersebut.

Tetapi, ketika waktu datangnya bencana itu sudah tiba, kucing yang mereka persiapkan tidak mampu menangkap tikus yang lari memasuki celah bendungan lalu menggerogoti bendungan itu.

Tidak lama setelah itu, air pun menjebol dinding bendungan lalu menelan semua yang dilaluinya. Kebun-kebun yang hijau dengan buah-buahan yang rimbun hancur luluh. Pohon-pohon di kiri kanan wadi itu menjadi kering, mati. Kebun-kebun itu akhirnya ditumbuhi pohon atsl yang rasanya pahit dan sedikit pohon sidr (bidara).

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun-kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl, dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka, dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (Saba’: 16-17)

Negeri Saba’ hancur. Bendungan itu pun akhirnya tinggal puing-puing yang tidak berguna. Sawah, ladang, manusia, dan ternak binasa. Ayah kehilangan anaknya, atau sebaliknya, dan istri kehilangan suaminya, demikian sebaliknya. Penduduk Saba’ pun pindah mencari tempat tinggal yang lain.

Mereka menyebar ke negeri-negeri lain. Kebanyakan mereka pindah ke utara semenanjung Arab dan pantai timurnya serta wilayah Syam dan Irak. Termasuk yang eksodus ialah Aus dan Khazraj yang menetap di Yatsrib (sekarang Madinah), Ghassan yang mendirikan kerajaan di Syam, juga Lakhm yang mendirikan kerajaan di Irak, dan bani ‘Abd Qais yang mendirikan daulah ‘Amman.

Menurut sebagian ahli sejarah, penyebaran itu terjadi 400 tahun sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diutus. Kini, Yaman termasuk negara paling miskin di Semenanjung Arab.

Wallahu a’lam.

Beberapa Faedah Kisah

Dari kisah yang ringkas ini, ada beberapa faedah yang dapat dipetik, antara lain:

1. Kesenangan yang diberikan Allah Subhanallahu wa Ta’ala kepada penduduk Saba’ tidak hanya bersifat jasmani berupa kesuburan tanah atau hasil panen yang berlimpah dan berkualitas, tetapi juga janji ampunan dan maaf atas kekurangan dan kesalahan. Tetapi Saba’ berpaling dari syukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak pula mengerjakan apa yang diperintahkan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

2. Kemaksiatan menjadi sebab turunnya azab dan hilangnya kenikmatan. Kehancuran umat-umat sebelum kita adalah karena mereka mengingkari nikmat yang dilimpahkan kepada mereka, kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan jauh dari agama.

3. Semua kesenangan yang dirasakan oleh manusia adalah pemberian Allah Subhanahu wa Ta’ala. Manusia tidak memiliki apa-apa ketika keluar dari rahim ibunya. Mata, telinga, dan akalnya belum berfungsi. Beranjak dewasa, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan fungsi bagi alat-alat tersebut sehingga seorang manusia dapat mengupayakan manfaat untuk dirinya, atau menolak mudarat dari dirinya.

4. Tidak ada yang melepaskan seseorang atau masyarakat dari kehancuran dan murka Allah Subhanahu wa Ta’ala selain kembali bertobat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memperbaiki dirinya di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wallahul muwaffiq.

Footnote:
[1] Penamaan ini tidak ada dasar yang shahih dalam syariat Islam, dan diduga dari dongeng Israiliyat. Wallahu a’lam.

[2] Lihat Fathul Bari (6/621).

[3] Ada yang berpendapat mereka mengirim upeti, bukan hadiah. Wallahu a’lam.

[4] HR. Ahmad (no. 2900), rawi-rawinya tsiqag kecuali Ibnu Lahi’ah, beliau dinilai lemah. Wallahu a’lam.

[5] Satu marhalah setara dengan jarak yang ditempuh selama sehari dengan berjalan kaki.

[6] Al-Bidayah wan Nihayah (2/191).

[7] Lihat Tafsir Ibnu Katsir.

Sumber: Majalah Asy Syariah no. 93/VIII/1434 H/2013, hal. 70-74.

About Fadhl Ihsan

Silakan temukan saya di http://facebook.com/fadhl.ihsan

Posted on 03/11/2013, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: